SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 134 PINTAR DAN LICIK


__ADS_3

"Sekarang ibu suri sedang menunggu di luar..." Jawab kasim Chen.


"Jika Yang Mulia tak ingin bertemu, saya akan mengatakan, Yang Mulia sudah tidur..." Kasim Chen berkata dengan sedikit takut melihat raut aneh Yang Mulia.


Yang Mulia berdiri dari duduknya dan berkata,


"Suruh saja dia masuk..."


Kasim Chen segera mundur dan keluar dari ruangan itu. Tidak lama Ibu suri masuk , mantel dari brokat warna keemasan nampak menyolok dengan hiasan bulu serigala pada bagian lehernya. Rambutnya digelung tinggi dengan buyao emas besar yang tampak bergoyang-goyang ketika dia sedang berjalan.


Tanpa membungkuk seperti yang dilakukan seseorang jik brtemu raja, ibu suri menegakkan rahangnya tinggi-tinggi.


"Hormat kepada yang Mulia." Ucapan itu sam seali tidak sesuai dengan sikap yang di tampilkannya.


Empat Orang dayang dari istana harem nampak menyusul dari belakang, membawa banyak barang dalam nampan yang ada di tangan mereka.


Yang Mulia hanya memandang tanpa bicara, dia menunggu ibu Suri menyampaikan maksudnya.


"Yang Mulia aku mengantarkan pakaian untuk permaisuri dari istana harem." kata ibu suri dengan ringan dan memberi isyarat kepada dayang di belakangnya untuk meletakkan di meja, baki yang berisi mahkota burung hong dengan tiara dari emas murni yang sangat mewah, beserta dengan hiasan tusuk konde dan buyao yang berjumlah mungkin belasan.


Lalu seorang dayang lain meletakkan pakaian dari bahan brokat mahal dengan sulaman dari benang emas yang nampak seperti awan dalam warna dasar merah tua berkilat.


Dayang selanjutnya meletakkan baki berisi aneka macam perhiasan dari giok dan emas serta mutiara beraneka rupa. Ada dalam bentuk gelang dan liontin mata zamrud sampai pada anting-anting emas yang panjang menjuntai.


Dan terakhir adalah baki yang berisi alas kaki berwarna putih, tebal dan hangat, pada bagian luarnya di lapisi brokat yang mewah.


Yang Mulia tidak berkedip memandang kepada ibu suri, sampai para dayang-dayang itu mundur dan meninggalkan kamar yang Mulia.


"Ini adalah pakaian yang akan di kenakan oleh calon permaisuri saat akan di nobatkan, pkaian ini adalah milik dari permaisuri Xu Jiao saat penobatannya." Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya, saat mengucapkan nama ibunda dari Yang Mulia Yan Yue.

__ADS_1


"Seharusnya barang-barang ini dikirimkan ke istana Xingwu." kata yang Mulaia dalam suara yang datar.


"Aku ingin menyerahkan sendiri kepada Yang Mulia sebelum aku mengosongkan istana permaisuri, besok pagi." Ibu Suri nampak berbicara dlam suara yang begitu ringan, seolah-olah meninggalkan tempat kekuasaannya itu bukanlah masalah besar baginya.


Dia sudah berada di sana belasan tahun, menancapkan kuku-kukunya dari balik tirai istana permaisuri itu dengan diam-diam. Ambisi besar yang ada di balik keberadaan di sana, tidak ada orang yang tahu pasti. Keinginan berkuasa mengakar di dalam hatinya berubah menjadi kejahatan yang tak terkendali.


Dia berubah menjadi iblis yang kejam karena rasa iri yang hidup dari pertama dia measuki istana Weiyan sebagai selir seorang raja.


Cinta kadang kala merubah seseorang menjadi baik dan tulus tapi tak sedikit cinta yang salah menjadi penuh dengan rasa dengki membuat seseorang juga menjadi sangat jahat.


"Ibu Suri tidak perlu buru-buru meninggalkan istana permaisuri, Selir Yi setelah menjadi permaisuri bisa tinggal di dalam istana Rongyu bersamaku." jawab yang Mulia kemudian, dengan suara tetap begitu datar.


