SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 40 MENGHABISKAN MALAM DI WISMA HAOHUA


__ADS_3

Festival Chushi baru saja selesai, senyum selir Mei merekah, seperti bunga camelia yang baru saja mekar. Yang mekar cerah di perbukitan musim semi. Bibirnya yang merona basah lebih jingga dari matahari yang membenamkan diri di ufuk barat, mengambang dengan lepas.


Sungguh tak pernah disangkanya, semua perjuangannya untuk mendapatkan perhatian Yang Mulia Yan Yue akan terbayar dengan berlipat ganda, malam ini. Kesabarannya berbuah tepat pada musimnya. Seperti kesemek yang sangat manis.


Dia mematut wajahnya didepan cermin, memeriksa setiap jengkal riasan wajahnya. Pelayannya Nuan, sibuk merapikan rambut majikannya itu, mengangkatnya sebagian ke atas dan menjatuhkan sebagian rambutnya ke depan telinga, sesuai permintaan selir Mei.


Rambutnya yang seperti sutra hitam itu, menjurai jatuh di lehernya yang putih tidak beraturan, tapi memberikan kesan menggoda yang luar biasa.


"Malam ini, aku harus membuat Yang Mulia terpesona." Ujarnya dengan senyum yang licik.


Gaunnya yang berwarna merah taffy yang begitu mengundang, dari bahan satin damask yang sangat mewah dan lembut. Di bagian dada terbuka rendah, di tutup jubah setengah transparan yang jatuh di sampai kelantai, permukaannya satin itu di hiasi beludru halus warna senada.


Penampilan Selir Mei sungguh sangat sempurna malam ini, hanya menunggu Yang Mulia datang ke kamarnya saja, maka tidak ada lagi yang bisa meragukan keberadaannya di dalam istana Harem ini.


Masih terbayang hangat di kepalanya, begitu selir Yi keluar dari dalam Aula Qing Ren dengan wajah pucat pasi itu, ketegangan merayap. Suasana hening seperti kuburan.


Yang Mulia nampak tercenung beberapa lama tanpa bicara sama sekali, membuat ketegangan semakin kental.


Selir Mei sudah merasa kehilangan semangat, apalagi mengingat betapa Ibu Suri sangat kesal padanya, semua rencananya hancur berantakan.


Tapi, nasib baik tak pernah kemana, Yang Mulia tiba-tiba mengambil piring Jiaozynya dan berkata berkata dengan suara tegas dan keras,


"Di tahun ini, semua sifat serakah memang harus di buang, seperti rumput teki yang akan terus menjalar jika tidak di cabut sampai akar-akarnya. Kalau tidak, bagaimanakah negara ini bisa mencapai kemakmuran dan kejayaan, seperti harapan selir Mei?"


Semua orang menyadari, Yang Mulia telah memilih hidangan Selir Mei sebagai pemenang dalam kompetisi Chushi ini.


Selir Mei, yang masih dalam keadaan tak percaya menerima banyak ucapan selamat dari semua yang hadir, meski dia tahu tidak banyak yang mengucapkannya dengan ketulusan dari lubuk hati.


Malam ini, Selir Mei merasa melambung tinggi, dewa-dewa seolah sedang sangat berpihak padanya.


Sekarang sudah hampir tengah malam, sebentar lagi Yang Mulia akan datang padanya tanpa ada yang bisa mencegah lagi.


"Nuan, apakah ada kabar dari Rongyu, Yang Mulia segera tiba di wisma Haohua ini?"


"Belum, nyonya..." Jawab Nuan.


Selir Mei memeriksa kue cemilan dan beberapa guci kecil arak yang tersedia di atas meja pendek di dekat tempat tidurnya yang telah tertata rapih dan harum.

__ADS_1


Dari empat guci porselen berisi arak oshamanthus itu, ada satu yang berisi arak lu jiu yang sangat keras.


Arak itu sudah dipersiapkan dengan baik oleh selir Mei, karena dia sama sekali tidak ingin melewatkan malam ini, satu-satunya malam dalam satu tahun yang memungkinkannya membuat Yang Mulia menjadikannya mengandung seorang pewaris jika beruntung.


Arak lu jiu ini, dari ******** rusa jantan yang di potong dan dikeringkan, kemudian di rendam dalam arak beralkohol tinggi. Sangat di percaya meningkatkan vitalitas pria sekaligus membuat orang yang meminumnya terangsang.


Selir Mei tersenyum puas, semua sudah siap, sekarang yang tersisa adalah degupan halus di dadanya, yang begitu bahagia sekaligus gugup.


"Yang Mulia Raja telah tiba...!"


Suara pengawal di luar yang mengumumkan kedatangan Yang Mulia Yan Yue segera membuat Xiao Yi berdiri dengan sikap anggun ke arah pintu, membungkukkan badannya sambil menautkan jemari di depan kepalanya.


