
Kuda mereka berhenti di pinggiran sebuah sungai kecil. Sungai ini memiliki air berwarna hijau turquoise yang eksotis, di pinggirannya bebatuan besar nampak klasik dan dilengkapi dengan pepohonannya yang rindang di sekitar sungai.
Sungai Sheng adalah sebuah sungai di pinggiran kota Yubei. Konon sungai kecil ini berasal dari Pegunungan Pingyuan di Youwu, daerah paling utara Yanzhi, menuju sungai Yalu dan mengalir ke arah selatan melalui Shicuan, Ranbei dan hingga Yubei. Sepanjang pinggir sungai ketika memasuki wilayah Yubei, disuguhi dengan deretan perbukitan kapur.
Bebatuan besar yang kemilau di timpa cahaya membuat sungai Sheng yang serupa liukan tali itu benar-benar menawan. Warna hijau cantik pada permukaan air, dihasilkan dari pantulan pohon-pohon rindang sekitar pinggiran sungai yang tenang.
Di seberang sungai yang hanya lebarnya kurang lebih 10 meter itu, ada sebuah Rumah bertingkat dengan material kayu dan bambu yang tidak seberapa besar, dibangun di bidang miring yang langsung menjorok ke pinggir sungai dengan struktur utama pilar kayu tanpa pondasi.
Rumah sederhana yang cantik itu seperti melayang separuh bagian di atas sungai. Separuh lagi hampir menyatu dengan pepohonan di sekelilingnya.
Ada sebuah jembatan dari kayu yang hanya selebar satu badan orang dewasa dengan pegangan dari bambu di kiri kanannya, jembatan itu menghubungkan tempat mereka berhenti dengan rumah mungil itu.
Yang Mulia turun dari kuda, di ikuti semua pengawalnya.
"Turunlah..." Yang Mulia menjulurkan tangannya kepada Xiao Yi.
Xiao Yi menurutinya dengan patuh.
"Kita akan menghabiskan sore ini, di sini..." kata Yang Mulia.
Pengawal Cun dan pengawal lainnya menambatkan kuda mereka pada pinggir sungai, kuda-kuda itu tampak kelelahan. Dengan bunyi berdecak yang halus, kelima kuda itu minum dari aliran sungai Sheng dengan bersemangat.
Pengawal Jian melangkah paling depan, di ikuti oleh Yang Mulia dan Xiao Yi dan satu pengawal lainnya. Sementara pengawal Cun nampak berjaga dengan pengawal Xiu berjaga dengan sigap di ujung jembatan tempat kuda-kuda mereka ditambatkan.
"Kita tidak pulang ke istana?" tanya Xiao Yi hati-hati sambil memperhatikan langkahnya di atas papan jembatan. Tangannya sibuk memegang keranjang manisan madu, yang mulai meleleh dalam keranjang.
Hatinya benar-benar sedih, perjalanan mereka hari ini, membuat manisan kesukaannya menjadi lembek, akibat terpaan angin.
Chu Cu mungkin tidak akan sempat melihat manisan madu ini.
"Kita akan pulang menjelang gelap" jawab Yang Mulia.
"Terlalu mencolok kalau kita kembali siang bolong begini ke istana"
Pengawal Jian mengetuk pintu, seorang laki-laki separuh baya membuka pintu bersama seorang perempuan yang seusia dengan ibu Xiao Yi, menyambut seraya membungkuk dengan hormat ketika melihat Yang Mulia Yan Yue.
"Hormat kepada Yang Mulia..."
Yang Mulia Yan Yue mempersilahkan mereka untuk kembali tegak.
__ADS_1
"Ini adalah paman Huan dan bibi Pey, mereka berdua adalah pengurus rumah Xiuxi ini." Yang Mulia Yan Yue melangkahkan kaki masuk.
"Bibi Pey, kami sangat lapar..." ujar Yang Mulia, sambil menaiki tangga yang mengarah ke lantai atas.
"Saya segera menyiapkannya Yang Mulia"
Bibi Pey yang berbadan gemuk tidak terlalu besar itu tersenyum lalu segera hilang di balik dinding menuju ke bangunan kecil di sebelah bangunan utama itu.
Xiao Yi masih mematung, melihat gadis itu masih berdiri di tempat, Yang Mulia Yan Yue turun kembali dan menarik tangannya.
Di detik berikut, tangan Xiao Yi telah digandengnya menaiki tangga, menuju teras di lantai atas.
