SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 38 MENJADI BIJAK


__ADS_3

Mendengar perkataan Yang Mulia Yan Yue, mata seisi aula sekarang terarah kepada Xiao Yi.


"Ampuni hamba, Yang Mulia...hamba tidak pantas melakukannya." Ujar Xiao Yi dengan terbata-bata, dia merasa begitu kikuk dan tidak enak.


"Yang Mulia, selir Yi berkata benar." Ibu suri berucap seolah mengingatkan.


"Aku rasa tidak ada yang tidak pantas, " Yang Mulia menatap sesaat kearah Xiao Yi yang duduk sambil menundukkan wajah disampingnya.


"Saya telah mencicipi hidangan dari semua istriku, semua hidangan mereka begitu enak. Sampai-sampai lidahku tak bisa membedakannya. Apakah aku harus membuat pilihan dengan sembarangan. Bukankah itu akan merugikan banyak orang?" lanjut Yang Mulia. Semua yang terdiam saling pandang kiri dan kanan.


"Selir Yi, saya rasa adalah pilihan yang benar untuk membuat keputusan. Dia sangat mengenal bahan-bahan makanan yang baik dan mahir mengolahnya, saya sendiri telah membuktikannya, dengan sebuah sup rumput salju yang sangat luar biasa. Lidah selir Yi tidak akan berbohong soal rasa."


Ibu Suri mengawasi Yang Mulia dengan pandangan berbeda sekarang, matanya bergantian diarahkan kepada Xiao Yi dan Yang Mulia, seperti seekor kucing yang sedang waspada.


"Kalian sudah memutuskan dia tidak dilibatkan dalam upacara ini, tentunya dia akan bersikap tanpa merasa tertekan karena tidak memiliki kepentingan apa-apa dalam upacara ini. Dan lagi yang saya tahu, dia tidak memihak kepada satu orang selir pun di dalam istana. Bukankah dia sangat sulit bersosialisasi dan diterima di lingkungan harem" kata Yang Mulia.


Perkataan itu seperti gada yang menghantam selir Mei dan semua selir yang merasa tidak senang pada Xiao Yi.


Selir Mei merasa seperti setelah dilambungkan ke awan dengan begitu manis kemudian dihempaskan ke tanah bebatuan dengan sekeras-kerasnya.


Hatinya terasa remuk, sampai-sampai giginya bergemerutuk, menahan amarah dan rasa dendam.


Kekalahan setelah merasa menang itu ternyata lebih menyakitkan!


Dia telah secara terbuka membenci Xiao Yi di depan gadis itu bahkan mencaci makinya. Jika sekarang perempuan itu akan menjatuhkan pilihan untuk raja, maka dia adalah pilihan terakhir yang akan di rekomendasikan oleh Xiao Yi.


Semua perjuangan dan kerja kerasnya sekarang menjadi lelucon yang tak berarti. Sia-sia seperti daun kering di pinggir jalan.


"Do'a dan harapan kalian untukku, sudah ku terima dengan baik. Sekarang hanya menentukan salah satu yang berhak atas penghargaan, ku harap selir Yi bisa membuat keputusan yang jujur dan bijaksana."


Yang Mulia membuka kedua tangannya mempersilahkan Xiao Yi maju ke arah meja di depan Yang Mulia tempat barisan hidangan diletakkan.

__ADS_1


Dengan ragu Xiao Yi maju ke depan, gaunnya bergesek dilantai menimbulkan bunyi gemerisik yang lembut. Dia membungkuk sesaat di depan Yang Mulia Yan Yue, tapi wajah itu benar-benar dingin.


Xiao Yi menatap satu-satu hidangan yang berwarna warni dan di sajikan dengan begitu indah itu.


Andai dia boleh memilih, maka dia tidak akan pernah mau berdiri di posisi ini.


Memilih seseorang untuk dikirim ke dalam kamar laki-laki yang sekarang sangat diinginkannya, seperti hukuman berat yang melebihi ratusan pukulan cemeti.


Dia telah berdarah sendiri sebelum melakukannya.


Panglima muda Zhao Juren, menatap dalam-dalam gadis yang berdiri dalam kebingungan itu.


