
Angin dingin bertiup sepoi-sepoi saat seorang perempuan dengan gaun jingga, keluar dari dalam sebuah bangunan kuil, di sore hari yang cerah.
Bibirnya yang semerah houyun tampak terkembang lepas di bibirnya, seorang pelayan dengan baju putih pucat berjalan mengikutinya dari belakang.
Dia, Chi Yuan yang dulu di kenal sebagai selir Yuan. Pertama kalinya dia merasakan kebebasan dengan sebenar-benarnya.
Pertengahan musim dingin yang indah, saat sepucuk surat perceraian dari Yang Mulia yang dibubuhi stempel raja dan permaisuri, tiba di istana gubernur Chie Weiheng, kota Shicuan.
Surat itu sebagai tanda resmi Chie Yuan dilepaskan dari predikat wanita milik raja.
"Ayin, aku ingin kita berkeliling kota sore ini..." Kata Yuan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Selama dia di kembalikan oleh Yang Mulia Yan Yue, dia hanya boleh berada di dalam lingkungan istana ayahnya, tidak boleh keluar dari tembok itu.
Meskipun dia adalah wanita yang diceraikan raja, dia tidak diperbolehkan keluar dari istana, dia tidak bisa berhubungan dengan laki-laki lain kecuali mendapatkan stempel permaisuri.
Selama ini, dia berfikir hidupnya akan selamanya terkurung dalam tembok istana gubernur. Apalagi setelah dia menerima hukuman kurungan di dalam kamarnya selama sebulan karena ayahnya mendapati dia berkirim surat dengan Putra gubernur Qian Lie dari Youwu, tuan muda Qian Ren.
"Nyonya, kita harus pulang...sebentar lagi mungkin akan datang hujan salju." Ayin, sang pelayan menjawab dengan ragu.
Chi Yuan melihat ke atas, dia mengerutkan keningnya.
"Sore ini cukup cerah, Ayin. Kurasa tidak akan ada salju malam ini." Sahutnya sambil tetap tersenyum.
Betapa senangnya Ayin melihat majikannya ini kembali lagi menjadi begitu periang seperti seharusnya. Dia tak lagi murung seperti sebelumnya.
"Ayah tak akan marah, ini adalah hari pertama aku boleh keluar dari tembok pavilliun."Sanggah Yuan dengan wajah riang.
"Di kota hari ini ada festival makanan musim dingin, aku mau ke sana." Mata Yuan berbinar cerah.
"Aku harus merayakan kebebasan ini, bersama denganmu Ayin." Yuan berbalik dan menepuk pipi Ayin yang memerah karena ikut senang melihat nyonyanya itu begitu bahagia.
"Ayin, apakah kamu tahu rasanya, terkurung begitu lama dengan status yang tidak jelas. Tidak boleh keluar kemanapun hanya melihat taman di belakang pavilliun, tanpa noleh keluar dari dalam tembok?"
__ADS_1
"Ya, nyonya, Ayin sangat tahu rasanya." pelayan muda itu menjawab dengan raut muka sesaat sedih.
Dia adalah saksi dan teman dari Yuan menjalani semua deritanya. Dari saat dia hanya seorang nona muda yang kemudian di kirim ke istana untuk menjadi selir raja.
Bertahun-tahun hidup di dalam istana harem, tanpa pernah dikunjungi oleh suaminya, sang raja yang menurutnya begitu aneh karena patah hati itu.
Kemudian, bagaimana pula kesulitan hidup yang di alami nyonyanya itu ditengah pergaulan bersama para selir yang sama terkatung-katung nasibnya tapi saling nembakar cemburu satu sama lain.
Dan peristiwa tragis yang masih membuatnya ketakutan setengah mati, saat nyonyanya itu di racun oleh salah satu selir raja. Semua itu adalah pengalaman panjang yang penuh fengan penderitaan.
Bahkan kebebasan yang di dapatinya bukanlah kebebasan sebenarnya, kebebasan itu hanyalah semu, karena terikat sebuah peraturan, nyonyanya itu di ceraikan tapi tidak bisa berhubungan dengan dunia luar apalagi laki-laki lain.
