
Di aula kebesaran itu, tiba-tiba semua serentak berdiri ketika Yang Mulia berdiri melihat sebuah tandu ratu tiba di ujung tangga kumala aula utama itu.
Lalu dengan menahan nafas, Yang Mulia menyaksikan Xiao Yi turun dari sana, perempuan cantik itu didandani sedemikian cantik sekaligus heroik.
Xiao Yi mengenakan jubah berwarna merah hati senada dengan warna jubah Yang mulia.
Karena Xiao Yi di angkat sebagai permaisuri dari seorang selir tinggkat rendah maka sesuai peraturan Yanzhi mereka harus diupacarakan kembali dalam pernikahan resmi meskipun raja sudah menikahinya tapi tidak melewati upacara besar. Karena itulah Xiao Yi dikenakan jubah penggantin burung hong dengan brokat yang di sulam benang emas bermotif awan dan gulungan ombak serta buah delima dari emas yang semuanya mempunyai pengertian simbol tersendiri terhadap seorang ratu dan istri dari raja.
Rambut Xiao Yi diangkat tinggi dan di puncak kepalanya terdapat sebuah mahkota burung hong, serta berhiaskan belasan tusuk konde dan buyao yang gemerlap berbahan emas murni seperti ekor merak.
Dengan perut yang nampak membesar seolah sedang menceritakan suatu kebesaran yang agung di tanggungnya dibalik pakaiannya, ada pewaris tahta yang bernafas menunggu waktunya untuk keluar.
Pakaian ratu yang juga merupakan pakaian pengantin itu beraburan sulaman dari beraneka benang berwarna putih keperakan, kuning keemasan dan lukisan-lukisan awan sepanjang baju itu di sulam dengan benang ungu tua dan jingga.
Semua perhiasan yang dikenakannya dari batu jamrud nomor satu, batu safir dan giok terbaik.
Tak ada yang mengalahkan kecantikan Xiao Yi di pagi yang muram ini.
Xiao Yi berjalan dengan anggun, tapi kepalanya terangkat lurus. Hanya ekor matanya sempat mencuri pandang ke deretan di belakang para bangsawan. Ada Ayahnya tuan Xiao Xie, ibunya dan dua kakaknya Xiao ce dan Xiao Ying.
Dia telah mendengar kedatangan mereka sehari sebelumnya sebagai tamu kehormatan raja, meski mereka tidak duduk di deretan para tamu utama tapi Xiao Yi merasa bahagia.
Tempat orangtuanya di duduki oleh Gubernur Qian Lie dan istrinya, selaku wali dan ayah angkat yang telah meembuatnya bisa masuk ke istana sebagai selir.
Di belakangnya berjalan Chu Cu, yang dalam pertama kalinya di dandani sebagai dayang utama, pakaiannya dari linen berwarna putih dengan sulaman bunga-bunga kecil yang tak kentara. Pinggangnya yang ramping terikat ikat pinggang dari kain kaku berwarna ungu muda, rambutnyapun ditata dengan sebuah buyao dari perak terselip di sana.
__ADS_1
Xiao Yi tidak mau seorang dayang tinggi yang mengiring ataupun memegang ujung jubahnya yang panjang itu. Dia hanya mau Chu Cu yang mengantarnya menuju singgasana ratu itu, pelayan sekaligus temannya dari kecil.
Di samping Chu Cu berjalan pengawal Cun, yang menjadi pengawal khususnya. Dia tidak bepakaian hitam-hitam gelap seperti biasanya tetapi sekarang berjalan gagah dalam pakaian pengawal kemiliteran.
Semua orang menahan diri untuk tidak berdecak kagum pada penampilan Xiao Yi hari ini. Dia pantas berdiri sebagai permaisuri raja.
Yang Mulia turun dari singgasananya menyongsong kedatangan Xiao Yi, mereka berdua bertemu di depan meja Lotus di tengah aula.
Perdana Menteri sebagai tetua dan penasihat raja, berdiri dari tempatnya sambil membuka sebuah gulungan maklumat yang diserahkan oleh kasim Chen.
