
Xiao Yi kemudian memisahkan tiga masakan yang dipilihnya, ke sudut meja.
"Ada tiga hidangan yang sangat mewakili tema Chushi ini." ujarnya sambil mengangkat sebuah mangkok porselen milik Selir Nuo.
"Selir Nuo telah membuatkan satu masakan yang sangat enak meski menggunakan delapan bahan utama, tapi rasanya membuat satu kesatuan yang unik. Ada dua jamur hitam dan jamur tungku, ditambahkan teripang, ikan segar, udang manis, telor ikan, abalone, kacang ginko dan biji lotus." Selir Yi menghela nafasnya sebelum melanjutkan,
"Mereka dimasukkan pada saat yang tepat dan dimasak dengan hati-hati. Makna yang tersirat, di dalam semua bentuk itu mewakili berbagai rasa yang menyatu, selir Nuo menginginkan Yang Mulia bisa menyatukan semua elemen di bawah kepemimpinannya dan berharap supaya apa yang diimpikan oleh Yang Mulia bisa segera tercapai."
Selir Nuo berdiri dari duduknya, memberi hormat kepada Yang Mulia dan mengucapkan terimakasih kepada Selir Yi telah mendeskripsikan dengan amat baik, masakan yang dihidangkannya.
Xiao Yi kemudian mengangkat hidangan dari selir Yuan, berupa fillet ikan kerapu yang di hias irisan cabai di atasnya.
"Selir Yuan menghidangkan Shuizhu yu pada Chushi ini, di olah dengan sederhana dengan bumbu jahe dan bawang putih. Menjadikan masakan sehat ini terasa segar. Dagingnya di masak pada suhu yang tepat, sehingga terasa lembut. Hidangan ikan selalu bermakna keberuntungan dan kemakmuran. Selir Yuan mengharapkan Yang Mulia selalu beruntung dan membawa kemakmuran"
Selir Yuan tersenyum dengan riang, memberi hormat kepada Yang Mulia dan mengucapkan terimakasih pada Xiao Yi.
Xiao Yi tersenyum pada teman baiknya ini, dia sungguh berharap Yang Mulia akan memilih Selir Yuan jikapun harus memilih. Dia setidaknya lebih tulus dari pada yang lain.
Xiao Yi sesaat mengitari pandangannya, kemudian dengan pasti di angkatnya sebuah piring porselen, yang membuat selir Mei seperti tersambar petir karena terkesima.
Itu adalah piring hidangannya, sungguh mustahil selir ini memilih salah satu yang akan dipilihnya adalah hidangan milik orang yang dia tahu benar sangat tidak menyukainya.
Andai sekarang dia di posisi selir Yi, dia tidak akan menutup mata dengan apapun yang di hidangkan oleh gadis itu, jangankan memilih, melihatnya pun tidak.
"Jiaozy yang di masak oleh selir Mei. dibuat dengan beberapa tahap pemasakan. Daging bebek muda yang di cincang dan sayuran segar di bungkus dengan adonan tepung yang lembut. Setelah di rebus, kemudian sebagian di kukus dan sebagian di goreng. Bentuknya seperti tail perak yang menarik. Di sana terkandung do'a yang mulia tidak menjadi serakah dengan kekuasaannya dan tentu saja di beri kelimpahan, kekayaan dan kemakmuran."
Dengan muka merah padam selir Mei berdiri di tempatnya, memberi hormat kepada Yang Mulia Raja kemudian dengan wajah enggan dan sedikit malu mengucapkan terimakasih kepada Xiao Yi.
Selir yang lain terduduk dengan wajah lesu. Mereka tak pernah menyangka bahwa festival Chushi tahun ini, seharusnya mereka lebih mempertimbangkan tidak hanya rasa dan penampilan tetapi juga makna dari setiap hidangan yang mereka suguhkan.
Selir Yi telah membuka mata mereka untuk bersikap menjadi lebih bijak dalam setiap tindakan.
Xiao Yi maju ke depan Yang Mulia, memberi hormat kemudian mengangkat wajahnya, dengan dada yang bergetar hebat.
__ADS_1
"Saya sudah menyelesaikan tugas saya Yang Mulia. Selanjutnya adalah tugas Yang Mulia memilih dari antara ketiga hidangan tersebut." kata Xiao Yi dengan terbata-bata. Perasaannya benar-benar tak menentu saat berhadapan dengan Yang Mulia, terasa aneh dan tak berdaya, semua persendiannya terasa seperti hendak lepas.
