SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 33 BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Musim semi di kota Yubei. Musim semi tahun ini, begitu semarak dan penuh warna. Di setiap penjuru kota bunga-bunga mulai bermekaran mempertontonkan kecantikannya. Musim semi juga mengusir salju dengan begitu cepat, hawa dingin segera berlalu, suhu udara merangkak naik memberikan kehangatan yang begitu menyenangkan.


Bunga Ying hua putih dan merah jambu bermekaran di kiri kanan jalan dan di depan rumah-rumah warga, sepanjang kota Yubei.


Warna-warna yang semarak mengisi setiap sudut dengan ragam bunga.


Kota menjadi ramai siang dan malam, di isi dengan berbagai acara dari atraksi-atraksi pertunjukan seni sampai beladiri, jajanan-jajanan khas musim semi bisa di temukan di setiap tempat dengan mudah, festival musim semi selalu di selenggarakan dengan meriah menyambut musim terindah setiap tahunnya itu.


Di taman Shenhua, Istana Weiyan serupa pelataran sorga keindahannya.


Pohon-pohon persik mekar sempurna, seperti lautan merah muda yang melayang-layang di udara dan bunga meihua begitu merah, menyala menantang semua warna lain dari bermacam bunga yang mekar bersamaan di sana.


Danau di tengah sungai, airnya begitu jernih dan hangat, di atasnya bunga-bunga lotus merekah seperti gaun bidadari.


Di istana harem tak kalah sibuknya, para selir dan dayang istana bersiap-siap merayakannya dengan dua festival khusus yang di selenggarakan oleh istana harem yaitu, festival Chushi dan festival Yishu.


Pada festival Chushi, semua selir boleh menjadi peserta, membuat masakan khusus untuk raja, yang bermakna sebagai do'a dan harapan kepada suami mereka supaya tetap sehat, panjang umur dan sejahtera, sehingga bisa memimpin negara dengan kuat dan bijaksana.


Acara penting ini dilaksanakan di aula Qing Ren, istana harem.


Dan di hari kedua, di adakan festival Yishu, dimana para selir mempertunjukkan bakat-bakat seni mereka, untuk menghibur Yang Mulia dan pada acara ini, di hadiri oleh orang penting istana Weiyan. Dilaksanakan di taman Shenhua tepat satu malam sebelum malam puncak festival musim semi.


Festival di Yubei yang paling besar adalah festival lampion, maka selama sepekan penuh kota Yubei di penuhi dengan lampion bermacam corak dan bentuk, di dominasi warna merah menyala dan lukisan warna emas.


Pada puncak festival ini, dihadiri oleh Raja Yanzhi beserta dengan semua anggota keluarga kerajaan termasuk para selir-selirnya beserta dengan petinggi-petinggi kerajaan Yanzhi sampai bangsawan-bangsawan, gubernur-gubernur dan pemimpin klan yang menjadi bagian dari kerajaan Yanzhi.


Xiao Yi berdiri di jembatan yang berdiri congkak di atas danau sungai shenhua.


Sutra halus berwarna merah muda yang amat lembut membalut tubuh rampingnya tampak berkibar-kibar diterpa angin sore, sebentar lagi Festival Chushi akan di mulai.


Semenjak pagi para selir sibuk dengan tim masaknya masing-masing, koki-koki istana dan dayang pilihan mendampingi para selir ini.


Sebenarnya, para selir ini tepatnya hanya tukang komando, dan tampil pada saat penyajiannya saja seperti seorang pencari muka di depan raja. Yang bekerja keras adalah para koki dan pelayan.

__ADS_1


Mereka lebih mencemaskan gaun dan perhiasan apa yang akan di pakainya pada saat mereka tampil didepan raja.


Jika para selir lain tampak begitu sibuk, tidak demikian halnya dengan Xiao Yi.


Dia tidak dilibatkan dalam acara ini karena selir Mei benar-benar tidak menyukainya.


Dengan menggunakan kekuasaannya yang dipercayakan ibu suri memimpin festival Chushi, Selir Mei melarang Xiao Yi sebagai selir yang baru untuk ikut sebagai peserta, karena menurut selir Mei, Xiao Yi belum pernah ikut menghadiri acara itu.


Xiao Yi diperkenankan mengikuti jalannya acara, supaya bisa belajar bagaimana bersikap sebagai peserta di festival chushi tahun berikutnya.


