SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 143 AKU LELAH


__ADS_3

Ibu Suri tiba-tiba berontak sekuat tenaga dari cengkeraman pengawal Cun, dia menarik sebuah belati kecil dari dalam saku lengan jubahnya yang lebar dan berlapis-lapis itu, merangsek ke arah Yang Mulia Yan Yue.


Dia meraung ke arah Yang Mulia Yan Yue dengan belati yang terhunus menuju jantung sang raja.


Sungguh kebenciannya pada anak itu sudah tak bisa ditahannya lagi, jika dia tak bisa memberikan tahta pada anak kandungnya Zhao Juren maka setidaknya dia akan membunuhnya dengan tangannya sendiri, untuk membayar penderitaan yang telah di alaminya dengan Zhao Juren.


Penderitaan yang telah ditanggungnya karena tak bisa menimang dan menyusui anaknya sendiri demi semua ambisinya itu bahkan dia telah rela menghilangkan jati diri anaknya di muka dunia.


Karena itulah, hanya nyawa Yan Yue lah yang akan membayarnya dengan Lunas.


Pengawal Jian melompat dengan sigap, siap menangkap ibu suri tapi Zhao Juren telah berdiri di depan Yang Mulia Yan Yue, dari posisi berlututnya, mendorong pengawal itu ke samping, dengan tubuhnya di songsongnya belati itu tepat di perutnya.


Ibu suri terbeliak kaget tak bisa menghentikan apa yang telah di lakukannya. Dia tak menyangka anak yang dilindunginya dengan seluruh jiwa raganya dengan diam-diam, bahkan bermimpi padanyalah dia akan meletakkan mahkota kerajaan Yanzhi itu, ditikam oleh belati dari tangannya sendiri.


Dengan tangan terbuka dipeluknya tubuh ibu suri, sementara belati itu menancap pada perutnya.


Zhao Juren berdiri seperti patung, tanpa keluh tanpa suara hanya tubuhnya sedikit melengkung ketika merasakan perih sesaat ketika benda tajam itu menembus kulitnya di balik pakaiannya. Senjata itu terasa dingin dan lama-lama menjadi panas, seiring dengan matanya yang bercahaya kelam itu berbinar aneh menatap pada ibu suri yang gemetar dalam pelukannya.


Jubah ibu suri yang keemasan itu dalam sekejap berwarna merah karena berlumuran darah, mukanya yang cantik itu seketika pucat pasi tanpa warna, matanya yang semula bersinar kejam penuh dendam menjadi kehilangan cahaya.


Dia berdiri terpaku seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya.


"Ju..Juren..."Ibu Suri memanggil Zhao Juren, tubuhnya bergetar kuat melihat pada darah yang terus mengalir membasahi pakaian Zhao Juren.


Untuk pertama kalinya ibu suri merasa dipeluk oleh anaknya ini, terasa hangat, hangat sekali.


Ibu suri merasakan gelayar rindu ketika untuk pertama kalinya bisa menatap langsung pada mata hitam sehitam giok milik anaknya itu, yang selalu di pujanya karena begitu mirip dengan mata suaminya Yan Houcun.

__ADS_1


Mata anak ini begitu hitamnya, sehingga siapapun tak pernah bisa benar-benar menyelami hatinya. Tak ada yang bisa menebak kedalaman jiwanya. Entah dia sedang bahagia ataupun dia sebenarnya sedang menderita. Mata itu begitu kelam.


"Juren...Juren..."


Zhao Juren menatap dengan lembut pada ibu suri. Dengan jelas dia sekarang bisa menemukan kolam yang selalu dirindukannya, tempat yang sangat di carinya. Segala emosi dan perasaan bahkan cinta yang disembunyikan wanita ini sekan tumpah bersama airmata yang berkubang di liang matanya. Cinta seorang ibu yang memancar berusaha menemukan buah hatinya.


"Ibu..." Zhao Juren merasakan jemarinya mulai terasa dingin, naik sampai ke siku , pundak dan lehernya. Kakinya terasa kebas dan lututnya menjadi gemetar. Dadanya berdebar lebih keras, karena detak jantungnya yang semakin tak beraturan.


"Juren, kenapa kamu melakukan semua ini?" Ibu suri meraung sekuat tenaga memeluk sang anak seperti orang yang baru kembali kesadarannya.


"Ibu...kenapa ibu membuangku?" Mata Zhao Juren menjadi basah, suaranya begitu lirih ditelinga ibu suri. Air liur yang di telannya sekuat tenaga terasa pahit, kerongkongannya menjadi asam. Nafasnya berat sekali, bukan karena mungkin dia sekarat tapi beban kesedihan yang ditanggungnya sungguh luar biasa.


