SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 158 BELUM SEMPAT BERTERIMAKASIH


__ADS_3

Hujan salju yang lebat turun hampir sepanjang malam, kota raja Yubei terhampar salju putih yang tebal hampir se buku kaki.


Pagi ini, masih dalam cuaca dingin yang terbawa angin, membuat orang enggan keluar dari dalam rumahnya masing-masing.


Istana Weiyan yang luas juga lebih sepi dari biasanya, hanya para prajurit penjaga yang tampak berlalu lalang, mereka sepertinya sedang berganti sif. Beberapa pelayan yang nampak sibuk juga berjalan tergesa, membawa barang-barang bawaan di tangannya, entah baki atau keranjang.


Zhao Juren berdiri di pinggir danau buatan di atas taman shenhua yang sepi.


Wajahnya yang keras itu tak berkedip pada permukaan danau yang tampak seperti serpihan kaca.


Pohon-pohon persik dan meihua dipenuhi oleh salju keperakan yang menempel seperti kapas. Ini masih pagi, tapi dia sangat ingin berjalan-jalan di taman ini meski suasana masih terasa dingin, setelah hujan salju semalaman.


Sekarang, Zhao Juren telah tinggal di lingkungan istana Weiyan, karena peraturan seorang pangeran harus tinggal di lingkungan istana.


Yang Mulia bersikeras, supaya Zhao Juren tinggal di sebuah bangunan istana yang di peruntukkan untuk pangeran.


Bangunan itu tepat di dekat taman Shenhua, dengan nama istana Wangzi.


Zhao Juren hanya ingin menghormati permintaan raja yang telah berusaha membujuknya, padahal Zhao Juren tak berminat tinggal di sekitar aula utama istana itu.


Dia lebih senang berada di kediamannya sendiri.


Benaknya sedang memutar semua kenangan lama yang berarak seperti awan gelap di ingatannya. Tentang masa kecilnya, tentang kisah cintanya, tentang kehidupannya yang begitu abu-abu.


Dia tak tahu, orang yang selalu menjadi tempatnya bersujud ketakutan di masa remajanya, yang hanya berani di tatapnya dengan ujung matanya itu adalah ayah kandungnya, Yang Mulia raja Yan Houcun.


Seorang raja bijak yang selalu di kaguminya, meskipun dia begitu keras dan sulit di terka.

__ADS_1


Dia lebih merasa bingung, ketika tahu kebenarannya, ibu suri yang di sayanginya meskipun selalu di tentangnya diam-diam itu adalah ibu kandungnya. Dia mengikuti orang di panggilnya bibi itu, menurutinya kadang-kadang tetapi tak bisa menghilangkan rasa hormatnya pada wanita itu meskipun dia membuat kejahatan yang sebagian besar dalam pengetahuan Zhao Juren.


Bahkan untuk menghindari ibu Suri kadang dia berhari-hari pergi berkeliling Yanzhi, memeriksa perbatasan, datang pada negara-negara di luar sana, hanya untuk menutup mata pada apa yang di lakukan ibu suri.


Kenyataan bahwa dia adalah putera raja, malah membuatnya semakin bingung dengan tempat dan keberadaannya.


Yang Mulia Yan Yue, kakaknya, raja yang sngat baik bahkan menutup mata pada semua kejahatan ibunya, demi dirinya.


Seharusnya, Zhao Juren ikut bertanggungjawab atas semua dosa dan kesalahan sang ibu.


Tapi, Yang Mulia melonggarkan perasaannya dan tetap menganggapnya sebagai saudara seayah yang patut untuk menerima tempat dan hak yang menurutnya adalah sesuatu yang pantas diterima Zhao Juren.


Saudara sebaik itu, hampir saja berakhir di ujung belati sang ibu, hal ini membuat Zhao Juren merasa sesak sendiri dan semakin merasa berdosa.


Sesungguhnya, dia lebih nyaman jika Yang Mulia menghukumnya dan melemparnya pada ruang bawah tanah yang gelap bersama sang ibu, itu jauh lebih masuk akal daripada melihat sang ibu di kurung dalam sebuah biara, sementara dirinya duduk sebagai pangera dan berlaku sebagai tangan kanan raja.


Siapa yang pantas di bela dan siapa yang pantas di khianati, Zhao Juren selalu merasa dirinya berdiri di tempat dan waktu yang salah.