Dia tahu, Yang Mulia tidak pernah mencintai wanita lain selain Jiu Fei sejak dulu kala. Bahkan dia sendiri adalah saksi bagaimana perjuangan cinta dua orang itu dari pertempuran berdarah diperbatasan sampai kemudian ibu suri memaksa mengirimkan Jiu Fei ke kuil yang sunyi itu, untuk memisahkan pasangan yang bisa mengancam semua rencana yang telah dibuat dengan begitu cermat oleh bibinya, Zhao Li Sui, ibu suri kerajaan Yanzhi.


Panglima muda Zhao Juren juga tahu, Yang Mulia tidak pernah tergerak hatinya pada salah seorangpun selir yang dikawinkan padanya dan dia sangat yakin, Yang Mulia tidak pernah mencintai orang lain lagi, termasuk selir Yi ini.


Diam-diam Panglima Zhao Juren mengepalkan tangannya di dalam lengan jubahnya yang panjang dan lebar seperti sayap elang itu.


Xiao yi mengambil sendok dari kasim Chen yang berdiri di ujung meja. Kemudian mencicipi satu persatu hidangan yang tersaji di atas meja diiringi tatapan semua orang dengan harap-harap cemas, terlebih para selir yang duduk dengan tegang di tempatnya masing-masing.


Nasib baik mereka semua sekarang ada ditangan wanita yang sangat mereka benci.


Bukankah itu sungguh ironis? Setiap waktu mereka berharap bahkan berdoa gadis ini ditimpa kesialan dan di buang dari istana Weiyan, gadis yang mereka sebut sebagai penyihir itu.


Sekarang malah mereka sedang diam-diam menguntai do'a dalam hati, berharap gadis itu memberikan keberuntungan bagi mereka, yang mungkin hanya bisa mereka dapat sekali seumur hidup itu.


Setelah semuanya dicicipinya, dia berkata dengan suara yang penuh keyakinan,


"Semua hidangan di atas meja ini, adaah hidangan terbaik yang pernah saya cicipi..."


Semua mata hampir tak berkedip menatap wanita yang sekarang menjadi begitu penting ucapannya untuk didengar malam ini.

__ADS_1


Tentu saja semua hidangan itu sangat luar biasa, bukankah koki-koki kerajaan yang terpilih, yang sudah melakukannya untuk mereka?


"Semua bahan yang dipilih sebagai bahan baku merupakan bahan yang berkualitas dan terbaik. Cita rasa yang dihasilkan juga memiliki keistimewaan tersendiri." Tambah Xiao Yi.


Semua sekarang semakin tegang, betapa tidak, Xiao Yi tidak memberikan penilaian lebih kepada salah salah satu masakan mereka, sampai saat ini.


"Hanya saja..." ujar Xiao Yi kemudian sambil memiringkan badannya, menatap sesaat kepada Yang Mulia, yang sama sekali tidak melihat ke arahnya, membuat sekelebat perasaan perih datang mendera Xiao Yi.


"Festival Chushi memerlukan satu orang terpilih, meskipun semua orang telah memenangkannya."


"Festival Chushi bermakna adalah bakti, do'a dan harapan dari seorang istri kepada suaminya, berarti bukan hanya nilai rasa yang akan kita lihat tetapi soal makna. Semua rasa boleh enak dan luar biasa, tapi sebuah makna melebihi semua rasa" bibir Xiao Yi bergetar.


"Dengan segala hormat Yang Mulia, saya akan memilihkan tiga hidangan dengan makna terbaik malam ini. Dan tetap sebagai wewenang Yang Mulia memilihkan satu dari tiga hidangan ini."


Ibu suri sekarang yang tercengang dengan kecerdasan selir yang telah dianggapnya sangat remeh ini.


Dia melakukan perintah Yang Mulia Yan Yue dengan baik, tetapi tetap tidak menyinggung ibu suri dan melanggar tradisi Chushi yang mengharuskan Raja memilih satu masakan selir yang dianggap terbaik.


Dan hal yang cukup penting juga, sekaligus dia membuat dirinya tidak menjadi bersalah, baik di depan selir yang memusuhinya maupun yang menjadi temannya.


Ibu Suri merasa, gadis ini lebih berbahaya baginya dari Yang Mulia sendiri.


Yang Mulia hanya tersenyum dalam hati, dia tahu, dia tak pernah salah menilai Xiao Yi, kecuali bahwa dia gagal menebak perasaan gadis itu padanya.


...Silahkan komen yang banyaaaaaak di bawah, ya🤭...


...jangan lupa vote, like dan dukungannya untuk semangat author menulis 🙏☺️...


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...


...Nantikan episode berikutnya❤️...

__ADS_1


__ADS_2