
"Menurut kalian berdua, siapa yang pantas menggantikan Yang Mulia menjadi raja Yanzhie?"
Pertanyaan Xiao Yi membuat pangeran Chyou dan Pangeran Yaoshan seketika saling bertukar tatap.
Kedua pangeran yang sama-sama terhasut untuk menjadi raja itu tak bisa menyembunyikan raut senang sekaligus pula bimbang.
"Menjadi raja?" pangeran Yaoshan tergagap, lalu matanya terarah kepada Yang Mulia Yan Yue, kakak mereka, yang duduk tak bergeming di tempatnya. Ekspresinya tetap sama seperti semula, menyungging senyum tipis tanpa berkata-kata baik membenarkan atau menyanggah.
"Ya, menjadi raja, memimpin negara besar ini." Xiao Yi menyahut dengan senyum tanpa dosa.
"Tentu saja hanya Kakak Yue yang pantas menjadi raja." pangeran Chyou menjawab dengan cepat, dia tidak ingin terjebak dalam suasana sehingga menimbulkan prasangka yang mengarah pada kecurigaan terhadap dirinya.
"Yang Mulia sepertinya sudah bosan mengurus semua hal yang selalu berkaitan dengan orang banyak. Bahkan untuk meluangkan waktu untuk kami berdua begitu sulit mencari waktu." Suara Xiao Yi serupa keluhan.
"Di antara kalian berdua, siapakah yang pantas menggantikan aku?" Yang Mulia kemudian angkat bicara. Dia benar-benar penasaran dengan rencana Xiao Yi untuk kedua adiknya ini.
"Pangeran Chyou, apakah menurutmu Pangeran Yaoshan pantas menjadi raja?" tanya Xiao Yi tiba-tiba.
Pangeran Chyou terpana, pertanyaan itu sungguh menjebak. Jika dia menjawab ya, maka mungkin kedudukan itu akan menjadi milik Yaoshan, tapi jika dia menjawab dirinya, dia kuatir maka Yang Mulia akan menilainya serakah dan tak pantas menggantikan dirinya.
Sang pangeran muda yang hanya terpaut dua tahun dari Yang Mulia ini terdiam, dia memilih tak menjawabnya, menganggap sikapnya ini bijaksana.
"Seorang raja tidak boleh ragu-ragu untuk memberi penilaian dan memberi keputusan. Jika, seorang raja menjadi bimbang maka bagaimana nasib pemerintahan." Kalimat Xiao Yi seperti bercerita, mengalir begitu saja.
"Menurutku, aku lebih mampu mengambil tanggungjawab ini dari pada Kakak Chyou." Yaoshan menyahut, merasa dirinya diatas angin karena sikap ragu pangeran Chyou.
"Kenapa kamu merasa dirimu lebih mampu? Seseorang harus mempunyai kecakapan lebih bahkan istimewa, jika dia merasa lebih mampu dari orang lain."
Yang Mulia tersenyum dalam hati melirik kepada Xiao Yi yang seolah sedang berbicara dengan temannya itu, tapi tetap menunjukkan kewibawaannya sebagai kakak ipar mereka.
__ADS_1
Sebagai raja sebenarnya dia yang harusnya lebih banyak berbicara dengan saudara-saudaranya itu, tapi dia sangat ingin melihat sampai dimana selirnya ini membuat dua pangeran manja yang berambisi besar itu menjadi mengerti bahwa menjadi raja itu bukanlah hal yang mudah.
"Aku...aku..." Pangeran Yaoshan tergagap berusaha mencari jwaban yang tepat tapi dia sekarang merasa terjebak dalam jawabannya sendiri.
"Karena aku lebih pintar dan lebih tegas dari kakak Chyou!" jawabnya kemudian dengan cepat dan yakin, dia ingat benar ibu suri mengatakan ini padanya, bahwa dia lebih pantas menjadi raja karena dua kelebihan itu.
Jawaban itu membuat wajah Pangeran Chyou menjadi semerah bunga meihua, giginya bergemeretak rasa rasa tersinggung, seolah-olah adiknya itu sedang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang bodoh dan plin plan.
"Siapa yang mengatakan ini?" Tanya Xiao Yi sambil mengernyit dahi.
"Itu bukan pendapatku sendiri, ini menurut ibu suri!" Pangeran Yan Yaoshan membela dirinya, tak nyaman dengan kemarahan yang terpancar di mata pangeran Yan Chyou, dia tidak mau di anggap memberi penilaian bagi dirinya sendiri.
