
Yang Mulia melepaskan tali mantel di leher Xiao Yi, yang menempel di leher putih itu. Kemudian Yang Mulia menyeret dengan lembut telunjuknya dari bibir gadis yang setengah terbuka dan berkilat basah itu turun ke leher sampai atas dada gaun Xiao Yi, seolah sedang menulis sesuatu di kulit sebening pualam itu.
"Chenxing..."
"Hem..."
"Kamu cantik sekali..."
"Aku tahu. Yang Mulia tidak akan menyukaiku jika aku jelek" Xiao Yi tersenyum kecil, membalas memainkan jemarinya di sekitar telinga Yang Mulia setengah menggoda. Dia tiba-tiba menjadi lebih berani.
Lentera kamar Yang Mulia bersinar temaram, cahaya yang terpantul di dinding kamar Yang Mulia itu bergerak-gerak ketika api di lentera itu meliuk-liuk tertiup angin yang menyusup lewat lobang-lobang di atas jendela.
Telapak tangan Yang Mulia menyusup ke balik gaun Xiao Yi, menempel pada kulit punggung mulus gadis itu.
Xiao Yi menahan nafasnya yang terasa putus-putus.
Ruangan besar itu sekarang menjadi terasa pengap dan panas, gaun yang dikenakannya terasa basah, keringat meresap di gaunnya itu.
Tubuhnya panas dingin, sementara jemari Yang Mulia bergerak menyusup ke sana kemari, membuat pakaian yang dikenakannya berantakan tak berbentuk.
Rambutnya sebagian jatuh di dahinya yang berkilat, menutup sebagian pandangannya, sementara kedua tangannya tak ada waktu untuk merapikannya karena memeluk erat bergantung pada leher laki-laki yang kini berada tepat di atasnya.
Dia hanya bisa melihat sekelebat jubah merah merah Yang Mulia, yang tak kalah berantakannya itu bergerak-gerak membuat kepalanya terasa pening.
Sejak awal pertama dia bertemu, tak pernah terbersit dia akan mencintai laki-laki ini. Yang dia tahu, ketika dia di kirim kepadanya sebagai selir persembahan, adalah bagaimana untuk bisa melarikan diri dari istana ini.
Tapi sekarang dia tidak akan pernah bisa berfikir untuk lari lagi.
Sekonyong-konyong jemarinya melingkar di pinggang Yang Mulia Yan Yue, merapatkan ke badannya yang semakin terasa seperti akan meledak. Gemuruh di dadanya seperti debur ombak menghantam karang.
Dari atas, terasa hembusan nafas hangat yang tak lagi teratur menghempas kulit wajahnya.
Dengan lembut bibirnya di sasar oleh bibir Yang Mulia, seketika badannya menegang.
"Yue..." Xiao Yi mendesah di sela ciuman yang semakin lama semakin bersemangat itu.
Xiao Yi bukan pertama kali dicium tapi merasakan ciuman Yang Mulia itu membuatnya begitu tegang bahkan pusing. Tangan dan kakinya bergerak-gerak tak terkendali, kebingungan sendiri harus bagaimana.
Xiao Yi menarik tubuh diatasnya itu kuat-kuat, dia tak perduli apakah dia akan pingsan karena terhimpit, dia memeluk Yang Mulia erat-erat seolah ingin menyatukannya dengan kulitnya sendiri. Merasuk sampai ke tulang-tulangnya.
Nafas Yang Mulia Yan Yue tersengal, wajah Xiao Yi terasa seperti terbakar. Jantung mereka berpacu dalam degup yang samar-samar bertukar rasa di kulit tubuh mereka yang hanya terhalang oleh lembaran-lembaran jubah dan gaun yang masih melekat di badan.
"Chenxing..." panggil Yang Mulia serak. Wajahnya terangkat menjauh sedikit dari wajah Xiao Yi.
"Aku mencintaimu." lanjutnya dengan bibir yang kemudian langsung menciumi wajah Xiao Yi dengan liar dan bertubi-tubi. Rasanya Yang Mulia tak pernah bosan mengucapkan kata-kata itu sedari tadi.
"Aku juga mencintaimu, Yang Mulia Yue..." sahut Xiao Yi lirih di telinga Yang Mulia.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tiba-tiba Yang Mulia berhenti sejenak dari kesibukannya, yang berkeliaran penuh gairah di atas tubuh Xiao Yi.
