
Xiao Yi memberi isyarat kepada dua orang kasim maju dengan dua orang pengawal.
"Bawa mereka kembali ke Wisma mereka masing-masing, biarkan seorang kasim dan pelayan mengawas dan melayani mereka, sampai Yang Mulia memanggil mereka ke aula Guangli." Kata Xiao Yi kepada para kasim itu.
"Dan ingat satu hal...perlakukan mereka dengan baik." Lanjut Xiao Yi dengan tegas.
Dua selir itu di bawa dari tempat itu, mereka tidak berbicara sepatah katapun. Tak ada yang benar-benar tahu tentang perasaan mereka tapi yang pasti dua orang selir telah di keluarkan dari istana harem itu.
"Lalu bagaimana dengan kami? Keadilan apa yang akan kami terima? " Selir Luo bertanya, dengan segenap keberaniannya. Keempat selir Yang mulia Yan Yue yang tersisa menatap kepada Xiao Yi.
"Aku memberi kesempatan kepada kalian untuk memberi keadilan bagi diri kalian sendiri." Xiao Yi kembali duduk ke singgasananya, perutnya yang besar itu tak memungkinkan dirinya untuk terlalu berlama-lama berdiri.
Selir Luo, Selir Niang, Selir Feyang dan selir Qin saling berpandangan, tak mengerti apa yang dimaksud permaisuri baru itu.
"Katakan apa yang benar-benar kalian inginkan dalam hidup kalian? Maka aku akan berjanji menyampaikannya pada Yang Mulia." Kata Xiao Yi dari tempatnya sambil mengarahkan pandangan pada mereka.
Beberapa saat kemudian, tempat itu menjadi senyap, tak ada yang mencoba berbicara.
"Sebagai seorang istri, apakah kalian bahagia dengan pernikahan kalian selama ini?" Tanya Xiao Yi.
Mereka sekali lagi saling bersitatap, tak ada yang berani menjawab.
"Kami tidak berani mengatakannya." Selir Niang menjawab dengan sedikit gemetar.
"Katakan saja, tak akan ada yang melarang kalian berbicara. Istana harem ini sekarang berada di bawahku, tak ada yang boleh merasa tertekan di sini."
"Kami ingin di cintai seperti Yang Mulia permaisuri..." Jawaban itu datang dari selir Qin. Dia merasa iri pada keberuntungan Xiao Yi, selama ini dia merasa dirinya lebih cantik dari Xiao Yi malah, semua orang sering mengatakan itu padanya, matanya yang bulat cantik itu lebih bulat dari mata Xiao Yi, bahkan lebih bersinar dari mata kejora Xiao Yi, tapi dia tidak tahu mengapa kecantikannya sama sekali tidak di lihat oleh Yang Mulia.
__ADS_1
"Jika kalian ingin dicintai dengan benar maka bebaskan diri kalian dan temukan orang yang tepat." Sahut Xiao Yi dengan ringan.
"Bagaimana bisa kami melakukan hal itu? Meminta Yang Mulia menceraikan kami maka kami akan di hukum karena telah lancang dan menghina raja." jawab Selir Luo.
"Rajamu yang sekarang berbeda dengan rajanu yang terdahulu, dia tidak akan tersinggung jika itu yang kalian inginkan. Bukankah dia tidak melakukan kewajibannya dengan benar pada kalian, tentu saja kalian berhak menuntutnya untuk ketidak adilan itu." Xiao Yi meletakkan jemarinya di sandaran kursi.
"Dia adalah raja..." Selir Luo berucap terkesiap mendengar bagaimana ringannya Xiao Ti mengucapkan Yang Mulia juga bisa di tuntut.
"Tapi dia juga manusia." Xiao Yi menyahut.
"Seorang manusia tidak bisa melakukan segala hal dengan sempurna, dia tidak bisa memuaskan hati semua orang sekaligus dengan dirinya yang hanya satu. "
"Tapi aturannya demikian." Sekali lagi selir Luo berbicara.
