SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 70 KORBAN DARI TAKDIR


__ADS_3

Sekali lagi aula Guanli menjadi riuh rendah, terkejut dengan permohonan dari selir Yi.


Semua wajah terkesima, tak terkecuali ibu suri yang sedari tadi wajahnya membeku.


Selir Nuo yang semula tanpa ekspresi sekarang mengarahkan pandangannya kepada Xiao Yi dengan tatapan tak percaya, seperti halnya ayahnya yang mengangkat kepalanya dan bertahan di atas dua tangannya, mendongak seolah memastikan kebenaran dari apa yang di dengarnya.


Panglima muda Zhao Juren yang berdiri di belakang Huanran, terpesona dengan apa yang di dengarnya, seumur hidup dia hampir selalu berada di medan perang dan di tempat-tempat di mana melihat banyak kekerasan.


Selembar nyawa orang tidaklah menjadi penting meski kadang tidak memiliki kesalahan, apalagi yang benar-benar bersalah, tidak pernah diperjuangkan, karena setiap kesalahan harus bertemu ganjaran.


Yang mulia, memiringkan kepalanya, mendengar permohonan yang tidak masuk akal itu. Dia sebagai raja sekalipun, tidak akan melakukannya, karena kejahatan yang dilakukan oleh selir Nuo benar-benar tidak layak diampuni. Bagaimana bisa dia memberi keadilan kepada selir Yuan dan keluarganya, jika dia mengampuni selir Nuo.


Ayah selir Yuan, gubernur Chie Weiheng lebih murka lagi mendengar permintaan dari xiao Yi.


gadis itu seperti telah begitu meremehkan martabat keluarganya dengan mengabaikan betapa penting nyawa anaknya hanya untuk mengampuni selir Nuo yang terang-terangan telah mengakui kejahatannya.


"Omong kosong apa yang kamu katakan, selir Yi? Apakah kamu sudah tidak waras lagi?" tanya gubernur Weiheng.


Dia berdiri dan berkacak pinggang dari tempat duduknya, tangan teracung dengan amarah.


Yang Mulia tidak bisa membendung ketidakpuasan gubernur Weiheng.


"Selir Yi, apakah kamu sadar dengan yang kamu minta itu?" tanya Yang Mulia, matanya terpicing mengawasi Xiao Yi yang bersimpuh di hadapannya dan semua orang.


"Yang Mulia, apakah kematian yang sangat di inginkan oleh selir Nuo itu tidak terlalu mudah baginya? Dia sudah yakin jika dia di hukum dengan menukar nyawanya, maka dia terbebas tidak hanya dari penderitaannya tapi melunasi semua kejahatannya yang sangat besar kepadaku dan kepada selir Yuan. Apakah ini benar-benar hukuman yang bisa memuaskan semua orang?" Xiao Yi berucap sambil mengangkat wajahnya.


"Yang Mulia, hukuman apa yang lebih berat dari memaafkan orang yang telah bersalah kepada kita. Dia akan seumur hidup bernafas dalam rasa bersalah, bukankah ini lebih menyakitkan dari kematian?"

__ADS_1


"Selir Nuo telah bersusah payah memberikan penderitaan kepada oranglain dan dengan sadar akan menerima setiap konsekwensinya, ketika kita menghukumnya, ini akan setimpal baginya! Tapi apakah ini berguna? Apakah selir Yuan akan bangkit dan berjalan lagi? Apakah selir Yuan akan kembali bisa berbicara hanya dengan menukar semuanya dengan selembar nyawa selir Nuo, yang menurutnya sendiri tidak berguna itu?"


Raut muka Xiao Yi menjadi keras saat memikirkan penderitaan selir Yuan, sahabat satu-satunya di dalam istana ini, yang benar-benar menerimanya sebagai seorang teman.


"Aku adalah korban, selir Yuan adalah korban, bahkan selir Nuo juga adalah korban dari takdir dan ketidakadilan kehidupan kami sendiri. kami semua jika bertukar posisi pun, mungkin akan menjadi orang yang sama, menjadi jahat..." Xiao Yi menatap tajam kepada raja yang kini berada di tempatnya.


"Huanran, hanyalah seorang pelayan. Dia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh majikannya, apakah pantas kita memberi hukuman pada orang yang melakukan kejahatan yang tidak diinginkannya. Dua beban yang di tanggungnya sampai mati adalah rasa takut dan rasa bersalah. Dan kita yang menghukumnya merasa puas mencabut kehidupan orang yang sama sekali tidak bersalah kepada kita." Xiao Yi menoleh kepada Huanran yang pucat pasi di tempatnya.


