
"Mari kita makan saja, lihatlah terlalu banyak bicara membuat makanan menjadi dingin." Xiao Yi memberikan isyarat agar Chu Cu melayani dua pangeran itu.
Semua makanan kesukaan mereka di dekatkan ke depan masing-masing pangeran, kepada Pangeran Yan Chyou di sodorkan ayam Gong Bao, La ji zi, dan ayam san bei ji yang tersaji dengan padanan arak beras.
Semua menu daging ayam itu adalah kesukaan Pangeran Yan Chyou.
Sementara untuk ke hadapan pangeran Yan Yaoshan, masakan daging tangculiji yang gurih dengan saos asam manis, Wonton dengan isian daging, dan Mie Zhangjiangmian serta arak Bai Jiu yang terkenal dengan kadar alkoholnya yang tinggi. Semua makanan itu adalah favorit Pangeran Yan Yaoshan.
Untuk Yang Mulia Yan Yue Xiao Yi hanya menyodorkan semangkok sup ayam cia po dengan kuah pucat dan aroma herbal yang begitu kental.
"Kenapa kakak hanya diberikan satu mangkok sup obat itu?" Pangeran Yaoshan tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Yang mulia pangeran, jangan salah sangka..." Xiao Yi menyahut dengan raut sedikit sedih.
"Menjadi seorang raja jangan dikira bisa melakukan semua kesenangan sesuka kita. Yang Mulia tidak terlalu boleh memakan makanan secara berlebihan. Raja hanya boleh makan sedikit berat, enak dan bisa melakukannya sampai sepuasnya pada siang hari, itupun kadang-kadang dengan takaran.
Kalian tahu kenapa? Karena, Yang Mulia tidak boleh seharipun menjadi sakit hanya karena terlalu menikmati sesuatu, kesenangan bukan hal yang menjadi nomor satu jika ingin tetap bisa sehat dan kuat memikirkan negara sebesar Yanzhi." Seloroh Xiao Yi.
"Malam ini, Yang Mulia memakan satu sup mangkok yang berbau aneh dengan rempah obat ini karena kesehatan Yang Mulia sekarang tidak terlalu baik, bukankah berbagai penyakit akan segera kambuh jika menghadapi seribu satu macam persoalan negara dan rakyat?" Xiao Yi mengucapkannya, begitu lugas tapi dalam nada iba.
Kedua pangeran itu benar-benar tak tahu harus berbicara apa, mereka tidak menyadari jika ingin menjadi raja, mereka harus menebus kekuasaan itu dengan mengorbankan banyak kesenangan.
Pangeran Yan Yaoshan, merasa semua yang di katakan ibu suri menjadi begitu hambar.
Jika persoalan menjadi raja sesibuk itu, bagaimana mungkin dia bisa berpesta pora dan minum arak sepuasnya ditemani banyak dayang-dayang dan perempuan cantik, seperti yang di janjikan ibu Suri?
Begitupun pangeran Yan Chyou, andai menjadi raja harus selalu berhadapan dengan tumpukan dokumen yang menyakiti kepala itu, kapankah dia bisa membagi waktunya untuk menikmati musim dingin di Villa Zhieshan, sambil menulis puisi dan membaca ribuan sajak kesukaannya?
Lamat-lamat keinginan mereka untuk menjadi raja seperti perlahan menguap. Mereka menyadari tugas dan tanggungjawab seorang raja bukan hal yang bisa mereka pikul, itu sungguh terlalu berat.
__ADS_1
"Aku tidak bersedia menggantikan Yang Mulia..." Pangeran Yan Yaoshan berucap pelan.
"Bukan karena saya tidak berbakti kepada kakak, tapi mungkin kakak Chyou lebih mampu." pangeran Yan Yaoshan menyuap mie Zhangjiangmian, ke mulutnya dengan menggunakan sumpit. seteguk arak bai ju begitu nikmat menyinggahi tenggorokannya setelah itu.
Begitu banyak aturan menjadi raja, dia ragu bisa menjalaninya. Melepas sebagian kesenangannya tentulah sangat berat, dia telah terbiasa hidup bebas dan bersenang-senang.
"Kakak Yan Yue, saya rasa, hanya kaka yang pantas menjadi raja..." Pangeran Yan Chyou menyahut lamat-lamat.
