
Xiao Yi melangkah perlahan mengikuti langkah kasim Chen, ujung gaunnya bergesek di lantai, membuat suara lembut di telinga.
Yang Mulia antara terperangah dan terpesona pada sosok yang kini mendekat itu.
"Salam kepada Yang Mulia..." Xiao Yi membungkuk memberi hormat dengan begitu tenangnya, seulas senyum di bibirnya yang begitu dirindukan Yang Mulia terasa seperti belati yang mengiris jantungnya.
Perempuan yang sangat ingin dilihatnya itu, sekarang datang padanya dalam waktu yang sungguh sangat tidak tepat.
"Chenxing..."Yang Mulia sudah lupa bahwa di depan orang lain, dia harus memanggil Xiao Yi dengan selir Yi, tapi sungguh dia sudah tidak ingat apa-apa lagi, kebahagiaan dan kecemasan bercampur aduk dalam hatinya, dia takut selir kesayangannya itu menjadi salah faham dengan apa yang terpampang di depannya.
Selama ini, peraturan di istana Weiyan, tidak ada seorang perempuan pun boleh masuk ke dalam istana Rongyu, kediaman pribadi raja jika tanpa seijin dari raja.
Dan sekarang seorang perempuan muda sedang bersimpuh di depannya, di dalam tempat pribadinya, dia benar-benar tak ingin dipertemuan pertama setelan sekian pekan tak berjumpa itu, Xiao Yi akan berprasangka yang tidak-tidak padanya.
"Yang Mulia memanggilku?" Pertanyaan itu terdengar hangat.
"Ya, aku memanggilmu, selir Yi. Aku sudah menunggumu dari tadi." Yang Mulia maju melewati Wen Qiao yang sedang masih dalam posisi bersimpuh, menyongsong kepada Xiao Yi.
Tapi, sungguh tak di sangka, sebelum Yang Mulia menyentuh tubuhnya dia dengan halus menekuk lututnya di lantai, dia bersimpuh tepat di belakang Wen Qiao.
Yang Mulia menatapnya dengan heran, matanya beralih kepada kasim Chen yang juga berdiri sambil menunjukkan wajah tegang.
Lalu dengan penuh kesadaran kasim tua itu mundur sambil menunduk, kemudian keluar dan menutup pintu ruangan Yang Mulia dengan perlahan.
"Yang Mulia, jika ini bukan waktu yang tepat, saya akan kembali."Xiao Yi menautkan jemarinya di depan perutnya, serupa dengan yang di lakukan Wen Qiao.
"Selir Yi, aku sedang menunggumu." Yang Mulia seperti berdesis, berusaha terlihat tidak menggebu-gebu. Bagaimana tidak, dia harus menjaga wibawanya di depan dua perempuan yang kini sedang bersimpuh di lantai ruangan pribadinya itu.
"Yang Mulia, ibu suri memerintahkanku untuk melayani Yang Mulia..."tiba-tiba Wen Qiao berucap meskipun kepalanya menunduk.
Yang Mulia berbalik dengan wajah merah padam, menatap kepada Wen Qiao.
"Yang Mulia..."
Xiao Yi memanggil dengan suara rendah, sebelum Yang Mulia mengeluarkan kata-kata kepada Wen Qiao.
"Bolehkah aku berbicara sebentar dengan adik ini? Sebelum dia menemani Yang Mulia malam ini..." Kalimat Xiao Yi begitu tenang, tetapi terasa menusuk ke hati dua orang di hadapannya.
Yang Mulia mengernyitkan dahinya, dan menjulurkan tangannya supaya Xiao Yi berdiri.
__ADS_1
"Aku tidak mau dia menemani..."
"Yang Mulia, mungkin kami berdua bisa berbicara sebentar, dengan seijin Yang Mulia..." Xiao Yi menyela dengan halus sebelum kalimat kasar itu keluar dari bibir Yang Mulia, dia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam seperti sedang memohon.
Yang Mulia menatap kepada Xiao Yi beberapa jurus, tidak pernah ada seseorang yang begitu keras dalam ketenangannya. Bersikap seperti begitu asing, sementara dia tahu mereka berdua pasti sedang saling merindu.
"Aku memberikan waktu seperti permintaanmu, selir Yi." Lalu dengan berat hati, dia melangkah meninggalkan dua orang yang sama-sama masih duduk bersimpuh di tempatnya itu.
Tidak pernah ada seorangpun yang berani membuat raja keluar dari ruangannya sendiri, kecuali gadis yang sangat dicintainya itu.
Yang Mulia Yan Yue tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Xiao Yi, tapi dia sungguh berharap, Xiao Yi menyingkirkan perempuan muda yang dikirim oleh ibu suri ke kamarnya itu.
"Adik..."Suara Xiao Yi terdengar begitu lembut, dia berdiri dan mendekati gadis yang kini sedang bersimpuh dengan tegang itu.
"Berdirilah, Yang Mulia sudah keluar." Xiao Yi mengulurkan tangannya kepada Wen Qiao.
Gadis itu dengan takut-takut menyambutnya.
Sesaat kemudian, dua perempuan itu saling berhadapan. Saling menatap sesaat, sebelum kemudian Wen Qiao menundukkan wajahnya.
"Siapa namamu, adik?"Tanya Xiao Yi, suaranya tidak berubah sama sekali, terdengar sangat lembut. Sedikitpun tak ada kemarahan atau rasa kesal berhadapan dengan gadis baru yang kini berada di dalam ruangan suaminya itu.
"Adik Qiao, boleh aku memanggilmu begitu?"
