SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 115 RINDU YANG MEMBEKU


__ADS_3

"Adik, aku percaya, hanya kamu yang bisa menjaga Yang Mulia..."Desis Jiu Fei, lalu melepaskan tangannya dari gulungan kertas yang dipegangnya.


Jiu Fei akan segera mundur ketika tiba-tiba tangan Xiao Yi yang dingin menahan lengannya.


"Kakak..."


Jiu Fei terpana, mendengar panggilan kakak yang begitu lembut dari bibir Xiao Yi.


"Bagaimanakah rasanya, dicintai seorang raja...?" Suara Xiao Yi terdengar gemetar, tapi sanggup membuat Jiu Fei tidak berkedip menatapnya.


"Bukankah seperti memiliki langit meski kita tak akan pernah benar-benar bisa menyentuhnya. Dengan memandangnya dari jauh pun terasa begitu dekat, karena dia ada di sekeliling kita. Memiliki ataupun tidak, rasanya tetap sama. Kita selalu merasa bahagia..." Xiao Yi mengangsurkan gantungan giok jamrud di tangannya,


"Kakak, aku mengembalikan xiuxi ini kepada yang berhak." selarik senyum tersungging di bibir Xiao Yi, meski begitu ironis saat air mata tiba-tiba membasahi pipinya.


"Adik, aku memberikan xiuxi ini padamu, karena Yang Mulia memiliki pasangannya. Giok ini sangat cocok untukmu." Jiu Fei menggelengkan kepalanya dan mendorong tangan Xiao Yi dengan halus.


"Tidak, kakak...Yang Mulia telah memberikannya padamu, maka aku tak akan mengambilnya. Pemberian seseorang, mempunyai makna yang tak dapat di buang begitu saja."


"Adik..." Jiu Fei tersenyum kecil dalam keremangan.


"Bagaimana jika aku memberikannya padamu sebagai kenang-kenangan dari seorang kakak pada adiknya?"


"Aku tetap tak bisa menerimanya." Jawab Xiao Yi dengan lugas.


Tiba-tiba Jiu Fei memandang kepada Xiao Yi dengan seksama, matanya yang bersinar tenang itu bependar menantang kejora di mata Xiao Yi.


"Bagaimana jika aku menukarnya dengan sesuatu dari mu?" matanya tertuju pada sebuah tusuk rambut di kepala Xiao Yi.


Dan di detik berikutnya, tusuk rambut dari kayu dengan motif bunga lotus sederhana yang di ukir halus itu telah berpindah ke tangannya.


"Aku meminta tusuk rambut ini sebagai gantinya. Simpan saja gantungan giok itu baik-baik, dan ingatlah bahwa pasangan giok itu tidak bisa terpisah lagi darimu, sepanjang hidupmu."Jiu Fei memandang tusuk rambut itu dengan berbinar.

__ADS_1


Dia sangat tahu, siapa yang mungkin membuatnya, karena dulu dialah yang mengajari orang itu untuk mengukir potongan kayu di dalam gua-gua di lereng pegunungan Yanshan , saat mereka berdua menghabiskan waktu dalam pelarian di hutan-hutan perbatasan Niangxi.


"Tapi..." Xiao Yi tercekat,


"Adik, terimakasih telah menjaga Yang Mulia dengan baik. Terimakasih telah membuat hatinya hidup kembali. Terimakasih...telah mencintai Yang Mulia...." Jiu Fei menepuk lembut bahu Xiao Yi.


"Aku tidak punya keberanian sebesar keberanianmu untuk berada di sisinya, aku bahkan tak cukup berani untuk bertemu dengannya, bahkan jika kami terlahir kembali di kehidupan yang lain." Lanjut Jiu Fei, seiring matanya yang berkaca-kaca di timpa cahaya lampu yang terangnya tak seberapa.


"Selamat tinggal, adik. Ku harap kita tidak pernah berjumpa lagi." Kalimat itu terdengar aneh, saat di ucapkan seperti sebuah harapan dalam rangkaian kata yang ganjil.


Jiu Fei memasangkan topi cadarnya untuk menutup kepalanya, ketika Xiao Yi memanggilnya lagi,


"Kakak...!"


Jiu Fei menatap sejurus ke arah Xiao Yi, menunggu apa yang akan di katakan selir muda yang di ketahuinya sedang mengandung anak Yang Mulia itu.


"Apakah kakak masih mencintai Yang Mulia?" pertanyaan Xiao Yi membuat Jiu Fei berdiri seperti patung sesaat.