"Tradisi di Yanzhi, seorang permaisuri utama harus masuk ke istana permaisuri setelah dia dinobatkan. Tidak ada yang akan merubah tradisi yang telah dilakukan selama turun temurun. Istana Rongyu hanya kediaman raja, yang Mulia boleh mengundang permaisuri atau selir dari raja untuk bermalam di Rongyu tpi tidak untuk tinggal." Kalimat ibu Suri itu terdengar tajam.


"Segala sesuatu bisa berubah, peraturan selalu bisa menyesuaikan. Tidak harus menjadi kaku." Sahut yang Mulia.


"Aku tidak pernah mendengar kata-kata itu di ucapkan oleh siapapun di Yanzhi." Ibu Suri terdengar tidak senang dengan apa yang di dengarnya.


"Apakah selir Yi menjadi semakin pintar sekarang, bahkan bisa mengendalikan pikiran seorang raja nomor satu di Yanzhi?"Pertanyaan yang penuh dengan sindiran itu, tidak membuat Yang Mulia menjadi marah.


"Apakah ibu suri menjadi sangat kuatir dengan seorang selir seperti selir Yi?" yang Mulia tertawa kecil, dia menangkap kilat takut di mata ibu Suri.


"Aku tidak mencemaskan selir Yi, aku sedang mencemaskanmu yang Mulia." Ucap ibu suri, jemari bertaut saling meremas. Dia tak bisa berbohong, dia sedang mewaspadai sesuatu.


"Saya rasa ibu suri tidak hanya ingin mengantar perlengkapan untuk penobatan permaisuri kemari..."Yang Mulia meletakkan tangannya di balik jubahnya yang berwarna biru pupus itu. Seperti seorang ayah yang sedang bersiap mendengar keluh kesah anaknya.


Ibu Suri memandang sesaat kepada barang-barang yang kini berada di meja Yang Mulia.


"Aku hanya datang sebagai ibu yang sedang ingin memperingatkanmu." Kalimat itu hampir saja membuat Yang Mulia meledak oleh rasa geli.

__ADS_1


Menilik banyak kejahatan yang telah dilakukan ibu suri dibelakangnya selama ini, dia sangat tidak pantas menyebut dirinya sebagai seorang ibu.


"Apakah aku membuat kesalahan di mata ibu suri?" tanya yang Mulia sambil menahan tawa, sikap ibu suri benar-benar menggelitik hatinya.


"Belum terlambat untuk mengubah keputusanmu." Kata ibu suri kemudian dengan sikap yang lebih melunak.


"Keputusan yang mana?" Yang Mulia memicingkan matanya.


"Keputusan mengangkat selir Yi menjadi permaisurimu." Jawab ibu suri dengan suara yang menusuk.


Yang Mulia tercengang mendengar nasehat ibu suri, dia begitu terang-terangan menentang keputusan Yang Mulia.


"Kenapa ibu suri mengatakan ini?" tanya Yang Mulia, seolah dia sedang mendengaran sebuah pertimbangan dari seorang menteri di aula Guangli pada saat mengadili sesuatu.


"Aku mengatakan apa yang aku lihat, Selir Yi bukan orang yang pantas menjadi seorang permaisuri. Dia terlalu berlebihan untuk menjadi perempuan."


"Apakah ibu suri sedang ingin mengatakan bahwa selir Yi terlalu pintar?" yang Mulia menyela.


"Pintar dan licik itu hanya berbeda tipis Yang Mulia..." Ibu Suri menyahut setajam pedang.


"Bukankah itu menunjukkan bahwa dia pantas untuk menjadi seorang ratu?"


Yang Mulia tersenyum pada ibu suri yang terlihat sangat tidak senang itu.


"Perempuan di sisi raja hanya perlu cantik, sikap penurut serta memelihara kesantunan, maka dia akan mendapatkan tempatnya. Dia cukup mendampingi raja dan melahirkan keturunan yang meneruskan keagungan raja, bukan orang yang bersikap lebih tahu dari seorang raja. Sebuah negara besarpun bisa runtuh ditangan seorang wanita." Kata Ibu suri, nada suaranya terdengar dipenuhi rasa geram, seolah sedang membayangkan apa yang dikatakannya terjadi di depan matanya.


(Author tetap berusaha mengejar crazy UP ya, buat para pembaca kesayangan. Yuk Vote, Komen dan Like buat selir Yi)


__ADS_1


__ADS_2