
"Afei, bertahanlah sebentar lagi..."
Jiu Fei di dalam pelukannya, tak menyahut, hanya melenguh kecil seperti isyarat bahwa dia mendengarkan Zhao Juren.
Dada Zhao Juren bergemuruh, menatap ke arah langit yang bersinar terang, purnama terakhir di musim gugur menjadi begitu merah.
Zhao Juren menguasai ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, kecepatannya bergerak bahkan hampir sama dengan lari seekor kuda.
Saat mereka tiba di pinggiran hutan wisteria, di lereng bukit Zhieshan.
Jiu Fei mencengkeram dada Zhao Juren seperti begitu kesakitan.
Zhao Juren menghentikan langkahnya,
"Bisakah kamu berjalan dengan perlahan?" Jiu Fei membuka matanya, rambutnya yang tergerai itu tampak kusut dan aneh.
Zhao Juren menghentikan larinya, sekarang menatap ke arah perempuan yang meringkuk dalam pelukannya.
Tangannya menarik rambut yang melekat di kepalanya, merapikannya dengan tangan gemetar.
"Aku...tak mau kamu melihatku dengan kepala yang botak...rambut palsu ini akan membuatku tetap terlihat seperti Afei."
Zhao Juren menyadari, Jiu Fei sesungguhnya benar-benar tak memiliki rambut lagi saat memutuskan masuk ke dalam kuil Sunyen.
Penampilannya sekarang ternyata karena dia melekatkan rambutnya yang di cukurnya dulu pada kulit binatang kering dan melekatkannya pada batok kepalanya yang licin, seolah rambutnya benar-benar kembali panjang.
Zhao Juren melangkahkan kakinya kembali meski hanya dalam langkah panjang, matanya tak lepas dari wajah Jiu Fei.
"Maukah kamu mengembalikan ini kepada seseorang?" Tangan Jiu Fei yang gemetar menyelipkan sebuah tusuk rambut kayu, berukir bunga lotus ke dalam jubah Zhao Juren.
"Kepada siapa?"
"Selir Yi..."
Zhao Juren sejenak tertegun saat nama itu di sebut oleh Jiu Fei. Darahnya terasa berdesir halus. Tapi bibirnya terkatup rapat begitu kelu, dia tak mampu bertanya, bagaimana Jiu Fei ternyata mengenal Xiao Yi, perempuan yang telah mencuri hatinya dan membuatnya rela melindungi perempuan itu mati-matian.
"Katakan padanya...seorang kakak mengembalikan ini pada adiknya. Apa yang menjadi miliknya, tetap akan menjadi miliknya."
Senyum tipis tersungging di bibirnya, sejenak benaknya menerawang pada kenangan lama, seolah-olah baru saja kemarin terjadi.
__ADS_1
"Jika kamu kesepian buatlah sesuatu, sambil memikirkan orang yang kau sukai. Suatu saat jika bertemu, berilah padanya. Tanda kamu selalu mengingatnya."
Jiu Fei mengucapkan kata-kata itu dulu kala, kepada Yang mulia Yan Yue saat mereka duduk di dataran lereng Gunung Yanshan, sambil mengajari pangeran muda iti memahat sebuah ranting untuk menjadi sebuah sumpit dengan ekor naga di ujungnya.
Jiu Fei sungguh sangat tahu dari pertama dia melihat tusuk rambut itu di kepala Xiao Yi, bahwa tangan Yang mengukirnya pastilah Yang Mulia.
Entah mengapa, dia seolah merasakan, tusuk rambut dengan ukiran bunga lotus di ujungnya itu di buat oleh Yang Mulia sambil memikirkan dirinya.
Yang Mulia tahu benar kalai Jiu Fei sangat menyukai bunga lotus yang sedang menguncup.
"Bentuknya begitu aneh dan malu-malu, tapi mengundang penasaran, seperti apakah rupanya saat mekar?" pertanyaan itu selalu mengusik Jiu Fei.
Dia menyadari sekarang dalam hatinya, Yang Mulia benar-benar telah melupakan dirinya, itulah alasan mengapa pahatannya itu di berikannya kepada Selir Yi.
Cinta itu mungkin telah kehilangan bentuk, menguap dan terkikis bersama waktu, dibawa oleh angin dari puluhan musim yang telah berganti tiada henti.
"Aku melihat padang rumput Niangxi di depanku, tapi...aku tak bisa pulang lagi..." Jiu Fei tiba-tiba berbisik parau, matanya terpejam, air mata menetes dari sela bulu matanya yang lentik.
