
Qian Ren terpana sejenak, menatap kepada selir Yuan, dalam kebingungan. Istri raja yang di rawatnya selama ini, bersikap begitu aneh di saat awal dia berbicara kembali.
Qian Ren tahu benar, meskipun lumpuh dan tak bisa berkata-kata selama ini, Selir Yuan dalam kesadaran penuh. Dia bisa melihat dan mendengar, hanya saja tidak bisa merespon.
"Nyonya..." Qian Ren berucap dengan rasa terkejut yang masih sangat kentara.
"Aku tidak pernah berfikir akan bertemu kembali denganmu, seperti ini." Jemari Selir Yuan begitu dingin di pegelangan tangan Qian Ren.
"Kita? pernah bertemu?" tanya Qian Ren dengan bingung dan berusaha melepas jemari selir Yuan dengan halus.
Selir Yuan menggerakkan kepalanya di tempat tidurnya dan tersenyum meskipun begitu lemah.
"Beberapa tahun yang lalu, waktu aku datang ke Youwu, sedang musim gugur. " Selir Yuan menatap ke arah langit-langit pondok kayu, setenang perasaannya yang tiba-tiba seperti dirasuki rasa rindu yang sangat dalam.
"Aku datang ke pesta ulang tahun gubernur Qian Lie bersama ayahku, tinggal beberapa hari di istana gubernur" Wajahnya yang pucat menerawang, seolah itu terjadi kemarin sore.
"Aku bertemu dengan seorang pemuda yang memetik buah pir di kebunnya, dia mengaku bahwa dirinya adalah putra pelayan di istana itu." Lanjutnya, membiarkan Qian Ren melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Qian Ren.
"Pemuda itu memberiku beberapa buah pir, dan esoknya dia membawaku beberapa tusuk tanghulu yang manis. Dia tidak pernah menanyakan namaku, dia hanya datang dan pergi sampai aku harus pulang kembali, dia tak pernah menemuiku lagi" Dua bulir bening jatuh di sudut mata Selir Yuan. Dia berbaring dengan wajah sendu, menerawang dengan senyum samar di bibirnya .
"Nyonya? kamu adalah gadis tanghulu itu?" Qian Ren terpana, mengais ingatannya pada seorang gadis belia yang baru saja beranjak remaja, beberapa tahun yang lalu.
Gadis manis yang selalu tersenyum itu, meminta buah pir padanya, dan merengek-rengek memintanya membawa manisan tanghulu Youwu padanya.
Dia tak pernah sedikitpun tertarik pada siapapun, kecuali pada Xiao Yi saat itu. Dan kedatangan tamu ayahnya itu bukanlah hal yang menarik perhatiannya, kecuali gadis manja yang periang itu begitu ingin dia membawa banyak hal.
"Kamu...kamu bahkan tak pernah menanyakan namaku." Desah selir Yuan dengan sedih.
"Nyonya...maafkan aku. Itu hanyalah masa lalu."Qian Ren menyahut terbata, sangat aneh rasanya, seorang istri dari raja begitu menghiba pada dirinya.
Selir Yuan menyeka buliran bening dari sudut matanya dengan tangan gemetar.
Membiarkan Qian Ren yang menundukkan wajahnya dan pamit. Laki-laki itu tak lagi perduli dengan apa yang tadi di carinya.
Selir Yuan merasa takdir begitu kejam padanya, dia dipertemukan dengan orang yang sangat di sukainya setelah dia menjadi isteri seorang raja, meskipun hanya sebagai selir yang sama sekali tak dicintai.
__ADS_1
Dan yang lebih menyakitkannya, laki-laki itulah yang telah dengan suka rela membantu merawatnya dalam kesakitannya, mengembalikan setiap remah semangatnya untuk hidup.
Tetapi ketika dia benar-benar terbangun, dia tak bisa menemukan cinta yang dicarinya di mata lelaki itu.
Dia kehilangan separuh dari harapannya untuk merasakan dicintai pada saat dia di beri kesempatan untuk hidup kembali.
Selir Yuan membuka telapak tangannya, sebuah liontin giok hijau yang cantik berada di sana, liontin itu jatuh dari leher Qian Ren saat dia menggendong selir Yuan dari tempat permandiannya.
Dia sungguh tak tahu apa arti liontin giok itu bagi Qian Ren, tapi dia sangat yakin itu berharga bagi laki-laki itu, sampai-sampai Qian Ren rela kembali ke kamarnya untuk mencari liontin giok itu.
"Kakak Yuan..." Tiba-tiba Xiao Yi menghambur masuk di ikuti oleh dengan nyonya Xiao.
"Kakak sudah bisa berbicara lagi?" Xiao Yi memeluk Selir Yuan dengan bahagia.
