SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 46 MENGEMBALIKAN KEPADA PEMILIKNYA


__ADS_3

Selir Mei melempar pandangan pada undangan yang hadir, semua sekarang seperti mengarahkan mata kepadanya. Mengisyaratkan ingatan mereka pada janji Selir Mei.


Betapa kesombongannya telah membuatnya di gerogoti penyesalan, sekarang hak untuk meminta satu permohonan yishu itu melayang begitu saja.


Dia terlalu tinggi menilai kecerdikannya dan terlalu rendah menilai kemampuan selir Yi.


Setiap kecongkakan tentu akan bertemu harganya.


Selir Mei telah berani bertaruh maka kemenangan atau kekalahan harus ditelannya dalam diam.


Ibu Suri yang duduk bersama beberapa orang selir di gazebo kiri hanya menatapnya dengan dingin seolah mengatakan bahwa dia telah berbuat bodoh dengan meremehkan selir persembahan dari Youwu itu.


Selir Mei melihat kepada Yang Mulia, yang menghadangnya dengan tatapan tak hanya dingin tapi tajam, seolah hendak menuntut janji untuk Xiao Yi.


Yang Mulia di mata selir Mei hanya begitu buta oleh selir muda itu, sehingga tidak bisa melihat betapa besar perasaan cintanya kepada Yang Mulia. Dia sanggup melakukan apa saja, demi membuat Yang Mulia melihat kepadanya.


"Tentu saja selir Mei tidak akan berkelit, dia akan menepati janjinya..." kata Yang Mulia tegas.


Ya, Yang Mulia hanya membela Selir Yi, sedikitpun Yang Mulia tidak membagi perasaan iba padanya. Kebencian selir Mei semakin dalam, karena Selir Yi itulah Yang Mulia memperlakukannya seperti ini!


Selir Mei maju perlahan dan membungkukkan badan kepada Yang Mulia,


"Saya menyerahkan hak pita biru yishu kepada selir Yi." Ucapnya sambil menelan ludahnya sendiri dengan berat. Wajahnya merah padam. Rasa kesal, sesal dan amarah yang coba di simpannya dalam hatinya.


Yang Mulia tersenyum puas, mendengarnya. Seringai kecilnya mengiringi langkah Selir Mei kembali ke gazebonya.


Sekarang hanya berdiri Xiao Yi di depannya berdiri seperti sebuah arca jelita. Rautnya tanpa sedikitpun merasa tertekan atas apa yang di perbuat selir Mei padanya.


"Apa yang menjadi permohonanmu, selir Yi?" tanya Yang Mulia. Ada sedikit harapan di hati Yang Mulia, bahwa Xiao Yi untuk memohon menghabiskan satu malam bersamanya, tapi kemudian dia menepisnya, karena Selir Yi bukanlah wanita sekelas selir Mei. Dia jauh lebih punya harga diri.


Atau mungkinkah, selir Yi akan meminta dirinya di angkat menjadi selir menengah untuk membuat statusnya lebih dipandang di antara semua selir.


Yang Mulia menunggu dengan rasa penasaran.


"Apakah permohonan yishu, akan selalu di kabulkan?" tanya Xiao Yi, terdengar sedikit lebih berani dan tidak biasa.


Yang Mulia terdiam sesaat, berusaha mencari maksud dari kalimat Xiao Yi. Apakah gadis ini menjadi tergoda untuk berbuat serakah?


"Aku akan mengabulkan selama masih sesuai dengan ketentuan permohonan yishu." Jawab Yang mulia, lugas.


"Jika demikian, di saksikan semua yang hadir di festival ini, saya akan menyimpan permohonan yishu ini, sampai saat yang tepat, saya akan memintanya kepada Yang Mulia." Ucapan Xiao Yi begitu tenang,

__ADS_1


Xiao Yi tersenyum kecil kepada Yang Mulia, seolah dia baru saja memenangkan sebuah permen.


"Kamu bisa memintanya sekarang, aku akan mengabulkannya, selir Yi." Yang Mulia merasa benar-benar ingin Xiao Yi membuat permohonannya padanya sekarang. Dia akan memberi apapun kepada gadis itu, bahkan jika dia meminta hatinya sekalipun.


"Sekarang, saya merasa tidak membutuhkan apa-apa Yang Mulia. Saya merasa cukup di istana ini. Suatu saat, mungkin permohonan ini akan berguna. Aku akan kembali memintanya."


jawab Xiao Yi.


Yang Mulia menatap tajam kepada Xiao Yi, tiba-tiba rasa takut dan putus asa menyergapnya dengan sikap Xiao Yi.


