
Xiao Yi berlari seperti di kejar hantu, melewati hutan bambu yang lebat. Kakinya berdarah-darah tanpa alas menginjak sisa potongan kayu dan onak di sekitar semak hutan bambu itu.
Tangan ibunya terus dipegangnya, meskipun sang ibu wajahnya sudah merah padam kelelahan hampir kehilangan nafas.
"Ibu, bertahanlah...aku akan membawamu kepada Yang Mulia."Nafas Xiao Yi tersengal-sengal. Pandangannya ke depan sudah buram tapi dia berusaha bertahan supaya tidak pingsan.
Gaun putih beras yang di kenakan penuh noda dan warna dari lumpur kecokelatan serta noda merah dari lengan dan kakinya yang tergores ranting bambu yang patah.
Gubernur Qian tertawa terbahak-bahak mengikuti dari belakang punggungnya, dengan membawa sebuah pedang panjang di tangan kanannya sementara di tangan kirinya, kepala ayahnya bergantung seperti bola.
"Kamu lari kemana, kucing kecil. Tidak ada yang akan menolongmu. Kamu harus melakukan perintahku, jika tidak maka satu persatu keluargamu ku bantai..."Jambangnya yang lebat itu bergerak-gerak seperti cacing-cacing hitam, seolah menggeliat di wajahnya yang coklat berkilat. Matanya merah serupa api. Menakuti Xiao Yi setengah mati.
Ibu Xiao Yi sudah tak mampu lagi berlari, dia terjatuh dan Xiao Yi sambil menangis memapahnya, menyeret ibunya itu dengan sisa-sisa tenaganya.
"Ibu, berjalanlah...!ibu bertahanlah. Aku akan membawamu ke Yubei...!" Xiao Yi memeluk ibunya yang sudah hampir tak bisa lagi bersuara, matanya terpejam hanya nafasnya satu-satu terdengar di telinga Xiao Yi.
Di detik berikutnya, Ibunya terjatuh di kakinya membuat Xiao Yi kehilangan keseimbangan. Terjungkal ke rumpun batang bambu di sampingnya.
Dengan susah payah dia memapah ibunya, hendak bangkit berdiri,
tapi gubernur Qian telah berdiri menghadang, tergelak melihat penderitaan Xiao Yi.
"Anak kucing tak akan pernah bisa menjadi anak macan...!" Gubernur Qian mengangkat kepala komandan Xiao Xie, ayah Xiao Yi tinggi-tinggi dan tangan kanannya menghunuskan pedang tajam itu ke wajah Xiao Yi seolah siap merobek kulit wajahnya.
Sekarang Xiao Yi hanya bisa memeluk tubuh ibunya yang terkulai tak sadarkan diri di pelukannya, dengan memejamkan matanya kuat-kuat sambil menahan tangisnya, kematian akan segera tiba dengan cepat. Dia akan menunggu.
"Chenxing..."Suara itu begitu di kenalnya, lamat-lamat di telinganya.
Itu Suara Yang Mulia!
"Chenxing...bangunlah...!" sebuah tepukan kecil di pipinya. Tubuhnya yang dibanjiri keringat dingin, seperti di aliri kekuatan.
"Yue...Yue!" Sekuat tenaga Xiao Yi membuka matanya yang seperti terkena getah damar, tangannya menangkap tangan yang menyentuh pipinya itu. Mencari perlindungan.
"Yue...!" Xiao Yi terduduk dari tidurnya, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Tangannya memeluk jemari Yang Mulia dengan wajah seperti baru saja melihat hantu.
Yang Mulia menyambut tubuh Xiao Yi dengan pelukan.
"Chenxing...sadarlah! Kamu hanya sedang bermimpi buruk." Yang Mulia mengelus-ngelus pundak gadis itu yang terbuka. Kain yang
membungkus tubuhnya hanya sebatas dada.
Xiao Yi mengedarkan pandangannya, dahinya berkilat-kilat oleh keringat, seperti habis di cipratkan air ke wajahnya.
__ADS_1
Mereka masih ada di dalam kamar tidurnya di wisma Xingwu.
Tidak ada gubernur Qian Lie dengan pedangnya, tak ada kepala ayahnya, tak ada ibunya!
Xiao Yi terisak di pelukan Yang Mulia, sungguh sangat lega semua hanyalah mimpi.
"Apa yang kau mimpikan, Chenxing? sehingga kamu begitu ketakutan dalam tidurmu." Yang Mulia menyeka keringat di wajah Xiao Yi dengan tangannya.
Dengan susah payah Xiao Yi mengatur nafasnya. Lalu mengerjap-ngerjap matanya memandangi Yang Mulia. Alis Yang Mulia bertaut, mencemaskannya.
"Hanya mimpi buruk..." Xiao Yi mendesah, ketakutannya kepada ancaman gubernur Qian ternyata merasuk sampai ke hatinya, kekuatirannya mengubahnya menjadi satu mimpi buruk yang menakutkan.
"Tentang apa? kau memimpikan apa?"
Xiao Yi menatap mata Yang Mulia, perasaan sayangnya pada laki-laki di depannya itu membuatnya enggan menceritakan semua permasalahan yang kini sedang di hadapinya.
Yang Mulia baru saja menemukan senyumnya, bangkit dari keterpurukannya yang begitu lama. Tidak adil jika dia merusak kebahagiaan itu dengan keluh kesah buruknya tentang gubernur Qian Lie.