Xiao Yi tak bergeming, dia tak tahu jawaban yang benar-benar di inginkannya. Hatinya terasa perih, saat berfikir betapa tak tahu dirinya dia melepaskan kalimat itu dari mulutnya. Dan sekarang dia terjebak dalam pertanyaannya sendiri.


"Ya..." Suara Jiu Fei terdengar pelan tapi seperti petir yang memukul hati Xiao Yi, terasa begitu sakit saat mendengarnya, bahkan jika dia harus bersaing dengan orang yang kini berdiri di depannya itu, dia yakin, belum tentu bisa memenangkan separuh dari hati Yang Mulia.


"Aku pernah mencintainya dulu." Lanjutan kalimat itu seketika seperti air hujan yang menyiram bara. Xiao Yi hanya mampu mengerjap matanya, betapa egoisnya dia jika diam-diam merasa senang mendengar kalimat penutup itu, meskipun di saat yang sama dia merasa begitu iba pada nasib cinta perempuan ini, yang begitu berliku dan penuh pengorbanan.


"Dan akan terus mencintainya sampai kapanpun..." Jiu Fei hanya meneruskannya dalam hatinya sendiri, membiarkan mata perempuan di depannya itu membias dengan lega.


Xiao Yi tak lagi menahan perempuan itu, dia hanya menggengam kuat-kuat gulungan kertas di tangannya dan sebuah gantungan giok dengan kedua tangannya.


Jiu Fei melangkah perlahan dengan ringan, suara kakinya bahkan tak terdengar, menyelinap di balik pintu dan menghilang diantara malam.


Dari balik pembatas ruangan, pada tempat yang sama,

__ADS_1


sesosok tubuh berdiri seperti terpaku pada lantai. Tangannya mencengkeram ujung jubahnya, menahan gelombang perasaan yang menyanderanya.


Dia mendengar dengan jelas kata demi kata, kalimat demi kalimat dua perempuan yang berbicara itu.


Ya, Yang Mulia Yan Yue, hampir tak mengenali perasaannya sendiri setelah belasan tahun, seseorang yang pernah begitu di cintainya berdiri seperti hantu di depan mata kepalanya.


Semua kenangan sempat berlarian di dalam kepalanya, menyembul dan tenggelam dalam detik yang tak beraturan.


Rindu yang selalu diratapinya siang malam itu seolah membeku ketika dia benar-benar melihatnya.


Cinta itu membaur dengan perasaan sedih dan terluka, sehingga Yang Mulia tak bisa membedakan batasnya saat suara yang sangat di kenalnya itu di bawa angin sampai telinganya.


Yang Mulia dulu berfikir, dia akan berlari seperti kesetanan memeluk Jiu Fei, meruahkan segala rasa yang menyiksanya bertahun-tahun jika dia di beri kesempatan untuk bertemu perempuan itu di suatu waktu.


Tapi, malam ini, dia hanya mampu berdiri di tempatnya, pada sudut yang gelap.


Tak punya kemampuan untuk menggerakkan raganya bahkan mungkin hatinya.


"Kenapa hatiku sebeku ragaku yang kaku? Kenapa aku hanya merasa sedih yang begitu dalam saat melihatmu? Aku mungkin masih merasakan rindu yang sama tapi kenapa aku tidak bisa menemukan perasaanku yang menggebu dulu padamu, Jiu Jiu? Apakah waktu telah benar-benar mengikis semua perasaan itu tanpa aku menyadarinya? Ataukah aku telah mati rasa padamu?"


Semua pertanyaan itu berlompatan di relung jiwanya yang terasa menghampa sesaat.


"Yang Mulia, keluarlah...dia telah pergi." Suara bening Xiao Yi menyadarkan Yang Mulia dari tempatnya.


Perlahan dia keluar dari tempatnya menyembunyikan diri.


"Dia benar-benar Jiu Fei." Xiao Yi berucap sambil menatap mata Yang Mulia dalam pantulan cahaya lampu yang meremang.


Bayangan api yang meliuk-liuk itu ada di dalam bola mata hitam sepekat batang pohon willow itu.


(Terimakasih selalu setia dengan novel ini, tetaplah selalu bersama kisah cinta Xiao Yi dan Yang Mulia Yan Yue, temukan bagaimana cinta menggoreskan takdir semua orang dalam kisah ini, pada episode-episode berikutnya. Author berterimakasih untuk semua dukungan para pembaca dan komen-komen luar biasa yang selalu memberikan motivasi author untuk terus berusaha menulis dengan lebih baik lagiπŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜)

__ADS_1



__ADS_2