Teras lantai atas itu di pagari dengan potongan bambu bulat kecil-kecil yang di beri jarak setengah jengkal. Pemandangan indah langsung terhampar ke sungai Sheng yang hijau kemilau. Panorama dari atas teras kecil itu benar-benar luar biasa.
Xiao Yi berdecak kagum, dia pernah mengira tempat yang paling sempurna adalah tepian sungai Yalu dengan pemandangan Pegunungan Pingyuan di seberangnya. Tetapi sekarang, dia merasa pemandangan di tepi sungai Sheng dari atas teras rumah Xiuxi ini benar-benar tak kalah sempurnanya.
"Aku sudah bilang, kau pasti menyukainya..." Yang Mulia melepas jemari hangat gadis itu dan duduk di atas lantai yang di beri karpet dari bahan rami tebal.
Diatas karpet Rami itu ada meja pendek segi empat dari kayu oak seukuran pinggang saat duduk. Sebuah Poci teh dan sepasang gelas tersusun rapi di atas baki yang bersebelahan dengan vas bunga dari kayu berisi batangan bunga persik yang segar. Bau harumnya sampai di hidung Xiao Yi.
"Tempat ini benar-benar bagus." Kata Xiao Yi masih terkagum-kagum.
Xiao Yi duduk menghadap meja itu dan meletakkan keranjang Manisan madunya yang mulai kehilangan bentuk itu.
Yang Mulia tertawa kecil melihat bagaimana gadis ini begitu menyukai manisan madunya itu.
"Lupakan keranjang manisan madumu itu. Lain kali aku akan mengirimkan manisan madu yang baru untukmu..." kata Yang Mulia.
"Tapi Yang Mulia, aku mau membawa ini ke wisma Xingwu." Sahut Xiao Yi.
"Aku akan menggantikannya lebih banyak nanti, akan ku kirimkan ke wisma Xingwu."
"Tapi Yang Mulia..."
"Bisakah kamu memanggilku Yue?"
"Yang Mulia itu tidak benar, saya tidak bisa memanggilmu tidak hormat begitu."
"Saat hanya kita berdua, kamu ku ijinkan memanggilku Yue"
__ADS_1
Mata Xiao Yi berkedip-kedip memandang wajah Yang Mulia.
"Di Xiuxi ini, aku bukan duduk sebagai raja. Aku hanyalah seorang teman."
"Yang Mulia..."
"Seorang raja itu seperti seekor singa, yang di puja sekaligus ditakuti banyak orang.
Tapi pernahkah kamu melihat singa itu bergerombol? Singa adalah binatang terkuat tapi selalu sendiri. Singa adalah binatang yang kesepian" Yang Mulia menerawang memandang air sungai yang mengalir tenang di bawah mereka.
"Singa di depanmu ini, hanya ingin seorang teman. Jika kamu bersedia memanggilku Yue, kamu telah berjasa mengangkat sebagian bebanku..."
Xiao Yi menatap mata coklat kehitaman milik Yang Mulia dalam-dalam. Di sana bersembunyi seorang lelaki yang kelelahan dan kesepian.
"Apakah kita bisa menjadi teman?" tanya Yang Mulia.
Xiao Yi mengangguk ragu-ragu. Mata Yang Mulia berkilat senang.
"Aku mempercayaimu, chenxing...aku mempercayaimu."
"Banyak hal yang kamu ketahui tentang diriku dalam waktu singkatmu di istana Weiyan, banyak rahasiaku yang juga kamu ketahui...tapi lebih banyak lagi tentang diriku yang tidak kamu tahu" Yang Mulia tersenyum kecut.
"Tapi, aku berterimakasih atas kedatanganmu ke sisiku, dan pada siapapun yang telah mengirimkanmu sebagai selir persembahan kepadaku..." Yang Mulia Yan Yue menghela nafasnya yang sepertinya begitu berat.
"Bisakah kamu menjaga kepercayaanku ini, Chenxing?" Tanya Yang Mulia tiba-tiba, dengan pandangan nanar kepada Xiao Yi.
Xiao Yi memberanikan diri, mengangkat dagunya dengan yakin kepada laki-laki yang memberinya status isteri tapi mengharapkan dirinya hanya sebagai teman ini.
"Kamu bisa mempercayaiku..." sahut Xiao Yi, menghela nafas sejenak dan bibirnya terbuka perlahan,
"Yue..." lanjutnya kemudian.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...
__ADS_1