
Musim dingin baru saja lewat, awan putih bersemburat biru berarak di atas langit kota Liangshuang, ibu kota Shicuan.
Chi Yuan baru saja terbangun oleh bunyi kicauan burung hwa mei peliharaan adiknya Chi Lu dari pelataran.
Chi Yuan membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada langkan merah bata di atas kamarnya, dengan ukiran bunga dan daun yang cantik dan rumit.
Dengan berat dia bangun, bersandar di kepala tempat tidurnya yang empuk.
"Ayin...!" Teriaknya dengan suara yang berat, sambil merapikan gaun biru pupusnya.
"Ya, Nyonya..." Ayin, pelayannya muncul dari balik pintu kamarnya, membawa sebuah baskom dan kain kecil berlipat-lipat.
Nyonyanya itu sudah bangun, seperti biasa dia mengantar baskom untuknya mencuci muka.
"Letakkan saja di sana, Ayin. Aku mau kamu membukakan jendela itu untukku." Katanya dengan suara yang sangat malas.
"Baik, nyonya..." Ayin meletakkan baskom itu di meja samping tempat tidur Chi Yuan lalu membuka jendela.
Cahaya matahari segera menyeruak, sinarnya menerobos masuk seolah tak sabar. Kehangatan pagi menimpa kulit bening ChinYuan yang putih merona.
"Ah..." Chi Yuan mengangkat kedua tangannya ke atas, wajahnya begitu sumringah.
Dia sungguh menikmati sinar mentari yang berkelok-kelok melewati ranting dan dedaunan pada pohon persik di luar kamar tidurnya, kehangatan musim semi membelai pipinya yang memerah segar.
"Nyonya..."Ayin tampak mendekat, memasukkan tangannya ke balik saku lengan jubah hijau polosnya.
__ADS_1
Dari sana tampak sebuah gulungan kertas yang begitu rapi di ikat tali sutra warna merah.
"Apa itu?"
"Surat, nyonya."
"Dari siapa?" Chi Yuan mengulurkan tangannya, gulungan itu segera berada di genggamannya.
"Tuan muda Qian mengirimkannya untuk nyonya." Senyum Ayin merekah, dia tahu nyonyanya itu pasti senang mendengarnya.
"Dari kak Ren?!" Dia tampak begitu senang seketika menyambut surat itu, tiga hari lagi hari pernikahannya dengan Qian Ren, tidak hanya direstui oleh ayahnya tapi juga atas restu Permaisuri Yi dan Yang Mulia Yan Yue. Tentu saja wajahnya tak berhenti menunjukkan kebahagiaan mengingat hal tersebut.
Dengan raut manja dia mengusir Ayin, dia sangat ingin membaca surat dari kekasihnya itu sendiri saja.
Dia tersenyum sendiri mengingat kejadian di malam badai salju itu, kisah yang hampir merenggut nyawanya tapi Qian Ren menyelamatkannya dengan cara yang sungguh tak pernah bisa di lupakannya, setelahnya Qian Ren mengantarnya pulang dengan sikap gagah dan ksatria, dan melamar Chi Yuan dengan penuh keyakinan dan keberanian.
Tapi sungguh tak di duga, Qian Ren mengeluarkan sebuah surat bahwa dirinya di bebaskan dari semua hal yang berkaitan dengan pegkhianatan Qian Lie. Dan bahkan dia dia ditunjuk sendiri oleh Yang Mulia Yan Yue sebagai wakil gubernur Youwu yang baru dengan stempel raja.
Dan seminggu setelahnya, dia dilamar secara resmi, dengan restu khusus dari istana, di mana Permaisuri Yi sendiri yang mengirimkan hadiah lamaran ke Shicuan sebagai wali dari Qian Ren.
Dia tak pernah menyangka, hidupnya begitu di berkati oleh langit, meski telah melewati berbagai penderitaan, tapi takdirnya sungguh indah. Hidup dengan mencintai dan dicintai, seperti yang pernah dikatakan Xiao Yi semasa dia masih sebagai selir Yi itu, ternyata benar-benar indah.
Dengan jemari lentiknya, di bukanya surat itu
Yu'er tersayang,
__ADS_1
Hari pernikahan kita sudah di ambang hari,
menyenangkan saat memikirkanmu tak lagi hanya di lamunanku,
tapi ketika aku terbangun kamu berada di sampingku.
Tapi...
Hari itu mungkin harus kita lewatkan dulu beberapa hari, karena setelah musim dingin yang panjang, seperti biasa Yalu menerbitkan bencana tahunannya.
Sungai Yalu sedang meluap, banjir sedang melanda beberapa desa,
kita tak mungkin melakukan perhelatan di tengah derita rakyat Youwu.
Maukah kamu bersabar sepekan lagi,
aku harus mengurus semuanya dulu...
Calon suamimu,
Qian Ren
Chi Yuan
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca ekstra part dari novel selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...