
Xiao Yi duduk dengan tenang di dalam kereta kuda yang membawa dirinya, Chu Cu, selir Yuan dan Ayin, pelayan selir Yuan.
Kereta itu cukup besar dari ukuran kereta kuda biasa, di buat khusus untuk keberangkatan Xiao Yi bersama selir Yuan menuju Youwu.
Pandangan mata Xiao Yi bersinar hangat tampak memancar haru memandang keluar jendela kereta, melihat pemandangan di luar yang seolah-olah menyapanya, mengucapkan selamat pulang kembali kepadanya.
Kepulangan yang tidak pernah dibayangkannya akan begitu berbeda dari situasi yang pernah terpikirkan olehnya.
Dulu, sebelum dia berangkat ke Yubei, dia tak yakin bisa menjejakkan kembali kakinya ke tanah kelahirannya itu. Seumur hidup dia mengira akan terpenjara sebagai selir yang menghabiskan hidup dengan cara menyedihkan di istana raja Yanzhi, bahkan andai dia bisa keluar dari sana, mungkin hanya dalam rupa jasad tak bernyawa.
Tapi takdir sungguh tak pernah bisa ditebak, dia bisa pulang dengan keadaan selamat dan bahkan terhormat.
Dikirim pulang oleh raja yang dulu pernah dibayangkannya sebagai orang kejam berhati dingin tapi sekarang dia tersenyum sendiri memikirkan betapa rindu dirinya pada si mata batang willow berwajah keras itu.
Hatinya yang dingin telah berangsur memcair dan sekarang begitu hangat.
Selir Yuan tampak terlelap berbaring di dalam balai panjang berlapis kain brokat tebal, kereta itu di buat senyaman mungkin untuk orang yang berada di dalamnya. Rona wajahnya begitu segar seperti orang yang tidak dalam keadaan sakit.
Xiao Yi begitu telaten merawat selir Yuan, tidak semenitpun dia melewatkan jadwal meminumkan ramuan obat yang di berikan oleh tabib Guo sebelum berangkat.
Kereta khusus selir raja itu, dikawal oleh duapuluhan pengawal kerajaan yang dipimpin oleh pengawal khusus Chun, ada beberapa pengawal yang dititip oleh gubernur Chie Weiheng untuk menjaga anaknya ikut serta pada bagian belakang kereta.
Di rombongan yang sama itu kereta gubernur Qian Lie berada di depan, dengan pengawal khusus gubernur yang dipimpin Qian Ren, mereka ada di depan.
Dua hari dalam perjalanan menuju Youwu mereka berhenti di kota perbatasan dengan provinsi Shicuan, dan di sana pada sebuah penginapan terbesar di daerah itu, gubernur Weiheng bersama nyonya Chie, menunggu supaya bisa melihat keadaan puterinya.
Mereka sempat bermalam di sana, menyaksikan bagaimana tangisan sedih nyonya Chie melihat anaknya yang biasanya begitu ceria dan penuh senyum itu terbaring dengan mata yang berkilat-kilat penuh air mata, tanpa bisa bicara ataupun bergerak.
Puteri kebanggaan Shicuan itu, seperti mayat hidup yang berkedip.
Gubernur Weiheng hanya bisa menahan diri karena perintah dari raja Yanzhi, tidak boleh ada keributan dan penyerangan antar provinsi di karenakan kejadian ini.
Jika itu terjadi, maka Shicuan akan mendapat sangsi, dianggap tidak mematuhi perintah raja.
Hanya wajah gubernur itu menyiratkan rasa dendam dan sakit hati yang luar biasa kepada orang yang telah mencelakai anaknya, selir Yuan.
Dan di saat pagi-pagi tadi setelah mereka di jamu di penginapan khusus yang dalam satu malam itu ditutup oleh gubernur Weiheng untuk keberadaan tamu khususnya yang sekedar lewat wilayah itu karena harus segera melanjutkan perjalanan, gubernur itu hanya menyerahkan dengan pasrah anaknya dibawah tanggungjawab selir Yi dan gubernur Qian.
Selir Yi menjanjikan, akan berusaha sekuatnya untuk memulihkan selir Yuan dengan syarat tidak ada pemberontakan atau upaya perpecahan yang mengancam kedaulatan Yanzhi.
__ADS_1
"Aku akan sering berkunjung ke Youwu..." kata gubernur Weiheng, di sambut baik oleh gubernur Qian. Mereka tampak berusaha menjalin hubungan baik di atas peristiwa tragis yang dialami oleh Selir Yuan.
Xiao Yi tahu benar, sikap baik dan manis gubernur Qian selalu menyimpan harga yang disimpannya rapi di balik kelicikannya.
Xiao Yi sendiri tampak tidak terlalu banyak bicara, membiarkan Qian Ren hanya menatapnya dari jauh dan tak tersentuh.
Mata penuh harap itu, beberapa kali mencuri pandang kepadanya.
Banyak hal yang dipendamnya, yang tak bisa di tumpahkannya, tapi besar harapannya pada kepulangan Xiao Yi ini, dia mendapatkan kembali hati gadis itu.