Tapi, siapapun di istana harem sangat tahu, alasan utama Xiao Yi tidak boleh ikut adalah, karena ketakutan selir Mei bahwa bakat dan kemampuan selir baru itu akan melebihi dirinya. Dia tidak pernah siap jika Yang Mulia kembali mencurahkan perhatian lebih kepada selir Yi.


"Nyonya, sebentar lagi acara di mulai, lebih baik kita bergegas ke aula Qing Ren." Tegur Chu Cu pada majikannya yang sedari tadi hanya melamun saja.


Nama aula pertemuan istana harem itu, sekilas mirip nama laki-laki yang beberapa malam yang lalu dipastikan bukan lagi menjadi bagian hidupnya, Qian Ren.


Mendengar Chu Cu menyebutnya, membuat hatinya tiba-tiba di landa sedih.


Wajah memelas dan pasrah milik Qian Ren menyisakan sedikit rasa bersalah, tapi sebuah keputusan besar ini adalah yang terbaik untuk semua orang.


Xiao Yi patah hati, tentu saja dia patah hati, karena kenangan indah yang terlampau banyak bersama laki-laki itu adalah senjata paling hebat untuk membuatnya merasakan sakitnya kehilangan.


Tapi, menjadi kembali kuat, karena mengingat ada seseorang terluka lebih dalam dari dirinya dalam hal kehilangan membuatnya segera lebih baik.


"Sebentar lagi , Chu Cu"


"Tapi nyonya, tidak baik jika yang lain lebih dulu datang dari kita"


"Apa yang kamu khawatirkan, Chu Cu. Kita bukan orang penting dan cukup terpandang untuk harus di lihat semua orang. Tidak datang juga, kurasa bukan masalah besar"


"Tapi, nyonya...tidak sopan jika ibu suri lebih dulu tiba daripada kita, hal ini bisa menyebabkan nyonya menjadi semakin tidak di sukai di istana ini."


"Sejak pertama aku masuk istana harem, sudah tidak ada yang menyukai aku, jadi bukan hal baru bagiku untuk ku di jauhi oleh banyak orang"

__ADS_1


Xiao Yi seolah menguatkan dirinya sendiri, kecemburuan banyak orang terhadapnya mengakar di istana ini, seperti akar beringin tua. Menancap sampai ke daging-daging.


Dan sekarang sepertinya Yang Mulia pun sepertinya juga menjadi acuh padanya.


Kadang Xiao Yi berfikir, apakah ciuman Yang Mulia malam itu membuatnya begitu malu untuk bertemu Xiao Yi? ataukah Yang Mulia begitu menyesal telah melakukannya?


"Aku masih ingin menikmati udara yang nyaman ini, sebentar lagi"


"Nyonya..." Chu Cu terdengar begitu gugup, pelayannya ini memang suka mencemaskan segala hal.


"Ya, Chu Cu...bersabarlah sedikit, aku bukan salah satu peserta di acara itu jadi tidak harus bergegas"


Xiao Yi menjawab acuh, tanpa menoleh sedikitpun pada Chu Cu.


"Nyonya, maaf menganggu..." Suara lain yang begitu berat dan tegas mengejutkan Xiao Yi memaksanya membalikkan badan.


Seorang Laki-laki dengan alis tebal yang tajam seperti kelokan pedang dengan mata yang hitam pekat melebihi giok hitam, memandangnya dengan sebaris senyum tipis dan keterkejutan yang tidak bisa di sembunyikannya, atas pertemuan kembali yang tidak di sangka-sangka.


Jubah brokat berwarna biru tua dan ungu yang benar-benar indah, kerah bajunya tinggi sampai bawah telinga, begitu kaku namun elegan.


Tubuhnya menampilkan kekuatan dan keanggunan dalam waktu yang sama.


Dia begitu menawan dan bersinar di bawah langit sore yang keemasan.


"Tuan Zhao?" Xiao Yi terkesima.


"Zhao Juren memberi salam kepada nyonya." Tuan Zhao membungkukkan badannya sedikit dengan mata yang menatap rendah ke ujung kaki Xiao Yi, kilat terkesima yang sama sempat berkelebat di mata yang mempunyai tatapan setajam elang itu.



Bonus visual, lukisan bunga meihua


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...

__ADS_1


...🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...


...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...


__ADS_2