Pintu terbuka,


"Selir Mei memberi hormat kepada Yang Mulia raja, semoga Yang Mulia panjang umur..." sambut selir Mei dengan suara yang di buat-buat selembut mungkin.


"Bangunlah..." suara berat itu terdengar begitu indah di telinga selir Mei.


Dia mengangkat wajahnya, Yang Mulia Yan Yue telah bertukar pakaian sekembali dari aula Qing Ren. Sekarang dia mengenakan jubah sutra warna mulberry mengkilat dengan mantel panjang berwarna ungu dengan kerah dari bulu musang.


Nuan memberi hormat dan tergesa-gesa keluar serta menutup pintu dari luar dengan rapat.


Yang Mulia mengambil tempat duduk menghadap meja yang sudah disediakan oleh Selir Mei.


Dengan gerakan lembut Selir Mei menyentuh pundak kekar Yang Mulia dan membuka mantel sang Raja perlahan.


Yang Mulia diam, matanya lurus kedepan, membiarkan Selir Mei melakukannya.


Selir Mei duduk di sebelah Yang Mulia dan menuangkan secawan arak.


"Suatu kehormatan Yang Mulia telah memilih hamba," Selir Mei menyodorkan cawan arak itu dengan mata berbinar.


"Kamu memang pantas menerimanya." jawab Mulia datar. Dada Selir Mei membuncah karena bahagia, dia lebih suka menerima pujian Yang Mulia dari pada mendapatkan berkantong-kantong emas.


Yang Mulia, mereguk arak dengan cepat dan meminta cangkirnya di isi dengan cepat. Selir Mei menurutinya dengan senang.


Mata Selir Mei tak bisa berpindah dari bagian dada Yang Mulia, dahinya berkerut aneh seperti sedang memikirkan sesuatu, membuat bayangan misterius yang tampan di bawah cahaya lampu, dari bagian leher ke bawah memperlihatkan kelokan bidang di balik kain sutra itu. Tubuh itu kuat dan kekar, menjadikannya begitu menggoda.

__ADS_1


Mata Yang Mulia tampak meredup, Yang Mulia tampaknya mulai mabuk setelah menghabiskan hampir tiga guci arak dari atas meja.


"Yang Mulia..." Selir Mei memberanikan dirinya mendekat, mengelap jubah Yang Mulia karena basah oleh tetesan arak dari cawannya yang tumpah ketika meminumnya.


Yang Mulia hanya mengerutkan keningnya, ketika wajah mereka begitu dekat. Selir Mei tersipu, sekarang dia lebih berani, kuku jemarinya yang berwarna merah itu merayap di atas gaun sutra itu, jari itu menekan sedikit sampai ke kulit Yang Mulia.


"Yang Mulia sudah mabuk, lebih baik Yang Mulia tidak minum lagi" bisik Selir Mei setengah mendesah.


Bibir selir Mei yang basah tampak membuka, bau harum yang lembut namun menyesak, menyeruak ketika perempuan cantik ini semakin merapat. Kelopak matanya begitu sayu, menatap seperti menyerah.


"Berikan aku satu cangkir lagi..." Yang Mulia Mengerjapkan matanya, saat wajah Selir Mei tiba-tiba menjelma menjadi raut pucat selir Yi.


Selir Mei menarik tubuhnya, menuangkan lagi secangkir arak sambil membuat gerakan halus yang membuat jubah pada bahunya melorot perlahan ke lengannya.


Selir Mei hendak menyodorkan cawan itu sambil membuat gerakan mengangkat tangannya diatas kepala seperti hendak menaikkan kembali gaunnya, tapi gerakan itu membuat cawan yang di tangannya tumpah.


Arak itu tumpah, mengenai sebagian leher yang seputih pualam dan mengalir menyusup lewat gundukan dadanya,


Sekarang mata Yang Mulia menatap ke arah Selir Mei dengan tatapan yang nanar. Mata itu seperti kebingungan berusaha menekan rasa mabuk sambil mengais kewarasan yang tersisa.


Yang Mulia menelan liurnya yang terasa pahit, rasa haus yang aneh menjalari kerongkongannya, tapi perasaanya begitu hambar.


Ada kebahagiaan, kemarahan dan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya.


Perlahan Yang Mulia menggeser badannya yang berat, di ulurkannya tangannya ke arah selir Mei, menyentuh gaun sutra yang membuat dada dan lengan seputih bulu angsa itu terbuka lebar.


...Yang suka dengan novel ini, absen komen dong di bawah, author pengen menyapa kalau boleh🙏🙏🙏🤭...



...jangan lupa klik vote, like, favorit dan hadiah untuk novel ini🙏...


...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...


...Nantikan episode berikutnya❤️...

__ADS_1


__ADS_2