SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 73 TAK TAHAN INGIN BERTEMU


__ADS_3

Matahari musim semi baru saja membenamkan dirinya ke balik awan yang buram, warna jingga di ufuk barat segera hilang.


Dua hari setelah persidangan yang sangat melelahkan bagi Xiao Yi itu berlalu, Yang Mulia sama sekali tidak mengunjunginya ataupun mengirimkan pesan apapun padanya dari istana Rongyu.


Mungkin Yang Mulia terlalu sibuk ataukah dia masih kesal dengan permohonan Xiao Yi yang mengampunin selir Nuo, yang pasti Xiao Yi merasa hampa di dera kerinduan, hampir tak bisa memejamkan mata mengharapkan Yang Mulia datang kepadanya.


Xiao Yi termenung memandang ke atas, entah senja ke berapa telah di lewatinya, dengan duduk terpekur di depan wisma Xingwu.


Matahari akan selalu begitu, terbit dan tenggelam sesuai dengan waktunya, tanpa pernah tahu apa yang terjadi di bawahnya.


Banyak hal yang telah berubah, dari dia tiba pertama kali di istana ini sampai saat ini. Dan yang paling jelas adalah, berbedanya perasaannnya kepada Yang Mulia.


Tahun baru datang dan berlalu, menandai kehidupan yang berjalan, diam-diam lewat hampir tak disadari.


Malam ini, adalah malam puncak festival musim semi di aula Guangli. Ada perjamuan besar-besaran di sana, di hadiri semua petinggi istana dan para gubernur, pemimpin suku, ketua klan bahkan para selir.


Raja akan memimpin perjamuan itu, begitulah tradisi setiap tahun.


Xiao Yi telah memutuskan tidak menghadiri perjamuan itu. Dia masih bersedih dengan keadaan sahabatnya, selir Yuan yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya. Bagaimana bisa dia menikmati semua kemeriahan itu, di saat temannya itu jangankan bangkit dari tempat tidurnya, berbicarapun tak bisa.


Tadi pagi, dia mengunjungi selir Yuan menyuapkan bubur padanya, air matanya dan air mata selir Yuan sama runtuhnya. Selir Yuan bisa mendengar apa yang terjadi tapi dia hanya merespon dengan air matanya.


Tabib Guo telah berusaha maksimal memberi ramuan yang menjaga kondisi tubuh Selir Yuan tetap sehat meski dalam kelumpuhan dan kesimpulan yang terakhir adalah selir Yuan memang harus di bawa ke Youwu.


Xiao Yi sedang berusaha untuk merencanakan hal itu dan mendiskusikannya dengan Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia tidak sedang dalam keadaan luang.


Xiao Yi hanya berharap, setelah malam puncak festival ini, Yang Mulia segera menemui atau memanggilnya.


"Nyonya, sudah hampir gelap, nyonya tidak masuk saja? Udara malam tidak bagus untuk kesehatan" Chu Cu menyampirkan sebuah mantel ke pundak Xiao Yi.


"Aku masih ingin di sini..." Sahut Xiao Yi tanpa menoleh kepada Chu Cu.


"Chu Cu..."


"Ya, nyonya."


"Apakah ada kabar dari Rongyu?"


"Belum, nyonya."


Xiao Yi menghela nafasnya, Yang Mulia mungkin benar-benar sibuk sehingga tak bisa menemuinya.

__ADS_1


Lentera di depan Xingwu sudah menyala, beberapa orang pelayan berlalu lalang mereka tampak sibuk, mungkin festival di Guangli segera akan di mulai.


Dengan enggan Xiao Yi berdiri, beranjak dari duduknya, memalingkan badannya menuju pintu kediamannya itu.


Tinggal di luar mungkin tidak terlalu bagus, beberapa selir mungkin akan lewat menuju tempat perjamuan, dia sudah berdalih tidak enak badan, tentu tak ingin menarik perhatian dengan duduk di depan wismanya.


Xiao Yi menuju meja kecil di sudut tempat beberapa buku dan kertas di susun.


"Chu Cu, gilingkan tinta untukku..."Pinta Xiao Yi.


Dengan sigap pelayannya itu melakukan sesuai permintaan Xiao Yi.


Untuk membunuh waktu sebelum berusaha tidur mungkin dia bisa menulis beberapa bait puisi. Dia sudah lama tidak melakukannya.


Entah berapa lama Xiao Yi terpekur menghadap kertas kosong, dia sangat ingin menulis sesuatu kepada Yang Mulia tapi tak tahu harus menggores apa.


