
"Ibu suri akan meracuni Xiao Yi pada saat penobatannya, lewat anggur perjanjian." Jawab Qian Ren, dengan nada sedikit ragu.
"Dari mana kamu tahu tentang hal ini?"
"Ayahku di bawah perintah ibu suri mengirim beberapa barang dari keluarganya di Youwu, ada satu barang yang diselipkan dalam botol wewangian yang berisi racun embun beku yang akan menyatu dengan semua jenis anggur tanpa terdeteksi rasa dan baunya. Jika Xiao Yi sampai meminumnya maka dalam hitungan menit dia akan meregang nyawa."
Zhao Juren tercengang pada semua yang di katakan oleh Qian Ren. Dia bahkan tak tahu jika ada racun semacam itu terlebih rencana ibu suri yang tak pernah menyerah untuk mencelakakan Xiao Yi.
"Barang itu tak akan bisa lolos dari gardu pemeriksaan barang yang masuk ke dalam istana." Zhao Juren mendengus, dia tak yakin rencana semacam itu bisa berhasil.
"Jangan remehkan rencana mereka, tuan Zhao. Ibu suri telah mengaturnya sematang mungkin, tak ada yang terlewat dari rencananya itu. Pada saat di gardu pemeriksaan barang yang masuk istana, ibu suri akan menyuruh petugas yang sudah di susupkannya menjadi salah satu petugas pemeriksa untuk menyelundupkannya untuk dipakai pada saatnya." Qian Ren sangat tahu sampai sedetail mungkin karena dia mendengar sendiri secara tak sengaja ketika ayahnya menginstruksikan hal ini di ruang pribadinya.
"Mereka tak akan bisa membuat racun itu sampai pada bagian gudang anggur. Orang-orang di sana adalah semua milik Yan Yue."
"Kesetiaan orang bisa di beli tuan Zhao." Sahut Qian Ren dengan tajam.
"Apakah ibu suri benar-benar serius ingin menggulingkan Yang Mulia Yan Yue?" tiba-tiba pertanyaan penuh keraguan itu keluar dari mulut Zhao Juren.
"Ayahku sepertinya sangat serius dalam mengikuti semua perintah ibu suri. Pasukan yang di kirim ayahku akan tiba sebelum hari penobatan. Begitu pula orang-orang bawahan gubernur Handong dan klan selatan. Sebagai seorang yang memegang tampuk militer, bahkan kamu mungkin tidak tahu, wakilmu telah menggunakan separuh dari pasukanmu yang berada di dalam kota raja untuk bergerak pada hari perayaan besar itu."
Zhao Juren tidak menyahut, dia tahu beberapa kejanggalan pada pasukan penjagaan kota raja, tapi anak buahnya telah memastikan tak akan ada yang kejadian yang serius jikapun ada sedikit kerusuhan pada hari itu.
Sekedar memuaskan perasaan bibinya, Zhao Juren telah cukup lama berdiam diri.
Selama ini dia menutup mata untuk semua ambisi dari ibu suri, tapi dia tak tahu jika ibu suri benar-benar ingin membuat semua khayalannya itu menjadi kenyataan, mengambil alih kekuasaan dan hanya dia yang berhak mengendalikannya.
Zhao Juren sebenarnya tak sependapat dengan bibinya itu, tapi dia tak pernah secara terus terang menentangnya, karena selama ini dia mengira bibinya itu sekedar menggertak supaya Yan Yue patuh padanya.
Tapi ketika ibu suri berusaha menyakiti Xiao Yi, dia tak bisa menahan diri untuk diam.
"Aku akan mengurusnya..." Kata Zhao Juren kemudian.
"Bagaimana caranya?" tanya Qian Ren.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu itu, yang pasti aku tak akan membiarkan siapapun mencelakakan selir Yi." Jawab Zhao Juren menanggapi pertanyaan Qian Ren yang tak yakin itu.
"Kamu, pulanglah segera ke Youwu sebelum siapapun mencurigaimu terlebih ayahmu dan bibiku. Atau kamu akan di hajar habis-habisan."
Tukas Zhao Juren, kemudian menunjuk sebuah persimpangan jalan yang berada di ujung lorong.
"Teruslah ke kiri, kamu akan bertemu seorang bawahanku, yang menjaga pintu keluar, ujung lorong ini berakhir di hutan bambu. Jalan ini akan tembus ke sana. Dia akan memberimu seekor kuda dan bekal yang cukup untukmu pulang."
"Aku ingin mememui Yi'er."