Wen Qiao Menganggukkan kepalanya tetap menunduk, dia sungguh tak pernah berhadapan langsung dengan selir yang di kabarkan orang merupakan kesayangan raja itu.
Pergunjingan yang sampai di telinganya, selir Yi adalah perempuan licik yang berhasil menyihir Yang Mulia dengan kecantikan dan tipu dayanya. Perempuan yang disamakan dengan ular, ketika banyak yang membicarakannya, sekarang benar-benar diluar gambaran yang ada di kepalanya.
Xiao Yi begitu hangat dan anggun, sedikitpun tak menampakkan pias kebencian padanya.
"Adik Qiao, apakah kamu benar-benar ingin melayani Yang Mulia?"Pertanyaan itu terdengar halus tapi membuat Wen Qiao seperti di tampar.
"Aku...aku...hanya diperintahkan oleh ibu suri untuk menemani Yang Mulia, dia menginginkan aku menjadi selir Yang Mulia."Wen Qiao menjawab terbata-bata.
"Apakah hanya karena seseorang menyuruhmu datang kepada Yang Mulia, kamu tulus rela menyerahkan dirimu padanya dengan segenap hatimu?" Xiao Yi tersenyum dan meraih tangan gadis itu.
Wen Qiao masih tertunduk, membiarkan Xiao Yi mengenggam jemarinya yang terasa dingin.
"Aku tidak akan merasa keberatan malam ini kamu menemani Yang Mulia, jika Yang Mulia juga menghendakinya. Tapi apakah benar, kalian berdua sama-sama menginginkannya?"
__ADS_1
Xiao Yi menepuk punggung tangan gadis itu dengan lembut.
Wen Qiao terdiam, tidak tahu menjawab apa. Tidak perlu dia berkata-kata, Xiao Yi pasti sangat tahu, Yang Mulia menolak kehadirannya bahkan di depan ibu suri yang telah mengirimnya.
"Adik Qiao, sebelum terlambat. Aku mohon kamu pertimbangkan untuk mengambil keputusan menjadi selir Yang Mulia.
Bukan karena aku cemburu dengan kehadiranmu tapi karena aku mengasihani nasibmu jika kamu tetap berusaha menuruti kehendak ibu suri." Xiao Yi berujar lagi.
"Tapi menjadi selir Yang Mulia, akan membuatku terhormat meskipun mungkin Yang Mulia tidak menginginkanku."Wen Qiao memberanikan diri menatap pada Xiao Yi.
"Adik, tidak sebanding menjadi terhormat di mata orang lain tapi kamu merendahkan dirimu di depan laki-laki yang sepanjang hidupmu bisa saja membuat harga dirimu hancur lebur. Aku sangat mengenal Yang Mulia, bukan karena aku begitu dekat dengannya, tetapi karena setiap orangpun tahu dia orang yang tak bisa mencintai perempuan yang berbeda dalam waktu yang sama."Xiao Yi membalas pandangan Wen Qiao dengan seulas senyum.
"Aku tak akan tega melihatmu, bersimpuh sepanjang malam di lantai kamar ini, sementara Yang Mulia menolakmu. Penghinaan seperti itu tak pantas kamu terima dalam usia semuda ini. Jangan membuat dirimu tersiksa sepanjang hidup, jika kamu telah terlanjur masuk ke dalam perangkap madu sangkar harem. Hargailah dirimu sendiri. Percayalah padaku adik Qiao, kesuraman akan mengiring masa depan saat kamu salah melangkah."
Xiao Yi begitu tenang, setenang riak air di sungai Sheng.
Sekarang, Wen Qiao menatap ke mata Xiao Yi, mata gadis muda yang cantik itu tampak berkaca-kaca.
"Jika kamu ingin menemukan cinta, ku katakan padamu adik, di sini bukanlah tempatnya. Pulanglah, karena menjadi bahagia dan terhormat tidak cukup dengan harta dan kekuasaan. Perjuanganmu tak akan sebanding penderitaan yang akan kamu alami. Kehidupan istana ini terlalu keras, kamu tak akan bisa menanggungnya."
Tangis Wen Qiao pecah, jemarinya mencekal pergelangan tangan Xiao Yi. Wajah kekasihnya yang ditinggalkannya, karena terhasut dengan janji-janji ibu suri seperti menari di kepalanya, rasa takut dan penyesalan membaur seperti asap yang menyatu dengan udara. Dia memeluk Xiao Yi tanpa sadar dengan badan yang gemetar.
"Kakak, aku akan mengingat kata-katamu..."Wen Qiao menyeka air matanya.
Dia membungkukkan badannya berkali-kali kemudian berbalik memutar badannya, melangkah keluar dari dalam istana Rongyu.
Yang Mulia yang berdiri gelisah seperti arca di antara para pengawal pribadinya dan kasim Chen di luar ruangan istana Rongyu, tercengang ketika melihat sesosok gadis dengan pakaian berwarna merah keluar setengah berlari dari balik pintu.
Mereka sungguh tak tahu, bagaimana cara, gadis yang dikirim ibu suri itu menyerah atas tugasnya hanya karena seorang selir Yi.
"Kalian, berjagalah di sini sepanjang malam sampai pagi, jangan ijinkan siapapun mengangguku dan selir Yi." Suara bernada peringatan itu terdengar begitu bersemangat, sebelum kemudian dia dengan tergesa menyelinap di balik pintu ruangannya sendiri, di akhiri dengan suara pintu yang di tutup dengan tak sabar.
(Nantikan next episode sedikit panas, ya...antara Yue dan Chenxing 🤭🤭🤭)
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
__ADS_1