
"Aku tahu..." Yang Mulia menyahut dengan suara yang bergetar.
Xiao Yi mengangkat kedua tangannya, menyerahkan dua barang yang kini berada di genggamannya.
"Yang Mulia, ini adalah hal yang ingin di sampaikan olehnya." Xiao Yi berkata dengan tenang, setenang tatapannya pada laki-laki yang kini terpekur menatap dirinya seolah-olah sedang mencari sesuatu.
Tanpa mengalihkan pandangan dari mata Xiao Yi, Yang Mulia mengambil gulungan kertas itu tetapi tidak menyentuh gantungan giok jamrud yang berkilat-kilat dalam temaram.
"Dia juga mengembalikan barang ini kepada Yang Mulia." Kata Xiao Yi, dengan tangan terulur di udara sementara sutra ungu berjumbai di ujungnya melayang-layang.
Yang Mulia terdiam, di tatapnya Xiao Yi dalam-dalam.
"Dia telah memberikannya padamu, maka itu adalah milikmu."Sahut Yang Mulia.
"Tapi ini adalah pemberian Yang Mulia padanya...aku tak bisa menerima apa yang telah Yang Mulia berikan pada orang lain."
Xiao Yi mengerjap matanya yang terasa berembun.
"Ini adalah tanda cinta dan janji Yang Mulia untuk Jiu Fei." Lanjutnya dengan suara gemetar.
Yang Mulia mengeluarkan Xieyi yang sama dari balik pinggangnya, sebuah giok hijau berukir naga yang sama persis.
Lalu perlahan dia memegang tangan Xiao Yi, menangkup jemarinya bersama dengan benda yang ada di genggamannya dan genggaman perempuan yang menatapnya lurus itu.
"Apakah benda ini membuat kita kehilangan perasaan yang sama?" Tanya Yang Mulia dengan parau.
Xiao Yi tak menjawab tapi matanya seakan sedang berbicara banyak hal, begitu takut sekaligus begitu banyak tanya yang mengambang di sana.
"Aku pernah mengatakan cinta padanya seperti halnya aku mengatakan cinta padamu meski itu dalam rentang masa yang berbeda. Aku tidak pernah berbohong jika itu adalah rasa yang sama meski pada orang yang berbeda." Yang Mulia berkata lirih.
"Tak pernah terpikirkan olehku, apakah ini benar atau salah, atau perasaan yang mempermainkanku. Yang aku tahu sebesar dulu aku begitu takut kehilangannya, begitu pula aku takut kehilangan dirimu. Tapi, bersalahkah aku jika mengatakan dengan jujur, cinta datang dua kali dalam hidupku, dan aku menginginkan kamu menjadi yang tak pernah pergi meninggalkanku sampai akhir." Yang Mulia melepaskan giok itu dari genggamannya, jatuh menghantam lantai meninggalkan bunyi berderak.
Xiao Yi terpana, tak sempat menangkapnya, tapi giok lain yang di genggamannya dipegangnya dengan erat, bersama benda yang dilepaskan dengan sengaja itu ada sesuatu yang merembes lewat sudut mata hitam sang raja.
__ADS_1
Dia menjaga barang itu hampir separuh usianya, dengan harapan akan bisa menyatukannya dengan giok Jiu Fei, karena itu adalah janji mereka saat Yang Mulia mengucapkan cintanya. Tapi ketika giok janji itu pulang kembali pada si pemberi, semua sudah kehilangan arti.
"Yang Mulia..." Xiao Yi segera tersadar dengan tergesa memungut giok yang di jatuhkan Yang Mulia. Sayangnya, Giok Xieyi itu telah retak.
"Yang Mulia, benda ini sangat berarti bagimu." Dengan terbata-bata Xiao Yi berusaha memperbaikinya meski dia tahu itu adalah hal yang sia-sia.
"Aku terlalu lelah, Chenxing...terlalu letih menghadapi diriku sendiri. Takdir cinta telah mempermainkan diriku begitu rupa. Xieyi itu telah retak dan tak mungkin kembali utuh, seperti itulah takdirku dengan Jiu Fey. Tidakkah kamu merasakan, betapa aku membutuhkanmu untuk menemaniku melewati semuanya. Tinggal di sisiku dan tidak membuatku patah hati. Tinggal dan membiarkanku mencintaimu tanpa rasa penyesalan." Yang Mulia berkata dalam nada tak berdaya.
Xiao Yi merasakan dadanya di dera sesak, rasa haru menyeruak. Betapa sekarang dia merasakan, suaminya ini begitu kelelahan.
Dengan gemetar di peluknya tubuh Yang Mulia, kedua tangannya saling mencari di belakang pinggang Yang Mulia meski dua giok xieyi itu masih di genggamnya erat.
"Maafkan aku, Yue...maafkan aku..." Xiao Yi tak bisa menahan tangisnya.
