
Angin dingin berhembus di Kuil Zuihou, ketika tandu yang membawa rombongan raja itu tiba di gerbangnya.
Kuil Zuihou atau kuil peristirahatan terakhir itu adalah tempat pemakaman raja-raja. Letaknya berada di sebelah barat Istana Weiyan. Tempat yang agak terpisah dari bangunan-bangunan utama itu dipisahkan oleh hutan bambu buatan, tidak jauh dari tembok barat tyang tinggi itu.
Kuil itu besar itu dipenuhi banyak ukiran naga di bagian luarnya. Beberapa patung terdapat di pekarangan kuil yang dipagari dengan tembok dari batu.
Rombongan kecil yang di jaga dengan ketat oleh tiga lusin pengawal khusus raja yang di pimpin oleh pengawal Jian Jie dan pasukan penjaga dari istana Weiyan di pimpin seorang komandan keamanan. Jumlah yang berada di dalam rombongan itu lebih dari seratus orang bersama beberapa pelayan dan dayang-dayang.
Kunjungan Yang Mulia di sore hari setelah hujan berhenti ini adalah kunjungan khusus yang dilakukan oleh raja untuk memberi penghormatan kepada para leluhur, apalagi sebentar lagi Yang Mulia akan mengangkat seorang permaisuri secara resmi tentu saja mengajak calon ratu itu adalah suatu kewajiban raja.
Di bawah langit sore, kuil besar dengan tiga bangunan yang berjejer, bangunan utama di tengahnya adalah yang paling besar.
Yang Mulia turun dari tandu dengan membimbing istrinya yang perutnya tampak besar di balik gaunnya.
Mareka berdua sama-sama mengunakan pakaian dari sutra halus warna hitam dengan leres putih pada bagian leher dan pinggangnya, pakaian itu dalam bentuk bordiran yang sederhana, meski tampak tidak menyolok tapi tetap saja pakaian khusus itu tak bisa menyembunyikan keagungan mereka.
Rambut mereka hanya di gelung dengan sederhana, tanpa ornamen dari emas, giok atau permata, yang biasa di gunakan oleh para anggota keluarga kerajaan.
"Chenxing.., kita akan menemui ayahanda dan ibundaku, sebagai calon permaisuri kamu wajib membei penghormatan pada leluhur suamimu." Kata Yang Mulia.
Xiao Yi mengangguk, dia berjalan di bantu oleh Chu Cu sedikit kesulitan melangkahkan kaki dalam gaun panjang dan bertumpuk yang dikenakannya.
Mereka memasuki aula utama, di dalamnya sudah terang benderang oleh lentera warna putih salju. Para pelayan istana yang membawa keranjang persembahan mengikuti di belakang sementara para dayang khusus yang mengenakan pakaian dari linen putih dar atas sampai bawah tampak mengatur altar tempat persembahyangan.
Di atas pintu besar tadi tertulis Kuil Zuihou.
__ADS_1
Pada aula utama itu hanyalah ruangan luas tanpa banyak ornamen kecuali beberapa meja tempat persembahan. Tak ada makam apapun di dalamnya kecuali guci-guci tempat dupa. Pada dinding ruangan itudipenuhi tirai-tirai tebal dan tipis yang tampak berkibar halus tertiup angin ketika pintu utama itu terbuka lebar.
Yang Mulia memberikan beberapa hio yang di bakar oleh beberapa orang dayang.
Lalu membungkuk beberapa kali menghadap altar di depan mereka.
Xiao Yi tidak bertanya apapun, kecuali mengikuti semua hal yang dilakukan Yang Mulia.
Tidak berapa lama Jian mempersilahkan mereka menuju bagian belakang altar, ternyata di belakangnya ada sebuah pintu dari batu geser yang tak seberapa besar. Pintu itu terkunci rapat hanya ada sebuah kepala naga di tengah pintu yang ukiran timbul seperti Naga yang sedang menjulurkan kepalanya dari dalam.
