
"Yang Mulia..." Xiao Yi memejamkan matanya, betapa kerinduan yang sama membebani hatinya.
Dia membiarkan pelukan Yang Mulia semakin erat membelit tubuhnya, laju degup jantung lelaki di belakangnya itu terasa sampai di kulit punggungnya.
Jemarinya terkepal, meremas-remas rok gaunnya, ciuman Yang Mulia terasa panas dan panjang, lehernya sampai terasa kaku karena menoleh untuk menyambut ciuman itu.
Dan saat wajah Yang Mulia mulai menjelajah leher jenjangnya Xiao Yi menarik badannya keluar dari pelukan Yang Mulia dengan nafas tersengal.
"Yang Mulia...tidak baik jika di lihat orang." Xiao Yi membalikkan badan dan berhadapan dengan Yang Mulia, yang masih menggunakan pakaian kebesarannya, jubah merah bersulam naga emas. Kepala Xiao Yi celingukan, melihat sekelilingnya. Sepi. Hanya saja kasim Chen, kasim muda, pengawal Jian dan pengawal Cun serta Chu Cu yang tampak di sudut pagar tembok istana Chue Lian. Berdiri seperti patung menghadap dinding, kedua telapak tangan mereka menutup wajah.
Wajah Xiao Yi segera merah padam, seperti kelopak bunga meihua.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Xiao Yi setengah berbisik dengan malu.
"Aku hanya menyuruh mereka berdiri menghadap tembok dan menutup mata." Yang Mulia menaikkan bahunya dan mengedipkan sebelah mata tanpa rasa bersalah.
"Yang Mulia, ini memalukan..." Xiao Yi tersipu, memikirkan apa yang telah mereka lakukan, berciuman di tempat terbuka di bawah pohon Rongshu yang terang benderang, seolah-olah hanya ada mereka berdua. Dan ada lima orang berdiri di sana menghadap tembok sambil menutup mata, benar-benar membuat Xiao Yi merasa sangat malu.
"Aku hanya tak ingin mereka iri, jadi ku suruh mereka berbalik dan menutup mata." Yang Mulia tertawa kecil, melihat Xiao Yi yang salah tingkah. Sebuah cubitan halus mendarat di perut Yang Mulia.
"Kalau cubitanmu sampai melukai kulit raja, kamu akan dihukum berat." Yang Mulia meringis sambil berpura-pura melotot.
"Aku tidak takut!"Xiao Yi mencubit lagi lebih keras, Yang Mulia tertawa sambil menarik Xiao Yi ke dalam pelukannya. Kemudian mencium rambutnya yang beraroma bungan persik itu.
"Aku sangat merindukanmu, sampai-sampai aku harus melarikan diri dari perjamuan itu dengan alasan sakit perut..." Yang Mulia mencium kepala Xiao Yi berkali-kali, seolah mereka begitu lama tak bertemu.
Xiao Yi tergelak di pelukan Yang Mulia mendengarnya, baru kali ini dia mendengar seorang raja yang sakit perut demi kabur dari sebuah pesta.
"Aku hanya datang membuka perjamuan itu dan selanjutnya semua ku serahkan kepada perdana menteri Xingguan yang mengurusnya. Aku malam ini mempunyai urusan yang lebih penting." Lanjut Yang Mulia, tangannya melingkar di pinggang Xiao Yi sedikit nakal.
Xiao Yi menggelinjang dalam pelukan Yang Mulia, lalu membebaskan diri dari sana.
"Yang Mulia, jangan menyiksa mereka terlalu lama menghadap tembok itu..." Xiao Yi terkekeh lalu berangsur duduk di atas kursi kayu di bawah pohon Rongshu, mengambil sebuah manisan madu, menyesapnya dengan senyum menggoda.
Wajah Yang Mulia menjadi masam.
__ADS_1
"Jian, kalian berbaliklah..." Kata Yang Mulia, dengan raut kesal. Dia sedang bersemangat, tapi Xiao Yi dengan kejam mematahkannya.
Lima orang yang menghadap tembok itu, segera berbalik. Wajah mereka merah merona dan salah tingkah. Mereka tidak bisa melihat adegan mesra itu tapi mereka bisa membayangkannya.
Yang Mulia duduk di sebelah Xiao Yi dan tersenyum lebar melihat wajah cerah Xiao Yi, yang sibuk mendongak ke atas, mengagumi lampion-lampion merah yang bersinar di atas kepalanya.
"Kau menyukainya?" tanya Yang Mulia, kepalanya mendongak mengikuti arah pandangan Xiao Yi.
"Ini benar-benar indah Yang Mulia. Aku sangat menyukainya." Sahut Xiao Yi.
"Jian dan pengawal-pengawalmu tentu kerepotan untuk memasangnya..." Xiao Yi tersenyum sendiri.
