SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 150 DI BAWAH POHON WISTERIA


__ADS_3

Dua orang laki-laki berdiri di bawah pohon Wisteria besar yang rantingnya dipenuhi salju. Di bawahnya sebuah gundukan batu yang merupakan pusara Jiu Fei.


Yang Mulia Yan Yue dan Zhao Juren.


Pakaian mereka jubah sederhana dan Zhao Juren masih mengenakan jubah ungunya setelah menemui ibu suri di ruang pengasingannya, di antar sendiri oleh Yang Mulia dan para pengawalnya.


Mantel yang mereka kenakan sama-sama brwarna gelap dan tak bermotif.


Zhao Juren memberitahukan Yang Mulia, Jiu Fei telah meninggal, karena itu dengan permintaan permaisurinya Yang Mulia Yan Yue datang ke kuil Sunyen untuk memberi penghormatan pada Jiu Fei yang sudah terbaring dengan tenang di dalam peristirahatannya.


Mereka berada di sana tanpa pengawalan, hanya berdua saja, seolah mereka bukanlah raja dan pangeran. Mereka juga saling diam tanpa bicara larut dalam perasaan mereka masing-masing.


"Dia benar-benar telah pergi." Suara gumanan itu terdengar lirih dari bibir yang Mulia.


Zhao Juren tak menyahut, matanya memandangi pusara itu, tubuhnya merinding seakan dia baru merasakan kemarin tubuh Jiu Fei yang dari hangat menjadi dingin dalam pelukannya. Perasaan itu melekat sanpai saat ini.


"Dia tak pernah benar-benar mencintaiku..."


Zhao Juren terperanjat mendengar kalimat itu, apakah Yang Mulia mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi antara mereka?


Senyum Yang Mulia terlihat samar, kemudian matanya beralih pada Zhao Juren.


"Apakah dia mengatakan sesuatu sebelum pergi?" Tanya Yang Mulia, penuh rasa ingin tahu.


Zhao Juren menggelengkan kepalanya dengan wajah ragu.


"Dia tak pernah berhenti mencintaimu sampai akhir." Zhao Juren mendesah sambil menundukkan kepalanya. Di tak ingin Yang Mulia menangkap kilat berbeda dari matanya, ketika dia mengatakan itu.

__ADS_1


Yang Mulia tertawa kecil, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Tidak usah terlalu menghiburku, aku tahu benar, itu bukan hal yang benar." Tawanya berhenti beberapa saat kemudian.


"Aku saja yang terlalu keras kepala, berusaha memasung hatinya untukku, sementara aku sendiri tak pernah yakin apakah dia benar-benar mencintaiku, karena itulah takdir kami berdua tak pernah bertemu. Dia menyimpan orang lain di hatinya..."Yang Mulia menyunggingkan senyumnya, yang lebih pantas di sebut seringai itu.


"Tapi aku tak menyalahkannya, sungguh...aku saja yang terlalu pengecut untuk melepaskan dirinya bahkan saat dia memilih pergipun aku menangkap bayangannya supaya merasa dia tak pernah benar- benar pergi dariku. Aku terlalu takut untuk ditinggalkan sendiri sehingga akhirnya, apa yang bisa kuberikan padanya? hanya sebuah penderitaan." Yang Mulia berucap dengan sedih.


"Andai aku melepasnya dari dulu, dia tak akan berakhir di bawah pohon Wisteria ini. Mungkin sekarang dia bahagia bersama seseorang, yang bisa merawatnya dengan baik." Sekelebat sesal lewat di pias tampannya.


Rahang zhao Juren yang kuat itu terkatup membeku, tatapannya itu seperti air yang membeku. Dia tidak yakin apakah Yang Mulia sedang membicarakan dirinya dan Jiu Fei, tapi saat mendengarnya dia seolah merasakan sebuah dakwaan yang dilontarkan diam-diam padanya, menghakimi masa lalu mereka yang sudah lewat.


"Jiu Fei tak pernah mencintai orang lain selain Yang Mulia..." Lirihnya suara Zhao Juren mencoba memastikan pada hatinya, setidaknya dia tak perlu terlalu dalam merasa bersalah atas kenyataan hidup Jiu Fei yang sepanjang hidup tersiksa dalam dilema antara mereka berdua.