Mata Yang Mulia membuatnya dirinya panas dingin, seperti di timpa derai hujan yang tiba-tiba di musim panas.
Yang Mulia menatap lurus kepada mata gadis itu tanpa ekspresi apapun, seolah mencari sesuatu di sana.
"Saya mohon ampun kepada Yang Mulia dan ibu Suri jika saya tidak bisa mengikuti festival ini sampai selesai, saya mohon diperkenankan mengundurkan diri lebih awal dari pertemuan ini. Badan saya sedang tidak terlalu sehat, mungkin harus menemui tabib istana." Bibir Xiao Yi yang pucat itu terlihat gemetar.
Sesaat kilat kekhawatiran berkelebat di wajah Yang Mulia.
"Kamu sepertinya memang perlu istirahat, selir Yi" sambut ibu Suri. Dia melihat bagaimana tubuh gadis itu gemetar, saat berbicara di depan Raja.
Yang Mulia sejenak, mengamati wajah gadis itu. Dia tidak berbohong, memang rupa Xiao Yi dalam keadaan tidak baik.
"Selir Yi boleh kembali ke wisma Xingwu sekarang. Perhatikan kesehatanmu selir Yi!"
Ucap yang Mulia dengan nada seperti memerintah. Menekan perasaannya yang sangat cemas.
Xiao Yi sekali lagi memberi hormat lalu berbalik disambut dengan Chu Cu yang langsung menuntun majikannya dengan wajah khawatir.
Langkah Xiao Yi meninggalkan aula besar itu d iringi tatapan semua pasang mata yang hadir dengan perasaan yang berbeda-beda.
Hanya dua pasang mata yang benar-benar merasa begitu cemas pada gadis itu dan hampir saja jika tidak mengingat status mereka saat itu, mereka berdua akan menghampiri gadis itu dan menggendongnya keluar dari ruangan itu.
Dua orang itu adalah, si pemilik mata coklat kehitaman yang misterius seperti warna batang pohon willow dan si pemilik mata elang yang sepekat giok hitam. Dua orang yang diam-diam mencintai gadis yang sama.
Xiao Yi berjalan dengan terseok menuju pelataran aula, kemudian berhenti untuk bertahan disebuah pilar.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" Chu Cu menahan tubuh Xiao Yi dengan cemas.
"Aku baik-baik saja, aku hanya tiba-tiba merasa lelah." Jawab Xiao Yi sambil mengangkat telapak tangannya, meminta Chu Cu menjauh darinya.
Dia hanya perlu waktu sebentar meredakan kepalanya yang terasa pusing karena menahan gemuruh di dadanya.
__ADS_1
Menatap wajah Yang Mulia Yan Yue, benar-benar membuatnya tidak tahan.
Yang ada di kepalanya adalah ingatan pada kehangatan bibir Yang Mulia pada malam itu dan hal ini membuatnya benar-benar merasa kacau serta malu. Dia seolah tidak bisa mengendalikan dirinya ditatap sedemikian rupa.
Andai saja tak ada siapapun di aula itu, mungkin saja dia akan bersikap bodoh dengan mempertaruhkan harga dirinya dengan melompat ke pelukan Yang Mulia.
Xiao yi menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir kegilaan yang bermain di dalam benaknya.
Dia berusaha menenangkan dirinya, wanita terhormat tidak akan bertingkah mempermalukan diri sendiri, tegurnya pada dirinya sendiri.
Dan suatu kebetulan pula, demam aneh ini melanda dirinya pada saat yang tepat, dia tidak ingin menyaksikan siapa yang kemudian dipilih Yang Mulia untuk memenangkan festival Chushi.
Sungguh, dia tidak ingin tahu siapapun itu yang malam ini akan menjadi teman Yang Mulia menghabiskan malamnya yang panjang. Dan Xiao Yi juga akan melewati malam ini dengan lebih panjang karena dia akan terjaga sampai pagi dalam gelisah.
Xiao Yi menghela nafas, mungkin malam ini memang dia memerlukan seorang tabib.
"Chu Cu...!" Panggil Xiao Yi.
"Ya, Nyonya..."
"Kita kembali ke Xingwu sekarang." lanjut Xiao Yi.
Tangannya melambai kepada seorang pelayan sebelum masuk ke dalam tandu yang telah menunggunya dan berucap dengan suara tegas,
"Panggilkan seorang tabib ke wisma Xingwu!"
...jangan lupa klik vote, like, favorit dan hadiah untuk novel ini🙏...
...Silahkan komen yang banyak di bawah, ya🤭...
...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
__ADS_1
...Nantikan episode berikutnya❤️...