"Chenxing, Aku yang memasangnya sendiri, mereka hanya membantuku sedikit." Yang Mulia bergumam, perempuan ini benar-benar melewatkan dirinya begitu saja.
Dari malam kembali pagi sampai sore, dia hampir tak tidur hanya untuk membuat dekor lampion lotus ini. Tapi sama sekali tidak masuk ke dalam hitungan Xiao Yi.
Jika bukan karena ingin melihat tawa Xiao Yi gadis yang sangat di sukainya, dia sebagai raja tentu saja menolak berlelah-lelah sepanjang hari.
"Yang Mulia memasangnya sendiri?"Xiao Yi berhenti memasukkan manisan madu ke dalam mulutnya, tidak yakin.
Yang Mulia mengalihkan pandangannya dari wajah Xiao Yi dengan gaya acuh, ujung bibirnya tertarik menunjukkan sikap menyombongkan diri.
Yang Mulia mengernyit dahi, sekarang dia menoleh kepada gadis yang duduk di kursi kayu tepat sampingnya itu.
"Kau membalasnya dengan apa?" tanya Yang Mulia dengan mata terpicing, sedikit penasaran dengan sikap Xiao Yi.
"Jian...perintahkan semua orang menghadap tembok!" suara Xiao Yi terdengar lantang, dengan tergesa lima orang yang berdiri di sudut pekarangan membalikkan badan mereka.
Pada detik berikutnya Xiao Yi telah melompat ke pangkuan Yang Mulia dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki yang mulutnya menganga karena terkejut dan tak menyangka itu.
"Yue..." Xiao Yi tersenyum dengan begitu manisnya, membiarkan Yang Mulia mendongak mendapati wajahnya.
"Terimakasih, sudah memberikan aku tahun baru terbaik dalam hidupku. Lampion-lampion itu akan ku pasang di hatiku, sebagai pengingat untuk selalu menerangi jalanku kepadamu. Apapun kesulitan dalam hidupku, aku akan selalu melihat dirimu sebagai tempatku pulang. Aku bersedia melewati semua neraka hanya denganmu." Desah Xiao Yi sambil menatap mata Yang Mulia, yang selalu mengingatkannya pada pohon willow di tepi sungai Yalu. Mata coklat kehitaman yang sangat indah.
Lalu perlahan, dikecupnya lembut kedua mata itu. Yang Mulia Yan Yue tak mampu berkata-kata, suaranya seperti tersandera di dalam kerongkongannya sendiri.
__ADS_1
"Jadilah kuat, Yue. Jadilah tegar, aku akan mendampingimu melewati semua badai dalam hidupmu, meskipun itu adalah lautan darah." Lalu dengan perlahan bibir Xiao Yi menurunkan bibirnya, melewati garis hidung Yang Mulia, kemudian berhenti saat mata mereka beradu begitu dekat.
Dengan sangat lembut Xiao Yi mencium bibir coklat muda berkilat basah milik Yang Mulia, menempel di sana beberapa lama, sampai Yang Mulia tak sanggup membuka mata.
Dadanya berdebar tapi hatinya begitu tenang.
Jemari Yang Mulia melingkari pinggang ramping gadis yang duduk di atas pangkuannya itu.
Mata Yang Mulia terpejam menikmati lembutnya bibir Xiao Yi, meresapi desah halus nafasnya, menghayati setiap gerakan gadis itu yang begitu perlahan, begitu manis sekaligus begitu menggoda. Ada kedamaian merasuk dalam gairah yang perlahan bergolak itu.
Lampion diatas mereka berkedip-kedip berayun kecil tertiup angin malam seolah menjadi malu dengan pemandangan mesra di bawah mereka. Udara yang dingin terasa menjadi hangat ketika menyentuh kulit dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Chenxing..." Yang Mulia menarik wajahnya.
"Kita tidak boleh begitu kejam dengan menyiksa mereka terlalu lama menghadap tembok."
Xiao Yi hanya menatap dengan bingung tetapi pasrah, kedua lengannya mengait leher Yang Mulia.
Dengan gerakan tiba-tiba, Yang Mulia berdiri, dan Xiao Yi sudah bergelayut di dalam gendongannya.
Lalu dengan langkah lebar dan panjang membawa Xiao Yi menuju pintu bangunan utama istana Chue Lian.
Kaki kanannya terjulur lincah menendang kecil pintu di depannya,
"Jian...kalian boleh berbalik sekarang!"
Teriakan itu terdengar parau dan tak sabar, sebelum dengan tumit kakinya dia menutup kembali pintu dengan kasar.
(Maafkan author sudah membuat pengawal Jian, kasim Chen, Chu Cu dan yang lain sudah bolak balik menghadap tembok🤣🤣🤣)
Nantikan episode selanjutnya yaaaa.....🤭🤭
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya ya🙏😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Biar author tambah rajin UP🙏☺️...