SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 138 KEKACAUAN DI AULA AGUNG


__ADS_3

"Saya mengucapkan terimakasih untuk semua kepercayaan rakyat Yanzhi, untuk menjadikan saya sebagai pendamping utama Yang Mulia.


saya tahu ini adalah tugas yang berat, tapi saya berjanji untuk mempertaruhkan nyawa menjaga kehormatan Negara Yanzhi ini." Jemari Xiao Yi terlihat gemetar, kedua tangannya memegang cawan anggur itu.


Yang Mulia tersenyum meskipun menjadi sedikit tidak nyaman dengan sikap Xiao Yi yang tampak seperti ingin mengatakan sesuatu padanya itu, tidak pernah dia melihat Xiao Yi menjadi seragu itu.


Di dalam upacara itu sangat jarang seorang permaisuri berbicara apapun, kecuali langsung menerima anggur itu dan meminumnya.


Xiao Yi terkesan seperti sedang mengulur waktu, tetapi Yang Mulia tidak tahu maksud di balik sikap Xiao Yi.


Ibu suri dan semua antek-anteknya tampak menunggu dengan tak sabar, mereka benar-benar sangat ingin melihat Xiao Yi terkapar setelah meminum anggur itu.


Dan di posisi Xiao Yi, jika dia mencurigai atau mengetahui sesuatu tentang anggur itu dan dia tidak mau meminumnya maka semua jari akan ditunjukkan padanya, mengatakan bahwa dia tidak ingin melakukan sumpah setia terhadap Yanzhi.


Tak ada yang akan bisa membela orang yang melecehkan upacara suci ini, karena dia tentulah orang yang berniat untuk menghina Negara dan mengkhianati rakyat Yanzhi di depan orang banyak.


Perlahan Xiao Yi mengangkat anggur itu, ke depan wajahnya, tatapannya menembus gelas kaca itu sampai pada Zhao Juren yang sedang menatapnya dengan tubuh kaku dan bergetar, tangannya terkepal, sementara tangannya yang lain meraba hulu pedang yang ada dibalik pinggang baju kebesarannya.


Di dalam area itu, pada saat upacara, semua undangan tidak boleh membawa senjata, kecuali panglima Zhao Juren, Jenderal Jijuong yang bertanggungjawab dalam keamanan acara dengan para para pengawal khusus raja yang berpakaian sutera hitam dan ikat kepala berwarna putih, yang menandakan mereka adalah pengawa milik raja, hanya mereka yang memegang senjata.


Sementara para prajurit pengawal keamanan, mereka ada di luar aula, berjaga-jaga sampai dengan luar tembok yang penuh dengan rakyat menunggu saat sang permaisuri di arak keluar di dalam kereta berukir burung hong yang megah.


"Jangan meminumnya, Xiao Yi...ku mohon..." Zhao Juren menatap tak berkedip, berharap Xiao Yi mendengar bisikannya dalam hati.


Berdiri ditempat Xiao Yi adalah dilema, seperti simalakama dan ketika dia tahu itu membahayakan hidupnya tetapi tetap melakukannya, maka apa yang bisa diperbuatnya?

__ADS_1


Cawan anggur itu perlahan mendekati bibir merah Xiao Yi yang semerah anggur yang akan diminumnya.


"Terimalah hormat saya Yang Mulia...dengan meminum anggur ini, saya menyerahkan hidup saya selanjutnya ke tangan Yang Mulia..." Bisiknya parau hampir tak terdengar.


Lalu, dengan cepat anggur di dalam cawan itu diteguknya, dan dalam sekejap tak bersisa setetespun.


Zhao Juren tercengang ditempatnya, dia tak bisa berkata apa-apa, kerongkongannya seperti tersumbat, kakinya mati rasa. Tangan kanannya melekat di hulu pedangnya tanpa bergerak lagi.


Ketika dia kan melompat ke tengah ruangan itu, cawan yang berada di tangan Xiao Yi, jatuh ke atas lantai batu, memperdengarkan suara pecah berderai saat menghantam lantai.


Dan kemudian Xiao Yi, terjatuh tersungkur memegang lutut Yang Mulia, dengan diiringi suara teriakan dari banyak orang.


"Chenxing...!!!"Teriakan Yang Mulia membahana, terkejut dengan apa yang terjadi pada Xiao Yi, Zhao Juren melompat ketengah aula, segera setelahnya suasana riuh dan menjadi panik.


