SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 162 BULAN, BINTANG, LANGIT DAN MATAHARI


__ADS_3

Pada awal pertengahan musim dingin di tahun yang sama, ketika salju turun dengan derasnya di atas kota Yubei, ibu kota Yanzhi.


Permaisuri Yi yang agung, membubuhkan cap stempel ratu pada surat pembebasan 4 orang selir terakhir Yang Mulia Yan Yue.


Dan dalam sejarah negara Yanzhi yang agung, pertama kalinya seorang raja hanya memiliki seorang istri yang juga sekaligus ratu baginya.


Sebuah negara bisa tetap berdiri tanpa harus memenjarakan para wanita ini sebagai tumbal yang mengatasnamakan ikatan politik kerjasama.


Hubungan atas nama cinta bukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk mengurung seseorang dalam perangkap n*fsu. Karena ketika cinta dibuat sebagai dasar sebuah kekuasaan maka cinta itu pula bisa menghancurkan apa yang telah dibangunnya.


Cinta soal rasa, cinta soal perasaan dua orang yang bisa berkembang menjadi lebih kuat melebihi pilar jika diperlakukan dengan benar. Bahkan cinta bisa menjadi kekuatan ataupun kehancuran di tangan manusia.


Cinta yang memiliki banyak mata dari satu hati bukanlah cinta yang tulus, karena cinta yang sesungguhnya hanya datang pada satu hati untuk satu hati yang lain, tidak sungguh-sungguh jika satu hati mencintai lebih dari satu pada saat yang bersamaan.


Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar adil bahkan raja sekalipun, selama dia adalah manusia. Tetap saja orang-orang yang menerimanya tak akan benar-benar puas dengan apa yang diterimanya sehingga membangkitkan rasa iri dan cemburu satu sama lain, yang berujung kekecewaan bahkan pertikaian atas rasa tidak adil tersebut.


Cinta juga selalu sejalan dengan kesetiaan, tidak ada yang benar-benar berjalan baik jika dilakukan terpaksa tanpa kejujuran dan kesetiaan.


Hakikat cinta adalah indah, hanya jika dimiliki oleh dua orang dengan niat dan perasaan yang berbalas tanpa keterpaksaan.


...***...


Berselang sepekan setelahnya Permaisuri Yi melahirkan dua orang bayi kembar laki-laki. Bayi-bayi yang sehat dan tampan.


Sebuah hadiah yang tak terhingga untuk sebuah kerajaan yang begitu lama merindukan pewaris untuk kerajaan besar itu.


Tepat di tengah hujan salju yang sama derasnya, bahkan langit malam tertutup badai. Sosok sedepa di depanpun jika berada di luar tak kasat mata. Di penghujung musim dingin, itu adalah sesuatu yang aneh.


Badai salju besar itu adalah yang pertama kali dalam beberapa tahun terakhir melanda kota Yubei yang megah itu.


Dayang Chu Cu terengah-engah keluar dari balik pintu kamar permaisuri dengan sebuah baskom dan air mata serta keringat yang berbaur jadi satu. Nafasnya turun naik, kelebat tegang berpadu di sana.


"Bagaimana keadaan permaisuri?" Yang Mulia menyongsong dengan tegang.

__ADS_1


Tangannya saling meremas dengan pias gugup, rasa cemas tumpah ruah di raut wajahnya.


"Selamat pada Yang Mulia raja, Yang Mulia permaisuri telah melahirkan dengan selamat." Chu Cu membungkuk dalam-dalam badannya gemetar.


"Dua orang putera tampan yang gagah..." Lanjutnya tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Lamat-lamat dari balik kamar itu terdengar suara tangis bayi saling bersahutan, suara tangisan itu seolah ingin menghardik badai yang sedang melanda kota di mana pertama kali dua pangeran itu melihat dunia.


Yang Mulia berlari masuk ke dalam kamar, meninggalkan kasim Chen dan pengawal Jian yang saling pandang dengan wajah lega sekaligus gembira melihat tuan junjungannya itu begitu bersemangat dan diliputi kebahagiaan.


Xiao Yi terbaring dengan wajah lelah bahkan di dahinya masih berbaris titik keringat.


