
KEDIAMAN PANGLIMA
Zhao Juren melihat kepada pengawalnya, Xiuhuai dengan tatapan nanar.
"Aku ingin menambahnya lagi." Ucapnya sambil menyodorkan cangkir yang ada di tangannya.
Xiuhuai tak menyahut tapi dengan segera menuangkan kembali arak untuk Zhao Juren.
Dengan tergesa, Zhao Juren menengaknya kembali.
"Mungkin Tuan harus segera beristirahat." Tegur Xiuhuai. Dia adalah pengawal sekaligus teman dekat Zhao Juren dari dia masih kanak-kanak. Tak ada yang tidak diketahui oleh Xiuhuai tentang tuannya ini.
Bahkan, tidak terkecuali tentang kisah percintaan Zhao Juren hingga perasaannya pada apapun.
"Kamu tidak melihat," Wajah Zhao Juren memerah oleh pengaruh arak bai jiu yang telah ditengaknya entah untuk keberapa cangkir. Arak putih dengan kadar alkohol sangat tinggi ini, menguarkan bau yang keras. Minuman ini dibuat dari biji-bijian yang diragikan dan kemudian di suling. Hasil fermentadi sempurna itu membuat bai jiu menjadi arak yang paling di sukai oleh beberapa orang yang punya toleransi tinggi terhadap alkohol. Dengan begitu mereka bisa merasakan efek kemabukan untuk sekedar melupakan setiap beban hidup sesaat saja.
"Melihat apa?" Xiuhuai mengembalikan guci porselen yang di pegangnya ke atas meja.
"Xiao Yi..."Zhao Juren mendesah dengan suara yang sedih.
Sekarang matanya beralih pada sebuah Chai kumala biru di atas meja yang bersanding dengan sebuah kertas yang terlipat lusuh.
"Dia benar-benar seperti membenciku." Suara serak itu sungguh ironis dengan wajah tampan dan rahang kokohnya. Ternyata, tubuh yang kekar gagah pun tak berdaya jika di gerogoti derita cinta.
"Tuan, berhentilah memikirkan dia. Jangan mengulang penderitaan yang sama, mencintai apa yang bukan milik kita hanya berujung sengsara." Xiuhuai yang semuda Zhao Juren memang telah menikah bahkan sebentar lagi Yiemin istrinya yang manis itu akan melahirkan seorang anak baginya. Dia tahu benar, menginginkan apa yang bukan miliknya, tak akan pernah baik. Andaipun ada yang berusaha merebut Yieminnya, maka dia akan bersedia bertaruh nyawa untuk mempertahankannya.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Xiao Yi tapi juga tak bisa membiarkan bibi menanggung perbuatannya itu dengan menerima hukuman karena perempuan yang kucintai."
Sungguh berat beban yang ditanggungnya, berada pada sebuah tempat, di mana seperti mengunyah buah simalakama.
"Tuan, anda tidak akan bisa bertahan berdiri terus di tengah-tengah mereka seperti ini."
"Kenapa bibi harus selalu menganggu Xiao Yi?"
Zhao juren meraih chai kumala biru itu dan mengelusnya, seolah itu seseorang yang begitu di sayangnya.
Xiuhuai terdiam, tak punya jawaban. Dia tahu benar ambisi ibu suri yang begitu besar dan serakah, tapi dia hanyalah bawahan yang tak punya kekuatan jangankan untuk menghentikannya, untuk mengeluarkan sepatah kata menyatakan itu salahpun dia tak punya daya.
__ADS_1
"Ibu suri baru saja tiba, tuan...."Seorang pengawal Zhao Juren tergopoh-gopoh membungkukkan badan membawa berita kedatangan ibu suri ke kediaman Zhao Juren.
Malam sudah sangat larut, bahkan sudah melewati tengah malam, Zhao Juren mengernyit dahinya. Sangat jarang bibinya itu bertandang ke istana panglima, jika bukan karena sangat penting.
Bahkan jika ada yang penting sekalipun, ibu suri akan menyuruh orang suruhannya untuk memanggil Zhao Juren menghadap.
Zhao Juren tahu, perihal dia menangkap tabib itu dan menyerahkannya pada Yang Mulia akan membuat bibinya sangat murka.
Xiuhuai tak kalah terkejutnya, lalu dengan tergesa menyingkirkan guci-guci arak yang berderet di atas meja ruangan tuannya itu.
