
Raut wajah Chi Yuan tampak berubah, semula senyumnya mengambang, mendadak menjadi sedikit muram.
Lembaran surat itu di jepitnya di sela jemari, kata-kata yang tertulis di sana sangat sedikit bahkan tak cukup melepaskan sejuta rindunya pada laki-laki hangat yang tak banyak bicara itu.
Sebagai seorang pemimpin, Qian Ren memang tak boleh egois, melaksanakan pernikahan dengan mewah sementara rakyatnya sedang kesusahan bukanlah hal yang patut di lakukan.
Chi Yuan mengerti sekali, tapi dia tak bisa menutupi sekelumit kekecewaan yang berpendar di hatinya karena sebagai calon pengantin yang kasmaran dia sedikit menjadi tidak sabar.
Di letakkannya surat itu di sebelah bantalnya lalu dia turun dari tempat tidurnya, berdiri di depan jendela kamarnya, menatap pada burung hwa mei yang berada di dalam sangkarnya, tergantung di pohon persik rendah tepat di depan kamarnya. Chi Lu tampak berdiri tak jauh dari sana. Laki-laki muda yang tampan itu tampak asyik berlatih pedang di taman depan pavilliun Chi Yuan.
Sepasang burung cantik itu memang selalu ribut jika hari mulai pagi. Sebenarnya burung hwa mei jantan milik adiknya itu tidak terlalu agresif bahkan cenderung tenang tetapi akan segera berisik jika betinanya mulai berkicau. Sepertinya suara pasangan betinanya akan merangsang si jantan untuk berkicau pula.
Dan lebih menakjupkan, si hwa mei jantan akan stres berat bahkan membentur-benturkan kepalanya ke sangkar jika dia di pisahkan dari betinanya.
__ADS_1
Entah semua burung hwa mei berlalu seperti itu ataukah hanya perilaku burung hwa mei peliharaan Chi Lu ini saja yang se ekstrim itu, Chi Yuan sungguh tidak tahu.
Chi Yuan berfikir, dia serupa burung hwa mei itu, berdiam diri dalam sangkar emasnya suatu saat nanti tapi tidak lagi sendiri seperti dulu, dia akan ditemani oleh Qian Ren sepanjang hidupnya, melewati puluhan musim berdua hingga mereka berdua letih berkicau dan langit memanggil mereka untuk terbang bebas melewati batas cakrawala.
"Ayin!"
Pelayan muda itu segera muncul dengan tergopoh-gopoh.
"Ya, nyonya..."
"Baik, nyonya." Ayin segera mundur, mengambil baskom berisi air pembasuh wajah nyonyanya itu yang sama sekali tak tersentuh.
Tidak biasanya majikannya itu begitu pagi ingin mandi.
__ADS_1
Biasanya dia akan bermalas-malasan sepanjang pagi.
Chi Yuan masih mengamati burung hwa mei di dalam sangkarnya yang terlihat mesra saling bersahutan itu.
Dia tak ingin hanya berdiam diri saja, setidaknya sambil menunggu bencana di Youwu reda dan pernikahannya akan bisa dilaksanakan dia harus melakukan sesuatu.
Pagi ini dia mengabarkan rencana pernikahannya akan di undurkan beberapa hari atau pekan kepada orang tuanya, supaya mereka tidak terlalu tergesa mempersiapkan perhelatannya. Dan dia ingin mengumpulkan dana bantuan, pakaian dan makanan untuk Youwu setidaknya untuk meringankan masyarakat di sana.
Chi Yuan akan menunggu hari pernikahan tidak hanya dengan meratap kesal, karena tidak berjalan sesuai rencana, dia ingin menunjukkan kepada calon suaminya itu, dia juga adalah calon istri yang berguna.
Wajah cerianya terpias lagi di wajah cantiknya, seribu rencana sedang di susunnya, menjelang hari bahagianya.
Semua pengantin tentu saja gugup menunggu hari pernikahannya.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca ekstra part dari novel selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...