Selir Yi yang cantik itu, yang selalu di kagumi Ayin karena keberaniannya,kebaikan hatinya sekali lagi menjadi penyelamat bagi majikannya itu. Pagi ini gubernur Chi Weiheng menerima surat pembebasan penuh untuk puterinya Chi Yuan, dia bukan lagi wanita raja, dia adalah perempuan bebas yang boleh menjalani hidupnya seperti orang biasa.
Dia boleh keluar dari istana, boleh berjalan-jalan kemana dia suka, bahkan boleh menikah dengan siapa saja jika dia berkenan.
Majikan kesayangannya itu telah bebas sepenuhnya.
Apalah arti dihukum oleh gubernur Chi Weiheng jika pulang membawa nyonyanya itu dalam keadaan terlambat, paling-paling kakinya di pukul beberapa kali dengan bambu kecil.
Itu setimpal dengan senyum dan kebahagiaan yang diterima oleh majikannya. Ayin rela membayarnya meski mungkin betisnya akan membiru.
Chi Yuan menarik tangan Ayin dengan tak sabar menuju kereta kuda yang berada di depan kuil.
...***...
Festival makanan musim dingin yang diadakan di kota Shicuan, berlangsung selama sepekan.
Kota di penuhi dengan lapak-lapak jajanan, kedai-kedai akan ramai sepanjang hari sampai malam karena para pengunjung.
Chi Yuan berjalan dengan riang, ditemani oleh Ayin, kedua tangannya di penuhi oleh tanghulu buah dan manisan di kedua belah tangannya.
__ADS_1
Hari akan segera gelap, tapi Yuan benar-benar sedang senang dengan kebebasannya, entah berapa musim dingin telah dilewatkannya tanpa pernah merasa sebebas ini.
"Kita harus mencoba shuai yangrou, pasti sangat enak." Yuan memberi ide sambil menunjukkan sebuah kedai makan yang sedang ramai di depannya.
Ayin mendekati majikannya itu dan memperbaiki mantelnya, mengikatnya lebih erat karena udara semakin dingin saja.
"Kalau nyonya mau, kita akan mencobanya." Ayin menganggukkan kepalanya.
Sejak mereka pulang ke Shicuan, Chi Yuan memperlakukan Ayin seperti temannya sendiri, hampir tidak seperti terhadap pelayan.
Kenapa tidak, Ayinlah tempatnya menangis dan mengeluh, Ayinlah yang akan menghiburnya bahkan menangis bersamanya dalam segala situasi dan kesedihan yang di alami Chi Yuan.
Pada musim dingin di Shicuan, selalu saja menyenangkan. Apalagi pada saat pertengahan musim, ada festival makanan di sana, dalam beraneka rupa, bahan dan bentuk. Suai yangrou itu berupa masakan daging kambing berkuah yang lezat, di iris tipis-tipis. Irisan daging kambing muda itu akan di celupkan ke dalam saos wijen dan direbus dalam panci panas bersama dengan berbagai sayuran. sebelum dicelupkan ke dalam saus wijen. Biasanya di sajikan panas-panas dalam panci besar dan di makan bersama Keluarga atau sekelompok teman kerabat. Itu adalah makan musim dingin yang paling enak.
Mereka masuk ke dalam kedai, tapi segera menjadi bingung sendiri. Kedai itu terlalu ramai, bahkan tempat dudukpun sudah penuh.
Chi Yuan menghela nafasnya dengan kecewa, padahal perutnya sangat lapar mencium aroma Suai Yangrou yang menggugah selera itu. Perutnya sedari siang belum terisi apapun, dia sungguh terlalu senang dengan surat yang datang dari istana Weiyan jadi lupa makan.
"Nyonya, sebaiknya kita mencari tempat lain, semua meja telah penuh..." Ayin mengusulkan kepada Chi Yuan.
"Tapi aku lapar sekali." Chi Yuan mengeluh sambil menyerahkan tanghulu yang di tangannya kepada Ayin. Dia sudah tidak berselera dengan tanghulu manis itu, dia ingin makan kuah kambing yang tampak menggiurkan di meja.
"Kamu boleh makan bersamaku, nyonya..."
Suara seorang lelaki dari meja tersudut terdengar mengejutkan Chi Yuan
(Yuk...mak othor crazy out selir Chi Yuan yah malam ini...tetap di selir Persembahan, lope2 buat semua pembaca kesayangan 🤗🤗🤗)
Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy upðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1