SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 45 UNTUK SEBUAH PERMOHONAN


__ADS_3

Yang Mulia Yan Yue terpesona sesaat dengan kepercayaan diri Xiao Yi, yang di detik terakhir dia amati begitu ragu.


Kejutan apa lagi yang akan kau berikan kepadaku, Chenxingku?


Semakin banyak aku mengenalmu, semakin banyak hal yang tak ku tahu tentangmu.


Dan itu, selalu membuatku candu untuk selalu ingin tahu semua tentang dirimu...


Kepala Yang Mulia mengangguk kepada Xiao Yi, dengan tatapan yang menyelidik, berharap Xiao Yi tidak membuat keputusan yang salah dalam menerima tantangan selir Mei.


Jika selir Mei berusaha mempermalukan selir Yi, maka Yang Mulia berjanji di dalam hatinya, untuk membuat perhitungan kepada selir licik itu.


Xiao Yi berdiri dengan wajah yang merona saat bertemu pandang dengan Yang Mulia, dadanya berdegup kencang, sesuatu yang hangat mengalir begitu saja lewat nadinya, dari kepala mengalir ke persendiannya, terasa melemaskan semua ototnya.


Apa yang bisa dilakukannya, mata coklat hitam pohon willow Yang Mulia benar-benar membuat tubuhnya mati rasa.


Xiao Yi berbalik kepada selir Mei, disambut tatapan sinis selir itu yang begitu meremehkan, seakan begitu tak sabar menyaksikan selir Yi dipermalukan.


Senyum Xiao Yi mengambang serupa lotus yang baru mekar. Tanpa sedikitpun merasa terintimidasi oleh sikap Selir Mei. Tenang serupa air danau di awal pagi.


Dia menekuk kaki nya sedikit dan menatap dalam kepada selir Mei, benar-benar tanpa rasa takut.


"Saya harap selir Mei dapat menepati janjinya untuk memberikan hak pita biru yishu kepada saya, jika saya telah menunaikan permintaan Selir Mei..." ucap Xiao Yi, masih dengan senyum yang melekat pada bibir ranumnya.


"Saya akan menepati janji, di saksikan semua yang hadir di acara Yishu ini, selir Yi." sahut selir Mei.


"Lagu musim dingin Youwu tentunya sangat pantas di hargai dengan pita biru Yishu." ucap selir Mei sambil menarik sudut bibirnya, senyum itu sangat tidak tulus.


"Saya akan melakukannya, demi sebuah permohonan..." suara Xiao Yi hanya lirih, tapi cukup keras untuk membuat selir Mei merasa merinding. Kalimat itu seperti sebuah ancaman baginya.


Selir Mei mundur ke sudut Gazebo, memberi ruang kepada Xiao Yi.


Di iringi tatapan penasaran semua yang hadir, dan dua pasang mata yang begitu cemas.


Selain Yang Mulia Yan Yue, ada panglima muda Zhao Juren di meja undangan, memandang tajam kepada gadis itu, dengan rasa khawatir yang serupa dengan yang di rasakan Yang Mulia.


Xiao Yi mengambil sesuatu dari balik kantong di dalam lengan jubahnya.


Sebuah xiao berwarna ungu mengkilat dari bambu ungu yang hanya tumbuh di daerah Youwu, tergenggam di tangannya, alat musik tiup berupa seruling yang sangat terkenal dari daerah utara. Pada ujungnya terdapat terikat rumbai berwarna merah hitam, seruling itu terlihat begitu indah.


Kemudian Xiao Yi berdiri dengan dagu terangkat, kepada Yang Mulia yang tak sekejap lepas menatapnya dari tadi.


Mata mereka berdua berpandangan, saling bertukar tatap, seolah sama-sama menyelami apa yang ada di dalam hatinya masing-masing.


"Lagu musim dingin Youwu, lebih banyak di perdengarkan menggunakan Xiao dari pada di nyanyikan, akan dilantunkan oleh orang-orang di daerah dataran hingga pegunungan Pingyuan, saat penghujung musim gugur.

__ADS_1


Menurut cerita turun temurun masyarakat Youwu, lagu musim dingin Youwu di ciptakan oleh seseorang tentang kesedihan sekaligus kerinduannya bertemu dengan musim dingin Youwu, karena pada saat musim dingin itu, dia kehilangan kekasihnya yang tenggelam di sungai Yalu" ucap Xiao Yi dengan bibir yang tiba-tiba bergetar.


Yang Mulia merasakan hatinya seperti sakit, seolah Xiao Yi sedang berbicara tentang kerinduan yang sama pada seseorang.