Semua orang berdiri di tempatnya masing-masing, mendengar surat itu di baca dengan lantang,
Hari kedua puluh delapan bulan sembilan,
Di kota Yubei, ibukota kerajaan Yanzhi,
Yang Mulia Yan Yue anak dari raja Yan Houcun dan permaisuri Xu Jiao akan mengambil seorang selir furennya untuk menjadi pemaisuri utama, dibawah sumpah setia untuk selalu menjadi ratu pendamping raja samapi akhir hayatnya dan menjaga nama baik Raja Yanzhi yang mulia, nama baik Istana Weiyan dan nama baik kerajaan Yanzhi yang agung.
Selir Yi akan menyandang gelar Permaisuri utama Xiao Yi dan dalam tata kenegaraan menjadi Ratu Yi Yang Mulia.
Maklumat itu selesai dibacakan dan semua orang membungkukkan badannya lalu bersujud menghadap yang Mulia yang sedang menambilkan anggur dari dalam cawan besar diatas meja lotus dengan menggunakan sebuah sendok perak yang besar.
Xiao Yi menatap tak lepas dari anggur di dalam sendok perak besar itu, seharusnya jika itu beracun maka anggur itu akan segera berubah warna saat bersentuhan dengan perak.
Tapi sungguh aneh, sendok anggur itu sama sekali tidak berubah warna. Dia tetap merah, semerah warna darah.
__ADS_1
Semua orang menundukkan kepala kepalanya dengan khidmat sebelum kemudian berdiri untuk menyaksikan permaisuri raja itu meminum anggur perjanjian yang akan diminumkan sendiri oeh raja Yanzhi, suaminya, Yang Mulia Yan Yue.
Ibu Suri tampak tegang menunggu detik-detik dimana isyarat penyergapan terhadap raja dan semua pendukungnya yang sedang terpusat di dalam aula itu terjadi.
Para pemberontak dalam pakaian pengawal yang disusupkan oleh wakil panglima Zhao Juren, telah tersebar di mana-mana, mereka telah siap sedia menghunuskan senjata jika telah diberi tanda.
Di sebelah permaisuri, Zhao Juren berdiri dengan wajah yang lebih tegang lagi. Dia tahu Xiao Yi telah menerima surat yang dikirimkannya. Dia berharap Xiao Yi tidak akan meminum anggur itu, karena jika dia meminumnya maka tidak ada yang aan bia menahan kematian datang untuk merenggut selembar nyawanya.
"Sebagai bentuk perjanjian seorang permaisuri yang terikat kessetiaan tidak hanya pada suaminya tetapi juga pada negara yang dipimpin suaminya, maka Permaisuri Xiao Yi akan meminum anggur perjanjian yang diberikan oleh Yang Mulia Yan Yue, raja negara agung Yanzhi." Perdana menteri mebuka tangannya mempersilahkan Yang Mulia untuk meminumkan anggur yang kini telah ditruangkannya dari sendok perak ledalam sebuah cawan kecil dari kaca.
Xiao Yi menatap nanar, kepada anggur yang begitu merah dalam cawan kaca itu, bergantian dengan dia menatap wajah Yang Mulia.
Ada sebersit keraguan yang tiba-tiba tersirat dimatanya.
Sesaat dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula kebesaran itu yang mendadak hening seperti kuburan.
Dia sungguh tak tahu kenapa semua orang seperti menahan nafas, enatah berapa orang yang benar-benar tulus menginginkannya menjadi permaisuri Yang Mulia, tapi dia lebih tak tahu lagi berapa banyak sekarang yang sedang menahan nafas berharap untuk melihatnya mati.
Yang Mulia Memberikan cawan itu kepada Xiao Yi sambil tersenyum pada perempuan yang di cintainya itu.
Xiao Yi menyambutnya dengan tangan gemetar, kukunya yang panjang dan merah itu, berada di pinggir bibir cawan, memegangnya dengan erat.
"Sebelum saya meminum anggur ini..."Tiba-tiba xiao Yi bersuara, dia berbicara dengan suara lantang tetapi sangat berwibawa.
(Terimakasih tetap setia dengan novel ini, tunggu episode selanjutnya ya, di rangkaian crazy UP hari iniππ )
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like dan komennya, ya...