SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 63 SEBUAH ANCAMAN


__ADS_3

Yang Mulia Yan Yue merenggangkan pelukannya, memegang kedua bahu Xiao Yi yang ramping itu.


"Chenxing, dari hari ini bukalah matamu lebar-lebar. Istana bukanlah tempat terindah seperti yang di impikan banyak orang. Istana adalah tempat orang merasa kejahatan untuk menjatuhkan orang lain adalah hal yang begitu lumrah, kemunafikan dan tipu daya berkumpul seperti ular yang bersembunyi dalam liang. Jika kamu tak waspada maka dia akan mematukmu." Kata Yang Mulia.


"Aku akan menyelidiki hal ini, demi keadilan untukmu dan untuk selir Yuan." Lanjutnya.


Xiao Yi menganggukkan kepalanya dengan keras. Dia akan melakukan apapun untuk membuktikan dia tidak bersalah.


"Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan kepadamu." Yang Mulia membawa Xiao Yi duduk di atas sebuah balai sederhana dari kayu.


"Jian telah menginterogasi pelayanmu yang mengantarkan sup padaku, dia mengatakan orang terakhir yang memegang rantang sup untuk selir Yuan adalah seorang pelayan dari dapur istana.


Kasim Chen telah memeriksanya, tidak ada pelayan dapur yang ciri-cirinya sama dengan apa yang di deskripsikan oleh pelayanmu di dalam dapur istana.


Bahkan kepala dapur istana sudah tidak melihatnya dari pagi. Apakah kamu mengingatnya?"


Ingatan Xiao Yi seketika tertuju pada seorang pelayan wanita muda bernama Huanran. Bukankah dia yang membantu membawakan rantang sup ke tempat selir Yuan?


"Ya, aku mengingatnya Yang Mulia, dia bernama Huanran!" Sahut Xiao Yi dengan mata membulat.


"Tapi dia terlalu penakut untuk bisa meracuni orang? Dan lagi, apa motifnya meracuni selir Yuan" guman Xiao Yi, tidak yakin.


"Dia adalah orang yang paling mencurigakan. Dan motif bisa saja datang atas perintah orang lain." Yang Mulia menatap wajah polos Xiao Yi, yang menurutnya sungguh terlalu lugu karena gampang saja menarih kepercayaan pada orang lain.


"Chenxing, selama sepuluh tahun terakhir ini, aku telah menyelidiki banyak hal secara diam-diam di dalam istanaku sendiri. Banyak kebobrokan di dalamnya, bahkan dari kerabatku dekatku. Banyak kejahatan yang telah terjadi kemudian di kubur untuk menutupi kejahatan yang lainnya." Yang Mulia menghela nafasnya.


"Bahkan setiap keputusanku sebagai raja selalu dibayangi oleh dewan istana dengan menggunakan hak dan hukum negara, untuk menyembunyikan korupsi dan kejahatan yang di lakukan oleh para pejabat istana. Ada kekuasaan yang lebih besar diam-diam mendukung mereka."Mata Yang Mulia menatap dalam ke dalam bola mata secerah kejora itu.


"Selama aku tak bisa mengungkapkan bukti-bukti terhadap kejahatan itu, aku tak bisa menyeretnya untuk di adili. Chenxing, kamu terlalu dekat denganku dan banyak orang yang tidak menyukai itu. Jika hanya seorang selir Mei yang tak menyukaimu aku tidak akan sewaspada ini. Tapi aku takut seseorang lain yang lebih dari sekedar selir merasa kamu menjadi ancaman baginya." kata Yang Mulia perlahan.


Inilah yang paling ditakutkannya, inilah yang paling dijaganya, jika terulang kejadian yang sama pada orang yang dicintainya. Dan tanpa bukti maka dia hanya akan menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Aku? sebagai ancaman?" Xiao Yi mengernyit dahinya, mencoba mengingat apa yang telah di lakukannya sehingga membuat orang terancam.


Dia merasa tidak menginginkan kekuasaan, dia tidak berharap menjadi selir tinggi tingkat Furen. Meskipun hanya sebagai selir rendahan, dicintai oleh Yang Mulia dia merasa lebih dari cukup.


"Suatu saat kamu akan mengerti dengan sendirinya, sekarang jawab pertanyaanku, apakah kamu mengingat hal lain tentang pelayan yang membawa rantang itu?" Yang Mulia memicingkan matanya.


"Ya, aku mengingat wajahnya dengan baik, karena aku sempat sedikit berbicara dengannya." Xiao Yi berusaha mengingat kembali tentang pelayan bernama Huanran itu.

