SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 95 RENCANA JAHAT


__ADS_3

"Aku akan meminta Jian untuk memanggil tabib." Yang Mulia membantu Xiao Yi mengenakan kembali pakaiannya.


Wajah Xiao Yi yang memerah, dia begitu mual tapi yang bisa di muntahkannya hanyalah cairan bening.


Raut wajah Xiao Yi seketika begitu gugup.


Dia melambaikan tangannya menolak yang Mulia memanggil tabib untuk memeriksanya.


"Aku baik-baik saja, hanya masuk angin." Tolak Xiao Yi.


"Tapi tetap akan ku panggilkan tabib...!" Yang Mulia berjalan ke arah pintu. Dan memerintahkan kasim Chen mengutus seorang kasim atau pengawal untuk menjemput seorang tabib.


Chu Cu yang berada di luar pintu tampak cemas, berharap di perbolehkan masuk untuk mengurus majikannya itu. Tapi Yang Mulia dengan tegas tidak mengijinkannya.


"Aku akan mengurusnya sendiri." Yang Mulia menutup kembali pintu ruangannya.


Seorang Raja yang biasa di layani itu, menuangkan sendiri secangkir air ke gelas dan meminumkannya kepada Xiao Yi yang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Wajahnya yang pucat tampak gelisah seperti sedang merisaukan sesuatu.


"Tabib akan segera datang dan memeriksamu." Kata Yang Mulia sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Xiao Yi.


Dia tidak demam malah sedikit berkeringat dingin.


"Ini belum waktunya...." Xiao Yi mendesis tanpa sadar sambil meremas jari tangannya sendiri.


"Kamu mengatakan sesuatu, Chenxing?" Yang Mulia mengerutkan dahinya.


Xiao Yi segera menggeleng dan tersenyum hambar pada Yang Mulia.


"Aku hanya merasa lelah dan ingin tidur." Xiao Yi berucap sambil memegang kepalanya yang mendadak pening.


Yang Mulia dengan cekatan membantu Xiao Yi berbaring, dia merasa bersalah telah membuat Xiao Yi begitu lelah.


Beberapa saat kemudian seorang tabib perempuan yang berusia hampir setengah abad muncul tergopoh-gopoh di bawa oleh Kasim Chen masuk.


"Hormat kepada Yang Mulia...."Tabib itu membungkuk sementara tangannya memegang kotak obat dari kayu.


"Tabib Guo di mana?"Yang Mulia menatap tabib perempuan ini, dia terbiasa segala sesuatunya di urus oleh tabib Guo, jika dia dalam keadaan sakit ataupun sekedar tidak enak badan.


"Tabib Guo sedang keluar istana, dua hari ini dia berada di kuil Fuyuan untuk mengambil beberapa ramuan bahan obat dari sana." Jawab tabib itu masih dalam keadaan membungkuk.


Yang Mulia menganggukkan kepalanya, lalu memberi isyarat untuk tabib itu kembali tegak.


"Periksalah selir Yi, dia sedang tidak enak badan." Yang Mulia memberi jalan kepada tabib itu untuk mendatangi Xiao Yi yang terbaring.


Mata Xiao Yi hampir tak berkedip, dia berusaha bersikap tenang, dia tahu cepat atau lambat kenyataan ini akan diketahui Yang Mulia, tapi dia merasa sekarang belum waktu yang tepat.


Tabib itu mendekati Xiao Yi dan meminta Xiao Yi menjulurkan tangannya.


Lalu dengan seksama, sang tabib ini memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Xiao Yi.

__ADS_1


Sejurus tabib itu bertemu pandang dengan Xiao Yi kemudian dengan perlahan dia mundur.


"Nyonya selir Yi baik-baik saja, Yang Mulia."Ucapnya sambil menunduk di depan Yang Mulia.


"Hanya saja, Nyonya sedikit kelelahan dan perlu istirahat. Mungkin di perjalanan nyonya tidak makan dengan baik." Dia melanjutkan dengan terbata-bata.


Sekarang Xiao Yi yang tampak keheranan, matanya yang seperti kejora itu membulat tidak yakin apa yang di dengarnya. Antara tidak percaya dengan yang di dengarnya dan sedikit lega, Xiao Yi seperti membeku di tempatnya berbaring.


Yang Mulia Yan Yue semula begitu cemas nampak menghela nafas lega.


"Saya akan memberikan ramuan untuk nyonya Selir Yi untuk di minumnya beberapa hari. Dia akan kembali sehat seperti sedia kala." Tabib itu membuka kotak obatnya dan mengambil sebuah kotak kecil berisi pil berwarna kecoklatan.


"Minumlah ini nyonya, satu untuk malam ini sisanya nyonya minum setiap malam sampai Seminggu ke depan." tabib itu memasukkan pil-pil itu ke dalam sebuah kertas yang terlipat rapih sebagai pembungkusnya dan meletakkannya di atas meja.