Perlahan dia menggerakkan kuas di tangannya dan akhirnya bisa menuliskan sesuatu, setelah selesai, Xiao Yi melipat kertas itu, menyisipkan di ban pinggang gaunnya dan tersenyum.


Dia akan memberikannya kepada Yang Mulia, saat bertemu nanti. Untuk malam ini, dia akan tidur dengan menyimpannya.


"Nyonya..." Chu Cu yang keluar sebentar setelah menggiling tinta tadi datang tergopoh-gopoh,


"Tandu? dari Rongyu? bukankah sekarang Yang Mulia seharusnya sedang menghadiri perjamuan di Guangli?" Xiao Yi bingung. Ini malam puncak perayaan musim semi di istana Weiyan. Tidak mungkin Yang Mulia belum pergi menghadirinya.


Seorang kasim muda, bawahan kasim Chen muncul di belakang Chu Cu.


"Nyonya, saya diperintahkan untuk menjemput nyonya."


Xiao Yi segera beranjak, hatinya begitu penasaran.


"Kita ke Rongyu sekarang?" tanya Xiao Yi lagi, sambil melangkah keluar di ikuti Chu Cu dan kasim utusan.


"Kita tidak Ke Rongyu, nyonya...tapi ke istana Chue Lian." Jawab kasim muda itu dari belakang.


"Chue Lian?" Xiao Yi berhenti di depan tandu yang menunggu, berbalik ke arah kasim muda itu dengan dahi yang berkerut.


"Bukankah Yang Mulia berada di Guangli malam ini?" tanya Xiao Yi.


"Ya, nyonya."


"Lalu kenapa memanggilku ke Chue Lian?"

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin di tunjukkan oleh Yang Mulia di istana Chue Lian."


Xiao Yi menjadi semakin penasaran, sesuatu sepenting apa yang sedang menunggunya di istana Chue Lian, sehingga harus ke sana malam-malam begini, meskipun Yang Mulia sendiri tidak berada di sana.


Xiao Yi segera naik ke tandu, tanpa bertanya lagi. Kemeriahan suara musik dan tawa riuh terdengar sayup-sayu dari aula Guangli saat mereka berbelok menuju bangunan yang berada di belakang istana Rongyu itu.


Sebenarnya jauh di hati Xiao Yi, dia tidak terlalu suka dengan istana Chue Lian itu, karena istana ini konon merupakan istana khusus yang di buat oleh Yang Mulia untuk kekasih pertamanya Jiu Fei.


Sesampai di depan gerbang istana Chue lian yang tertutup tembok tinggi itu, Xiao Yi segera turun, tanpa ragu dia melewati pintu gerbangnya.


Dan ketika dia menjejakkan kakinya di pekarangan istana Chue Lian, dia terpana karena takjup.


Di beberapa bangunan kecil yang saling berhadapan itu ada beberapa lentera, sementara pada sebatang pohon Rongshu semacam beringin dengan batang nya yang besar dan berwarna abu-abu yang berdiri di tengah pekarangan, di sana tergantung lampion-lampion cantik berwarna merah berbentuk bunga lotus.


Pohon Rongshu itu begitu indah dengan cahaya yang datang dari lampion-lampion yang bergantungan itu, seperti pohon lampion.


Daun-daunnya bergoyang di tiup angin malam.


Di bawahnya, pada kursi dan meja dari oak, ada dua lilin besar yang menyala di samping guci arak serta cawan. Sebuah keranjang berisi manisan madu dan tanghulu tersaji juga.


Xiao Yi berjalan menuju pohon Rongshu dan merasa dia sedang berjalan di dekat bintang.


Tidak pernah dia melihat, lampion-lampion yang di gantung dan di tata dengan sedemikian cantik. Belum lagi di atas langit malam, sepotong bulan nampak bersinar terang, cerah tanpa cacat.


Ketika dia masih mengagumi pekarangan istana Chue Lian yang luar biasa indah itu, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


Xiao Yi hampir terpekik dan menolehkan kepalanya dengan terkejut,


"Chenxing, selamat tahun baru..." Sebuah ciuman hangat mendarat di bibirnya yang setengah terbuka.


"Aku tidak tahan lagi ingin bertemu denganmu."


Bisiknya lagi, parau dan penuh gelombang gairah.


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya ya🙏😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP🙏☺️...


__ADS_1


__ADS_2