SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 114 PERTEMUAN DUA KEKASIH RAJA


__ADS_3

Bulan terakhir di musim gugur, rembulan terang bersinar di angkasa, membuat pantulan cahaya perak memenuhi tanah dan hutan wisteria yang sunyi.


Bukit Zhieshan, setelah seminggu pertemuan di villa musim dingin pada kaki bukit.


Dari balik hutan yang sepi, berkelebat sesosok tubuh dengan cadar hitam di atas kuda yang sama pekatnya dalam pakaiannya, menyeruak menuruni bukit yang sepi dengan tergesa. Cadar itu berkibar di hempas angin musim gugur yang terasa panas.


Sosok ramping itu menggebah kuda seperti kesetanan, menuju gerbang timur istana Weiyan. Lalu berhenti di pinggir hutan dekat rumah singgah Yang Mulia biasanya jika ingin keluar istana untuk menyamar.


Dengan lincah dia menyelinap di antara pepohonan besar di sekitar pemukiman, kemudian tanpa beberapa penjaga yang berjaga menyadari, dia melompat ke balik tembok tanpa suara sama sekali.


Dia melompat ke sebuah atap bangunan, berjalan merayap berpindah ke atap bangunan lain, kemudian berhenti di bangunan terakhir sebelum istana Chue lian di belakang kediaman raja.


Sejenak tampak dia terdiam, sepertinya dia sangat mengenal tempat itu.


Perlahan dia melompat ke tanah, menjejakkan kakinya di akar pohon mapel yang menyembul, sambil berpegang pada batang pohon besar itu.


Matanya yang bersinar di balik cadar hitam itu, tak berkedip mengawasi ke dalam istana chue Lian.


Sebuah lentera yang nampak redup bersinar dari dalam bangunan yang terkurung tembok itu.


Sejenak dia tertegun dari balik cadar itu ketika matanya menangkap pandangan pada pohon rongshu yang berdiri congkak di bawah sinar bulan.


Bayangan berpuluh tahun itu lewat, dan seperti masih kemarin saja, dia seolah melihat di tempat yang sama di mana matanya tertuju, seorang gadis belasan tahun sedang menanam pohon itu di temani seorang pangeran tampan yang begitu memujanya.


Kenangan aneh itu berlarian membuat kakinya tiba-tiba terasa goyah beberapa saat.


Lalu dimantapkannya hati, melanjutkan langkah nya menyusup menuju bangunan paling tengah yang kini masih nampak sebuah lentera hidup dalam cahaya remang.


Dia seperti begitu tahu setiap seluk beluk bangunan itu, hingga tidak terlalu sulit baginya menghindari penjagaan ketat di luar tembok dan di depan gerbang istana itu.

__ADS_1


Perlahan, dia menyelinap lewat sebuah pintu di bagian samping yang sengaja tak di kunci, melangkah dalam tapak seringan kapas.


Ruangan itu dipenuhi harum peony yang lembut, sebuah lentera kecil berada di atas meja baca, dari situlah cahaya yang menyinari ruangan itu.


"Aku menunggumu..." Sebuah suara bening dan lembut terdengar memecah sepi. Sosok bercadar itu segera berpaling pada seorang gadis dengan gaun putih, yang berdiri di sudut tirai.


Perempuan itu terlihat begitu cantik meskipun dalam temaram.


Sosok bercadar ini menatap dengan waspada pada perempuan yang berdiri tepat tidak jauh berada depannya itu. Dia teringat berbulan-bulan yang lampau dia pernah menyapanya di kuil Sunyen.


"Aku selir Yi, yang ingin kamu temui..." tangan Xiao Yi terulur perlahan, menunjukkan sebuah gantungan baju dari giok berwarna hijau jamrud dengan motif naga, giok itu di gantung dengan tali anyaman sutra kuning yang ujungnya di pintal berjumbai.


"Kamu mengirim ini, dan memintaku bertemu di istana Chue Lian, tepat tengah malam purnama terakhir di musim gugur." Xiao Yi tampak tak ragu sedikitpun, dia tahu hanya dua orang yang pernah dilihatnya mempunyai hiasan gantungan baju motif naga dari giok jamrud itu, dengan sutra kuning di ujungnya.


Dia adalah Yang Mulia Yan Yue dan seorang biksu perempuan di kuil Sunyen.


Perlahan, disibaknya kain cadar yang menutupi wajahnya. Dan Xiao Yi terpaku menatap wajah cantik yang kini membalas tatapannya dengan nanar.


Topi cadar itu di lepasnya kemudian, dan yang terpampang di depan Xiao Yi bukanlah rupa seorang biksu dengan kepala botak, tetapi seorang perempuan cantik dengan rambut hitam panjang yang di ikat di belakang tengkuk.