Xiao Yi hanya diam, matanya mengawasi sang tabib tanpa berkedip.


Saat tabib itu berdiri dan menghormat kepada Yang Mulia karena akan pamit pergi,


"Sebentar," Suara Xiao Yi terdengar dalam volume yang agak tinggi.


Yang Mulia dan Tabib itu berbalik ke arah Xiao Yi, tertegun karena sedari tadi Xiao Yi tidak berbicara dan sekarang dia seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Siapa namamu, tabib? Kalau boleh saya tahu." Pertanyaan itu membuat tabib itu terkejut begitu pula Yang Mulia.


"Saya di panggil sebagai tabib Li sung." Jawabnya dengan sedikit gemetar.


"Aku hanya ingin menanyakan itu. Anda boleh pergi tabib Li Sung." Xiao Yi tersenyum dengan misterius. Tapi matanya menyimpan sebuah kecaman, seolah ingin memperingatkan bahwa dia mengingat dengan benar tabib bernama Li sung itu.


Ketika tabib Li Sung itu telah keluar di antar oleh Kasim Chen.


Yang Mulia segera menyeduh air ke dalam gelas dan mengambil sebutir pil kecoklatan itu, meminta Xiao Yi segera meminumnya.


Xiao Yi menyambutnya sambil mengembang senyum seakan menenangkan Yang Mulia yang nampak masih memancarkan gurat kecemasan di raut wajahnya.


"Aku tidak suka minum obat." Keluh Xiao Yi.


"Tapi kamu harus meminumnya." Yang Mulia memperingatkan.


"Aku tidak bisa meminum obat ini tanpa sebuah manisan. Rasanya pasti pahit."


Yang Mulia memencet hidung Xiao Yi yang nampak manja itu kemudian menuju ke meja di sudut ruangan, di sana ada sebuah mangkok porselen bertutup dan di dalamnya tersedia manisan buah plum.


Yang Mulia mengambil beberapa dan menyerahkan kepada Xiao Yi.


Tapi pil coklat itu sudah raib dari tangannya.


"Obatnya mana?"


"Sudah ku minum."

__ADS_1


Xiao Yi menyerah gelas di tangannya dan mengambil manisan buah plum itu dari tangan Yang Mulia dan memasukkan ke mulutnya dengan senyum yang kembali ceria.


Yang Mulia benar-benar lega melihat Xiao Yi yang segera menjadi baik kembali.


Dia naik ke atas tempat tidur dan membungkus tubuh Xiao Yi dengan rapih.


"Malam ini aku akan menjagamu." Kata Yang Mulia sambil menatap wajah Xiao Yi yang sangat dirindukannya itu, sayangnya dia harus menahan diri untuk tidak lagi membuat selir kesayangannya itu kelelahan sampai dia benar-benar pulih kembali.


...***...


Istana Huangho (Kediaman ibu suri Zhao Li Sui)


Malam sudah cukup larut tapi Ibu suri masih duduk di aula tamunya, dengan jubah siap untuk beristirahat malam, rambutnya pun sudah di gerai bebas tanpa hiasan apapun.


Ibu Suri tampak begitu tegang, wajahnya menyiratkan kemarahan. Dia telah mendengar, Wen Qiao kembali dari kamar Yang Mulia sambil menangis, dia tidak mau lagi masuk ke ruangan itu.


Ibu Suri tidak tahu apa yang diperbuat oleh Yang Mulia sehingga membuat gadis itu benar-benar menolak kembali untuk di jadikan selir bagi Yang Mulia.


Tapi kabar selanjutnya dari istana kediaman raja, di sana sudah ada selir Yi dan sepertinya memerlukan seorang tabib.


Rasa gelisah menganggunya, dia sedang menunggu seseorang dengan perasaan tak sabar.


Seorang dayang pelayannya tiba-tiba muncul bersama seseorang dalam pakaian hitam bertudung.


Sosok berjubah hitam itu membuka tudungnya dan memberi hormat.


Dia adalah tabib Li Sung!


"Bagaimana keadaan perempuan itu?" Tanya ibu suri dengan tak sabar.


Tabib Li Sung tidak menjawab dia melirik dengan takut kepada ibu suri kemudian ekor mata tertuju sebentar kepada pelayan yang mengantarnya.


"Kamu boleh keluar." Dia mengibaskan tangannya kepada sang pelayan.


Ketika pelayan itu keluar, tabib Li Sung mendekat.


"Selir itu benar-benar hamil..."Katanya dengan suara setengah berbisik.


Seketika mata Ibu suri membulat, mulutnya nampak terbuka, sebuah kabar yang benar-benar tak di harapkannya.


"Tapi Yang Mulia Ibu Suri tidak usah kuatir, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang hamil." Senyum tabib perempuan ibu mengembang dengan licik.


"Saya telah memberikannya pil untuk melemahkan kandungannya yang baru berusia kurang dari 3 bulan itu. Bayinya tak akan selamat...."


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...

__ADS_1


__ADS_2