
Ibu suri terjajar dua langkah ke belakang, matanya membesar, tak lepas menatap ke arah Zhao Juren yang baru saja tiba.
"Hormat kepada yang Mulia, mohon ampun memasuki ruangan nyonya selir Yi dengan lancang." Panglima muda yang gagah itu membungkukkan badan dengan dalam, dia sama sekali tidak menoleh kepada ibu Suri yang menatapnya tajam dan tegang.
"Juren?" yang Mulia sesungguhnya tak bisa menyembunyikan keheranannya, bagaimana mungkin panglimanya ini ikut terlibat dalam penangkapan tabib Li Sung sementara belum sejam yang lalu dia memerintahkan para pengawalmya untuk mencari sang tabib.
Namun, apapun yang terjadi di balik semua itu yang terpenting adalah, tabib yang telah membuatnya murka karena hampir saja mencelakakan selir Yi dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya itu, di bawa bahkan dalam keadaan hidup ke depannya.
Panglima Zhao Juren mendorong tabib perempuan itu ke lantai sampai terduduk bersimpuh.
"Ampuni hamba, Yang Mulia...ampunilah hamba." tabib itu membungkukkan badannya dengan ketautan sampai dahinya bertubi-tubi menyentuh lantai.
Yang Mulia berjalan dengan langkah pelan dan berat, matanya tertuju pada tabib Li Sung yang menunduk di lantai dengan tubuh yang gemetar.
Panglima Zhao Juren berdiri mematung di belakang sang tabib, pandangannya lurus ke depan, sampai ke peraduan yang kini msih terduduk setengah berbaring seorang perempuan yang telah merebut semua cinta bahkan kehidupannya.
"Angkat kepalamu!"
Suara menggelegar disertai rasa geram itu terdengar penuh amarah.
Tabib perempuan setengah baya itu semakin ketakutan, kepalanya semakin rendah hampir menyentuh kaki Yang Mulia yang kini berdiri tegap di depannya.
Panglima Zhao Juren hanya berada sedepa di depannya, berdiri sejajar pandang dengannya.
"Apakah kamu tuli, aku memerintahkanmu mengangkat kepalamu itu! Tatap wajahku sekarang!!"
Tubuh ringkih itu semakin gemetar.
"Hamba tidak berani Yang Mulia..." Suaranya tercekat, bibirnya yang pucat itu bergetar seperti orang yang menunggu waktu untuk pingsan.
"Tidak berani? Bagaimana mungkin kamu menjadi kehilangan nyali sekarang? bukankah kamu sudah cukup berani membohongiku dengan penuh keyakinan, menyatakan bahwa selir Yi hanya sakit karena kelelahan, sementara kamu tahu benar dia adalam keadaan hamil?" gigi Yang Mulia bergemerutuk.
"Hamba benar-benar tak tahu Yang Mulia, hamba memang salah menganalisa karena kebodohan dan kemampuan hamba yang rendah ini."Tabib Li Sung menghiba-hiba, kedua telapak tangannya saling mencengkeram dengan kuat, wajahnya yang pucat pasi di basahi air mata ketakutan, mendonggak kepada Yang Mulia dengan ketakutan yang seperti tersirat sampai ke tulang.
"Tutup mulutmu itu! Jangan menambahku semakin berang padamu! Bagaimana mungkin kamu bisa beralasan telah salah menganalisa? Bagaimana kamu bisa mengatakan obat yang kamu berikan untuk selir Yi itu juga adalah keteledoran?" Kedua tangan Yang Mulia bertengger di pinggangnya, nafasnya tersengal karena amarah yang berusaha di tahannya sedari tadi.
"Jangan berdalih!" Tiba-tiba Ibu Suri maju dengan muka merah padam,
"PLAK!!"
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mengenai wajah pucat itu, membentuk cetakan lima jari di sana, saking kerasnya.
Yang Mulia dan Panglima Zhao Juren sedikit terpana, dengan tindakan mendadak dari ibu suri.
Mata ibu suri begitu merah seperti membara, memandang dengan kilat mengancam, langsung kepada mata tabib Li Sung.
Tabib itu sejenak seperti orang yang linglung, tapi segera menyadari tatapan ibu suri yang kejam itu tidak hanya bisa membunuhnya tapi juga menghancurkan segala hal yang dipunyainya di dunia.
"Ampuni hamba Yang Mulia ibu suri...."Tabib Li Sung menjatuhkan diri di kaki Ibu Suri.
Ibu Suri menarik kakinya, seolah begitu jijik pada tabib itu, bahkan seolah dia tidak mengenal dekat sang tabib.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan kamu tidak bersalah? Kamu hampir membunuh penerus kerajaan Yanzhi, calon cucuku!"
