
Sepeninggal Xiao Yi, Yang Mulia berdiri mematung menatap ukiran di daun pintu yang menantangnya dalam diam. Wajah Xiao Yi yang sedang menangis dalam ciumannya, seperti menampar hatinya. Membuat gadis itu menangis sungguh menyakiti hatinya.
Sejak Xiao Yi datang ke istananya, ada warna yang berbeda di hatinya. Selama ini, dia meyakini, dia hanya tertarik karena gadis itu sungguh berbeda dari gadis lain. Dia bukan gadis kebanyakan yang begitu mudah menyodorkan diri padanya, dia bahkan lebih yakin cintanya masih utuh untuk Jiu Fei di kuil Sunyen.
Tapi beberapa hari terakhir, dia menyadari, ada yang berubah dengan hatinya.
Batu yang keras pun akan terkikis oleh air bersama waktu, begitu juga penantiannya pada Jiu Fei yang sudah hampir 10 tahun ini, tiba - tiba mulai goyah. Kekasih lamanya itu, sepertinya tak akan pernah kembali. Dan dia mulai kelelahan menunggu Jiu Fei berubah fikiran.
Kebersamaannya dengan Xiao Yi beberapa bulan ini, menyulut rasa yang hampir mati itu. Dia tak bisa memungkiri, ketika sedang sendirian, bayang Jiu Fei perlahan di gantikan bayangan Xiao Yi.
Dia kerap merindukan gadis baru itu akhir-akhir ini!
Tidak pernah Yang Mulia begitu penasarannya pada seseorang sampai sedemikian rupa, bahkan mengirimkan pengawal Cun ke Youwu untuk menyelidiki kehidupan Xiao Yi sebelum masuk ke istana, menelisik segala tentang Xiao Yi termasuk tentang kisah cintanya.
Entah kebetulan apa, pada saat bersamaan gubernur Qian Lie mengirimkan utusan, anaknya yang merupakan kekasih Xiao Yi untuk menyelidiki hilangnya bantuan bencana banjir Youwu.
Yang Mulia Yan Yue tidak mempermasalahkan apa yang di dengarnya, tentang segelintir sejarah Xiao Yi, andai gadis itu berani jujur sampai akhir padanya.
Malam ini dengan berat hati, Yang Mulia mempertemukan mereka berusaha mencari seperti apa hubungan dua orang yang dikisahkan sebagai sepasang gezi (burung merpati) dari Youwu itu.
Yang Mulia hanya berharap, Xiao Yi jujur padanya, seperti sebelum-sebelumnya. Dengan begitu dia akan berjuang, membuat gadis itu mencintainya, jika pun Xiao Yi benar-benar tidak bisa mengubah hatinya, dia akan melepaskan gadis itu untuk mengejar kebahagiaannya.
Sayangnya, di detik terakhir Yang Mulia merasa begitu kecewa, Xiao Yi membohonginya. Dia tahu benar, kekasih Xiao Yi berada di satu atap istana dengan mereka sekarang, bukan jauh di Youwu sana.
Pertama kali Xiao Yi tidak jujur padanya!
Dan itupun, berusaha di bantahnya dengan mempercayai saja kebohongan yang di dengarnya. Tapi air mata Xiao Yi yang menempel di pipinya telah membuyarkan sebagian keyakinannya.
Cintanya bertepuk sebelah tangan!
...***...
Xiao Yi memasuki wisma tamu dengan langkah yang terasa semakin berat ketika semakin dekat pintu utama. Chu Cu mengikuti dengan di iringi seorang kasim dan pelayan Wisma tamu.
Yang Mulia Yan Yue telah mengijinkannya bertemu dengan Qian Ren hari ini. Kasim utusan Yang Mulia datang pagi-pagi mengabarkannya.
Padahal, sekembalinya dari Istana Rongyu tadi malam, sedikitpun matanya tak bisa terpejam.
Tubuhnya masih terasa melayang-layang seperti layangan putus.
Ciuman itu begitu membekas, bahkan sepanjang malam terasa seperti hantu yang membayanginya.
Bibir itu, terasa lembut dan nyaman saat menyentuh bibirnya. Meninggalkan sensasi yang berbeda dari saat Qian Ren mencium pipinya ataupun dahinya.
__ADS_1
Pernah sekali,
Qian Ren tiba-tiba mengecup bibirnya, saat dia dan Qian memilih sebuah jubah sutra untuk hadiah ulangtahunnya. Mereka menyusup di antara kain-kain yang dipajang, dan Qian Ren tiba-tiba menariknya dan mengecup bibirnya sekilas.
Tapi, sungguh berbeda, sensasinya tidak sama.
Ciuman Qian Ren tidak sampai membuatnya terjaga sampai pagi.
Ciuman Yang Mulia tadi malam, begitu aneh, begitu lembut, menyasar dengan perasaan yang begitu dalam, menyimpan gairah yang ditekan sedemikian rupa sehingga membuatnya dibakar rasa haru dan bingung.
Sekuat tenaga dia menghimpun wajah Qian Ren untuk menolak dirinya menikmati ciuman Yang mulia, tapi sayangnya dia bahkan menangis dalam diamnya.