"Jangan pernah lagi kamu memaksaku mengatakan siapa yang lebih aku cintai dengan tatapanmu itu, karena aku sungguh tak tahu jawabannya. Yang aku tahu hanya ingin kamu terus berada di dekatku, dan memelukku seperti ini. Jika ini bukan cinta, maka aku tak tahu lagi apa namanya. " Bisik Yang Mulia, kedua tangannya merengkuh tubuh ramping Xiao Yi, mendekapnya dengan erat.
"Aku tidak akan bertanya apapun lagi. Aku tidak akan mencari alasan untuk meragukan cintamu padaku. Karena Chenxing tak akan pernah meninggalkan Yue, meski harus di takdirkan berkubang darah di sisimu." Xiao Yi terisak dalam pelukan Yang Mulia.
Ketika dia mendapati Xieyi Giok berukir naga dengan jumbai sutra ungu. Barang perjanjian cinta Jiu Fei dengan Yang Mulia dan sebuah pesan rahasia ingin bertemu dengannya. Saat itulah dia terisak dalam ketakutan, cinta Yang Mulia akan kembali pada pemiliknya. Dan dirinya akan kehilangan tempat dari hati Yang Mulia.
Tetapi isakan tangisnya malam ini, benar-benar sebuah rasa bersalah untuk setiap ketakutannya yang tak beralasan.
Sepasang mata dari balik celah atap, menatap semua itu dengan tangisan tanpa suara. Sekarang dia tahu, cintanya benar-benar telah kehilangan tempatnya.
Kenangan demi kenangan semakin mengabur dan menjauh, seperti matanya yang semakin tertutup oleh kabut dan air mata.
Setelah melewati malam ini, aku tak akan pernah menangis lagi. Setelah melewati malam ini, aku tidak akan merasakan sakitnya merindu seperti malam-malamku sebelumnya saat mengukirmu dalam benakku.
Seperti kelopak meihua yang jatuh di musim gugur, aku tak akan kembali lagi pada kuntum yang sama.
Kamu telah bertemu orang yang tepat, maka aku tak perlu menangis lagi. Meninggalkanmu dengan tenang seperti musim yang pergi dari musim yang lainnya
Biarkan aku menyimpan sedikit saja tempat, untukku menitipkan sejumput masa lalu kita saat terakhir aku melihat senyummu.
__ADS_1
Jika aku tak bisa menahan rindu, maka aku kembali ke sana untuk sekedar mengingat senyummu.
Jiu Fei terpaku sejenak, seulas senyum tipis di sudut bibirnya, bersama bulir bening yang jatuh setetes demi setetes dari dagunya.
Kemudian di detik berikutnya, tubuh itu bergerak laksana bayangan meninggalkan istana Chue Lian, istana cintanya.
Dia menanggalkan semua keinginan terdalamnya untuk kembali pada orang yang telah ditinggalkannya demi banyak cinta dan rahasia.
Langkah itu begitu ringan, berlompatan seperti kapas, melewati banyak bangunan seolah tak ingin berhenti. Terus saja berlari dengan membawa hati yang hampa.
Ketika dia menjejakkan kakinya di tanah, di dekat kuda yang di tambatkannya sebelum pergi, di luar Gerbang Timur.
Segeralah dia menyadari kudanya sudah terbaring di tanah dengan beberapa mata panah yang menancap di tubuh sang kuda hitam.
Jiu Fei tertegun, ketika mendengar suara desingan berterbangan ke arahnya. Dia menjinjitkan tumitnya dan melayang ke cabang sebatang pohon di dekatnya.
Empat anak panah menancap di batang tempat semula dia menambatkan kudanya. Bersamanya, lima orang muncul dari balik semak. Dengan pakaian gelap dan wajah yang di tutupi topeng dari kulit kayu.
Jiu Fei mengeluarkan pedang yang di sarungkannya di belakang jubah hitamnya.
"Bunuh penyusup itu!" Teriak salah satu dari mereka.
Empat anak panah baru menderu, dilepaskan padanya tanpa ampun, suara desing menyambutnya di udara, empat anak panah itu berguguran di tanah saat bertemu dengan kibasan pedangnya.
"Aku tidak takut mati." Jiu Fei melayang turun, menjejakkan kakinya di tanah, seulas senyum kesedihan terkembang di bibirnya.
"Jika harus kehilangan nyawa di sini, aku tidak memiliki penyesalan lagi." Ucapnya sebelum mengayunkan pedangnya.
(Terimakasih selalu menunggu kelanjutan kisah ini, nantikan episode berikutnya, ya...☺️
Jika tidak berkeberatan, mohon tuliskan kesan kalian tentang novel akak ini di kolom komentar, untuk modal author memperbaiki cerita di part berikut dan di spin offnya, setelah cerita ini tamat😅 lope2 buat pembaca semua❤️❤️)
__ADS_1