"Kita tak perlu mengingat hal yang sudah berlalu, anggaplah Jiu Fei telah memilih jalannya sendiri dan kita menghargainya. Sepanjang hidupku, aku akan tetap menghormatinya sebagai orang pertama yang bisa menerimaku dengan tulus." Yang Mulia memetik sebuah bunga rumput berwarna kuning yang berada tidak jauh dari pusara Jiu Fei. Satu-satunya bunga yang secara aneh tersisa di musim dingin yang mulai bersalju ini.


"Aku bahkan tak yakin, bunga apa yang sangat di sukainya, kecuali dia sangat menyukai segala sesuatu yang berwarna hijau." Ucap Yang Mulia.


Zhao Juren termangu, dia tak harus mengatakan jika dia tahu sekali bunga apa yang sangat di sukai oleh Jiu Fei.


Bukan Peony, bukan Meihua...dia sangat menyukai rumput kuning yang tumbuh di musim gugur. Rumput sisa dari musim gugur yang kini berada di tangan Yang Mulia.


"Juren, dalam festival musim dingin, aku ingin mrngumumkan secara resmi bahwa kamu adalah seorang pangeran, anak dari Yang Mulia Yan Houcun." Tiba-tiba Yang Mulia berdiri tegak, tangannya ditautkannya di belakang punggungnya.


Zhao Juren menatap pada raja yang pernah sangat di benci ibunya ini, dia mencari celah di mana dia boleh merasa kecewa dan mengalaskan alasan bahwa Yang Mulia layak untuk tidak disukai.


Tapi, dia tak menemukan hal itu, Yang Mulia sebenarnya adalah orang yang bijak dan tulus hati dalam diamnya, meski dia kadang di anggap lemah dan tak kompeten.

__ADS_1


Zhao Juren tahu, Yang Mulia sesungguhnya, sangat cerdas dan mungkin lebih banyak tahu tentang orang lain dari pada dirinya. Tapi, Yang Mulia tak pernah menunjukkannya.


"Aku rasa tidak perlu melakukannya." Zhao Juren menghela nafasnya, dia sudah terbiasa menjadi bangsawan biasa bukan seorang pangeran.


"Apapun alasannya dalam darahmu mengalir darah keturunan Yan. Jadi seharusnya kamu tidak menggunakan marga Zhao di depan namamu." Yang Mulia mengucapkannya dengan tulus. Dia tidak mengambil hati perbuatan ibu suri dan mengaitkannya pada Zhao Juren karena dia tahu, Zhao Juren tak bersalah.


"Zhao adalah marga ibuku, jadi aku tetap pantas menyandang nama Zhao di depan namaku, meskipun mungkin ibuku telah berkhianat tapi aku yakin Yang Mulia tahu hatiku, aku tidak ingin merampas apa yang menjadi hak Yang Mulia."


"Aku tahu, Juren...kamu tak akan pernah mengkhianatiku. Berkali-kali kamu mempertaruhkan hidupmu untukku bahkan di kali terakhir kamu rela menyambut sebuah belati untukku. Karena itu, sebagai seorang kakak aku ingin kamu selalu berada di sampingku, suatu saat jika langit mengijinkan, aku akan membalas semua perbuatanmu itu."


"Aku tidak melakukannya untuk mendapat balasan, sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu."


"Karena itu ijinkan aku menobatkanmu sebagai seorang pangeran dari Yanzhi secara resmi. Kamu layak mendapat penghormatan dengan benar."


Zhao Juren terdiam, dia tak mau berfikir untuk terus berada di sisi Yang Mulia.


Memandang kehidupan Yang Mulia dari jauh sudah cukup baginya, karena jika terlalu dekat, dia khawatir melukai hatinya sendiri, menatap permaisuri yang selalu di cintainya dalam hati.


"Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku sekarang, tidak perlu membuatnya menjadi semakin rumit. Menjadi seorang pangeran tidaklah penting bagiku, tapi yang terpenting aku tetap setia padamu."


Yang Mulia kehilangan akal membujuk Zhao Juren, dia betul-betul keras kepala.


Zhao Juren tak bisa menerima dirinya bersukacita dalam penobatan dirinya menjadi pangeran, sementara ibunya terasing dalam sebuah kuil sebagai pesakitan.


"Aku bahkan sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai panglima kerajaan Yanzhi." Lanjutnya dengan suara yang berat


__ADS_1


__ADS_2