
Wanita itu duduk membelakangi pintu, dengan kepala yang tak ada rambut sehelaipun di sana. Licin seperti batok.
Di dalam kuil Sunyen yang sepi dia merenungi semua perjalanan kehidupannya, mencoba mengulang tiap jengkal memorry, mengais kesadaran ata kesalahan yang telah diperbuatnya.
Pakaiannya dari katun biasa, dengan warna biru muda polos, terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang kencang terawat hanya saja tampak putih pucat.
Ibu suri menjalani hukuman yang diberikan padanya, bukan hukuman mati atau hukuman kurungan, tapi dia dikirim ke kuil Sunyen untuk merenungi dosa-dosanya, persis seperti Jiu Fei yang telah dikirim olehnya ke tempat ini.
Permaisuri Yi dan Yang Mulia telah sepakat untuk tidak membiarkan ibu suri harus kehilangan kehormatannya demi melihat Zhao Juren, putra yang mencintainya.
Tapi sepanjang hidupnya dia diasingkan di dalam kuil Sunyen, tidak boleh keluar tanpa pengawasan penjaganya.
"Hukuman yang pantas bagi ibu suri adalah berdoa sepanjang sisa hidupnya di tempat yang tenang dan damai, dengan begitu jika suatu saat dia meninggal maka dia tidak akan malu untuk bertemu para leluhur Yanzhi."Xiao Yi mengatakan itu kepada yang Mulia, saat mempertimbangkan hukuman apa yang pantas di terima ibu suri.
Seorang laki-laki muda dalam jubah ungu lembut dan rambut yang terurai panjang, masuk perlahan, langkahnya hampir tak kedengaran.
Dia berdiri begitu lama di sana memandang punggung ibu suri, sebelum kemudian dia angkat suara,
"Ibu..."
Ibu suri yang tak lagi mempunyai rambut itu membalikkan badannya. Dia tercengang melihat siapa yang kini datang.
Ibu Suri seolah sedang melihat hantu.
Sungguh, sepanjang siang dan malam dis hanya selalu berdoa untuk anak ini, berharap Tuhan menukarkan nyawanya untuk tetap membuat Zhao Juren hidup.
"Juren..." Suaranya yang parau itu terdengar terkejut, menatap laki-laki berjubah ungu yang berdiri di belakangnya.
"Apakah kamu masih hidup?" Tanyanya, meski dia masih dalam posisi duduk.
"Aku tidak akan mau mati sebelum bertemu dengan ibu." Jawab Zhao Juren dengan tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sekeruh langit di musim penghujan.
Dia tidak menyangka anak yang telah di buatnya menderita itu mau datang kepadanya setelah apa yang di lakukannya.
"Ibu, apakah ibu merindukan aku? " Pertanyaan itu terasa memilukan saat keluar dari bibir Zhao Juren.
"Juren..." Ibu suri berdiri dari bersimpuhnya, jubah katunnya yang berwarna kuning pucat itu sampai tanah.
__ADS_1
Zhao Juren hampir tak bisa menahan air matanya, melihat keadaan sang ibu.
Dia terbiasa melihat ibu suri dalam pakaian sutra mewah, rambutnya yang hitam panjang akan di gelung dengan rapi dan diselipkan berbagai hiasan rambut yang indah dari emas, perak, giok dan mutiara. Wajahnya pasti akan di beri riasan tidak polos pucat seperti ini, yang membuatnya menjadi bertahun-tahun lebih tua.
Sekarang melihat apa yang ada di depannya, pemandangan ini mendadak menjadi amat ganjil.
"Apakah ibu baik-baik saja?" Semua pertanyaan Zhao Juren yang beruntun tak bisa di jawabnya, kecuali air matanya yang turun tak bisa ladi di bendungnya.
"Kenapa kamu datang kemari?" Tanya ibu suri dengan gemetar. Dia merasa malu menyadari keadaannya yang begitu menyedihkan untuk dilihat.
"Aku datang ingin melihat ibu." Jawab Zhao Juren serak.
Ibu Suri menggeleng-gelengkan kepalanya, mundur selangkah.
"Apakah kamu datang ingin mengejekku?"
Zhao Juren terperangah saat mendengar ibunya itu bertanya demikian.
"Aku tak akan pernah mengejek ibu..." Sahutnya sedih.
"Lihatlah, apa yang bisa ku lakukan untukmu sekarang?" Ibu Suri tertawa serak, sambil menertawakan dirinya.
