
Xiao Yi menatap Yang Mulia Yan Yue dengan bingung.
Bagaimana bisa hukuman yang di berikan adalah membelikannya manisan madu yang merupakan kesukaannya?
Yang Mulia mendekati penjual manisan madu itu dan memintanya membungkus semua manisan madu yang di bentuk dalam cetakan berbagai rupa dari bentuk bunga sampai dengan sarang laba-laba itu.
Penjual manisan itu tercengang dengan raut tak percaya, entah apa mimpinya semalam, baru saja dia membuka dan hendak menggantung dagangannya, tiba-tiba ada seorang tuan muda pagi-pagi memborong semua dagangannya.
Dengan sumringah, dikumpulnya semua manisan madu yang merah marun mengkilat itu dan memasukkannya sebuah keranjang dari anyaman rotan.
Pengawal Jian dengan sigap mengeluarkan beberapa koin dari kantong di pinggangnya dan menyerahkan kepada penjual manisan yang sedang merasa beruntung itu.
"Terimakasih tuan..terimakasih." Penjual manisan itu membungkukkan badannya beberapa kali dengan riang.
Yang Mulia Yan Yue menyerahkan sekeranjang manisan madu itu kepada Xiao Yi.
"Ini terlalu banyak Yang mulia...eh tuan...eh..." Xiao Yi menerima keranjang manisan itu dengan bingung.
"kamu harus menghabiskannya..." Yang Mulia dengan acuh kembali berjalan. Xiao Yi mengikutinya dari belakang dengan tergesa, supaya tidak tertinggal dari langkah panjang Yang Mulia.
Mata Xiao Yi sesekali melirik keranjang manisannya, warna mengkilat manisan madu itu benar-benar menggodanya untuk segera mencicipinya, tapi hal itu mustahil dilakukan.
Dia sekarang adalah seorang selir raja bukan gadis kecil yang suka mengelilingi pasar kota Youwu seperti dulu lagi.
Dia memeluk keranjang itu sambil menelan ludah di kerongkongannya. Senyum kecil disudut bibirnya, dia bersedia di hukum setiap hari jika Yang Mulia memberikannya hukuman semanis ini.
Yang Mulia menghentikan langkahnya di depan sebuah kedai teh. lalu masuk ke sana disambut seorang pemilik kedai teh yang berperut buncit dengan leher pendek dan mata yang bulat jenaka. Pemilik kedai menganggukkan wajahnya menunjukkan hormat, dengan gaya yang tidak kentara, seolah mengenal Yang Mulia dengan baik.
Jian nampak membisikkan sesuatu kepada pemilik kedai teh, pemilik kedai teh itu manggut-manggut, lalu mengatakan beberapa hal dalam volume suara yang sangat kecil.
Wajah Jian menjadi berubah pias, lalu segera membisikkan sesuatu kepada Yang Mulia yan Yue yang berdiri tidak jauh dari pintu kedai.
Wajah Yang Mulia Yan Yue juga tiba-tiba menjadi merah, sepertinya ada yang mengusiknya. Wajah itu menunjukkan rasa marah. Rahangnya mengeras menatap Jian dengan amarah yang di tahan.
"Dimana dia sekarang?" tanya Yang Mulia geram.
"Ditahan di rumah kosong pinggir kota" jawab Jian pelan.
"Kita ke sana sekarang, aku harus menginterogasinya sendiri!" Yang Mulia berbalik kepada pengawal .
__ADS_1
"Siapkan kuda, kita berangkat sekarang!" Yang Mulia memberikan perintah kepada pengawal Cun yang berdiri di belakangnya.
Pengawal Cun mengangguk dan segera pergi di ikuti dua orang pengawal temannya yang berdiri di luar kedai.
"Chenxing..." Dia berbalik kepada Xiao Yi, dengan tatapan tidak sabar.
Xiao Yi mendongakkan dagunya, menatap Yang Mulia Yan Yue, menunggu kalimat selanjutnya dari Yang Mulia.
"Tinggalah sebentar di kedai teh ini, aku akan kembali nanti menjemputmu" matanya memicing dengan nada memerintah.
Xiao Yi mengangguk saja dengan patuh tanpa membantah.
"Layani nona muda ini selama aku pergi" yang Mulia mengarahkan wajahnya kepada pemilik kedai.
"Baik Tuan..." jawab sang pemilik kedai sambil membungkuk.
Yang Mulia Yan Yue berjalan menuju pintu kedai yang mulai ramai itu, di ikuti tatapan penuh tanya dari Xiao Yi dari tempatnya berdiri.