Yang Mulia menarik sesuatu dari saku lengan bajunya, sebuah giok hitam sebesar kepalan anak kecil, lalu dengan hati-hati ditempelkannya pada mulut naga yang menganga itu. Mata naga itu tiba-tiba bersinar seperti hidup, terdengar bunyi derak yang aneh, pintu itu bergeser sendiri.
Yang Mulia menggenggam tangan Xiao Yi dan membimbingnya masuk ke dalam.
Sebuah ruangan kecil dan tangga dari batu yang tampak bersusun ke bagian bawah seperti lorong.
Sementara Kasim Chen berdiri di pintu batu itu dengan Chu Cu dan beberapa orang pengawal yang bersiaga di sana, menjaga jalan masuk.
Ketika mereka sampai di ruang bawah tanah, Xiao Yi tercengan dengan keadaan di dalam ruangan itu. Ruangan yang sangat besar. Semua dinding bahkan sampai langit-langitnya di ukir sedemikan rupa. Semua memancarkan sinar keemasan.
Lukisan para Raja dan Ratu tergantung di sekeliling dinding ruangan itu, dan para patung-patung penjaga dalam pakaian perang memenuhi setiap sudut ruangan.
DI tengah-tengahnya terdapat puluhan makam berukir yang tampak berjejer rapi, makam-makam itu sungguh luar biasa dipenuhi ukiran-ukiran dari naga, awan dan matahari.
"Inilah makam para raja dan ratu Yanzhi. Tidak ada yang boleh dimakamkan di sini kecuali raja dan ratu." Kata Yang Mulia pada Xiao Yi.
__ADS_1
"Bukankah raja juga mempunyai kerabat, saudara, istri-istri, selir dan anak-anak yang lain, mereka di makamkan di mana?" Tanya Xiao Yi dengan penasaran.
"Mereka di makamkan di ruangan bawah tanah dua bangunan lain di sebelah kuil utama ini. Di sebelah kiri adalah makam para istri-istri raja, tapi yang berhak dimakamkan di sana hanyalah para seli-selir utama dan selir kesayangan raja atau selir yang dianggap berjasa untuk negara. Di sebelah kanannya adaah tempat makam para anak raja. Tapi yang boleh di makamkan di situ adalah para anak dari para selir utama saja." Yang Mulia membimbing Xiao Yi pada dua buah makam yang tampak bertuliskan Raja Yan Haocun dan Permaisuri Xu Jiao.
"Dimanakah kerabat kerajaan yang lain di makamkan?" tanya Xiao Yi lagi, dia bingung dengan makam-makam yang di buat terpisah itu.
"Mereka di kembalikan ke rumah keluarga asalnya, dimakamkan ditempat keluarganya sewaktu belum masuk ke dalam istana."
Xiao yi mengangguk-anggukkan kepalanya, betapa rumit dan anehnya peraturan kerajaan ini, bahkan untuk setelah kematian sekalipun mereka di atur sedemikian rupa.
Yang Mulia membawa Xiao Yi melakukan penghormatan di depan makam ayahanda dan ibundanya. Bersujud di sana dan menundukkan kepala mereka sampai ke lantai.
"Ayahanda, ibunda...Yan Yue membawa Xiao Yi, istri sekaligus calon permaisuri Yanzhi. Kiranya kalian memberi restu padanya, supaya bisa mendampingiku memimpin negara Yanzhi menjasi negara yang Makmur, adil dan jaya. Semoga permaisuri yang baru ini memberikan kebaikan bagi kerajaan Yanzhi." Ucap yang Mulia sambil bersujud di sana.
Xiao Yi merinding mendengar doa dan harapan yang tulus dari mulut suaminya itu.
Dia merasakan sebuah beban dan tanggungjawab yang besar ditimpaka pada pundaknya. Dia telah berjanji untuk mendampingi yang mulia seumur hidup bahkan meski harus melewati lautan darah.
Menjadi permaisuri yang Mulia bukan lagi serupa lelucon tapi adalah kenyataan yang harus dihadapinya ke depan.
Apakah dia sanggup memikul beban yang sangat besar itu?
(Terimakasih tetap setia dengan novel akak ya....tetap ikuti selir persembahan episode berikutnya)
__ADS_1
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
...I LOVE YOU ALL❤️...