Tiga orang pelayan masuk segera dan membersihkan ruangan Zhao Juren, mengelap arak yang berceceran di atas lantai dan meja di bawah perintah Xiuhuai.
"Ada apa bibi kemari?" Zhao Juren menyembunyikan Chai Kumala biru yang ada di tangannya dan sebuah lipatan kertas lusuh dari atas meja kebalik jubahnya, lalu berusaha berdiri tegak untuk menyambut kedatangan ibu suri. Kepalanya sedikit terasa berputar tapi dia berusaha berdiri memberi hormat pada ibu suri.
Ibu Suri muncul di pintu dengan mantel berwarna marun, wajahnya begitu muram dan tak sabar, terlihat kilat amarah yang di pendam dengan sangat.
"Juren...!" Ibu Suri menghardik dengan sangat kesal.
Suaranya seperti seorang ibu yang sangat marah pada anaknya.
"Hormat kepada bibi..."
Tangan Ibu Suri mengibas di udara. Dia menutup hidungnya dengan tangannya yang lain. Bau arak yang keras itu memenuhi ruangan, terkurung dinding-dinding tempat kini mereka berdiri berhadapan
"Juren, apa yang kamu lakukan? Tidak pantas seorang panglima kerajaan minum arak sampai mabuk seperti ini!"
Juren menarik sudut bibirnya, sekarang dia menatap ke arah ibu Suri dengan seksama.
"Kamu tidak melihat hasil dari apa yang kamu lakukan, kamu hampir saja mengacaukan semua rencanaku!" Ibu Suri berteriak dengan nada tinggi, benar-benar bentakan.
"Aku yang telah menyelematkan bibi." Zhao Juren menyahut tanpa ekspresi, hanya wajahnya yang memerah, membuatnya seperti kepiting yang di celupkan ke air panas.
"Aku menangkap Tabib tua itu, saat orang-orang bibi hendak membunuhnya."
"Dia memang seharusnya dilenyapkan! aku yang telah memerintahkannya!"Mata Ibu suri semakin besar mendengar pengakuan Zhao Juren.
"Jika bibi membunuhnya, maka semua jari mengarah ke ibu suri! Sudah merupakan rahasia umum tabib itu adalah tabib kepercayaan ibu suri." Zhao Juren membalas tatapan bibinya itu tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Mayat tidak bisa berbicara!"
"Bukti yang akan menunjukkan bibi adalah dalangnya!"
"Tidak mungkin!"
"Bibi tahu, anak dari tabib itu adalah anak buahku di kemiliteran, dan untuk menjaga segala hal tabib itu telah meninggalkan sebuah bukti keterlibatan ibu suri jika dia dilenyapkan."
Ibu suri sekarang terdiam, menatap Zhao Juren yang dari mata sampai wajahnya memerah.
"Lebih baik dia mati di tangan Yang Mulia daripada mati di tangan bibi."Suara itu menjadi rendah tak lagi berapi-api.
"Tapi di tangan Yan Yue, dia akan menyebutkan namaku!"
"Dia tidak akan berani menunjuk bibi."
"Bagaimana kau tahu itu?"
"Karena...aku telah menyandera anak dan semua keluarganya untuk bibi!"
Wajah penuh amarah ibu suri seketika melunak, menatap Zhao Juren tanpa bisa menyembunyikan kelegaan.
"Bagaimana bibi begitu ceroboh, menggali lobang untuk diri bibi sendiri. Xiao Yi adalah cucu seorang tabib, dan ibunyalah yang telah merawat selir Yuan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalau dirinya sedang mengandung?"
Sekarang ibu suri benar-benar merasa dirinya begitu kalah oleh seorang selir. Dia bahkan tak memperhitungkan jika kecerdasan gadis itu hampir saja memperdayanya.
"Bibi, tak akan ada yang mengucapkan nama bibi di aula guangli besok. Bahkan tabib tua itu tak akan pernah keluar dari dalam penjara bawah tanah saat matahari terbit besok pagi." Suara Zhao Juren begitu berat, kesedihan menyeruak ketika tatapannya bertemu dengan ibu Suri.
"Apa yang membuatmu begitu yakin, Juren?"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
Semoga Author semakin rajin UP, ya...🙏😂
__ADS_1