" Jangan menjadi keras kepala. kamu lebih baik kembali ke Youwu saja. Jika kamu bersikeras bisa menambah masalah saja." Zhao Juren menelengkan kepalanya, berusaha membuat mengerti laki-laki yang mempunyai selaksa perasaan yang sama dengan dirinya pada seorang selir kesayangan raja.
"Jikapun kamu berusaha untuk menemui selir Yi, tidak akan mudah. Selir Yi dalam penjagaan ketat sebelum hari penobatan."
Kata Zhao Juren dengan tegas sebelum meninggalkan Qian Ren yang masih termangu di tempatnya berdiri.
...***...
Hari hampir pagi, tapi langit begitu gelap. Hawa mencekam dari musim dingin seolah datang lebih awal.
Pakaiannya yang berbahan linen berwarna putih beras nan lrmbut itu tampak kontras dengan selimutnya yang sewarna beludru.
Dia tidak sendiri di atas tempat tidurnya yang nyaman itu, ada Yang Mulia Yan Yue memeluk pinggangnya yang sudah demikian melebar itu karena kandungannya yang kian besar.
Ditatapnya wajah tampan Yang Mulia, yang sedang tertidur lelap di sebelahnya.
Betapa aneh, mengamati wajah seorang raja yang terkenal pendiam dan selalu bertindak hati-hati ini.
Raja Yan Yue ketika sedang bersama Xiao Yi seolah tanpa beban sama sekali, tidur seakan tak terganggu dengan apapun.
Sirat penderitaan menggayut di guratan-guratan wajahnya yang kokoh itu, sekarang sedikit demi sedikit meluntur dengan senyum yang jarang terlepas jika sedang berada di dekat Xiao Yi.
Xiao Yi sendiri merasa heran pada dirinya sendiri, dia tetap saja merasa jatuh cinta dengan suaminya itu.
__ADS_1
Kesedihannya, kesendiriannya seolah sihir yang membuat Xiao Yi tak tega menjadi jauh terlalu lama dengannya.
"Chenxing..." Mata Yang Mulia terbuka perlahan, mengejutkan Xiao Yi yang sedang mengamati wajah Yang Mulia.
"Kenapa kamu menatapku dengan aneh dari tadi?" Pertanyaan itu membuat Xiao Yi tersipu.
"Yang Mulia sudah bangun?" Xiao Yi menutupi rasa malunya, menyadari dia sedang ketahuan terkagum-kagum pada wajah suaminya sendiri.
"Saat kamu bangun, aku tak bisa menolak untuk terjaga." Jawab Yang Mulia.
"Aku khawatir kamu tiba-tiba hilang dari sisiku." Lanjut Yang Mulia dengan suaranya yang kemalas-malasan itu.
"Aku tidak akan kemana-mana Yang Mulia." Xiao Yi membelai rambut Yang Mulia dengan lembut.
Yang Mulia menghela nafas lega, mendengar jawaban dari X,iao Yi, meski dia sekedar berbasa-basi soal itu, karena tak mungkin Xiao Yi menghilang dari sebelahnya tanpa seijinnya di dalam istana kerajaan itu.
"Yang Mulia akan tidur lagi?" Xiao Yi mengernyit dahi pada Yang Mulia yang tidak berminat membuka matanya lagi.
"Aku ingin tidur sebentar lagi." Kata Yang Mulia tanpa membuka matanya, tangannya mengait erat pada tubuh Xiao Yi.
Xiao Yi tersenyum kecil mendengarnya, dia tidak berusaha berbicara lagi, tak ingin mengganggu tidur Yang Mulia.
"Chenxing..." Tiba-tiba Yang Mulia membuka mulutnya memecah hening yang sempat terjadi .
"Hm..."
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat saat aku pulang dari aula guangli hari ini." Kata Yang Mulia, matanya masih dalam keadaan terpejam.
"Kemana?" Tanya Xiao Yi dengan raut yang penasaran.
"Ke suatu tempat untuk bertemu orang-orang yang mencintaiku." Jawab Yang Mulia misterius.
(Akhirnyaaaa....akak bisa crazy up hari ini, tiga episode sekaligus 🤭😅 Rasanya ngos-ngosan menulis tiga judul novel dalam sehari, beda genre dan salah satunya harus crazy UP🤭 Tapi akak akan coba tetap tabah menjalaninya demi janji pada readers kesayangan🤣🤣🤣 Besok akak Crazy UP lagi yaaaaa, nantikan Episode selanjutnya❤️❤️❤️)
__ADS_1
Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMENnya Ya..., i love you all...❤️❤️