"Ibu tak pernah membuangmu, Juren..ibu tak pernah membuangmu. Ibu melakukan semuanya untukmu..." Ibu Suri sekuat tenaga menopang tubuh Zhao Juren sementara kepala Zhao Juren jatuh di pundak sang ibu.


"Aku lelah ibu..."Bisiknya lirih hampir tak terdengar. Lalu dia tersungkur di hadapan sang ibu, darah pada lukanya mengalir dari sela belati yang masih menancap.


"Ibu, kenapa kamu sebenci ini padaku dan Yan Yue?" tanyanya dengan sedih, matanya bersinar begitu tenang memandang ibunya. Dia tidak merasakan sakit, dia tidak juga merasa benci pada ibunya itu. Dia hanya merasa iba terhadap takdir mereka yang telah dipermainkan oleh kekuasaan dan tahta.


Demi sebuah kursi, seorang ibu sanggup memisahkan dirinya dari buah hatinya, menahan perasaannya dibalik kegelapan. Demi kekuasaan dua orang saudara bahkan tak saling mengenal, mereka seperti orang asing tanpa tahu bahwa mereka berdua terikat pertalian darah.


"Juren...Juren...Jureeeeeen....aku ibumu Jureeen...." Teriakan ibu suri itu begitu menyayat, ketika Xiao Yi memaksa ibu suri untuk di bawa oleh pengawal Jian dari tempat itu untuk ditahan sebagai seorang pesakitan.


Kesalahannya tidak hanya karena ingin menggulingkan raja, dia juga telah merencanakan pembunuhan permaisuri raja bahkan dalam upayanya membunuh Yang Mulia dia telah melukai seorang panglima negara Yanzhi, Zhao Juren, putranya sendiri.


Sederet kesalahannya bahkan seperti kereta yang panjang tak cukup dituliskan dalam satu buku, untuk kejahatan sedalam dan sepanjang itu, entah hukuman apa yang pantas di berikan padanya.


"Panggilkan tabib untuk Zhao Juren sekarang!" Yang Mulia memerintahkan seorang pengawal yang segera melesat pergi dari tempat itu tanpa harus diperintahkan dua kali.

__ADS_1


"Juren, bertahanlah..."Yang Mulia Yan Yue memegang tangan saudaranya itu dengan kuat-kuat, demi membuatnya tetap sadar.


"Aku memegangmu." Kata yang Mulia Yan Yue dengan suara gemetar.


Zhao Juren tak menyahut, di mata yang sehitam giok itu tak ada rasa dendam dan sakit hati lagi, hanya tersirat rasa letih dan kelelahan yang amat sangat. Seakan dia mengungkapkan semua penderitaan hidup yang di alami silih berganti dari musim ke musim, datang dan tak pernah pergi dari kehidupannya.


Kelelahan yang terpancar di sana tak mampu menyamarkan wajah tampannya yang nampak sempurna diterpa cahaya matahari siang hari yang tiba-tiba saja muncul dari balik hari yang suram.


"Bertahanlah tuan Zhao..."Xiao Yi tiba-tiba berlutut di depan tubuh yang terbaring dalam pelukan raja.


"Sreeeeet...."


Xiao Yi merobek ujung gaunnya yang dari sutra itu, menyobeknya dan melipat-lipatnya.


Dia tak memandang kepada Yang Mulia lagi hanya mata terarah pada luka di tubuh Zhao Juren, beberapa saat kemudian tangannya menarik belati yang menancap diperut Zhao Juren dengan cepat. Lalu secepat kilat dia meletakkan lipatan kain sutra dari robekan gaunnya itu dan menindihnya dengan telapak tangannya, menutup luka yang menganga akibat tusukan belati ibu suri. Menekan pendarahan yang terjadi.


"Jangan bergerak, tuan...sampai tabib datang, supaya anda tidak akan kehilangan darah lebih banyak lagi..."


Mata Zhao Juren bersinar lembut pada Xiao Yi, jemari yang menekan perutnya terasa hangat.


Seulas senyum di bibir Zhao Juren mengambang seperti kiambang di atas kolam.


Setidaknya ketika ajal menjemputnya, dia berada bersama orang yang sangat disukainya .


(Sisa satu episode lagi untuk malam ini, ya...tetap bersama panglima Zhao Juren untuk membuatnya tetap sadar sampai tabib datang...😘😘🤗🤗🤗 LIKE, KOMEN, VOTE, KOPI...author mohon, yaaa 🤣🤣 love You all my readers)


__ADS_1


__ADS_2