SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 64 NASIB DI UJUNG TANDUK


__ADS_3

Dalam perjalanan hampir satu jam berkuda itu, mereka sampai di sebuah desa kecil. Desa di lereng bukit Zhieshan.


Jauh di depan, hutan wisteria yang ungu menjadi begitu hitam karena pekat dan nampak begitu rimbun di musim semi seperti sekumpulan raksasa yang sedang berkumpul, nenyembunyikan sebuah bangunan kuil di atasnya, yang bercahaya kemerlip dari


jauh, seperti mata yang berkedip-kedip.


Desa Shanpo begitu sunyi, ada beberapa rumah warga yang jaraknya cukup berjauhan dan lokasinya bertebaran di lereng bukit itu. Di sana adalah rumah dari sekumpulan petani sederhana, yang hidup dari bercocok tanam di lereng bukit Zhieshan. Yang Mulia menyuruh Jian mengetok sebuah rumah yang pertama kali mereka temui, cahaya temaram menerangi rumah itu dari dalam, untuk menanyakan rumah kepala desa.


Seorang kepala desa tentu kenal dengan semua warganya, termasuk mungkin Huanran ataupun keluarganya.


Pintu di bukakan dan seorang ibu-ibu tua yang keluar dan berbicara, mukanya nampak agak bingung dan takut dengan kedatangan beberapa orang asing di malam buta begini.


Tak lama Jian kembali mendatangi Yang Mulia dan rombongan kecil yang masih berada di atas kudanya masing-masing.


"Tiga rumah dari sini, rumah kepala desa." katanya dan kembali menaiki kudanya.


Sampai di depan rumah kepala desa, Yang Mulia dan Jian segera turun dari kuda. Seorang lelaki paruh baya keluar membukakan pintu, matanya menunjukkan keterkejutan dengan kedatangan segerombolan orang asing ini.


"Kami mencari rumah seorang pelayan bernama Huanran, yang berasal dari desa ini" Kata Yang Mulia.


Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak menjadi semakin heran.


"Tuan, beberapa waktu yang lalu ada seorang yang lain datang kemari, menanyakan hal yang sama." Si kepala desa menjawab dengan terbata-bata.


"Orang lain?" Yang Mulia sekarang yang menyahut lebih terkejut.


"Ya, tuan. Orang lain. Mungkin seorang lelaki yang berpakaian hitam seperti tuan, hanya saja dia bercadar."


Tiba-tiba mereka menjadi cemas, ada seseorang yang telah mendahului mereka untuk menemukan pelayan itu.


Tentunya orang ini mengetahui dengan baik duduk permasalahannya jika dia mencari Huanran sama seperti mereka.


"Dimana rumahnya, perempuan bernama Huanran itu?" tanya Yang Mulia dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Dia baru saja kembali sore tadi, sepertinya kabur dari tempatnya bekerja. Tapi belum lama pulang, dia sepertinya sudah di cari banyak orang"


"Jawab saja, di mana rumahnya?!" hardik Yang Mulia benar-benar tidak sabar.


"Di sana, tuan." Kepala desa itu menjawab dengan takut, lalu menunjuk sebuah rumah yang berada di pinggir sebuah tanjakan. Rumah itu berada di dataran yang lebih tinggi dari rumah yang lain.


Tanpa banyak bicara, mereka bergegas menuju rumah itu, seorang laki-laki tua membuka pintu dengan seorang wanita paruh baya yang menangis terisak dengan sangat sedih.


"Seseorang membawa anakku dengan paksa, tuan..." Laki-laki tua itu menangis bersahutan sedu dengan istrinya.


"Huan baru saja tiba dengan ketakutan seperti baru di kejar hantu, tiba-tiba laki-laki itu membawa anakku, tuan. Tolonglah kami, tuan. Kami hanya orang kecil, kami tidak tahu apa-apa." Ayah Huanran menjatuhkan dirinya di kaki pengawal Jian yang berdiri di depan pintu yang terbuka lebar itu. Pengawal Jian sempat salah tingkah menerima perlakuan seperti itu.


"Jangan bunuh Huan kami, tuan...dia hanya datang ke istana untuk menjadi pelayan. Dia tidak memiliki banyak uang, jika tuan mengira anak kami cukup kaya untuk di jarah. Ampuni selembar nyawanya tuan, kami berjanji menyerahkan semua barang berharga kami untuk menukarnya dengan Huan kami..." Si ibu lebih mengiba lagi, sekarang bahkan menyangka bahwa yang datang pada mereka adalah sekelompok rampok yang mengincar anaknya.


"Kami akan membawa anak anda, jika kami bisa menemukannya. Apakah anda melihat kemana arah orang itu membawa anak anda?" tanya pengawal Jian.


Yang Mulia nampak tegang dan Xiao Yi lebih tegang lagi. Mereka tidak menemukan orang yang begitu penting itu. Harapan Xiao Yi seperti api yang di siram hujan. Rasanya seperti nasibnya benar-benar di ujung tanduk sekarang.