Wajah licik ibu suri benar-benar memukau Xiao Yi.
"Atas alasan apa kamu ingin mencelakai Selir Yi dan anaknya?" Sekarang Yang Mulia yang bertanya.
Wajah tabib Li Sung segera menghadap Yang Mulia, dengan raut ketakutan.
"Ataukah...ada seseorang yang menyuruhmu melakukannya?"
"Ampuni hamba Yang Mulia."Tabib Li Sung menoleh kepada ibu Suri.
"Apakah kamu pantas meminta ampun dari Yang Mulia untuk kejahatan sebesar ini?" Tiba-tiba Panglima Zhao Juren membuka suaranya.
"Jika kau tidak tahu apa-apa, mengapa kamu memberikanku obat ini?" Xiao Yi telah berdiri di samping Yang Mulia, gaun putihnya berjuntai jatuh, seperti seorang dewi yang baru saja turun dari pertapaan.
Zhao Juren menundukkan wajahnya sedikit, dia sungguh bukan orang yang gentar terhadap sejuta ancaman di dunia ini, tapi berhadapan langsung dengan perempuan ini dia kehilangan rasa percaya dirinya.
Empat orang berdiri berhadapan, mengurung seorang tabib yang bersimpuh di lantai ketakutan.
Empat orang ini, mempunyai kekuatan yang tak terkatakan. Menyimpan banyak hal dalam dirinya masing-masing. Mereka seperti empat naga dari empat penjuru, semua yang ada di hati mereka tak ada yang mampu menyelami, banyak rahasia yang mereka kubur di relung jiwanya masing-masing.
Bahkan ada rahasia yang sanggup menjungkir balikkan negara sebesar Yanzhi.
Tabib Li Sung yang meringkuk ketakutan di bawah kaki mereka, seolah hanya sebuah alasan, untuk membuat mereka saling berhadapan dan mencari satu kelemahan untuk mengeluarkan sebuah akar dendam.
"Aku...aku ..." Tabib Li sung menundukkan kepala, seperti terhimpit batu besar di lehernya.
__ADS_1
Xiao Yi, dengan anggun dan perlahan menurunkan tubuhnya, bertopang di atas kakinya yang bertekuk dan menjadi sejajar dengan sang tabib.
Di sentuhnya perlahan bahu tabib Li Sung yang gemetaran.
"Anda seorang tabib dan mungkin seumuran dengan ibuku. Aku menghormati anda sebagai perempuan dan juga seorang ibu." Suara Xiao Yi terdengar lembut bahkan terasa berdenging sampai ke hati.
Tiga orang yang berdiri di antara mereka berdua, memamdang tak berkedip. Mata mereka menyimpan amarah dan ketegangan di hati masing-masing tapi tidak demikian dengan perempuan muda di depan tabib Li Sung.
Matanya berbinar hangat, seperti seorang anak yang memohon belas kasihan seorang ibu.
Tabib Li Sung memberanikan dirinya, mengangkat kepalanya perlahan, menatap kepada selir muda di depannya itu.
"Katakan padaku, apa yang menggerakkan hatimu sehingga mengkhianati nuranimu sendiri, berusaha membunuh seorang janin tak berdosa yang bahkan belum terlahir ke dunia? Seorang ibu, tak akan punya hati sekejam itu."
Xiao Yi menarik segaris senyum, seolah menyatakan tak ada dendam dan kemarahan di dirinya.
Hanya seorang anak sekaligus ibu muda yang membawa sebuah pertanyaan sarat dengan tuntutan untuk jawaban penuh kejujuran.
Air mata tabib Li Sung, turun tak terbendung, segala rasa yang di tahannya seolah mendesak ingin tumpah.
Dia merasa lebih terhormat dicaci dan dimaki oleh perempuan ini dari pada diperlakukan seperti ini.
Sebuah dosa besar yang di tanggungnya terasa semakin berlipat, bahkan menjadi mati pun dia malu.
"Saya mohon ampunilah saya nyonya selir Yi..." Air mata itu membasahi sampai ke dagunya yang mulai berkerut.
Xiao Yi diam, tak menjawab, hanya matanya yang tenang berpendar menatap seolah berbicara, dia tak perlu mengulang setiap pertanyaan, Tabib Li Sung hanya perlu menjawab.
Bibir tabib Li Sung begitu gemetarnya, suara terbata-bata itu akhirnya keluar perlahan,
"Saya...melakukannya untuk seseorang..."
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
__ADS_1