"Jiu Fei." Suara Xiao Yi bergetar, rasanya hampir tak percaya bisa berhadapan dengan seorang perempuan penting dalam kehidupan Yang Mulia Yan Yue, suaminya sekarang.


Berjumpa tanpa jarak, dengan gadis yang dulu diceritakan begitu melegenda karena sanggup mematahkan hati seorang raja.


Sejenak dua perempuan cantik itu saling mengagumi, mereka berdua adalah dua orang legenda hidup dalam kehidupan raja Yanzhi. Yang satu adalah orang yang pernah begitu di cintai raja dan mematahkan hatinya menjadi kepingan tak berbentuk dan yang seorang lagi adalah seorang yang menyatukan setiap kepingan yang redam itu menjadi utuh kembali, menarik Yang Mulia dari jurang keterpurukan.


Entah yang mana, yang sesungguhnya memiliki hati itu dengan benar, tapi sejarah mengukir, mereka adalah cinta mati sang raja.


"Apa yang ingin kau sampaikan padaku secara rahasia, bahkan tidak boleh seorangpun yang tahu?" pertanyaan itu memecah kesunyian, terdengar pelan.

__ADS_1


"Aku tahu, Yang Mulia berada di tangan orang yang tepat." Ucap Jiu Fei dengan suara yang hangat, tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Xiao Yi.


"Aku yakin, hanya kamu yang bisa menyelamatkan Yang Mulia." Lanjutnya dengan tanpa bimbang.


Selir Yi tidak menyahut, dadanya bergemuruh, dia merasa betapa kecilnya dirinya di depan perempuan ini. Dalam kesederhanaannya, dia terlihat memukau dan tenang.


"Bolehkah aku memanggilmu adik?" tanya Jiu Fei kemudian disambut anggukan kepala Xiao Yi.


"Kamu boleh memanggilku apa saja." Jawab Xiao Yi sambil meremas giok yang ada di dalam genggamannya.


"Adik, apakah kamu tahu, betapa berharganya Yang Mulia untuk..."Jiu Fei terdiam sejenak,


"Untuk kerajaan Yanzhi ini?" lanjutnya kemudian.


"Ya, aku tahu...dia seorang raja untuk kerajaan ini." Sahut Xiao Yi tanpa keraguan.


"Adik, bagaimana rasanya mencintai seorang raja? bukankah serupa berpegang di mata pedang, jika kamu menggenggamnya terluka, jika kamu melepasnyapun tetap berdarah." Jiu Fei meringis aneh, dalam keremangan, sebuah kesedihan terpancar di raut wajahnya yang seperti permukaan danau yang tak beriak.


"Apapun yang terjadi di kemudian, entah kamu menggenggamnya ataupun kamu melepaskannya, jangan pernah meninggalkannya. Karena, dia adalah seekor singa yang kesepian, dia di takuti dan selalu sendirian. Menjadi takdirnya menanggung beban untuk dirinya sendiri, bahkan kehilangan perasaan di cintai tanpa pernah tahu siapa yang sesungguhnya benar-benar setia padanya." Dua bulir bening jatuh di sudut mata Jiu Fei.


Dulu, Xiao Yi pernah mendengar kalimat yang hampir serupa dari bibir Yang Mulia, bahwa seorang raja laksana singa tanpa teman.


Xiao Yi, tak tahu harus berkata apa, rasa sedih menjalari nadinya, menghantar sampai lubuk jiwanya. Jiu Fei mengungkapkan kalimat itu begitu tulus dan dalam.


Sekonyong-konyong dari balik jubah hitamnya, dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas dengan panjang seukuran dua kilan anak-anak.


"Aku telah menuliskan hampir semua detil rencana ibu suri yang ku tahu di dalam kertas ini, mengenai rencana pemberontakan yang akan di lakukan pada hari penobatanmu sebagai permaisuri raja." Jiu Fei maju mendekati Xiao Yi, dengan hati-hati di serahkannya gulungan kertas itu ke tangan perempuan di depannya itu.


Dua kekasih raja dari masa yang berbeda itu, saling menatap, sambil masing-masing berpegang pada ujung gulungan kertas itu. Terpaku sesaat, tak mengerti kenapa cinta telah begitu aneh mempertemukan dua orang yang tertawan pada satu orang yang sama.

__ADS_1


(Terimakasih sudah setia mengikuti kisah ini, cinta memang tak pernah bisa di tebak...bagaimana kelanjutannya? Jangan lupa vote, like dan komennya yaaaa...lope2 buat semua bala readers selir persembahan)



__ADS_2