
"Tuan Zhao Juren, kamu tidak pantas mencium kaki saudaramu sendiri."
Gubernur Qian Lie mengucapkan kata-kata itu, sambil berusaha mengangkat kepalanya dari lantai aula kebesaran.
Meski tidak lantang tapi seperti sebuah halilintar bagi yang mendengarnya.
"Saudara?" Semua sekarang memandang kepada gubernur Qian Lie tak terkecuali Yang Mulia Yan Yue dan Xiao Yi.
Wajah terkejut mereka bahkan tak mengalahkan raut ibu suri yang seketika seperti kebakaran jenggot.
Sungguh dia tak ingin rahasia ini di bocorkan sekarang pada saat dirinya sedang di ambang kehancuran karena penggulingan yang gagal. Jika rahasia ini diungkap maka Zhao Juren dalam bahaya.
"Hentikan omong kosongmu Qian Lie!" Ibu Suri menghardik pada gubernur yang masih nampak menepuk kepalanya karena sisa rasa pusing yang dirasakannya akibat pukulan pengawal Cun.
"Yang Mulia, Tuan Muda Zhao Juren adalah saudaramu, anak dari ibu Suri Zhao Li Sui dan Yang Mulia raja Yan Houcun..."
Sesaat semuanya seperti patung, menatap tak percaya pada ucapan gubernur Qian Lie.
"Jangan berbicara ngawur Qian Lie. Lebih baik kau diam atau aku akan mencabut lidahmu yang tak berguna itu." Ibu Suri akan bersiap memukul mulut gubernur Qian Lie yang sekarang berlutut di depan Yang Mulia tepat di sebelah Zhao Juren yang sedang dalam posisi yang sama saat pengawal Cun dengan sigap menahannya.
Mata Zhao Juren sebesar buah persik, memandang tak berkedip pada gubernur Qian Lie.
"Hati-hati dengan mulutmu, tuan gubernur..."Xiao Yi mengecam dengan suara bergetar.
"Aku tidak berbohong, Yang Mulia...asalkan aku mendapatkan pengampunan, aku akan mencritakan semuanya."
Dalam kegentingan sekalipun gubernur Qian Lie tetap bersikap licik.
"Bicaralah!" Akhirnya Yang Mulia berbicara, dia memandang sejenak ke sekelilingnya, beberapa orang yang terluka termasuk Perdana Menteri Xingguan telah di evakuasi untuk menerima perawatan tabib di bawah perintah kasim Chen. Para selir, pangeran dan puteri sudah tak ada lagi di sana, bahkan sebagian orang telah diamankan oleh pengawal raja ketempat lain yang lebih aman.
__ADS_1
Situasi memang sudah bisa dikendalikan oleh pasukan Yang Mulia Yan Yue dan bantuan militer darurat.
Yang bersisa adalah mereka yang kini terindikasi sebagi pembelot dan berada dalam pengawasan senjata para pengaal raja.
"Aku sendirilah yang ditugaskan menukar bayi ibu suri yang baru lahir dengan mayat bayi seorang pelayan. Dan aku sendirilah bersama dayang Shue Lan yang mengantarkan bayi ibu suri kepada kakaknya bangsawan Zhao pada malam tuan Zhao Juren di lahirkan." Gubernur Qian Lie mengucapkannya dengan penuh keyakinan, baggaimana tidak rahasia yang sudah disimpannya selama 27 tahun itu akhirnya bisa dikeluarkannya sebagai kartu AS untuk menyelamatkan dirinya bahkan kalau memungkinkan dia beruntung menyaksikan pertumpahan darah antara dua saudara yang akan memperebutkan sebuah tahta.
Dia berharap bisa memantik pertikaian antara seorang raja yang sah dengan putra raja yang lain yang telah diabaikan begitu lama.
Dengan menceritakan rahasia ini, dimana pada akhirnya dia akan mengambil keuntungan darai kekacauan yang terjadi.
"Hentikan Qian Lie bajingan! kamu pengkhianat!" Ibu suri berteriak seperti kerasukan, dia sungguh tak ingin dalam kekalahannya ini menimpakan masalah baru pada putra yang telah dilindunginya selama bertahun-tahun itu.
"Kenapa? Kenapa aku harus percaya padamu, Qian Lie?" Yang Mulia bertanya dengan tajam, sebuah keraguan berkobar di matanya.
