
Hari ke tujuh setelah kepulangan Xiao Yi, orang-orang dalam istana sibuk membicarakan sebuah rencana peresmian pengangkatan selir Yi menjadi Selir Furen atau selir utama dari Yang Mulia Yan Yue.
Dengan sebuah surat yang telah di bubuhkan stempel raja pada hari keberangkatan Xiao Yi sebulan yang lalu ke Youwu untuk mengobati selir Yuan, Yang Mulia Yan Yue telah menetapkan Selir Yi secara tertulis sebagai selir Furen meski belum di adakan acara resmi penunjukan di aula Guangli.
Tujuan Yang Mulia sebenarnya, menetapkan status itu pada saat kepergian Xiao Yi adalah untuk mengamankan perjalanan selirnya itu.
Jika dia bepergian keluar istana dalam waktu lama dengan masih menyandang status selir tingkat rendah, maka orang akan mudah mencelakainya.
Belum lagi Gubernur Qian Lie tentu akan bertindak semena-mena dan lebih berani kepada Xiao Yi.
Tapi jika seorang furen terhormat tentu saja Gubernur Qian akan berpikir ratusan kali sebelum bertindak dan lagi semua tanggungjawab keselamatan selir Yi ada di tangannya. Kesalahan siapapun yang merugikan Xiao Yi tentu berakibat fatal bagi gubernur Qian.
Janji penobatan resmi itu masih menjadi hal yang tidak pasti, karena pihak pimpinan Harem, Istana para selir, Ibu suri Zhao Li Sui menentang keras hal tersebut.
Selir Yi dianggap masih belum pantas menyandang gelar pimpinan para selir itu. Yang Mulia bersikeras akan melaksanakan niatnya ini dengan persetujuan ataupun tidak dari pihak ibu suri.
Sementara yang membingungkan semua orang, Selir Yi sama sekali tak menanggapi perihal tersebut. Dia tidak berbicara apapun, baik menerima maupun menolak.
Dan yang semakin membuat semuanya menjadi semakin aneh, ada yang meniupkan rumor Selir Yi sedang tidak sehat, sebagian mengatakan dia terkena radang dingin karena pengaruh suhu di gua Duyao, ada pula yang mengatakan akibat kelelahan selir Yi sedang mengalami demam yang tak jelas.
Apapun kabar buruk dari dalam wisma Xingwu yang beredar tentu saja menyenangkan ibu suri. Sakit yang di alami selir Yi sangat dia tahu, akibat obat yang di berikan oleh tabib Li Sung.
Sebentar lagi dia akan menerima kabar baik, bahwa Selir Yi telah mengalami keguguran akibat salah diagnosa dan obat yang di berikan oleh tabib itu penyebabnya.
Apapun yang terjadi, ibu suri hanya tahu, tidak akan ada putra mahkota yang lahir di istana Weiyan. Rencana besarnya untuk mengambil alih tampuk tahta tertinggi itu sebentar lagi terlaksana. Impiannya berpuluh tahun untuk membuat keturunannya sendiri yang menjadi pemimpin tidak lagi hanya mimpi kosong.
Usahanya yang begitu keras, merencanakan bahkan melakukan berbagai kejahatan untuk menjadi penguasa yang sesungguhnya dan di akui sebentar lagi menjadi nyata.
Penderitaannya berpuluh-puluh tahun mengesampingkan dirinya sebagai ibu, kehilangan masa menimang anaknya sendiri akan terbayar lunas.
Ibu Suri memandang jemari tangannya, yang tal bisa menyembunyikan kerut menua, meskipun wajahnya senantiasa segar merona seperti gadis belasan tahun.
__ADS_1
Di tangan itu telah di hiasi lumuran darah bertahun-tahun. Untuk mencapai ambisinya yang tak terkatakan.
"Dayang Shue..."Ibu Suri memanggil kepala Dayang yang sedang menyiapkan poci teh dan kue-kue dari tepung kacang yang diolah sedemikian rupa untuk cemilan ibu Suri.
"Ya, Yang Mulia ibu Suri." Dayang Shue menuangkan secangkir teh dan memberikan ke tangan ibu Suri.
"Apakah tabib Li Sung sudah di kirimkan ke luar istana, ke tempat yang tak bisa di temukan sementara?" tanya Ibu Suri.
"Ya, Yang Mulia ibu suri. Saya telah mengatur semuanya."Jawab Dayang Shue.