Tadi malam, dia telah berjanji untuk menemukan Huanran dan mengembalikannya kepada kedua orangtuanya yang sudah tua itu.


Mencabut nyawa Huanran, sama dengan mencabut tiga nyawa sekaligus. Mereka hanya hidup bergantung pada anaknya itu.


"Hukumlah keduanya, dengan menjadi hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan. Kembalikan mereka ke rumah mereka masing-masing jika kita tak ingin melihat mereka lagi. Tapi ampunilah selembar nyawa mereka, untuk mereka gunakan merenungi kesalahan mereka seumur hidupnya." Xiao Yi Meletakkan lengannya di atas lantai batu dingin aula Guanli, kemudian perlahan kepalanya di turunkannya.


Xiao Yi merendahkan dirinya sampai ke tanah untuk meminta pengampunan untuk dua orang itu.


Yang Mulia jika tidak ingat dengan posisinya sekarang mungkin dia akan turun dari singgasananya dan menarik Xiao Yi berdiri, begitupun Zhao Juren, rahangnya seperti kaku karena menahan perasaannya.


Apakah gadis yang kini di depannya itu benar-benar seorang manusia, sehingga hatinya bisa sebersih itu?


Kenapa dia terlambat untuk mengenalnya, sehingga gadis itu sekarang hampir menjadi mustahil untuk dimilikinya.


Zhao Juren masih berharap, yang Mulia tidak punya perasaan apa-apa pada Xiao Yi, seperti bertahun-tahun di belakang setahu Zhao Juren, Yang Mulia menyimpan semua perasaannya hanya kepada Jiu Fei saja, itu akan lebih mudah baginya untuk membebaskan gadis itu menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupnya.


"Bangunlah, selir Yi...semua ini bukan bergantung pada keputusanmu saja." kata yang Mulia, matanya beredar kepada semua yang hadir dalam ruangan. Pada beberapa gubernur, ketua klan, kepala suku dan jajaran menteri kerajaan. Tentu saja mereka tak akan dengan mudah menyetujui permohonan itu meskipun mengalaskannya pada permohonan pita biru Yishu.


"Kenapa kamu tidak meminta menjadi seorang selir tertinggi saja, maka aku dengan mudah akan mengabulkannya?" bathin Yang Mulia.

__ADS_1


"Aku akan terus meletakkan kepalaku di bawah kaki semua orang, sampai permohonanku di pertimbangkan." Betapa keras hatinya perempuan ini, barulah Yang Mulia menyadari.


Dia hanya tahu, Xiao Yi adalah orang yang teguh pada hatinya, begitu tulus, tidak mudah menyerah dan penurut. Hanya saja dia baru tahu, gadis ini benar-benar keras kepala!


"Apakah kamu bertanggungjawab dengan puteriku selir Yuan yang sekarang lumpuh di tempat tidurnya? apakah kamu bisa membayar setiap penderitaan yang dialami oleh Yuanku? Hanya karena kebencian oranglain padamu, Yuan menerima penderitaan yang luar biasa seperti ini? Dan sekarang kamu meminta pelakunya dibebaskan begitu saja?!"


Gubernur Weiheng menuding kepada Xiao Yi dan tangannya teracung berkali-kali kepada gubernur Su Zhue dan putrinya selir Nuo yang tampak masih dalam wajah tidak percaya sekaligus tidak berdaya itu.


Perdana menteri menggelengkan kepalanya sedikit kepada yang Mulia, memberi pertimbangan bahwa permohonan Xiao Yi mungkin terlalu mustahil. Jika ada yang merasa tidak adil atas suatu keputusan, maka itu bukan keadilan namanya.


Perlahan kepala Xiao Yi terangkat kemudian terarah kepada gubernur Weiheng, matanya yang seperti kejora itu bersinar dengan wajah yang merona.


"Tuan gubernur Weiheng..." Suara Xiao Yi terdengar parau.


"Apakah jika aku berjanji pada anda tuan gubernur untuk mengembalikan selir Yuan kembali seperti sedia kala, maka anda akan mengampuni selir Nuo dan pelayan Huanran?" pertanyaan itu begitu tajam dan penuh keyakinan.


****Yang**** masih SETIA dengan novel ini, angkat jempol dan komen absen dong🤭 Author kangen🌹🥰🌹


...Jangan lupa VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP🙏☺️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...


...🙏🙏🙏...


__ADS_1


__ADS_2