
"Hamil kembar?" Xiao Yi dan Yang Mulia saling bertatapan. Mata Yang Mulia berbinar dengan kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan sebagaimana juga Xiao Yi.
Terjawab sudah, sebuah teka-teki yang di katakan ibunya, tentang denyut aneh pada nadinya yang selama ini di kiranya suatu kelainan.
"Yang Mulia..." Xiao Yi membalas tatapan suaminya dengan wajah tak kalah berbinarnya, dengan sebuah kelegaan yang luar biasa terpancar di sana.
Kekuatiran atas kehamilannya tidak normal itu bukan lagi hal yang harus mengganggu fikirannya.
"Kau dengar itu chenxing, kamu sedang mengandung dua orang anakku...!" Yang Mulia menepuk punggung tangan Xiao Yi dengan rasa senang yang tak bisa di sembunyikannya.
Xiao Yi mengangguk, mata kejoranya berkilat-kilat, dia bahkan tak mampu bicara lagi.
"Yang Mulia, ijinkan demi keselamatan Selir Yi, saya yang akan merawat kehamilannya."Tabib Guo menautkan dua tangannya di depan dahinya sambil menundukkan wajah, menunjukkan sikap permohonan.
"Aku juga berfikir lebih baik demikian. Cukup hanya tabib Guo yang memantau kehamilan selir Yi. Aku tidak ingin, kejadian seperti tadi berulang. Keselamatan anak-anakku sangat penting bagiku. "
Ibu Suri terpekur di tempatnya, betapa serasa menerima seribu kekalahan, saat mendengar tidak hanya ada satu bayi yang kini berada di dalam kandungan Xiao Yi, dan sekarang Yang Mulia pasti semakin waspada menutup celah supaya tak seorangpun yang bisa dengan sembarangan mendekati Selirnya itu.
Tiba-tiba Yang Mulia berdiri dan menatap kepada ibu suri,
"Ibu Suri, bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk menobatkan seorang permaisuri bagiku? Beberapa waktu yang lalu, ibu suri mengatakan rakyat sangat ingin mendapatkan figur yang membuat mereka percaya dan tenang. Keberadaan seorang permaisuri utama pasti membuat rakyat senang, tidak lagi merasa aku adalah raja yang berbeda dari raja kerajaaan lainnya, apalagi di dalam kandungan selir Yi ada calon pewaris kerajaan Yanzhi?"
Pertanyaan itu seperti geledek di telinga ibu suri. Tidak pernah mengira, kekalahan beruntun akan menimpanya begitu cepat.
"Yang Mulia, tentu saja sangat baik jika posisi permasuri ditetapkan. Tapi tidak perlu tergesa-gesa. Merawat kehamilan selir Yi sangat penting dari hal-hal lain sekarang." Ibu suri menyahut dengan suara bergetar.
"Keselamatan selir Yi akan lebih terjamin jika dia menyandang gelar seorang ratu."Yang Mulia menatap langsung mata ibu suri. Perempuan itu tampak mendonggakkan wajah.
"Menjadi seorang ratu, memerlukan banyak persiapan. Peraturan di Yanzhi, Yang Mulia tahu sendiri, ada banyak pelatihan yang akan diterima seorang perempuan sebelum di angkat menjadi seorang ratu. Aku hanya takut, selir Yi merasa kewalahan karena dalam keadaan hamil. Lebih baik menundanya sampai waktu yang tepat, biarkan selir Yi fokus merawat diri dan kehamilannya dulu, itu lebih penting." Ibu Suri berdalih dengan alasan yang bijak.
__ADS_1
Yang Mulia menoleh kepada Xiao Yi, sana sekali tidak ada raut menerima maupun menolak dari perempuan yang kini duduk mengamati tabib Guo yang sedang membuka kotak peralatannya, mengambil beberapa macam obat dari dan akar-akaran herbal yang tampak sudah di keringkan.
"Baiklah..."Akhirnya yang mulia berucap, melihat keadaan Xiao Yi dia merasa alasan ibu suri ada benarnya.
"Memang kesehatan selir Yi dan bayi dalam kandungannya adalah yang terpenting sekarang." Yang Mulia berucap serupa gumam, seakan mengingatkan dirinya sendiri.
"Tapi, jika Selir Yi sudah membaik, maka aku akan menobatkannya secara resmi sebagai selir furen di aula Guangli, sekaligus memberi pengumuman terbuka, selir Yi akan segera di angkat menjadi ratu kerajaan Yanzhi." Kalimat itu terdengar tegas dan tak berkenan untuk di bantah.