Xiao Yi mengernyit dahinya, berusaha keras mengingat, mengais kemampuannya untuk berfikir meskipun kepalanya terasa benar-benar pusing dan kosong sekarang.
Entah sejak kapan dia mencintai Yang Mulia, mungkin dari waktu Yang Mulia menciumnya itu atau dari saat dia melihat Yang Mulia menangis mabuk di pelukannya? atau mungkin juga dari saat mereka berdua berada di rumah Xiuxi di tepi sungai Sheng...atau jauh lebih lama dari saat Yang Mulia memeluknya di atas kuda, atau bahkan mungkin dari waktu dia bertemu Yang Mulia pertama kali di pasar kota Yubei?
Xiao Yi menggeleng-gelengkan kepalanya yang semakin pusing,
"Aku tak tahu..." Jawab Xiao Yi serak. Kepalanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.
"Yang aku tahu aku mencintaimu sekarang!"
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Xiao Yi di sambut dengan ciuman beruntun yang tak lagi lembut tapi benar-benar penuh gairah. Yang Mulia menciumi bibir, mata, telinga, leher bahkan meluas sampai tulang selangka bahkan dada Xiao Yi.
Yang Mulia sendiri tak pernah menyadari sejak kapan dia telah jatuh cinta pada Xiao Yi, cinta itu datang seperti seorang pencuri, diam-diam tanpa di ketahui. Saat mereka sadar, adalah ketika mereka tiba-tiba merasa kehilangan saat tak bertemu dan merasa rindu saat tak berdekatan.
Yang Mulia menatap Xiao Yi dengan pandangan membara seperti bara api yang baru saja di siram minyak. Suara nafas Yang Mulia tersengal-sengal di telinga Xiao Yi. Tapi terdengar begitu merdu seperti lagu yang dinyanyikan para pengembara di pegunungan Pingyuan.
Tubuh Xiao Yi terasa semakin panas dan tak bertenaga, tangan Yang Mulia menyasar ke sana kemari menari di atas kulitnya, pita baju yang terikat di dadanya, entah kapan mulai terlepas. Hawa dingin mengenai kulitnya yang hanya tertutup pakaian dalam berwarna krem tapi tetap saja terasa begitu panas.
Satu persatu kain penutup kulitnya terlepas membuat kulit tubuh bagian atas Xiao Yi sekarang hampir semuanya terlihat. Jemari Yang Mulia menyisirnya dengan lembut,
Xiao Yi menggigit bibirnya sendiri, rasa malu membuat wajahnya bersemu merah.
Dia berusaha menarik seprai sutra putih yang menutup tempat tidur besar itu dan berusaha membungkus tubuhnya, tapi Yang Mulia tidak bergerak memberi ruang untuknya.
"Jangan bergerak, Chenxing..." bisik Yang Mulia, lalu dengan gerakan cepat dia menyusupkan wajahnya di dada gadis itu, Xiao Yi terpekik, badannya melengkung seperti cacing kepanasan.
Jubah merah kebesaran Yang Mulia selapis demi selapis di tanggalkan, dadanya yang begitu kekar dan kuat itu menindih tanpa permisi membuat kulit mereka bergesek, menyisakan rasa panas dan kesemutan yang tiba-tiba. Panas itu menjalar ke seluruh tubuh mereka.
Lengan Yang Mulia merengkuh tubuh Xiao Yi, terasa agak sakit tapi kesakitan itu terabaikan oleh kebahagiaan yang membakar jiwanya, dia merasa berkubang dalam banyak keinginan, berharap dan memohon Yang Mulia terus menaklukkan semua wilayah yang tak pernah di sentuh dan di lihat oleh seorangpun di dunia ini, kecuali laki-laki yang kini menindihnya dengan liar ini. Laki-laki yang adalah suaminya.
Kemesraan mereka seperti kobaran api, terus tak terkendali, saling memagut, saling membalas, seolah-olah dahaga mereka tak pernah puas.
Entah jam berapa sekarang tapi mereka berdua yang sedang dimabuk cinta itu tidak perduli waktu. Segala sesuatunya, terasa berhenti, alam semesta hanya berpusat pada mereka berdua.