"Selamat pagi Pangeran Juren..." Seseorang mengejutkannya. Suara hangat itu seperti gelombang yang sangat dirindukannya.


Zhao Juren berbalik, dan mendapati Xiao Yi berdiri di belakangnya dengan mantel merah tebal. Ditangannya dia memegang sebuah seruling bambu berwarna emas dan merah dengan dengan juntai tali sutra berwarna semerah jubahnya. Pada ujung tali itu menggantung giok berukir yang di sepuh kuning emas.


"Permaisuri..." Zhao Juren segera membungkuk dengan canggung, dadanya selalu bergemuruh tak karuan saat bertemu pandang dengan Xiao Yi.


Entah pesona apa yang dimiliki perempuan ini, meskipun dia berbadan dua, dia tetap anggun dan menarik seperti biasanya.


Mungkin benar, kebaikan dan kebijakan hati seseorang akan terpancar dari dalam dirinya. Dalam keadaan apapun dia, akan selalu terlihat cantik jika hatinya baik.

__ADS_1


"Tidak perlu bersikap terlalu formal, Yang Mulia pangeran..."Xiao Yi tersenyum pada Zhao Juren, rasanya terlalu aneh ketika Zhao Juren bersikap sedemikian hormatnya pada dirinya.


Bahkan tidak hanya karena Zhao Juren tapi dari semua orang yang memperlakukannya demikian drastis membuat Xiao Yi merasa tidak nyaman, tapi itulah peraturan yang harus di taati dalam istana ini, mau tidak mau sekarang dia adalah seorang permaisuri raja, ratu dari kerajaan besar Yanzhi.


"Mohon tidak memanggilku dengan pangeran, Yang mulia permaisuri bisa memanggilku dengan Juren...seperti biasanya."Pinta Zhao Juren dan membungkukkan badannya sekali lagi.


"Andai aku juga bisa meminta hal yang sama, rasanya di panggil dengan sebutan Yang Mulia permaisuri membuatku jadi sedikit besar kepala." Xiao Yi tertawa kecil.


Zhao Juren terpana, benar-benar terpana, pertama kali dia melihat Xiao Yi tertawa padanya, giginya yang putih berbaris rapi menyembul seperti barisan pagar yang cantik. Bibirnya yang merah itu tertarik sempurna, dia benar-benar tertawa pada Zhao Juren untuk pertama kalinya.


"Apakah aku menganggu anda?" tanya Xiao Yi sambil melemparkan pandangannya pada danau yang kemilau ditimpa cahaya matahari pagi, yang muncul di ufuk timur dengan malas, berusaha menembus kabut sisa hujan salju.


"Tentu saja tidak."Jawab Zhao Juren dengan salah tingkah.


"Aku baru saja lewat, berjalan-jalan pagi di sekitar taman, ibu hamil kata tabib, sangat baik untuk berjalan-jalan di pagi hari. Tapi, melihat anda berada di sini sepagi ini, aku bermaksud menyapa."Xiao Yi memberi alasan, menepis rasa tak enak karena berjumpa dengan Zhao Juren sepagi ini, seorang diri. Sementara Chu Cu dan beberapa pengawal berdiri tidak jauh dari mereka, di ujung jembatan, menunggu di sana.


"Tapi udara begitu dingin...tidak baik Yang Mulia permaisuri terlalu lama di luar." Sahut Zhao Juren, meski pernyataan itu tidak sesuai dengan perasaannya yang merasa bahagia bisa bertatap muka dengan Xiao Yi.


Perasaan yang sebenarnya tak pantas tapi dia menyimpannya dalam-dalam di sudut hatinya. Keserakahan itu di simpannya untuk dirinya sendiri.


"Aku merasa bersalah belum sempat berterimakasih padamu..." Tiba-tiba suara Xiao Yi memecah sunyi, dia berbalik dan menghadap Zhao Juren, menatap matanya langsung seperti seorang teman.


"Berterimakasih untuk apa?" Zhao Juren balas menatap mata yang berbinar seindah kejora itu.


"Untuk semua hal yang telah kamu lakukan untukku..."


(Nantikan Crazy UP terakhir hari ini, Yaaa🤭🤭🤭Love You all buat semua readers🥰🥰🥰)

__ADS_1



...Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy up🤭🤭...


__ADS_2