"Aku tidak memerlukan apa-apa lagi, ibu. Aku tidak memerlukan apa-apa." Zhao Juren memotong kalimat ibu suri sembari memggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi..."
"Aku tidak ingin apapun ibu, aku hanya ingin melihat ibu tetap hidup." Zhao Juren maju ke depan dengan perlahan, lalu dalam kesedihannya dia membungkukkan badannya dan bersimpuh di kaki sang ibu.
"Juren..." Rasa haru menyeruak, membuat ibu suri gemetar di tempatnya berdiri.
Anak kandungnya yang selalu di panggilnya dengan keponakan itu, mencium kakinya sekarang sebagai seorang putra yang penuh kerinduan pada ibunya.
Rasa berdosa yang bergelombang menghantam dadanya terdalam, betapa tidak, seharusnya anak ini membencinya dan kehilangan rasa hormat kepadanya akibat semua perbuatannya pada Zhao Juren.
Tapi, apa yang diterimanya sekarang, betapa adalah kebalikannya. Dengan rendah hati anak itu sekarang sedang bersimpuh di kakinya.
"Aku telah menikammu, Juren. Aku hampir saja membunuhmu." Desisnya, seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri dengan perbuatannya.
__ADS_1
"Jangan mengingatnya lagi, ibu. Itu hanyalah kesalahan yang tak pantas untuk di ingat."
Jawaban Zhao Juren membuat kaki ibu suri terasa lemas, kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Ibu Suri terduduk di depan putranya yang bersimpuh itu.
"Maafkan aku jika sebagai anak telah membuat ibu malu...aku minta maaf jika harus membuat ibu menderita saat melihatku." Ucap Zhao Juren dengan bibirnya yang nampak memucat.
"Jangan berkata seperti itu." Ibu Suri membiarkan air matanya runtuh di depan Zhao Juren. Kedua tangannya memegang bahu Zhao Juren dengan tangan yang gemetar.
"Aku telah sangat berdosa padamu, Juren. Aku telah membuatmu kehilangan status dan identitasmu. Aku telah membuatmu kehilangan separuh hidupmu dan semua kebahagiaanmu."
"Aku tidak menyalahkan ibu." Zhao Juren menyahut sambil menelan ludahnya yang terasa hampir membuatnya tersedak.
"Tapi seharusnya aku memberikanmu sebuah kedudukan yang layak."
"Aku mencintaimu, ibu...tanpa harus memiliki apa-apa. Aku mencintaimu tanpa harus membuatmu menderita memikirkan diriku.
Aku hanya ingin ibu memelukku saja..." Zhao Juren menundukkan wajahnya, di depan orang yang sangat di hormatinya sedari dulu itu.
Ibu Suri meraih tubuh gagah itu, memeluknya dengan badan gemetar. Dia tidak tahu hati anaknya itu terbuat dari apa, sehingga memaafkannya begitu saja tanpa mempermasalahkan bagaimana menderitanya dia selama ini karena perbuatan sang ibu yang jahat.
Anak yang telah dikecewakan sedemikian dalamnya itu memaafkannya tanpa dendam secuilpun.
Ibu Suri menangis sejadi-jadinya, memeluk Zhao Juren. Pelukan seorang ibu yang sangat rindu, pelukan seorang ibu yang kehilangan separuh hidupnya menelantarkan seorang anak dengan cara yang begitu tak berperasaan, pelukan seorang ibu yang penuh dengan selaksa penyesalan.
"Aku mencintaimu anakku Juren, aku mencintaimu...hanya saja aku tak tahu caranya." Isak ibu suri, dia merasa tersesat dalam hidupnya sendiri akibat rasa benci, iri dan dengki yang memenuhi rongga dadanya, memenuhi hatinya bahkan mengalir di dalam darahnya.
Zhao Juren membalas pelukan ibunya dengan erat, dia tak bisa berbicara lagi.
Sungguh ini adalah satu-satunya yang di inginkannya, mendapatkan kasih sayang dari orang yang melahirkannya.
Dia tidak memerlukan jabatan dan kedudukan, dia tidak menginginkan tahta atau sebuah kerajaan.
Zhao Juren hanya menginginkan cinta tulus dari ibu yang mengakuinya tanpa mengabaikannya lagi.
(Terimakasih tetap setia dengan kisah ini...selalu sayang dengan bala readers selir persembahan🙏😘 Jangan lupa dukungannya ya buat novel ini. Love You sekebon kerajaan Yanzhi😅)
__ADS_1