Suara desah mereka beradu, berpadu dengan keringat yang membasahi tubuh.
Secara naluriah, mereka mereka bergerak seperti penjelajah. Dan pada satu titik, Xiao Yi mendesah setengah mendesis, rasa perih yang bercampur nikmat itu membuat tubuhnya melengkung. Begitupun orang yang sedari tadi di atasnya itu, melenguh seperti banteng yang di sembelih. Jemarinya meremas bahu Xiao Yi dengan begitu kuat sampai memerah.
Dan di detik berikut rembesan merah semerah bunga houyun mengalir hangat di sela paha Xiao Yi. Memberi warna sutra putih tempat tidur Yang Mulia.
Lalu mereka berdua saling pandang dengan pias wajah yang sulit di ceritakan. Yang Mulia menggulingkan badannya ke sisi Xiao Yi dan memeluknya dengan erat.
Xiao Yi masih telentang dengan raut tak percaya, wajahnya yang merah seperti orang yang begitu lelah, cahaya lentera berkilat-kilat diwajahnya yang basah oleh keringat. Yang Mulia membungkus tubuh mereka dengan selimut tebal dari sutra yang sangat lembut.
Kemudian dengan senyum puas seperti orang yang telah menang perang, dia menyusupkan wajahnya ke leher Xiao Yi.
__ADS_1
"Chenxing...aku sangat bahagia." bisiknya.Tubuh Yang Mulia hangat merapat, dengan perlahan Xiao Yi memiringkan tubuhnya yang terasa remuk redam. Melingkarkan tangannya di pinggang Yang Mulia.
"Terimakasih Yang Muliaku...Yue..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.
Dirinya memang hanyalah seorang selir persembahan bagi Yang Mulia, tapi dia dengan utuh dan sukarela telah mempersembahkan dirinya yang paling murni pada laki-laki itu dengan penuh cinta.
Hari hampir menjelang pagi, mereka berpelukan dengan posisi miring di dalam selimut tebal sutra milik Yang Mulia. Enggan bergerak hanya saling menatap, benak mereka kosong melompong hanya saling mengagumi satu sama lain.
"Chenxing..." panggil Yang Mulia lembut, sekarang jemarinya naik, menepis anak rambut yang menutup kelopak mata Xiao Yi.
Xiao Yi mengedipkan matanya, mendengarkan.
" Tahukah kamu, kenapa aku memberimu nama Chenxing?" tanyanya kemudian sambil mengusap mata Xiao Yi.
Xiao Yi menggelengkan kepalanya perlahan, dia hanya menerima saja, tanpa pernah mempertanyakan kenapa dia dipanggil demikian oleh Yang Mulia.
"Chenxing berarti bintang kejora, bintang paling terang di atas langit. Sejak pertama kali dimalam pengantin kita, aku begitu suka melihat matamu yang bersinar seperti kejora itu"
Xiao Yi mengerlingkan matanya, mendengarkan pernyataan Yang Mulia, sambil menyungging senyum kecil. Mengisyaratkan dia sangat menyukai nama itu.
"Tahu kah kamu arti Yue? " tanya Yang Mulia lagi. Xiao Yi menggeleng lagi dengan sedikit bingung.
"Yue artinya adalah bulan..." Yang Mulia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Bulan tidak pernah bisa jauh dari bintang kejora, dalam saat bulan bersinar penuh ataupun kehilangan cahaya. Bintang paling terang itu akan selalu berada di sekitar bulan"
"Dari saat itu aku menyadari, bahwa Yue tak pernah bisa jauh dari Chenxing..." Yang Mulia mencium kelopak mata itu dengan lembut lalu memejamkan matanya sendiri dengan rasa puas yang tak terkatakan.
Hari benar-benar sudah hampir pagi, Yang Mulia malah semakin merapatkan tubuhnya memeluk Xiao Yi.
"Biarkan aku tidur sebentar..." gumamnya, tanpa membuka mata.
(Episode ini adalah yang terpanjang dari semua episode yang sudah author tulis🤗
Di buat dengan penuh perasaan untuk semua readers selir persembahan tersayang🤭
Mohon bijak dalam membacanya...☺️
Kurang dan lebih author mohon maaf🙏🙏🙏)
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...
...🙏🙏🙏...
...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...
__ADS_1