
Xiao Yi terdiam di depan cermin, membiarkan Chu Cu melepaskan gelungan rambutnya, melepaskan jepitan dan tusuk rambut yang melekat di sana.
Raut wajahnya tampak sedih terpantul di kaca, saat benaknya melayang pada wajah Yang Mulia.
Satu malam telah berlalu, setelah peristiwa di aula Guangli, di mana Yang Mulia bersikap begitu keras dan berbeda.
Pias itu terasa begitu menyusup di dalam ingatannya.
Yang Mulia yang selalu tenang itu, menjadi seperti seekor singa yang sangat murka.
Dia tahu, Yang Mulia akan selalu menanyakan padanya jika ingin mengambil keputusan yang berhubungan dengan dirinya, tapi kemarin dia hanya tercengang, saat Yang Mulia bersikukuh akan menobatkannya menjadi permaisuri utamanya.
Dia tidak mangkir, sebagai seorang istri, merasa diutamakan oleh suami adalah hal yang sangat membahagiakan tapi di sisi lain, ketika dirinya merasa hanya seperti seorang yang tak di anggap, rasanya menjadi sangat memilukan.
"Chu Cu, apakah Yang Mulia ada mengirim kabar dari Rongyu?" Tanya Xiao Yi pelan.
"Belum ada, nyonya...." Chu Cu menjawab hati-hati.
"Pengawal Cun hari ini yang bertugas menjadi kepala penjaga wisma Xingwu, nyonya bisa menanyakan kepadanya, soal Yang Mulia." Tawar Chu Cu.
"Tidak perlu." Xiao Yi merapikan jubah tidurnya yang berwarna putih susu itu, dia nampak begitu bersih dan bersinar.
Xiao mengelus perutnya yang terasa begitu cepat membucit, rasanya tak sabar untuk bertemu bayi kembar yang kini berada di dalamnya.
"Yang Mulia begitu marah padaku..." Keluh Xiao Yi, sambil mengelus perutnya berulang-ulang.
"Yang Mulia marah tidak akan lama, Yang Mulia akan segera datang pada nyonya seperti biasanya." Chu Cu tersenyum kecil, tidak sekedar menghibur tapi dia sangat yakin semarah apapun Yang Mulia pada Xiao Yi, dia tidak akan bisa menahan rindu pada nyonyanya itu.
"Yang Mulia tidak pernah seperti ini..." Xiao Yi seakan tak mendengar suara Chu Cu, dia terlarut dalam perasaannya sendiri.
Dia tertunduk menatap ke arah perutnya, rasa sedih membuncah tak tertahan, dua bulir bening jatuh di atas punggung tangannya sendiri.
Dia tak tahu air matanya karena apa, karena sungguh dia tak bisa membedakan antara rasa sedih dan rasa rindu yang semuanya bermuara pada orang yang sama, yaitu Yang Mulia.
Begitu lama dia terpekur, menghabiskan puluhan detik menunggu buliran air matanya yang jatuh itu meleleh diatas kulit putihnya yang merona.
__ADS_1
Chu Cu menyisir perlahan rambut panjang majikannya dan selalu mengagumi wajah cantik Nyonyanya itu.
Tapi saat dia menatap ke cermin, segera dia terpana mendapati satu sosok yang telah berdiri tidak jauh dari belakangnya, di balut jubah kuning tua pucat, tapi wajahnya tetap begitu agung dan tampan.
Sebelum sempat Chu Cu sadar untuk mberi penghormatan, Yang Mulia telah memberi isyarat meminta sisir kayu dari tangan Chu Cu dan menyuruhnya pergi tanpa suara hanya dalam satu gerakan tangan.
Dan di detik berikut, dengan perlahan dan lembut Yang Mulia mulai menyisir rambut indah istrinya itu.
"Apakah Yang Mulia tidak merindukan aku seperti aku merindukannya?" Desah Xiao Yi.
"Kalau dia marah padaku, aku akan menerimanya, tapi aku tak bisa menanggung kalau Yang Mulia membenciku dan tak ingin melihatku lagi. Lebih baik aku mati jika...Akh...!"
Xiao Yi terpekik sebelum menyelesaikan kalimatnya saat sisir di kepalanya terseret dalam di kulit kepalanya.
"Chu Cu!" Xiao Yi reflek memegang kepalanya dan mengangkat wajahnya ke arah cermin dengan mimik kesakitan.
Tapi mimik itu segera berubah jadi tatapan terkejut, bibirnya yang sudah terbuka tetap dalam posisinya, menatap pada raut yang tidak suka itu.
"Jika kamu mengulang kata-kata itu lagi, maka aku akan benar-benar membencimu." Ucapnya datar, sisir dari kayu mahoni yang di pegangnya jatuh begitu saja dari genggamannya, menimbulkan bunyi tergeletak di lantai.