"Karena Yang Mulia harus percaya, itulah kebenarannya. Tanda lahir tuan Zhao Juren ada di pahanya bagian dalam, bulan sabit berwarna hitam. Aku pernah melihatnya saat membersihkan bayi itu bersama dayang Shue Lan"
Zhao Juren terperangah dalam diam, itu adalah tanda lahir yang tidak pernah diketahui orang lain, kecusli dirinya sendiri.
"Tutup mulutmu Qian Lie, seorang pengkhianat besar sepertimu tidak pantas mengecam ibu suri!" Zhao Juren membentak gubernur Qian Lie dengan tangan yang terkepal karena gemetar, rahangnya bergemeretak.
Seribu perasan yang tak bisa di ungkapkan tampak di matanya yang sepekat giok hitam itu.
Lalu perlahan dia membalikkan badannya dalam posisi masih bertahan pada lututnya di lantai, menghadap ibu suri dengan tatapan yang tajam menusuk seolah ingin menembus hati perempuan yang sangat dihormatinya ini.
"Apakah dia mengatakan hal yang sebenarnya, bibi?" Tanya Zhao Juren kemudian dengan volume suara yang sengaja direndahkannya, meskipun masih berkesan seperti orang yang sedang menggeram.
"Dia berbohong..." Ibu suri menjawab cepat, tapi kekecewaan segra menyeruak pada wajah Zhao Juren, kesedihan datang menggulung seperti badai pada matanya yang hitam itu.
Dia sangat mengenal ibu suri ini, dia sangat mengenal perempuan yang telah mengasuhnya sejak kecil ini dan selalu di panggilnya dengan bibi itu.
__ADS_1
Bibinya itu tak pernah bisa menyembunyikan apapun darinya, dia tahu benar ibu suri sedang berusaha membohonginya.
"Kenapa? Kenapa bibi melakukannya padaku?" Suara panglima yang paling gagah di Yanzhi itu terdengar parau dan putus asa.
Betapa tidak, hati anak yang mana yang tidak akan menjadi sakit ketika ibunya sendiri yang sesungguhnya melahirkannya, menukarnya dengan mayat bayi lain dan mengumumkan kematian anaknya pada dunia.
Anak yang mana yang tidak akan menjadi sangat terluka ketika seorang ibu yanag selalu ada di dekatnya tak pernah mengakuinya sebagai anak.
Untuk apapun alasannya, sungguh sulit menerima kenyataan seperti itu jika memang adalah kebenaran.
Dia merasa selama ini tak lebih dari hidup dalam dunia semu, menjadi orang lain dan penuh dengan kepalsuan.
"Juren...dengarkan bibi..." Wajah ibu suri yang cantik itu seketika tapak menua dalam raut wajah yang begitu menyedihkan dan putus asa, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pengawal Cun yang memegang kedua lengannya dengan erat.
"Bibi..."Zhao Juren menyebutkan panggilan itu dengan kesediahan yang luar biasa.
"Bibi, kenapa itu harus bibi?" Zhao Juren masih mengguman dengan kepala yang tertunduk lesu. setetes bulir bening jatuh di sudut matanya.
Dia memanggil ibu dan ayah selama ini pada bibi dan pamannya sendiri sementara orang yang seharusnya dipanggilnya ibu selelu mengatakan padanya.
"Akulah bibimu, Juren...akulah bibi yang menyayangimu."
"Juren...maafkan aku Juren...maafkan aku..." Akhirnya air mata ibu suri jatuh, meskipun permintaan maaf yang diucapkan ibu suri hanya seperti isyarat dibibirnya tapi Zhao Juren seperti mendengarnya dengn jelas.
Ibu Suri tiba-tiba berontak sekuat tenaga dari cengkeraman pengawal Cun, dia menarik sebuah belati kecil dari dalam saku lengan jubahnya yang lebar dan berlapis-lapis itu, dia merangsek ke arah Yang Mulia Yan Yue.
Dia meraung ke arah Yang Mulia Yan Yue dengan belati yang terhunus menuju jantung sang raja.
(Nantikan episode selanjutnya ya, sebentar lagi...😘
__ADS_1
otewe crazy UP hari ke-6 buat semua pembaca kesayangan selir persembahan🤗 jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMENnya yah buat semangat nulis, kalau ada kopi, bunga dan semacamnya author lebih semangat lagi🤣🤣🤣)