Ibu Suri memandang ke arah Dayang yang kelihatan jauh sekali lebih tua darinya itu, sesungging senyum puas singgah di sudut bibirnya. Tidak hanya rasa puas karena mendengar jawaban Dayang Shue tapi karena melihat bagaimana dia berhasil menghentikan waktu dan tak menua seperti halnya Dayang Shue.
Dayang Shue adalah Dayang kepala istana, merupakan dayang tertinggi yang mengurus semua urusan rumah tangga harem bahkan istana tempat kediaman raja.
Dulu, dia adalah pelayan ibu suri dan selalu berada di sisi ibu suri sedari dia masih muda, dimana usianya sepantaran dengan majikannya.
Pertama kali ibu suri masuk ke dalam istana sebagai selir Raja Yan Houcun, dia hanyalah seorang selir istimewa karena kedudukan orangtuanya. Anak dari seorang bangsawan dari keluarga Zhao, membuatnya di pandang lebih oleh para warga istana.
Keluarga Zhao adalah salah satu keluarga yang di hormati karena di anggap sebagai salah satu pendiri kerajaan Yanzhi.
Penghargaan terbesar atas keberanian dan kesetiaannya di berikan oleh Raja Yan tua yang terpilih kepada bangsawan Zhao adalah menetapkan putra keluarga itu selalu menjadi panglima kerajaan secara turun temurun.
Zhao Li Sui yang cantik adalah gadis sombong dan licik dari semasa mudanya karena menerima kemanjaan dan kemewahan sedari telapak kakinya masih merah.
Sayangnya, Raja Yan Houcun, ayah Yang Mulia Yan Yue telah menikah lebih dulu dengan puteri Xu Jiao, sepupunya sendiri dan menjadikan Xu Jiao menjadi permaisuri atas titah ayahnya, sehingga selama permaisuri utama itu madih hidup dirinya tak akan pernah bisa duduk sebagai ratu.
Raja Yan Houcun merupakan pecinta perempuan, dia mempunyai satu permaisuri utama yaitu Ratu Xu Jiao, 9 selir dari berbagai wilayah, 4 selir pilihannya sendiri dari kalangan bangsawan.
Zhao Li Sui dengan bibir berbisanya merayu raja itu, sehingga membuat sang raja menjadi tergila-gila padanya dan menjadikannya selir Furennya. Selir Yang paling di sayang raja di antara para isterinya.
Langit berkata lain, saat dua orang isteri raja hamil dalam waktu bersamaan. Pada awal musim semi itu, dua kabar gembira menyambangi istana. Ratu Xu Jiao dan selir Zhao Li Sui hamil.
__ADS_1
Tapi kehamilan yang membuat raja sangat bahagia itu, tidak berjalan lancar.
Ketika sampai pada masa melahirkan, Ratu Xu Jiao melahirkan putera sehat yang tampan tapi seminggu berikutnya, Selir Zhao Li Sui pun melahirkan seorang putera tapi dalam keadaan meninggal ketika di lahirkan.
Dan yang membantu Zhao Li Sui melahirkan saat itu hanya dua orang. Dayang Shue dan tabib istana yang pada hari berikutnya meninggal dengan aneh, tenggelam di dalam sumur di belakang istana harem.
Setelah ratu Xu Jiao meninggal, langit berpihak padanya. Dia diangkat menjadi permaisuri utama menggantikan sang ratu.
"Dayang Shue, hari ini adalah hari terakhir dari janji tabib Li Sung. Seharusnya ada kabar dari Xingwu bahwa selir Yi sedang sakit pendarahan karena keguguran."Kata ibu suri dengan tak sabar.
"Yang Mulia ibu suri mohon bersabar saja. Semua sudah sesuai dengan rencana, saya sudah menyebarkan rumor lewat beberapa pelayan istana belakang bahwa selir Yi sedang sakit karena radang dingin sepulang dari Youwu. Hanya saja..."
"Hanya saja saya sedikit bingung, ada rumor lain entah dari mana yang mengatakan selir Yi sedang demam yang tak jelas seperti salah makan sesuatu."
Ibu Suri mengernyit dahi.
"Tak ada masalah, yang penting pada saat dia mengalami keguguran, tak ada yang tahu keterlibatan kita."
Ibu Suri tertawa kecil, sambil menyerahkan gelas tehnya dengan senyum licik.
...***...
Senja baru saja lewat, warna jingga di ufuk barat telah membaur dengan warna gelap.
Malam segera turun di atas istana Weiyan.
Chu Cu keluar dengan ketakutan dari dalam istana Xingwu. Dia berlari ke arah para pengawal.
"Tolong panggilkan tabib, nyonyaku demam tinggi dan mengalami pendarahan!"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...