Xiao Yi berjanji akan menceritakannya dengan jujur semuanya tentang siapa sesungguhnya dirinya dan misi apa yang di lekatkan padanya, sekarang bukan saat yang tepat untuk mencemaskan hal itu, toh Gubernur Qian belum menunjukkan akan membuat satu pergerakan yang membahayakan dirinya maupun Yang Mulia.
"Bukan apa-apa, Yang Mulia. Mimpi buruk mungkin karena aku terlalu merindukan keluargaku."
"Apakah kamu ingin pulang?" tanya Yang Mulia, mereka masih duduk berhadapan diatas tempat tidur Xiao Yi.
"Apakah itu boleh?"
"Tapi, aturan di harem, tidak pernah mengizinkan selir untuk pulang?" Xiao Yi tercengang mendengar kata ijin itu begitu mudah dari bibir Yang Mulia.
"Jika raja yang mengijinkan, apakah ada yang akan membantah?" Yang Mulia tertawa melihat mata kejora itu melotot kepadanya.
Xiao Yi segera mendaratkan pelukan pada Yang Mulia, sungguh sangat menyenangkan jika dia boleh pulang sebentar ke Youwu. Melepas kerinduannya pada ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Mengetahui kabar mereka. Dan tentu saja, dia bisa menepati janjinya segera kepada Chu Cu, untuk membawanya pulang ke Youwu.
Xiao Yi bahkan merencanakan sesuatu di dalam benaknya, membalas perbuatan gubernur Qian, jika dia boleh menjejakkan kakinya di Youwu sekali lagi.
"Hanya saja, mungkin aku harus mempertimbangkan kepulanganmu ini" suara berat Yang Mulia membuat Xiao Yi melepaskan pelukannya, begitu cepatnya Yang Mulia berubah fikiran!
"Kenapa harus dipertimbangkan lagi?" wajah Xiao Yi menjadi cemberut.
"Karena kalau kamu terlalu lama di Youwu, aku takut karena gila merindukanmu, akan salah masuk wisma, karena wisma Haohua itu sangat mirip dengan wisma Xingwu..." ucap Yang Mulia seperti sangat serius. Dengan kesal Xiao Yi mencubit kulit perut kencang Yang Mulia. Yang Mulia sangat suka mempermainkannya.
Yang Mulia tergelak melihat wajah cemberut Xiao Yi, lalu di tariknya Xiao Yi untuk kembali berbaring dan memeluknya dengan perasaan sayang.
"Aku akan mengijinkanmu pulang ke Youwu beberapa hari setelah festival lampion usai dengan syarat kamu menjawab satu hal..."
__ADS_1
"Apa?" Xiao Yi bertanya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Yang Mulia.
"Apakah kamu juga sedang memimpikan aku, sehingga kamu memanggil-manggil namaku dalam tidurmu? Apakah wajah tampanku ini benar-benar menganggumu?"
Pertanyaan Yang Mulia membuat wajah Xiao Yi merah padam.
"Aku tak mau menjawabnya." sergah Xiao Yi, tersipu.
"Jika kamu tak mau menjawab, maka kamu akan ku kurung di Rongyu, supaya kamu tidak bisa pulang." bisik Yang Mulia bernada mengancam.
"Yang Mulia tidak adil...!" Xiao Yi menggigit lengan yang mulia dengan wajah gemas, gigitan itu tidak keras, hanya sebuah gigitan lembut yang membuat Yang Mulia merasa geli.
Yang Mulia tertawa dan merengkuh tubuh ramping itu dengan senang. Membuat Xiao Yi kesal itu ternyata menyenangkan.
Malam merayap perlahan di batas kota Yubei, gemersik daun-daun ditiup angin, membuat suara desau yang halus.
Ketenangan turun, meskipun malam baru saja hendak bersua dengan pagi namun udara mulai terasa hangat.
Seorang raja sedang terlena dalam buaian asmara, bersama seorang selir persembahan yang hampir tak dipandang sebelah mata. Entah cerita apa yang akan di kisahkan di generasi berikutnya, tentang kisah cinta ini.
"Yang Mulia..." Xiao Yi menggeliat dalam pelukan hangat itu. Sejak mimpi buruk itu, dia tak bisa lagi memejamkan matanya.
"Hm..." hanya suara pendek itu menyambut, matanya masih terpejam. Wajahnya mengantuk dan sedikit kelelahan. Entah berapa kali mereka terjaga dan tergoda untuk kemudian mabuk dalam cinta sepanjang malam.
"Aku harus bangun sekarang, hari hampir pagi."
"Kamu mau kemana, begitu tergesa-gesa untuk bangun." Yang Mulia malah merapatkan pelukannya.
"Aku sudah berjanji bertemu dengan selir Yuan hari ini."
"Apakah dia menjadi lebih penting dari pada aku?"
"Yang Mulia lebih penting, tapi menepati janji juga penting..."
Pelukan itu merenggang, memberi kesempatan Xiao Yi keluar dari balik lengannya.
"Aku akan tidur sebentar lagi di sini. Katakan kepada kasim Chen untuk mengambilkan pakaianku dari Rongyu. Aku berangkat ke aula Guangli dari sini" Yang Mulia berucap dengan suara malas dan kelopak mata yang masih terpejam.
(Nantikan episode selanjutnya dengan judul part"MENJADI TUMBAL"π€π€π€π€)
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...β€οΈ...
...Biar author tambah rajin UPπβΊοΈ...
__ADS_1
...Author sayaaaang banget dengan kalianπ€...
...πππ...