
Tidak terasa sudah memasuki penghujung bulan ketiga di tahun yang berbeda, keberadaan Xiao Yi sudah melewati satu musim dingin, di wisma Xingwu, istana Weiyan, Kota Raja Yubei.
Udara mulai terasa hangat, matahari pun muncul dengam malu-malu di atas langit. menyibak awan musim dingin yang perlahan menghilang.
Hari pertama saat musim semi, durasi malam hari dan siang hari terasa sama. Waktu terbitnya matahari dan terbenamnya sepertinya tidak berbeda.
Di atas langit, burung alap -alap dan burung dara laut berarak dengan ramainya, mereka kembali setelah musim dingin berakhir. Burung- burung anggun itu telah menyelesaikan masa migrasi mereka selama musim dingin.
Binatang-binatang bermunculan dan keluar dari tempat persembunyian, mereka mulai melakukan aktivitas mereka yang sempat tertunda, masa hibernasi panjang telah usai. Suara panggilan berkencan dari lawan jenis begitu menggoda, untuk menuntaskan kerinduan yang menggumpal selama musim dingin.
Kabar dari wilayah Youwu, sedang terjadi bencana banjir besar. Sungai Yalu yang beku mencair dan meluap. Bala bantuan sedang di kirimkan oleh kota raja, tapi selentingan kabar tak enak sampai pada Yang Mulia bahwa sebagian dari bantuan itu hilang lenyap tak sampai tujuan. Hilang begitu saja, begitu saja sampai perbatasan wilayah antara Shicuan dan Youwu.
Xiao Yi sangat mencemaskan situasi ini, dia memikirkan semua keluarganya yang tinggal di Youwu.
Beberapa kali dia mengirimkan surat ke kotanya itu tapi tak pernah menerima balasan.
Yang Mulia Yan Yue baru saja keluar dari aula guangli setelah pertemuan dengan para petinggi kerajaan, membahas tentang bencana yang cukup menyita perhatian Yang Mulia Yan Yue.
Bahkan bencana dan kejadian hilangnya sebagian bantuan ke Youwu, membuat gubernur Qian Lie mengirimkan utusan untuk membantu menyelidiki perihal yang sangat memprihatinkan ditengah bencana yang sedang di alami propinsi kecil di daerah paling utara Yanzhi ini. Berharap bisa menyelediki kejadian ini lebih lanjut.
Tiba-tiba kasim Chen membungkuk dan menyerahkan gulungan kecil kertas berwarna krem pucat.
"Surat untuk Yang Mulia..." Kasim Chen menjulurkan kedua tangannya, menyerahkan kertas itu dengan hati-hati.
Yang Mulia menerimanya dengan sedikit heran,
Chenxing ingin bertemu Yang Mulia
Pesan pendek di secarik kertas kecil itu, membuat alis Yang Mulia Yan Yue bertaut.
Terakhir dia bertemu gadis ini adalah tiga malam yang lalu di istana Chue Lian, saat dia mengantar Xiao Yi untuk mengantarkan bantuan ke kuil Sunyen, tepat tanggal 27 bulan ketiga.
Sekarang gadis itu tiba-tiba mengirim surat, hal yang tidak pernah dilakukannya.
Rasa penasaran mengusik hati Yang Mulia dan juga ada sedikit kerinduan yang tiba-tiba menggelitik.
Yang Mulia segera mengusir perasaan aneh itu, dia tidak ingin dimanipulasi oleh perasaan yang tidak jelas menurut hematnya.
__ADS_1
"Atur supaya dia di jemput ke Rongyu malam ini..." kata Yang Mulia Yan Yue kepada kasim Chen.
"Baik, Yang Mulia" kasim Chen membungkuk dengan patuh, kemudian segera menemui beberapa kasim muda kepercayaannya. Menginstruksikan beberapa hal yang berkaitan dengan titah dari Yang Mulia Yan Yue.
...***...
Xiao Yi mendongakkan kepalanya, ketika keluar dari dalam tandu yang membawanya ke pekarangan istana Rongyu, kediaman Yang Mulia Yan Yue.
Sudah berapa puluh kali matahari terbit dan tenggelam di atas langit yang kini membentang congkak di atas kepalanya. Langit senja menjelang gelap itu terasa seperti lukisan misterius. Bersemu sedemikian rupa, seperti warna merah yang berusaha membebaskan diri tapi di dekap erat oleh hitam yang begitu keras.
Warna jingga itu serupa perasaannya yang berusaha dipertahankannya tetapi mulai goyah, seperti semangat penantiannya pada panggilan cinta di tempat yang nun jauh di sana, sedikit demi sedikit mengalir ke tempat terendah di hatinya. Menyusutkan gairah dan keyakinannya.