"Chenxing..." tiba-tiba Yang Mulia berbalik.
"Ingat, jangan kemana-mana! Aku tidak akan lama!" Mata coklat kehitaman itu berkilat tajam. Seolah memastikan Xiao Yi menuruti perkataannya.
Xiao Yi hanya mengangguk sambil memeluk keranjang manisannya.
Lalu dengan langkah panjang Yang Mulia Yan Yue di ikuti pengawal Jian meninggalkan kedai itu.
"Nona..." Pemilik kedai bertampang lucu itu mendekati Xiao Yi.
"Mari saya antarkan nona ke meja..." Pemilik kedai membungkuk mempersilahkan Xiao Yi mengikutinya.
Xiao Yi menurut saja, membuntuti pemilik kedai itu dari belakang.
Pemilik kedai menunjukkan sebuah meja di sudut yang agak terpisah dari meja-meja yang lain. Dan mempersilahkan Xiao Yi menempatinya.
"Nona, sebentar saya minta pelayan untuk mengantarkan teh dan cemilan untuk nona. Jika ada yang dibutuhkan oleh nona, panggil saja saya"
Pemilik kedai itu mundur beberapa langkah dan meninggalkan Xiao Yi dimeja itu sendiri.
Xiao Yi memandang sekeliling dengan wajah cerah, kedai teh yan lumayan besar itu mulai ramai pengunjung. Beberapa meja sudah terisi dan susana sudah mulai semarak dengan obrolan-obrolan serta sesekali tawa dari beberapa meja.
__ADS_1
Kemana Yang Mulia Yan Yue pergi, Xiao Yi benar-benar tidak ambil pusing, hari ini hatinya berbunga-bunga karena senang.
Keluar dari istana dan menikmati suasana kota seperti ini sungguh sesuatu yang tidak pernah bisa terpikirkan oleh Xiao Yi sejak dia masuk kedalam istana raja.
Dia pernah berpikir, mungkin selamanya terkurung di dalam istana kerajaan dan mendekam di wisma Xingwu yang sepi itu.
Tapi, sekarang dia meragukan pikiran-pikiran itu, dalam beberapa dua bulan ini sudah dua kali dia keluar istana. Satu kali ke kuil Sunyen dan kali lain adalah sekarang.
Saat ini dia hanya harus menunggu saja kembalinya Yang Mulia dari urusannya yang mendadak itu. Dia bisa menanyakan kembali soal maksud yang Mulia membawa dirinya keluar istana istana dengan menyamar seperti ini.
Xiao Yi mengambil manisan madu yang di cetak berbentuk kepala kelinci dengan telinga yang melengkung lucu dari keranjang anyaman bambu diatas mejanya. lalu menjilatnya dengan wajah puas.
Dia teringat janji Chu Cu yang akan membawakannya banyak manisan madu jika mereka telah sampai istana raja.
Tapi, bisa dibayangkannya mata bulat polos pelayannya itu akan membeliak heran jika saat dia pulang nanti membawakan sekeranjang penuh manisan madu.
"Lihatlah Chu Cu, aku yang membawakanmu manisan madu. Telan saja janjimu dulu, yang mau membawakan aku manisan madu yang banyak. Karena aku telah mendapatkannya lebih dulu!"
Dia akan berkacak pinggang dengan sombong di depan pelayannya itu, bisa dibayangkannya raut keheranan Chu Cu.
Dia tidak akan mengatakan dengan cepat bagaimana bisa dia
mendapatkan semua manisan madu itu. Chu Cu pasti sangat penasaran seperti biasanya.
Xiao Yi tersenyum kecil, di iringi lirikan heran seorang pelayan laki-laki muda yang mengantar sepoci teh dan sepiring kue lobak atau dikenal dengan kue chai tau di Yubei ini.
Kue lobak ini sangat terkenal di kedai ini sebagai cemilan menemani minum teh. Cita rasanya yang asin gurih cocok sekali di hidangkan dengan teh panas ketika udara dingin. Untuk menghangatkan badan.
"Silahkan dinikmati nona"
"Terimakasih..."
Pelayan itu segera meninggalkan Xiao Yi yang masih asyik menikmati manisan madu ditangannya. Menikmati hukuman manis dari yang Mulia Yan Yue.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan episode berikut dengan judul " Jatuh cinta pada pandangan pertama"...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like nya🙏☺️...
__ADS_1
...next episode besok ya...🤗...