Dia tiba-tiba merasa takut jika ternyata, Xiao Yi merencanakan sesuatu, apakah Xiao Yi akan menggunakan permintaannya, untuk membebaskan diri dari istana harem? ataukah mungkin dia ingin suatu meminta Yang Mulia mengembalikan dirinya pada kekasihnya, putra gubernur itu?


Prasangka-prasangka itu tiba-tiba bermunculan di dasari rasa cemburu yang tiba-tiba menguat.


"Saya mengucapkan banyak terimakasih atas karunia ini kepada Yang Mulia dan juga kepada Selir Mei."


kemudian mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri dan memohon ijin kembali ke tempatnya duduk.


Selir Mei menatap gadis itu dengan rasa benci yang semakin dalam, dia merasa selir Yi begitu licik.


Yang Mulia menatap punggung gadis itu seperti orang yang merasa dipermainkan. Sementara Xiao Yi berlalu dengan begitu tenang dari hadapannya.


Kamu sungguh sangat berbeda, batin Yang Mulia.


Festival Yishu malam ini benar-benar berbeda, tak sedikit orang mengagumi selir baru itu. Dia tak hanya cantik tapi pintar dan juga cerdik.


Kelap kelip cahaya lampion seperti bercerita tentang keindahan festival Yishu di taman Shenhua tahun ini yang juga berlangsung tak terduga.


Tari-tarian para dayang dan musik-musik mewarnai Festival Yishu itu sampai usai.


...***...


Malam turun semakin larut ketika perjamuan setelah festival Yishu usai. Semua orang kembali ke kediamannya masing-masing. Selir Yuan dan pelayannya berpamitan masuk ke dalam wismanya dan mengucapkan salam perpisahan di pintu Wisma Yangjie, setelah mereka bersama-sama berjalan dari perhelatan yishu di taman Shenhua.


Tiba-tiba Xiao Yi memutar langkahnya, kembali ke arah taman.


"Nyonya, arah wisma Xingwu bukan ke sana." tegur Chu Cu.


"Aku harus ke suatu tempat"


"Nyonya mau kemana?"

__ADS_1


"Menemui seseorang." langkah Xiao Yi menjadi tempat, Roknya di angkatnya sedikit supaya langkah lebih lebar.


"Nyonya, kita harus kembali!" Chu Cu menjadi takut dengan apa yang di lakukan oleh Xiao Yi.


"Aku harus mengembalikan barang kepada seseorang, aku tidak ingin barang ini membuat antara aku dan dirinya salah paham."


Xiao Yi mengambil kantong perhiasan beludru yang berisi Chai pemberian tuan Zhao dari pinggangnya dan memegangnya erat-erat.


Dia merasa bersalah menyimpan chai itu, karena mungkin Tuan Zhao mengira dia menerimanya untuk suatu alasan.


Dia harus bertemu tuan Zhao itu, malam ini, chai ini harus dikembalikan kepada pemiliknya.


Ruang obat tabib Guo itu tidak jauh dari wisma para selir, sudah mereka lewati tadi saat pulang dari arah Shenhua.


Tempat itu selalu di buka dua puluh empat jam sehari semalam, dan di jaga oleh beberapa asisten tabib Guo. Mereka juga ahli membuat resep obat.


Xiao Yi berjalan dengan tergesa, menapaki pinggiran danau. Lampion-lampion lotus yang berkelipan di atasnya, tak lagi menarik perhatiannya. Karena yang ada di benaknya sekarang adalah bertemu dengan tuan Zhao segera. Chu Cu berlarian kecil di belakangnya, takut tertinggal jauh dari majikannya.


"Nyonya, bukankah tidak baik seorang perempuan menemui laki-laki asing di tengah malam buta seperti ini." Celoteh Chu Cu, mulutnya terengah-engah.


Xiao Yi tidak menyahut, bangunan ruang obat Guo sudah di depan mata.


"Nyonya, kalau ada yang tahu nona akan menemui seseorang, nyonya bisa terkena masalah..." Chu Cu berhenti, memegang lututnya sambil menarik nafas.


Hanya melewati dua pohon Persik di depannya,


ketika tiba-tiba seseorang menarik tangannya ke belakang sebuah pohon persik dan mendorongnya tersandar di batang pohon itu tanpa sempat berteriak karena sebuah telapak tangan membekap mulutnya.


Mata Xiao Yi membeliak menatap wajah Yang begitu dekat dengan wajahnya itu!


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...


...🙏🙏🙏...


...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...


...Nantikan episode berikutnya❤️...

__ADS_1


__ADS_2