"Ke sana...dia membawa Huan ke arah kuil Sunyen!" Ayah Huanran menunjuk ke atas bukit.


Xiao Yi menarik tali kekang kudanya dengan dada bergemuruh, lebih cepat dari kuda Yang Mulia, dia tak sabar menyusul kemana Huanran di bawa.


"Chenxing...! perlambat kudamu, tetap di belakangku!" Teriak Yang Mulia dengan nada khawatir melihat Xiao Yi seperti kesetanan. Tapi Xiao Yi tidak mendengarnya, kudanya melaju, lebih cepat dari yang lain. Yang Mulia berusaha mensejajarkan kudanya dengan kuda Xiao Yi.


Tak ada yang benar-benar tahu, Xiao Yi adalah penunggang kuda yang tangguh di Youwu, bersama dua orang kakaknya. Ayahnya melatih mereka menjadi anak-anak yang tangguh, bahkan dua anak lelakinya di bekali dengan ilmu beladiri yang cukup di kamp pelatihan yang di pimpin oleh ayahnya sebagai komandan.


Xiao Yi tetap lebih dididik oleh ibunya menjadi anak perempuan yang baik, meskipun kakak-kakaknya Xiao Ce dan Xiao Ying, tetap melatih adik perempuan mereka itu secara diam-diam sedikit dasar beladiri.


Hanya saja, Xiao Yi tidak di perbolehkan menunjukkan di muka umum untuk kemampuan semacam itu, karena di Youwu anak perempuan tidak pantas bersikap seperti seorang laki-laki.


Mereka tidak pernah mengijinkan adiknya itu bepergian sendiri, karena mereka sangat tahu kadang adiknya ini sedikit keras kepala dan kadang tak bisa menahan diri.


"Kita harus bergegas Yang Mulia, waktu kita tidak banyak. Kita harus menemukan Huanran sebelum fajar tiba." Wajah sembab Chu Cu menari di kepalanya. Apapun yang terjadi, dia harus kembali sebelum pagi. Mereka sedang berkejaran dengan waktu.

__ADS_1


Diatas langit, bulan yang hanya setengah merayap hampir berada di puncak kepala menandakan benar-benar tengah malam, waktu mereka tidaklah banyak. Sementara orang yang mereka cari belum jelas keberadaannya.


Yang mereka tahu adalah, pergi ke kuil Sunyen berharap menemukan sesuatu di sana.


Mereka hampir mencapai bangunan kuil Sunyen, ketika tiba-tiba kuda Xiao Yi dan Yang Mulia yang berada di paling depan meringkik dengan keras, seperti takut dengan sesuatu.


Di tengah jalan, tepat beberapa depa sebelum tangga undakan yang mengarah menuju kuil Sunyen di depan. Dari balik sebuah pohon wisteria besar, muncul dua sosok tubuh menghadang, satunya seorang laki-laki tinggi tegap dengan pakaian warna hitam dan wajah di tutup cadar yang memegang lengan seorang perempuan, dengan pakaian pelayan yang sangat di ingat oleh Xiao Yi.


Wanita ringkih itu, tertunduk gemetaran dan sangat ketakutan dalam keremangan malam, Xiao Yi mengenalnya sebagai pelayan Huanran.


Jian Jie bersama dua pengawal lain segera melompat dari kuda dan mengepung dua orang itu dengan pedang terhunus, mereka bersiaga menjaga keselamatan junjungan mereka.


Yang Mulia melompat dari kuda di ikuti Xiao Yi, tangan kiri Yang Mulia memegang hulu pedang di pinggangnya yang masih berada dalam sarungnya.


"Hormat kepada Yang Mulia..." Laki-laki itu membungkuk kepada Yang Mulia, suaranya tak begitu jelas di balik kain cadar yang menutup wajahnya.


Yang Mulia terdiam di tempatnya tertegun sesat, semua menjadi lebih waspada, orang ini mengenal keberadaan Yang Mulia, tentu dia bukan orang sembarangan.


"Kamu mengenalku?" tanya Yang Mulia hati-hati. Dia menarik Xiao Yi ke belakangnya, berniat melindungi gadis itu.


"Saya tahu, Yang Mulia akan ke sini, saya membawa pelayan ini menjaga dia aman untuk di serahkan kepada Yang Mulia" Laki-laki itu perlahan membuka cadar yang menutup wajahnya dan mata Xiao Yi segera membeliak di dalam kegelapan malam. Tak percaya dengan apa yang di lihatnya,


"Tuan Zhao...!"


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya yaaa๐Ÿ™๐Ÿ˜…...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...


...Biar author tambah rajin UP๐Ÿ™โ˜บ๏ธ...


...Author sayaaaang banget dengan kalian๐Ÿคญ...


...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...

__ADS_1



__ADS_2