Pangeran Chyou membeliak dengan raut terkejut kepada pangeran Yaoshan, menunjukkan betapa terusiknya dia dengan jawaban adiknya itu.
"Ibu Suri juga mengatakan, aku lebih pantas menjadi raja, karena aku lebih hati-hati dan cerdas."Sahut pangeran Chyou dengan berang.
"Menurut ibu suri?"
Bahwa mulut besar mereka telah menjerat mereka dalam masalah.
Dan yang lebih membuat mereka sama-sama seperti merasa bodoh, saat mengucapkan dengan bangga semua sanjungan dari ibu suri, orang yang sama yang menjanjikan mereka kedudukan sebagai raja setelah menggulingkan Yang Mulia Yan Yue.
"Jika ibu suri mengatakan demikian, apakah dia ingin mengangkat dua raja untuk satu kerajaan? Ataukah ibu suri ingin membagi dua kerajaan Yanzhi untuk dua pemerintahan?" Pertanyaan Xiao Yi yang di barengi dengan tawa kecil seolah begitu geli dengan pertanyaannya sendiri seperti tamparan di wajah dua pangeran itu.
Sekarang, mereka menyadari ada sesuatu yang salah dalam rencana ibu suri, tentu mustahil mereka berdua menjadi raja bersamaan jika Yang Mulia telah di gulingkan karena singgasana naga itu hanya satu, kecuali mereka berdua memperebutkannya.
Jika mereka memperebutkannya, bukankah mereka harus mengalah salah satu atau saling membunuh untuk menuju posisi itu?
Pangeran Yaoshan menatap Pangeran Chyou bergantian dengan dua orang yang duduk tenang di seberang meja makan.
__ADS_1
"Kasim chen, bawakan para calon raja ini tugas raja untuk besok pagi di aula Guangli."
Xiao Yi tersenyum kecil, membiarkan kedua pangeran itu masih tenggelam dalam kecurigaan satu sama lain, meski mereka tidak berani mengungkapkannya secara terang-terangan.
Kasim Chen yang berdiri di sudut ruangan menatap sesaat kepada Yang Mulia dengan sedikit bingung. Namun anggukan kepala Yang Mulia membuat Kasim itu segera tergopoh-gopoh mengambil setumpuk gulungan kertas dari meja baca di belakang dinding sekat yang hampir membuat wajahnya tak kelihatan karena saking banyaknya.
Xiao Yi memberi isyarat kepada Kasim Chen untuk meletakkannya di lantai.
"Ini adalah surat laporan dari sembilan wilayah Yanzhi, serta berbagai catatan kasus dan permasalahan yang harus di selesaikan Yang Mulia besok pagi di aula Guangli. Dan sebagai raja, kalian harus membaca dan mempelajarinya lebih dulu sebelum kalian memejamkan mata, supaya besok kalian bisa mengambil tindakan dan keputusan yang tepat dan bahkan adil untuk setiap perkara."
Pangeran Chyou dan pangeran Yaoshan seketika tercengang melihat gulungan kertas yang menggunung itu.
Pangeran Yaoshan dengan sikap berani dan meyakinkan, mengambil satu gulungan dan membukanya, kemudian kepalanya menjadi sakit saat melihat laporan bencana kekeringan dan kelaparan di bagian selatan Yanzhi. Meminta kerajaan mengirimkan bantuan.
Di kertas yang lain wilayah perbatasan timur di serang oleh kerajaan kecil hal ini menuntut tanggapan raja untuk pengiriman militer, sementara daerah itu berbatasan juga dengan laut yang secara berkala menjadi sasaran para perompak.
Pangeran Yaoshan yang hanya tahu tentang kesenangan itu, tak sanggup memikirkan apa yang bisa di lakukannya.
Begitupun pangeran Chyou, dia memang suka membaca sajak dan menulis kaligrafi, semua hal seni mungkin bisa dia kuasai tapi untuk menjadi seorang pemimpin, tiba-tiba dia meragukan dirinya sendiri.
"Masih ada beberapa lagi, apakah harus ku ambilkan?" Kasim Chen bertanya dengan bingung.
Yang Mulia menggelengkan kepala dan memberi kode supaya kasim Chen mundur.
"Itulah tugas seorang raja, tidak hanya duduk diam di atas singgasana. Untuk tidurpun seorang raja tidak pernah benar-benar terlelap, karena jika kamu lengah maka kamu akan bangun dalam keadaan negaramu sudah tercerai berai tak berbentuk. Tanggung jawab seperti ini, siapakah yang sanggup memikulnya?"
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
__ADS_1
...I LOVE YOU ALL❤️...