"Dia berdiri di atas aturan yang di buat oleh manusia, maka tentu saja aturan itu bisa di rubah kembali, selama dia adalah manusia. Hukuman di berikan untuk kesalahan. Jika hanya karena kalian mengutarakan keinginan lalu kalian di hukum, maka aku yang akan berdiri di depan kalian untuk menerima hukumannya." Xiao Yi menaikkan alisnya, seolah dia tak keberatan atas apapun yang mungkin terjadi padanya.
"Tapi, kami adalah wanita Yang Mulia, tidak boleh ada yang menyentuh kami meskipun Yang Mulia menceraikan kami."Tukas selir Qin.
Xiao Yi mengangkat sebuah kotak tempat stempel permaisuri yang di letakkan di sisi kanan kursinya.
"Apakah kalian tahu ini?" Tanyanya kemudian.
Semua terdiam, mereka tahu itu stempel permaisuri, sama pentingnya dengan stempel seorang raja, hanya saja stempel ini di gunakan terbatas hanya untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan harem saja.
"Dengan stempel ini, perceraian yang di lakukan oleh seorang raja, jika di setujui oleh permaisuri maka pada surat perceraian yang di bubuhkan stempel permaisuri akan memperbolehkan mantan wanita raja untuk menjalani hidup normalnya. Kalian bisa hidup bebas, memilih pasangan dan menikah."
Semua menatap tak berkedip kepada stempel itu, mereka baru tahu betapa ajaibnya stempel yang dipegang permaisuri mereka itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta kalian meminta perceraian dari Yang Mulia, tapi kalian bebas mempertimbangkan apa yang kalian inginkan. Renungkan kembali apa yang telah kalian terima selama ini, apakah kalian pantas menerimanya, apakah kalian merasa layak diperlakukan seperti itu. Sekali lagi, cinta soal rasa bukan soal keterpaksaan. Di jalan mana yang kalian pilih...silahkan fikirkan kembali, setelah kalian yakin dengan pilihan kalian, entah tetap tinggal ataupun pergi, maka datanglah padaku, aku akan membawa semua permohonan kalian ke depan Yang Mulia." Xiao Yi berdiri dari duduknya, Dayang Chu Cu segera menghampirinya. Semua selirpun ikut berdiri, melihat sang permaisuri itu akan beranjak lergi meninggalkan aula Qing Ren.
"Kembalilah ke wisma kalian masing-masing, terimakasih telah bertukar fikiran di aula Qing Ren," Ucap Xiao Yi sambil menganggukkan kepalanya pada mereka semua.
Semua selir itu membungkukkan badannya dengan rasa hormat yang tulus pada permaisuri Yi.
Xiao Yi berjalan dengan perlahan dengan di bantu oleh Chu Cu, dia telah menunaikan tugas pertamanya sebagai permaisuri di istana Harem. Dia telah memberikan hukuman pada yang bersalah dan keadilan bagi mereka yang merasa di perlakukan tidak adil.
Dia tahu, yang menjadi persoalan terberat perempuan adalah, yang pertama cinta dan yang kedua cemburu.
Perempuan akan bisa berubah jadi apa saja demi cinta, sanggup menentang apapun bahkan melakukan apa saja.
Untuk cemburu, perempuan akan menjadi lebih ekapresif dari pada laki-laki.
Jika kedua perasaan ini menjadi satu, maka akan muncullah perempuan serupa selir Nuo, selir Mei dan selir Wei.
Ketidakpuasan akan membuat mereka menjadi berani bahkan cenderung nekad.
Keempat Dayang itu saling pandang, mereka tahu dalam hal apapun mereka tak akan pernah bisa mengalahkan Xiao Yi.
Untuk orang yang telah mencicipi rasanya kalah, maka mereka sudah tahu keputusan mana yang lebih baik untuk mereka.
"Cinta tidak pernah memiliki banyak arah, cinta soal rasa, cinta tidak bisa dipaksakan."
Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy upðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1