"Chenxing...! Chenxing....! Ada apa denganmu, Chenxing?" Yang Mulia berteriak terkejut sambil meraung, menangkap badan Xiao Yi seperti seorang serigala yang terluka.


Suara peluit yang aneh membahana di udara seiring dengan jatuhnya Xiao Yi, dan para pengawal yang berada di luar aula utama itu segera memenuhi ruangan dengan pedang yang terhunus di tangan.


Mereka maju kedepan, merangsek dan menyerang semua pengawal khusus yang Mulia dengan cara mendadak dan anehnya, pengawal khusus raja yang biasanya garang itu tak memberikan perlawanan berarti.


Mereka terlalu mudah untuk di pukul dan tersandera.


Suasana menjadi panik dan penuh ketegangan dalam sekejap. Teriakan-teriakan ketakutan, berubah menjadi suara dengung dan tangisan, ketika hampir semua leher di letakkan ujung pedang.


"Apa yang terjadi?! Kenapa kalian menyerang aula kebesaran?" Suara Zhao Juren menggelegar, matanya tertuju pada wakilnya Jenderal Jijuong.

__ADS_1


Beberapa pedang itu di lepaskan, dari leher orang-orang yang kini tersenyum aneh. Ibu Suri, Gubernur Qian Lie dari Youwu, Gubernur Xiang dari handong, ketua Xi bing, Menteri urusan keuangan dan pajak Tuan Li Kang bersama beberapa pejabat penting dan hampir separuh bangsawan yang merupakan antek dari ibu suri, di lepaskan dari ancaman pedang para penyandera yang jumlahnya hampir separuh lebih besar dari para tamu dan pengawal raja itu.


"Juren, kembalilah ke tempatmu..." Ibu suri melangkah maju dengan senyum yang terkembang, melihat yang Mulia mendonggak tak berdaya sambil memeluk Xiao Yi yang matanya terpejam seolah sedang kehilangan kesadarannya.


Zhao Juren yang tampak bingung dan tak percaya dengan apa yang sedang di lakukan ibu suri, tercengang. Dia melihat kepada pengawal Jian yang berdiri di tempat tak bergerak, bersama pengawal Cun dalam posisi melindungi yang Mulia dan Xiao Yi sementara mereka dikepung oleh jenderal Jijuong, wakil dari panglima Zhao Juren dalam tatanan kemiliteran.


"Bibi, kenapa bibi melakukan semua ini?" Zhao Juren tiba-tiba tersungkur ketika sebuah jarum terbang di lemparkan kepadanya oleh Jenderal Jijuuong, tepat di belakang lehernya. Dia tidak waspada pada serangan mendadak itu karena begitu fokus pada ibu suri.


Jarum terbang itu dilapisi oleh racun bius yang jika orang terkena akan mengakibatkan lumpuh syaraf motorik sementara.


Dia tetap dalam keadaan sadar dan bisa mendengarkan tapi dia tak bisa bergerak dan berbicara.


"Ibu Suri...! Apa yang kamu lakukan pada Selir Yi?" Yang Mulia berteriak menghardik dalam suara parau dan putus asa. Dia sangat ketakutan terjadi sesuatu pada Xiao Yi.


"Yan Yue..." Ibu Suri menyeringai dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Aku sudah mengatakan padamu, jangan memaksa untuk menjadikan selir rendahan itu sebagai permaisurimu." Ucapan itu terdengar begitu ringan dan tanpa rasa berdosa, ekor matanya melirik kepada Zhao Juren yang tersungkur dengan badan kaku, rahangnya tampak gemetar seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi dia tak bisa melakukannya.


"Kenapa kamu melakukannya pada seorang wanita tak berdosa dan sedang mengandung...? Ini adalah perbuatan iblis..." Airmata Yang Mulia jatuh, sambil memeluk Xiao Yi yang terasa masih hangat.


"Panggilkan tabib sekaraaaaang!" Yang Mulia berteriak memerintah orang-orang di sekelilingnya.


Tapi, semua diam, tak bergerak, tidak ada yang berani bergerak. Orang tua Xiao Yi dan saudara-saudaranya bahkan sudah hilang dari antara para tamu di sana, mungkin telah di tangkap dan di singkirkan dari ruangan itu.


Para selir berdiri meringkuk diujung singgasana dihalau seperti anak hewan peliharaan, di bawah ancaman pedang dua orang berpakaian pengawal.

__ADS_1



__ADS_2