Banyak hal dari hidup ini yang tidak bisa di ramalkan dengan benar, bahkan semua perkiraannya kadang kala meleset sama sekali.
Istana ini sungguh berbeda dari yang di bayangkannya di awal mula saat dia pertama kali memasukinya.
Sekelompok burung dara laut nampak berbondong-bondong di angkasa, menuju utara Yanzhi. Kepakan sayap mereka berirama dengan sangat pasti, seolah mengabarkan pada siapapun yang melihat mereka, saat ini burung-burung itu sedang dalam perjalanan pulang menanggung banyak kerinduan, kembali ke rumahnya.
Xiao Yi menghela nafasnya, entah apa yang terjadi dengan rumahnya di kota Youwu sekarang?
Waktu terasa seperti pencuri, diam-diam datang dan pergi, menyisakan kebingungan di dalam hati Xiao Yi.
Langkahnya terhenti di depan pintu istana Rongyu, menunggu pengawal di pintu mengumumkan kedatangannya.
Kemudian pintu itu di buka, di sana berdiri Yang Mulia Yan Yue dengan jubah sutra berwarna kuning emas. Wajahnya nampak segar, meskipun pikirannya sedang kusut karena pelbagai permasalahan kerajaan.
Kehadiran gadis di depannya ini memberikan suatu pengaruh tersendiri.
Xiao Yi memberi hormat dengan membungkukkan badannya di depan Yang Mulia Yan Yue.
Yang Mulia mengambil tempat duduk di kursi balainya di tempat lebih tinggi, tempat resmi Yang Mulia menerima tamu jika berada di ruangan tamu kediamannya. Xiao Yi agak heran, biasanya Yang Mulia akan duduk bersama dengannya di sebuah meja agak ke samping dekat penyekat ruang dari kayu berulir itu. Malam ini Yang Mulia sedikit aneh.
"Apa gerangan yang membuatmu ingin bertemu denganku, selir Yi?"
Yang Mulia Yan Yue bertanya, dengan raut begitu serius. Sejak kapan raja ini memanggilnya begitu resmi saat mereka hanya berdua saja?
Pertemuan ini menjadi sangat janggal terasa, ataukah Yang Mulia Yan Yue sedang dimabuk arak?
__ADS_1
Xiao Yi tiba-tiba dilanda ragu, untuk tujuan kedatangannya.
"Aku mau membicarakan tentang bencana yang terjadi di Youwu" Jawab Xiao Yi, masih dalam keadaan berdiri dengan sikap canggung.
"Bencana di Youwu?" Yang Mulia Yan Yue mengernyit dahinya dengan tatapan menyelidik.
"Saya sangat mengkuatirkan keluarga saya." jawab Xiao Yi hati-hati.
"Aku juga tidak kurang kuatir, selir Yi. Aku mencemaskan rakyatku di sana." sahut Yang Mulia, cepat.
Sekarang Xiao Yi mengangkat wajahnya dengan berani, memastikan tujuan kalimat yang keluar dari mulut Yang Mulia Yan Yue.
Disana di temukan senyum kecut, benar-benar seperti mencemaskan sesuatu.
"Mungkin tepat kamu datang malam ini kemari untuk membahas hal ini, karena kamu lebih tahu tentang Youwu daripada aku" sekarang suara Yang Mulia lebih lugas.
"Dan mungkin kita bisa membahasnya bersama dengan seseorang yang juga mengetahui benar tentang Youwu" Yang Mulia mengetuk mejanya dengan suara agak keras.
Pintu utama ruangan Yang Mulia terbuka, kasim Chen masuk bersama seseorang yang mengikutinya.
"Hormat kepada Yang Mulia..."
Suara pria ini seperti guntur di malam hari, suara yang sangat akrab dan dikenal oleh Xiao Yi hampir bertahun-tahun lamanya.
Xiao Yi memutar badannya, menatap laki-laki muda berjubah coklat gelap yang baru saja tiba bersama kasim Chen, berdiri tepat di sampingnya dengan jarak kurang lebih sedepa.
Laki-Laki itu masih membungkukkan badannya dengan begitu khidmat menghadap lurus kepada Yang Mulia. Tapi mata Xiao Yi terbeliak menatapnya, dengan dada yang bergemuruh seperti baru diterjang badai.
Dia sangat mengenalnya...
Ini adalah visualisasi pohon willow di tepi sungai Yalu,
karena ada beberapa yang menanyakan bentuknya, author jadikan bonus visual episode ini ya, untuk episode berikut visualisasinya apa ya🤗🤗🤗
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
__ADS_1
...🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...