Xiao Yi meletakkan ujung Xiao itu di bibirnya sementara jari jemarinya berada pada lobang-lobang kecil yang ada pada batang Xiao itu, dia kemudian memejamkan matanya, sungguh Xiao Yi tak kuasa memainkan Xiao ini dengan menatap mata Yang Mulia.


Xiao Yi mulai meniupnya perlahan,


Suaranya yang lembut terdengar begitu mendayu-dayu. Dalam nada rendah yang melambungkan perasaan lepas yang hampa.


Seketika yang mendengarnya akan terbawa dalam hati yang begitu tenang, setenang riak air sungai Yalu di musim gugur.


Ingatan demi ingatan seolah bermunculan, menyeruakkan setiap kenangan manis yang tersimpan di dasar hati. Berlompatan begitu saja.


Beberapa saat kemudian, instrumen itu semakin tinggi, sedikit menyayat kemudian membawa perasaan menjadi begitu sedih, mengusik setiap rindu dendam yang tertinggal di sudut-sudut hati.


Yang Mulia terpaku, menatap kelopak mata Xiao Yi yang bersemburat merah muda. Mata indah itu terpejam, sementara bibirnya melantunkan suara seruling yang begitu mengiris hati.


Xiao Yi berdiri kaku di depannya dalam balutan gaun hijau rumput kering yang sederhana, seolah dia benar-benar rumput di musim gugur yang begitu rindu pada musim dingin, untuk segera mengakhiri masa layunya yang menyedihkan.


Hampir semua yang hadir, tak sadar memejamkan matanya, seolah mereka menyusup di dalam nada-nada sedih yang penuh kerinduan itu.


Saat Xiao Yi mengakhirinya, tak terasa setetes bulir bening telah merembes di sudut mata yang mendengarnya, bahkan pada hati Selir Mei yang sekeras baja.


Lagu Musim dingin Youwu, selalu saja membuat orang merasa rindu. Perasaan rindu pada apapun yang pernah ada dalam hidupnya, yang mungkin hilang dan tak pernah bisa kembali, perasaan sakit yang dalam yang tak pernah bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Mata Xiao Yi berbinar, menatap lurus pada Yang Mulia yang diduk diam di hadapannya.


"Rumput qian lidi menguning seperti emas,


Merasuk tajam menusuk angin musim gugur...


keharuman itu terasa baru,


batin yang merindu serupa kiambang,


mengambang dalam bimbang.


Rindu hati semerah houyun,


memeluk erat kemarahan yang dalam...


pada musim dingin yang berbau kesedihan.


Pernahkah kau tahu,

__ADS_1


lambaian teratai terakhir itu menjadikan jiwa ini kehilangan tujuan?


kehilanganmu membuatku seperti bernafas dalam mati.


Api menjadi redup, matahari musim semi pun menjadi dingin.


Awan-awan berarak menjadi hitam, buyar tanpa menurunkan hujan.


Kesakitan adalah segala rasa yang mati,


kehilangan mematahkan sayap phoenix yang menantang langit


Pada angin musim dingin, setiap denyut rindu di titipkan.


Sampaikanlah pada riak sungai Yalu, yang akan menjadi dingin,


Menguburkannya dalam beku"


Lirik lagu musim dingin Youwu itu di ucapkan Xiao Yi dalam sebuah kalimat puisi yang menyayat hati.


Beberapa selir bahkan terisak dalam tangis, saat puisi itu berakhir. Tak terlepas sebuah mata tajam duduk menghadap meja di bawah pohon persik di sebuah sudut, menjadi berkaca. Menyimpan rindu pada si pemilik lagu.


Xiao Yi membungkuk kepada Yang Mulia Yan Yue. Lalu berbalik kepada semua orang.


Disambut tepuk tangan yang begitu riuh penuh dengan kekaguman.


"Mungkin Selir Mei tidak tahu, Lagu musim dingin Youwu adalah instrumen, jarang di nyanyikan. Liriknya akan di bacakan oleh


gadis-gadis Youwu, sementara para pemuda memainkan musiknya." Xiao Yi menundukkan wajahnya sejenak pada Selir Mei, lalu menatap lurus selir yang berdiri di sudut gazebo utama itu.


Wajah Selir Mei masih terpana, seolah kehilangan kata-kata,


"Saya telah melakukan permintaan dari Selir Mei dengan baik, bukan kah sekarang waktunya saya mendapatkan hak pita biru yishu untuk sebuah permohonan...?" mata Xiao Yi, mengerjap dengan tenang.


Selir Mei tidak pernah menyangka, jika perbuatannya berbalik menghantamnya.


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...


...🙏🙏🙏...


...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...

__ADS_1


...Nantikan episode berikutnya❤️...


__ADS_2