Selir Yuan tersenyum meskipun begitu kecut, membalas mengangkat tangannya dan memeluk selir Yi yang begitu setia memperjuangkan kehidupannya.
Tak pernah dia mempunyai seorang teman dalam hidupnya yang nelangsa ini, tapi Tuhan telah begitu baik mengirimkan seorang sahabat yang begitu mengasihinya, bahkan berada di sampingnya pada saat titik terendah dalam hidupnya.
Dia tahu, hidupnya tak akan pernah bisa menjadi lebih baik dari sekarang jika tidak bertemu dengan selir Yi.
"Jangan bergerak banyak dulu, yang penting sekarang semua baik-baik saja..."
"Hari ini kita bisa segera kembali ke kota, selir Yuan akan semakin cepat pulih di sana" Nyonya Xiao tersenyum pada selir Yuan.
"Terimakasih nyonya." Selir Yuan menatap kepada ibu Xiao Yi dengan wajah yang begitu berterimakasih.
"Pengawal Cun mengabarkan, ayahmu sudah menunggu di istana gubernur Qian, datang tadi pagi. Gubernur Weiheng sangat rindu padamu." Kata Xiao Yi.
Selir Yuan mendekap tangan Xiao Yi, sangat banyak kata yang ingin di ucapkannya, tapi dia sungguh tak tahu harus memulai dari mana.
"Bolehkah aku meminta kita tinggal satu malam lagi di sini?" tanya selir Yuan dengan suara rendah.
Xiao Yi dan ibunya saling bertatapan. Tidak mengira, selir Yuan tidak antusias untuk segera kembali.
"Tentu saja boleh, dan memang sebaiknya begitu, kita akan kembali besok pagi, saat tubuh kakak Yuan sudah benar-benar bugar." Sahut Xiao Yi.
__ADS_1
Selir Yuan tersenyum, dari pintu muncul pelayannya Ayin yang tergopoh-gopoh datang saat menerima kabar nyonyanya telah bisa berbicara kembali.
"Nyonya...nyonya..." Ayin berlutut di lantai menghadap balai-balai peraduan selir Yuan.
Air matanya tumpah ruah.
"Ayin, aku baik-baik saja..."Selir Yuan melambaikan tangannya, memberi isyarat pelayannya itu mendekat.
"Terimakasih sudah menemaniku melewati semua ini, Ayin..." bisiknya. Airmata Ayin semakin deras.
Begitu bahagia melihat nyonya yang sangat di sayanginya itu telah kembali.
Xiao Yi menepuk punggung tangan Selir Yuan dan pamit keluar,
"Beristirahatlah dulu, aku akan membawakanmu teh" kata Xiao Yi.
Xiao Yi keluar dari kamar selir Yuan dan berdiri dengan lega di pinggir tebing tempat pondok Bai Sheng berdiri dengan kokohnya itu.
Rasa lega menjalari hatinya, satu tugas telah hampir selesai. Dia telah menepati janjinya mengembalikan selir Yuan kembali seperti sedia kala.
Dan wajah Yang Mulia Yan Yue segera menari di benaknya, betapa menyenangkan membayangkan wajah tampan yang hangat itu, sebentar lagi akan bertemu dengannya.
Rindunya seperti pohon-pohon cemara kecil yang nampak bergoyang-goyang di tiup angin sore.
Gua Duyao di depan begitu diam, seperti saksi bisu bagaimana dirinya berjuang untuk selir Yuan, untuk dirinya sendiri dan untuk kehormatan suaminya, Yang Mulia Yan Yue.
Banyak hari, banyak malam di laluinya, terpisah dari orang yang sangat di cintainya itu. Jarak bercerita dengan lugas, bahwa rindu akan membuat seseorang menyadari, cinta itu terasa saat tak bersama.
Malam turun segera di atas pondok Bai Sheng, Selir Yuan terlelap setelah minum ramuan obat nyonya Xiao, Qian Ren sejak sore sudah berada di kemahnya, sedikit shock dengan reaksi selir Yuan padanya. Para pengawal berada di sekitar kemahnya masing-masing, nampak tidak terlalu waspada karena baru saja menyelesaikan makan malam. Pengawal Cun sepertinya tak nampak, mungkin sedang di sibukkan oleh sesuatu setelah seharian berjaga di sekitar pondok. Chu Cu dan nyonya Xiao berada di ruang obat, Ayin menjaga nyonya nya.
Yang tersisa Xiao Yi duduk di depan pondok menatap langit, larut dalam fikirannya, ketika dari kegelapan malam, seseorang dengan cadar muncul. Dengan sedikit gerakan tangannya menotok leher gadis itu, hingga tak sadarkan diri, Xiao Yi sama sekali tidak waspada dengan kejadian mendadak itu. Dan dalam sekejap tubuh ramping Xiao Yi berada dalam bopongannya.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
__ADS_1
...Biar author tambah rajin UP...