Sebelum sore mereka telah sampai pinggiran kota Youwu dan sebentar lagi mereka akan memasuki gerbang selatan kota Youwu, ujung dataran hijau yang sampai ke gunung Pingyuan sudah nampak di depan mata.
Udara yang berhembus dari Youwu sudah terasa menyusup lewat jendela kereta kuda yang mereka tumpangi. Udara yang khas karena terasa tidak sehangat di wilayah manapun meskipun sekarang memasuki musim panas.
"Nyonya..."Senyum merekah di bibir Chu Cu yang duduk di dekatnya.
"Kita pulang, Chu Cu. Apakah kamu senang?"tanya Xiao Yi.
"Ya, nyonya...Chu Cu sangat senang." Wajah manis Chu Cu merona, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Tiba-tiba kereta mereka berhenti mendadak saat sampai pertengahan di dataran hijau sebelum berapa li lagi mereka sampai pada gerbang selatan kota Youwu.
Xiao Yi menyibak tirai yang menutup jendela kereta, kepalanya menjulur sedikit mencari tahu
Meskipun Xiao Yi sudah mengatakan tidak perlu tapi Yang Mulia tetap memaksa, dia terlalu mencemaskan keselamatan selir kesayangannya itu.
Dan Xiao Yi tidak bisa mendebat lagi keputusan tersebut, sebab jika dia bersikukuh menolak maka Yang Mulia membatalkan kepergian Xiao Yi ikut serta dalam pengiriman selir Yuan ke Youwu.
"Saya akan memeriksanya, nyonya" Pengawal Cun menghela kudanya ke depan mencapai kereta yang berada di depan, di mana gubernur Qian Lie berada.
Tak berapa lama pengawal Cun kembali, wajahnya nampak tidak begitu senang.
"Ada apa, pengawal Cun?" tanyanya dengan penasaran.
"Gubernur Qian mengatakan ingin berhenti sebentar, menghirup udara segar di sini sebelum masuk kota Youwu." Jawab pengawal Cun.
"Biarkan saja, kita ikuti apa kehendaknya, kita bisa beriatirahat sebentar di sini kalau begitu." Xiao Yi menyahut enteng.
"Tapi, nyonya..." Pengawal Cun berucap cepat, membuat Xiao Yi urung memasukkan kepalanya ke dalam.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" Xiao Yi mengernyit dahi.
"Gubernur Qian menyampaikan pesan supaya nyonya Yi turun sebentar, dia ingin berbincang di luar"Wajah pengawal Cun tampak tidak suka dengan permintaan itu.
"Oh, tentu saja. Aku tidak keberatan untuk turun."Sahut Xiao Yi, tenang.
"Nyonya, Yang Mulia berpesan, nyonya seharusnya menjauh dari gubernur Qian." Suara pengawal Cun setengah berbisik.
Xiao Yi tersenyum kecil pada pengawal Cun.
"Pengawal Cun, tidak perlu cemas, aku tahu apa yang harus ku lakukan."
Xiao Yi mengangkat sedikit rok gaunnya yang berwarna putih bersih itu, menjejakkan kaki turun dari kereta.
Chu Cu hendak mengikuti tapi Xiao Yi mberi isyarat agar pelayannya itu tidak perlu ikut.
"Aku tidak akan lama."Katanya lalu berjalan kearah di mana Gubernur Qian berdiri, di luar keretanya, di pinggir jalan yang menghadap ke arah pemandangan pegunungan Pingyuan nun jauh di sana.
"Selir Yi...mungkin aku harus membiasakan diriku memanggilmu demikian sekarang." Gubernur Qian memainkan kipas beludru berwarna hitam di tangannya yang berukir gambar burung phoenix.
Xiao Yi tidak menyahut, dia berdiri di sebelah gubernur Qian, matanya lurus memandang ke depan.
"Apakah kamu tahu sekarang orangtuamu tinggal di mana, semenjak rumah kalian di hantam banjir dua bulan yang lalu?"
Xiao Yi tidak menyahut, dia masih menunggu kalimat lanjutan yang sesungguhnya ingin di sampaikan oleh gubernur Qian.
"Mereka tinggal di dalam lingkungan istana zuzhang, di sebuah pavilliun. Menunggu rumah kalian di bangun kembali." Gubernur Qian menyeringai kecil seolah merasa di atas angin.
"Apakah aku kurang baik, seharusnya kamu berterimakasih aku melayani keluargamu dengan baik, sebagai orangtua selir raja Yanzhi yang terhormat ini."
Xiao Yi menghela nafasnya perlahan.
"Tidak ada yang lebih buruk selain tinggal dan menjadi sandera di dalam rumah orang yang bersembunyi di balik wajah baik." Sahut Xiao Yi, tajam.
"Itu sama saja dengan hidup sebagai tawanan." Lanjutnya.
"Katakan saja, apa yang tuan inginkan untuk ku lakukan?" Pertanyaan itu bernada rendah, tapi membuat wajah gubernur Qian menjadi berubah pias.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...