SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 146 PERMAISURI YI


__ADS_3

Xiao Yi berdiri di atas jembatan taman Shenhua, rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin sore.


Mantelnya yang semerah darah itu menghalau dingin yang merasuk sampai ke kulitnya yang putih bersih. Gaun sutranya yang sewarna dengan beras itu membuatnya sangat anggun.


Xiao Yi termenung menatap air yang tenang, langit tak pernah bersahabat di musim dingin, meskipun ini adalah hari keempat di musim dingin Yubei.


Setahun yang lalu, rasanya baru kemarin ketika dia berdiri tepi sungai Yalu, di bawah pohon Willow tua. Musim dingin di Youwu selalu lebih dingin daripada di Yubei, tapi dia akan selalu merindukannya.


Dia rindu pada kecongkakan pohon Willow yang tetap berdiri teguh meskipun salju hanya menempel pada ranting-rantingnya yang kering. Salju yang menempel pada kulit pohon legamnya akan bersinar keperakan seperti hiasan para dewi.


Pada Musim dingin itu dia telah berpisah dengan hidupnya di masa lalu, menyudahi kisah cintanya dengan seorang pemuda yang merupakan temannya dari sejak belia.


Laki-laki yang mempunyai andil dalam mengirimkan takdirnya ke istana Weiyan sebagai seorang selir persembahan.


Xiao Yi bergidik, cuaca menjadi semakin dingin, menjanjikan hujan salju di malam nanti, meskipun cuaca di Yubei tidak seekstrim di Youwu tapi rasa dingin yang sampai terasa sama.


Apapun pemandangan di Youwu akan selalu menjadi hal yang dirindukannya, meskipun mungkin di dataran tinggi Pingyuan langitnya terlihat selalu suram pada musim salju


Xiao Yi menyibak rambutnya dengan sikap anggun, menarik mantel merahnya lebih kuat. Gadis dengan mata secerah langit pagi di musim semi ini terpekur dengan lamunan yang mengambang seperti lotus yang menguncup resah diatas permukaan danau taman Shenhua.


Kekacauan yang terjadi beberapa hari yang lalu, telah mulai mereda dengan sendirinya seperti badai yang berhenti perlahan-lahan. Dari aula kebesaran berhembus semua pangkal muasalnya, di luar tembok rakyat yang berkumpul di halau dari kerumunan dan tetap saja kekacauan akan membuahkan kerusakan. Ada rumah-rumah yang di bakar, tempat-tempat umum yang di obrak-abrik, nyawa-nyawa melayang di jalanan akibat perkelahian dua pihak yang berseteru.


Kota Yubei yang ramai, hendak menyambut permaisuri baru, seketika porak poranda. Tapi, kerusakan itu memang tak sebesar yanag di derita jika benar-benar ibu suri berhasil memberontak kepada raja.


Semua rencana dan strategi Xiao Yi bersama Yang Mulia telah meminimalkan korban jiwa yang mungkin terjadi.


Hanya saja, Xiao Yi tak pernah menyangka jika Zhao Juren adalah saudara dari raja, sungguh sebuah rahasia yang tak pernah terfikirkan olehnya.


Ketamakan dan keserakahan, telah membuat kehidupan seorang anak dihilangkan, betapa Zhao Juren telah melewati hidup yang berat.

__ADS_1


Laki-laki malang itu dirawat di aula pangeran sudah empat hari ini, Xiao Yi mendengar kabar dia telah siuman dua hari yang lalu.


Kabar itu melegakan, apapun yang di lakukan ibu suri sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan Zhao Juren. Meskipun dia di gadang-gadangkan menjadi raja pengganti Yang Mulia Yan Yue jika penggulingan itu berhasil, tapi Zhao Juren sama sekali tidak tahu apa-apa.


Xiao Yi tak keberatan sekalipun memberikan pil sambung nyawa yang dimilikinya, satu-satunya itu untuk Zhao Juren. Setidaknya dia bisa membalas perbuatan Zhao Juren yang telah beberapa kali menyelamatkannya.


Memberi kehidupan baru pada orang yang terluka dari sejak dia di lahirkan, bukankah membuat orang itu seperti terlahir kembali.


Xiao Yi berharap, Zhazo Juren melupakan perasaan cinta pada dirinya dan hidup dengan baik, bertemu jodoh yang baik dan mencintainya. Setiap orang mempunyai kesempatan kedua dalam hidupnya.