Xiao Yi tersenyum simpul, dia tahu ibu suri harus mengubah rencana, karena dua bidaknya telah berada di dalam genggaman.
Meskipun mereka memaksakan diri, Xiao Yi dan Yang Mulia telah mengirimkan sinyal bahwa raja Yue bukan orang yang mudah di kelabuhi.
...***...
Di tempat yang berbeda, di pinggiran kota Yubei, Malam turun di atas kota itu dengan cepat, udara terasa dingin, seolah musim dingin benar-benar di depan pintu. Awan gelap berarak di atas langit berlatar abu-abu.
Pemukiman di pinggir kota itu terasa lebih suram dari biasanya.
Hari sudah terlalu gelap untuk melanjutkan perjalanan. Qian Ren memutuskan untuk bermalam sebelum besok dia berusaha menemukan cara untuk bisa menyampaikan pesan bertemu dengan Xiao Yi.
Pemilik penginapan yang bertubuh gemuk pendek dengan tompel di pipinya itu, muncul dengan yang terlihat jenaka.
"Selamat malam, tuan..." Dia membungkuk kepada Qian Ren.
"Saya memerlukan satu kamar untuk malam ini." Kata Qian Ren setelah membiarkan kudanya dibawa oleh seorang pemuda tanggung dengan pakaian lusuh, salah satu pelayan di penginapan itu.
"Silahkan tuan, anda beruntung sekali, ada tersisa satu kamar lagi." Pemilik penginapan itu mempersilahkan Qian Ren masuk.
"Apakah masih tersedia makanan? aku sangat lapar..." Qian Ren menarik sebuah kursi kayu ketika masuk, dan melepas penat di sana. Penginapan itu merangkap rumah makan pada bagian depannya, hanya saja sepertinya sudah tutup.
__ADS_1
"Kami hanya punya bakpao isi kacang merah dengan sup jagung, tuan muda. Jika berkenan aku akan menyuruh seorang pelayan menghangatnya untuk tuan." Jawab pemilik penginapan itu cepat.
Qian Ren menganggukkan kepalanya, dia sangat lalar dan tak perduli makanan apa yang di sajikan kepadanya, yang penting perutnya itu segera di isi.
Penginapan itu nampak lengang dan sepi, tidak ada orang lain di ruangan itu kecuali Qian Ren, seorang pelayan perempuan yang berbenah membersihkan meja dan kursi dan pemilik penginapan yang masuk ke arah pintu samping sepertinya menuju dapur.
Menurut pemilik penginapan itu, semua kamar sudah habis, tapi kenapa penginapan itu sesepi kuburan? Seharusnya banyak orang berada di sana.
Tapi, mungkin saja karena ini adalah penginapan pinggir kota hanya menjadi tempat persinggahan orang-orang yang kemalaman dari perjalanan jauh, semua orang telah tidur meskipun malam belum larut sekali.
"Silahkan tuan." Pemilik penginapan yang ramah itu tak nampak, yang datang adalah seorang pelayan laki-laki tanggung yang tadi membawa kuda Qian Ren.
Pelayan muda itu meletakkan piring berisi tiga buah bakpao berukuran cukup besar dan semangkok sup jagung kental yang masih berasap.
"Tuan, saya ambilkan teh untuk tuan, sepertinya tuan sangat lelah." Pelayan itu pergi masuk dan kembali tidak lama kemudian dengan sepoci teh.
Qian Ren dengan lahap hampir menghabiskan semua yang tersaji di atas meja.
Pelayan itu agak tercengang saat Qian Ren memberikannya dua tail perak. Menilik dari pakaiannya tamunya ini memang bukan orang sembarangan, tapi penampilannya yang aneh dengan beberapa noda darah mengering pada lengan baju, sepertinya sang pelayan menjadi sedikit takut.
"Antarkan aku pada kamarku..." Qian Ren berucap datar sambil berdiri dari tempatnya duduk.
"Mari tuan..."
Sang Pelayan bertubuh kurus itu tergesa mendahului Qian Ren. Diikuti tatapan dua pasang mata yang terlihat mengawasi dari balik pintu dapur, pemilik Penginapan dan seorang lagi.
"Dia adalah musuh..." Bisik orang itu pada pemilik penginapan.
__ADS_1
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
...I LOVE YOU ALL❤️...