__ADS_1


"Oh, iya...aku tahu satu hal, dia mengatakan dia adalah pelayan dapur istana yang berasal dari sebuah desa di lereng bukit Zhieshan! Kalau tidak salah dia menyebutkan sebuah nama desa..." Xiao Yi mengumpulkan segenap ingatannya.


Dia merasa harus bertemu dengan gadis bernama Huanran itu, setidaknya ada harapan untuk membuktikan dirinya sungguh tidak bersalah.


"Dia mengatakan berasal dari desa...desa Shanpo..." Xiao Yi mengucapnya agak ragu.


"Ya, dari desa Shanpo!"Ulangnya dengan yakin.


"Sekarang, kita harus ke sana...!" Yang Mulia berdiri. Xiao Yi ikut berdiri.


Yang Mulia sesaat menatap gadis yang bergaun sutra tapi agak kotor dan kumal itu. Matanya nampak menyipit.


"Jian!" tiba-tiba Yang Mulia berteriak.


Jian muncul segera di pintu,


"Ya, Yang Mulia..."


"Ambilkan baju gantiku dari bibi Feng."


Jian sejenak bingung,


"Yang Mulia ingin berganti baju?"


Tanpa bertanya lagi Jian Keluar menemui bibi Feng yang menjaga rumah singgah Yang Mulia dalam penyamaran di luar tembok istana itu.


Jian muncul, menyerahkan pakaian katun laki-laki berwarna gelap, pakaian Yang Mulia jika menyamar di luar istana.


Setelah Jian keluar, Yang Mulia menyodorkan pakaian itu pada Xiao Yi.


"Pakailah."


"Tapi ini pakaian laki-laki." Xiao Yi menerimanya dengan muka masam.


"Lebih baik kamu memakai pakaian bersih ini dari pada gaunmu itu. Dan lagi kita akan naik kuda menuju lereng Zhieshan, kamu akan kerepotan nanti jika berpakaian seperti itu." Yang Mulia mundur dan duduk di balai-balai sambil mengawasi Xiao Yi


"Cepatlah, nasib pelayanmu ada di tanganmu. Jika kamu terlambat kembali ke sel itu, kita akan mendapat masalah besar" desak Yang Mulia.


Xiao Yi sesaat menoleh ke kiri dan ke kanan, ruang itu tidak terlalu besar hanya sebesar kamar saja, dan tak ada penyekat apapun di sana.

__ADS_1


"Aku berganti di sini?" tanya Xiao Yi ragu.


Yang Mulia menggedikkan pundaknya sambil menarik sudut bibirnya, pertanda Xiao Yi tak punya pilihan lain.


"Palingkan wajahmu sebentar Yang Mulia." Pinta Xiao Yi sambil berjalan ke sudut, lalu membuka gaunnya dengan cepat.


Dan dengan senyum lebar Yang Mulia sekarang berpaling langsung ke arah Xiao Yi, menatap gadis itu melepas pakaiannya.


"Dasar keras kepala!" Xiao Yi bergumam dengan kesal.


"Sudahlah Chenxing tak usah malu begitu, aku sudah melihat lebih dari itu." Yang Mulia terkekeh nakal.


Xiao Yi segera berganti dengan muka masam.


"Andai kita tidak memiliki masalah yang lebih penting, mungkin aku akan mengurungmu dalam kamar ini" Yang Mulia berdiri kemudian memeluk Xiao Yi dari belakang.


Mulutnya tak berhenti menyeringai melihat gadis itu menggunakan pakaiannya dengan kedodoran. Xiao Yi mengangkat pinggang celana itu tinggi-tinggi supaya tidak jatuh di lantai, dan Yang Mulia membantu mengikatnya.


Yang Mulia tak bisa menahan tawanya melihat Xiao Yi yang seperti anak kecil, menggunakan baju ayahnya.


"Jangan tertawa seperti itu! tidak lucu!" Xiao Yi merengut. Yang Mulia melingkarkan tangan di pinggangnya, sempat-sempatnya mendaratkan sebuah ciuman di pipi Xiao Yi.


"Dasar nakal!"


Xiao Yi melepaskan diri, melangkah menuju pintu, nasib Chu Cu dan nasibnya lebih penting dari urusan yang lain.


Tidak lama, lima ekor kuda berlari cepat membelah malam, berlomba menuju desa Shanpo di lereng bukit Zhieshan.


Yang Mulia, Xiao Yi dan tiga orang pengawal pribadi Yang Mulia.


Mereka harus menemukan Huanran, yang menghilang dari istana. Nasib Xiao Yi ada di tangan pelayan itu.


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya hari ini๐Ÿ™๐Ÿ˜…...


...jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...


...Biar author tambah rajin UP๐Ÿ™โ˜บ๏ธ...


...Author sayaaaang banget dengan kalian๐Ÿคญ...

__ADS_1


...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...



__ADS_2