"Yang Mulia permaisuri, barang-barang Yang Mulia telah dipindahkan ke istana Huangho dari wisma Xingwu." Chu Cu pelayan Xiao Yi kini adalah dayang tingkat satu di istana harem, dia yang bertanggungjawab atas semua kebutuhan permaisuri Yi. Bukan hal yang sulit baginya melayani sang permaisuri karena dia telah sangat mengenal majikannya itu.


"Chu Cu...aku masih sangat menyukai Xingwu..." Bibir merahnya itu berucap lirih, dia tahu tempatnya bukan lagi di Xingwu bersama tanggungjawab besar yang dibebankan di pundaknya dia harus pindah ke istana permaisuri itu.


Chu Cu hanya menundukkan kepalanya, tak menyahut apa-apa, dia selalu mengerti dengan kegelisahan sang majikan. Membiarkannya tenggelam dalam fikirannya sendiri selalu membuat Xiao Yi kembali tenang.


Perutnnya semakin membesar saja,di elusnya dengan lembut. Ada dua bayi di dalamnya, sedang menunggu untuk menyapa dunia. Dia tidak tahu apakah mereka lelaki atau perempuan, ataukah kedua-duanya tapi dia tahu diantara mereka akan menjadi pewaris kerajaan Yanzhi suatu saat nanti.


Tidak pernah dalam sejarah Yanzhi melahirkan putra atau putri kembar, karena itulah Xiao Yi mencemaskan apa yang akan terjadi dikemudian hari, saat mereka tumbuh dewasa jika dirinya tak telaten dalam mendidiknya. Menjadi pintar dan cerdas sangat penting tetapi menjadi bijak dan berbudi baik jauh lebih penting. Berada dalam lingkaran kekuasaan akan selalu bisa merubah sifat dan fikiran manusia, menahan diri untuk tidak tamak dan serakah adalah kunci dari semua hal.


"Yang Mulia Permaisuri...kita harus segera kembali, ada pesan dari Istana Rongyu, Yang Mulia akan bermalam di istana Huangho malam ini." Chu Chu membungkukkan badannya.


Xiao Yi menaikkan alisnya sesaat, mendengar Yang Mulia akan bersamanya malam ini, membuat hatinya merasa senang. Sejak kekacauan di aula kebesaran, Yang Mulia sangat sibuk bahkan kabarnya hampir tak tidur siang dan malam.


Dia menangkap para pengkhianat, mencegah gelombang balas dendam, mencopot semua menteri dan bangsawan dari jabatan mereka di dewan istana bagi yang terindikasi sebagai pendukung ibu suri. Yang Mulia dalam sehari telah mengganti banyak bawahannya, meskipun perdana menteri Xingguan masih dalam keadaan lemah, dia tetap bekerja dengan di bantu beberapa menteri kepercayaannya.


"Baiklah Chu Cu , bantu aku berjalan menuju tandu, aku harus bersiap-siap kalau begitu."


kakinya akan cepat merasa sakit jika terlalu lama berdiri padahal dia masih ingin menikmati senja di taman Shenhua.

__ADS_1


Dengan sigap Chu Cu membantunya berjalan,


pakaian Chu Chu dari linen berwarna biru terang tampak cantik dan serasi dengan wajah mudanya yang polos.


Chu Cu tak lagi mengenakan pakaian pelayan tapi pakaian seorang dayang.


"Gaun itu sangat pantas untukmu Chu Cu..." Kata Xiao Yi sambil tersenyum puas pada Chu Cu.


"Terimakasih Yang Mulia permaisuri..."


"Aku heran, mulutmu itu cepat sekali terbiasa dengan panggilan baru. Aku masih merasa janggal mendengar kamu memanggilku dengan Yang Mulia Permaisuri."


Chu Cu menundukkan wajahnya sambil tersenyum kecil.


"Saya harus cepat terbiasa, kalau tidak saya bisa di hukum..." Jawabnya.


"Yang bisa menghukummu sekarang siapa?"


Xiao Yi memegang lengan Chu Cu sambil menepuk bahu pelayan kesayangannya itu


(Yeeeei....crazy UP lagi...😅💪💪💪 sebelum besok kembali normal lagi, menyiapkan ending dan ekstra part saja. Terimakasih buat semua dukungannya yaaaa😘😘😘)



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...

__ADS_1


__ADS_2