Tapi bibir yang berwarna hampir pucat itu mengembangkan senyum lebar dan rasa puas yang tak terhingga.


"Aku telah menjadi seorang ibu..." Bisiknya lirih pada Yang Mulia, seolah sedang menceritakan betapa dia melewati perjuangan yang luar biasa untuk sampai pada kalimat itu.


Yang Mulia menggenggam tangan istrinya yang sekarang sudah berselimut brokat warna biru muda itu.


Seorang bayi laki-laki terbaring di sampingnya, dalam balutan kain sementara bayi yang lain masih di bersihkan oleh nyonya Xiao, ibunda Xiao Yi. Dua orang tabib dan dua orang pelayan dengan cekatan membersihkan bekas-bekas tempat persalinan.


"Terimakasih, Chenxing...terimakasih." Di sekanya dahi istrinya yang masih berkeringat itu.


"Terimakasih telah membuatku menjadi seorang ayah." Bisiknya parau sambil mencium dahi Xiao Yi.


Bayi laki-laki yang berwajah kemerahan dengan mata yang masih belum terbuka sempurna itu mulai menggeliat-geliat kecil di dalam pembungkusnya.


Dengan tangan gemetar Yang Mulia menyentuh pipi bayi itu setengah takjup.


"Dia anakku..." Ucapnya lirih, seketika bayi itu menjadi tenang seolah tahu itu adalah sentuhan dari ayahandanya.


Nyonya Xiao meletakkan bayi yang lain di atas tempat tidur, sehingga dua bayi itu terbaring berjajar di samping Xiao Yi.


"Yang Mulia, selamat atas kelahiran dua putera anda." Nyonya Xiao membungkuk dengan hormat dan wajah yang tak kalah bahagianya, di ikuti oleh dua orang tabib dan dua orang pelayan di belakangnya.

__ADS_1


"Terimakasih, nyonya..."Yang Mulia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Xiao Yi menatap pada ibunya dengan raut letih.


"Aku akan menyiapkan ramuan obat untuk pemulihan Yang Mulia permaisuri dan membuatkan makanan untuk Yang Mulia untuk mengembalikan tenaga dan energi yang terkuras selama persalinan." Ucap nyonya Xiao sambil membungkuk lebih dalam.


Lalu dengan langkah pelan mereka mundur dan meninggalkan Yang Mulia beserta Xiao Yi, memberi waktu kepada suami istri itu berbicara.


Xiao Yi dan Yang Mulia Yan Yue saling pandang, tatapan penuh cinta dan kasih sayang itu berpendar. Tak ada kata-kata yang benar-benar bisa mewakili perasaan mereka berdua saat ini.


Yang Mulia memandang dua bayinya itu, langit sungguh baik padanya, dia tidak meminta banyak, hanya wanita yang setia mendampinginya dalam suka dan duka, tetapi dia menerima lebih, selain mengirimkannya seorang dewi juga memberikannya dua orang putera tampan sekaligus.


"Kita akan memberikankan mereka nama..." Kata Yang Mulia.


"Apakah kamu mempunyai usul...?" Tanya Yang Mulia pada Xiao Yi dengan lembut.


Xiao Yi menggigit bibirnya dan menggeleng tapi matanya berbinar sungguh cerah.


"Aku tahu Yang Mulia sangat pintar memberi nama." Jawab Xiao Yi dengan senyum yang terkembang.


Yang Mulia mengernyit dahinya, kemudian menganggukkan kepalanya sambil membalas senyum Xiao Yi.


Alis Yang Mulia tampak berfikir sesaat lalu berkata dengan suara bangga,


"Karena mereka anak dari Yue (bulan) dan terlahir dari sorang ibu yang hebat Chenxing (bintang)...maka kuberikan nama dua anakku ini, Yan Tiang Tang (Langit) dan Yan Tai Yang (matahari). Mereka berdua tak akan terpisahkan di dunia dan menjadi setinggi langit, sekuat matahari. Di mana ada langit maka matahari berada di sana."



...Yan Tian Tang & Yan Tai Yang...



__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca Selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...


__ADS_2