"Saya rasa, itu lebih baik Yang Mulia." Ibu Suri menyahut dengan kemudian, merasa sedikit lega bisa mengulur waktu untuk menjadikan selir Yi sebagai permaisuri utama.
Jika itu terjadi, maka situasi mungkin tak terkendali dan rencana terbesar dalam hidupnya mungkin saja menjadi sangat sulit diwujudkan.
"Yang Mulia..." Tabib Guo tiba-tiba berbicara, dengan suara halus dan sedikit hati-hati.
"Keadaan Selir Yi sudah membaik, obat yang saya berikan adalah suplemen kehamilan sekaligus ramuan untuk untuk penguat kandungan. Tidak ada yang harus dicemaskan, selir Yi hanya perlu istirahat dan makan makanan yang lebih banyak dari biasanya.
Dua bayi di dalam kandungannya tentu saja memerlukan asupan yang cukup."
Sekarang hanya ada empat orang di dalam ruangan itu, Xiao Yi dengan Chu Cu yang sedang sedikit sibuk merapikan beberapa obat yang di tinggalkan oleh tabib Guo, Ibu Duri yang masih berdiri dengan wajah yang tegang dan keras di tempatnya serta Yang Mulia Yan Yue sendiri.
"Aku juga mohon diri Yang Mulia, saya tadi kemari hanya karena mengkhawatirkan keadaan selir Yi yang di kabarkan kesehatannya memburuk. Tapi, melihat semuanya menjadi sangat baik sekarang, tak ada alasan untuk cemas lagi."
Ibu Suri sudah berbalik hendak pergi dari ruangan itu, ketika tiba-tiba Kasim Chen menyeruak masuk dengan tergesa, wajahnya merah padam dengan nafas tersengal.
"Yang Mulia..."Kasim Chen membungkukkan badannya sambil mengatur nafasnya.
"Ada apa?" Yang Mulia mengernyit dahinya.
"Tabib itu telah di temukan!" Kasim Chen menjawab dengan begitu bersemangat.
__ADS_1
Tiga orang di dalam ruangan itu sama terkejutnya, bahkan ibu Suri menghentikan langkahnya dengan wajah semerah bunga Houyun. Tubuhnya gemetar, tangannya mengepal, tak menyangka akan secepat ini tabib Li Sung yang di sembunyikannya itu di temukan.
Xiao Yi terpana, tak kalah tercengangnya. Tabib yang hendak nencelakakannya itu ditemukan, tentu saja dia sangat berharap ini terjadi.
Dia sangat yakin ada konspirasi di belakang semua rencana jahat yang ditujukan kepada dirinya itu.
Mata yang penuh marah itu tiba-tiba muncul kembali, memerah penuh kemurkaan.
Gigi Yang Mulia bergemerutuk, mengingat tabib yang hampir saja membuat istri dan anaknya dalam bahaya tersebut.
"Bawalah dia sekarang ke hadapanku!"
Suara itu menggelegar, seperti auman yang hendak memecahkan tembok ruangan istana Xingwu.
"Baik, Yang Mulia." Kasim Chen segera membungkuk kembali, mundur beberapa langkah dan berbalik lalu menghilang di balik pintu.
Ibu Suri berdiri di tempatnya, mengurungkan niatnya untuk kembali, dia harus memastikan bahwa tabib itu tidak sepatah katapun menyebut namanya sebagai dalang di balik kejadian ini. Jika sampai itu terjadi, maka semua pengorbanan dan perjuangannya di masa lalu akan hancur sia-sia.
Pintu itu terbuka lebar, tabib perempuan bernama Li Sung itu berjalan terbungkuk-bungkuk, tubuhnya gemetar luar biasa, sementara kedua tangannya terikat ke belakang punggung.
Dan Yang membuat ibu Suri serta Xiao Yi segera terperanjat bahkan terbelalak dengan rasa tak percaya,
Di belakang tabib yang berjalan dengan ketakutan itu ada seorang laki-laki dengan pakaian berjirah besi, matanya tajam selegam giok hitam.
Dengan tubuh tegap dan langkah panjang, sementara satu tangannya mendorong tabib Li Sung, Panglima Zhao Juren menatap ke depan dengan wajah terangkat. Mata itu sekilas memandang pada Xiao Yi, dengan sejuta makna.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...