"Juren..."
"Ya."
"Ya..."
"Apakah kamu tidak menyesalinya?"
"Tidak."
"Tapi aku menyesalinya..." Suara Jiu Fei hampir tak terdengar. Zhao Juren tak menyahut, meski hatinya pedih mendengar pernyataan itu, entah dengan maksud apa Jiu Fei mengatakannya.
Dia membuang pandang, menatap lurus kedepan, pada hamparan daun wisteria berwarna ungu keperakan dalam gelap yang berguguran di tanah, di bawah cahaya bulan.
"Maukah kamu mengatakan lagi?" Jiu Fei meletakkan telapak tangannya di dada Zhao Juren. Dia meringkuk dan membenamkan wajahnya di sana, sementara nafasnya sudah mulai terputus-putus.
"Mengatakan apa?"Zhao Juren hampir tak bisa lagi bertanya, dia tahu Jiu Fei hanya berusaha tetap menjaga kesadarannya.
"Bahwa, kamu mencintaiku...seperti yang kamu katakan dulu..." Nada suara itu berpacu dengan nafasnya yang satu-satu.
Zhao Juren tak menjawab, bibirnya menjadi kelu. Sekelebat wajah Xiao Yi bermain di pelupuk matanya.
__ADS_1
Waktu telah menggantikan tempat Jiu Fei di hatinya, waktu telah merampas semua perasaan patah hatinya meskipun berganti dengan patah hati yang baru.
Di dadanya, hanya ada hati yang remuk redam, hancur dalam kepingan yang tak berbentuk.
Dia tak tahu, di manakah cinta itu berada sekarang, dan pada siapa perasaan itu tertuju dengan sempurna.
"Aku...aku...tidak harus mengatakannya." Zhao Juren berucap dengan perasaan yang hampa.
"Katakanlah..." Bisik Jiu Fei, hampir tak terdengar.
"Aku..." Suara Zhao Juren terhenti, tercekat sampai kerongkongannya yang terasa kering, dia merasakan nafas Jiu Fei begitu berat dan panjang menghembus hangat di dadanya, begitu panjang dan hangat menembus jubah ungunya. Tarikan nafas itu hanya sebentar saja, sebelum kemudian tangan Jiu Fei jatuh terkulai di udara, lepas dari dadanya.
Air mata Zhao Juren tak bisa di bendungnya, bahkan dia tak bisa menahan isaknya yang tersendat. Kakinya terpaku sejenak, di kecupnya mata yang terpejam itu, berharap bisa terbuka lagi.
Sosok Jiu Fei tak bergeming, begitu tenang seperti tidur, bahkan bibirnya tersenyum meski tak lagi bernyawa.
Zhao Juren tahu, Jiu Fei telah pergi untuk selamanya, bahkan sebelum sempat dia mendengarkan keinginan terakhirnya di ucapkan oleh Zhao Juren.
"Aku mencintaimu, Afei...dulu aku pernah begitu mencintaimu..." Air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya yang merah oleh darah kering yang menempel dari tangan Jiu Fei saat memegang pipinya.
Dia mungkin seorang panglima, tapi airmata adalah milik siapa saja.
Saat sedih tak lagi bisa tertahan, hanya dengan mengeluarkannya perasaan bisa sedikit di legakan.
Tubuh di pelukannya itu masih terasa hangat, meskipun tak lagi bergerak dan bernafas. Di dekapnya semakin erat, dia ingin Jiu Fei tetap hangat, meskipun dia tahu sebentar lagi tibuh itu akan menjadi sedingin es.
"Maafkan aku, Afei...maafkan aku yang seumur hidupku tak pernah bisa membuatmu bahagia, meski sebentar saja. "Bisiknya lirih, langkahnya yang sempat terhenti segera diayunkannya lagi, menembus malam yang hampir bertemu fajar. Langkah yang tak lagi merasakan apa-apa itu tetap menaiki bukit Zhieshan di bawah cahaya bulan purnama, menuju kuil Sunyen di atas sana.
Zhao Juren tak berhenti melangkah meski hatinya meratap, dia akan tetap mengantar Jiu Fei kepada kuil yang telah menjadi rumah terakhirnya, tempatnya menganyam sejuta luka dalam seribu untaian do'a.
Adakah yang bisa menebak takdir?
(Please Vote, like, komen , ya...supaya Author semakin bersemangat untuk menulis episode selanjutnya, akan ada kejutan lho di part selanjutnya...🤗🤗🤗)
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
...I LOVE YOU ALL❤️...
__ADS_1