Sesaat suasana menjadi hening, mereka saling bertukar tatap di pantulan kaca.
"Chenxing, rinduku padamu lebih menyiksa dari pada menyimpan amarah." Yang Mulia memeluk leher Xiao Yi yang masih duduk tercengang.
"Jangan pernah mengatakan kamu akan mati, karena sampai tanah merah ke tujuh, aku akan menyusulmu jika itu terjadi. Selama dirimu berada di bawah langit Yanzhi, tak akan ku ijinkan kamu meninggalkankan aku." Nada suara yang bergetar hangat itu, malah membuat tangis Xiao Yi yang di tahannya beberapa malam ini meledak dari tempatnya.
"Yang Mulia...." Xiao Yi menangis sambil memeluk dua lengan kokoh yang bergelung di lehernya. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Aku kira Yang Mulia telah membenciku." Xiao Yi tak pernah menangis begitu lepas sanpai bahunya berguncang-guncang setelah sekian lama, tapi perasaan takut kehilangan Yang Mulia ternyata bisa mendesak kesedihannya begitu dalam.
"Chenxing...." Yang Mulia mengangkat bahu Xiao Yi supaya berdiri kemudian membalikkan tubuh selir kesayangannya itu dengan perlahan.
"Aku tidak bisa marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri yang begitu lemah. Sekarang, aku menyadari alasan mengapa orang-orang yang kucintai akan berakhir tragis jika berada di dekatku..." Yang Mulia terdiam, rahangnya yang kokoh mengeras,
"Karena aku lemah dan tidak berani melindungi apa yang aku miliki. Aku tidak akan mengulang hal yang sama lagi. Karena itu, mulai hari ini aku berjanji padamu, aku tidak akan membiarkan seorangpun membuatku takut dan ragu lagi. Aku akan berdiri di atas kakiku untuk menentang siapapun yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku!" Lanjutnya dengan pias keras penuh tekad.
__ADS_1
Mata sehitam batang Willow di musim dingin itu, pekat menusuk sampai ke jantung Xiao Yi, mematri janji yang membuat darah Xiao Yi mengalir hangat.
Yang Mulia menarik tubuh Xiao Yi ke dalam dekapannya, memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepasnya lagi.
Tubuh mereka menyatu dengan kaku, sementara dada mereka berdebar berirama.
"Aku akan melindungimu dan anakku, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku, akan ku lakukan tanpa ragu." Bisik Yang Mulia, lembut dan pasti.
Xiao Yi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan percaya.
"Aku tak akan menyembunyikan apapun dari Yang Mulia mulai hari ini. Aku tak akan takut lagi. Aku berjanji." Xiao Yi membalas pelukan Yang Mulia dengan erat.
Yang Mulia melonggarkan pelukannya, lalu menarik wajah Xiao Yi mendekati wajahnya, di tatapnya mata kejora yang senantiasa di rindukannya itu. Dengan perlahan di kecupnya mata Xiao Yi selembut kapas yang melayang.
Tanpa suara lagi, dengan sedikit membungkuk diciumnya bibir ranum Xiao Yi, yang terdiam pasrah dalam kerinduan yang sama.
Dengan gerakan perlahan, jemarinya sudah berada di belakang leher Xiao Yi, jemarinya berada di sela-sela rambut istrinya yang serupa sutra hitam itu, mendorong pelan kepala Xiao Yi pada wajahnya.
Lidahnya yang panas membara, mengetuk pintu bibir itu supaya sedikit lebar terbuka, menyesapnya seperti anggur yang manis.
Bibir itu begitu nyaman untuk dinikmati, menawarkan kepuasan dari dahaga yang tak tertahan.
"Aku mencintaimu, Chenxing...." Entah untuk keberapa kali dia mengucapkannya dan tak pernah bosan mengatakannya bahkan jika harus ribuan kali lagi melakukannya.
Terimakasih untuk dukungannya buat novel ini, Vote, like, komennya adalah penyemangat author untuk terus memberikan karya terbaik untuk para readers tersayang😊🙏
Di episode berikutnya, kita akan bertemu ibu Suri dan para pendukungnya, nantikan bagaimana konflik ini membuka banyak rahasia dan ambisi di baliknya.
Perjalanan Selir persembahan kita yang cantik ini memang penuh liku untuk menjadi seorang permaisuri, Sebesar apakah rintangan yang akan di hadapi Xiao Yi dan Yang Mulia Yan Yue, tetap ikuti novel ini yaaa...
Sebentar lagi akan tamat😊 Doakan, yaaa🙏😊
Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Semoga Author semakin rajin UP, ya...🙏😂...