Banyak perasaan bercampur, mengaduk hatinya dari sejak dia bertemu Qian Ren dan berharap Qian Ren punya keberanian mempertahankannya.
Di penghujung kedekatan itu , anehnya Xiao Yi berharap jauh di dalam hatinya, Yang Mulia tidak menghentikan sentuhannya.
Qian Ren menunggu di dalam ruang tamu wisma yang berdekatan dengan kamar tamu pada wisma khusus itu.
Dia segera membungkuk memberi penghormatan resmi, sikap itu lebih kepada menjaga etika di depan beberapa orang istana yang mengiring Xiao Yi.
Xiao Yi mengangguk pelan, dan memberi kode kepada semua pengiringnya kecuali Chu Cu untuk meninggalkan ruangan itu.
"Yi'er..." Panggilan itu yang pertama di dengar Xiao Yi, terasa begitu akrab di telinga, menghamburkan banyak kenangan yang menyeruak begitu saja.
"Apakah benar kamu masih mengingatku?" pertanyaan itu tiba-tiba saja di lontarkan leh Xiao Yi tajam, seperti sembilu.
Qian Ren membalas tatapan Xiao Yi dengan heran.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?"
"Aku menjadi ragu, apakah aku telah mengenalmu dengan baik..." Xiao Yi mendesis perlahan.
"Berbicaralah dengan kalimat yang ku mengerti Yi'er"
"Aku sekarang yang tidak mengerti dirimu, mengapa kamu mengatakan kepada Yang Mulia kita adalah kerabat dekat? Bukan kah kamu sudah membuka jarak denganku?"
"Yi'er...aku tak ingin Yang Mulia menaruh curiga pada kita berdua"
"Yang Mulia tentu lebih suka jika kita berkata jujur" kalimat yang keluar dari mulut Xiao Yi seperti bumerang yang menghantam pada wajahnya sendiri.
"Dia adalah suamimu, Yi'er...dia tidak akan mudah menerima ada orang lain antara kalian berdua"
"Tapi kita tidak akan punya peluang lagi setelah saat ini"
__ADS_1
"Yi'er..." Qian Ren mendekat selangkah. Xiao Yi berdiri ditempatnya seperti patung porselen.
"Apakah kedatanganmu ke Yubei, untuk memenuhi janjimu, menjemputku?" tanya Xiao Yi datar.
Qian Ren terdiam.
"Bisakah kamu memberi aku waktu?" Qian ren balik bertanya.
"Aku tidak bisa menunggu lama, aku hampir kehabisan waktu untuk menunggu" suara Xiao Yi seperti tercekat di kerongkongan. Dia benar-benar takut mengulur waktu lebih lama, bukan karena meragukan Qian Ren tapi lebih kepada meragukan dirinya sendiri, karena bisa saja waktu mempertaruhkan kesetiaannya pada Qian Ren.
"Aku belum punya rencana sekarang untuk mengeluarkan dirimu dari sini, aku takut Yang Mulia akan..."
"Apakah kamu masih mencintaiku?" pertanyaan itu memotong kalimat Qian Ren.
"Tentu saja aku mencintaimu, Yi'er tapi..."
"Bisakah kamu sedikit lebih berani?" Xiao Yi menyela dengan tajam.
"Aku belum mempunyai keberanian untuk melawan ayahku dan raja dari negeri ini, Yi'er."
Xiao Yi menelan ludahnya yang terasa pahit,
betapa dinginnya percakapan sepasang kekasih yang telah lama saling merindukan itu.
"Istana ini benar-benar telah mengubahmu, Yi'er" gumam Qian Ren. Tak ada lagi Xiao Yi yang begitu percaya dan pasrah, yang ditemuinya sebelum gadis ini dikirim ke istana Weiyan, Yubei.
Di depannya adalah gadis yang begitu dingin dan agak sinis.
Qian Ren mendekat dan meraih jemari Xiao Yi, mencoba menemukan Xiao Yi yang dikenalnya.
Xiao Yi tidak bereaksi hanya membiarkannya begitu saja.
"Aku pernah berkata kepadamu, sebelum aku berangkat ke Yubei untuk menjadi selir persembahan ayahmu bagi raja Yanzhi, jika aku sudah meninggalkan Youwu, maka semua sudah terlambat..." ucap Xiao Yi, datar.
Dia tahu, sekarang mungkin penantiannya sudah berakhir, kekasihnya itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dan sekarang benar-benar sudah terlambat! Mari kita berhenti membuang waktu untuk saling memberi harapan. Takdir kita mungkin berbeda. Kamu sendiri yang telah menyerahkan aku pada takdir ini." Sekarang Xiao Yi yakin, kisah cinta mereka memang serupa bunga jihua, mekar di musim gugur dan menjadi layu di musim yang sama.
Seorang Kasim muda yang berdiri di belakang pintu hanya berdiri diam, merekam pemandangan itu dari kejauhan melewati celah pintu, sebelum kemudian berbalik dan pergi. Yang dia bisa sampaikan kepada Yang Mulia, sepasang kekasih itu masih begitu saling mencintai.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...
__ADS_1
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...