SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 109 BERCINTA DENGAN BAYANGAN


__ADS_3

Mata Zhao Juren tak berkedip menatap kepada Ibu suri.


"Aku telah memberikannya racun di bawah lidah. Jika dia tidak ingin di siksa setiap jengkal tulangnya oleh para pengawal Yan Yue, maka dia akan memilih menelan racun lidah itu. Andai dia berani bertahan hidup untuk membuka suaranya, maka dia tahu seluruh keluarganya akan dibantai sia-sia atas namanya."


Ucapan kejam itu terdengar getir dari bibir tipis Zhao Juren yang tampan, sungguh sangat getir.


Dia sebenarnya menghianati hati kecilnya saat berdiri menutupi semua perbuatan sang bibi.


Zhao Juren tahu benar, bibinya itu telah banyak membuat kekacauan tapi dia tidak tahu entah mengapa, dia begitu terikat pada bibinya itu meskipun sang bibi bergelimang kejahatan.


Dalam pengabdiannya kepada ibu Suri, dia menyayangi bibinya itu dan tidak sanggup memikirkan jika bibinya itu dihukum meski apapun yang telah dilakukannya.


"Bukankah, sudah pernah ku katakan, bibi. Aku tak akan mempermasalahkan apapun yang dilakukan bibi di dalam tembok harem. Aku hanya meminta bibi, jangan menyentuh Xiao Yi." Zhao Juren menelan ludahnya yang terasa mencekat di tenggorokan.


"Dia hanyalah salah satu dari selir Yan Yue yang tak berharga, Juren!" Ibu Suri mengingatkan dengan keras kepada Zhao Juren.


Zhao Juren mengalihkan pandangannya, mata merah itu seperti terpanah ke mata ibu suri yang membeliak dengan rasa jengkel terhadap sikap Zhao Juren.


"Jangan pernah lagi menyebutnya tidak berharga bibi! Jangan!"Mata merah itu membeliak besar dibarengi suara keras bernada bentakan penuh amarah.


Ibu Suri benar-benar terkejut melihat kemarahan Zhao Juren, dia tidak pernah melihat Zhao Juren begitu marah padanya, bahkan memperlakukan seperti ini, seperti kehilangan rasa hormatnya.


"Juren! Apakah kewarasanmu telah hilang karena perempuan itu? Apakah dia telah mengguna-gunaimu, sehingga kamu menjadi lupa diri?" Pertanyaan penuh cibiran itu mendera kepada Zhao Juren, rasa tidak percaya masih memenuhi benak ibu suri.


Zhao Kuren mendekat dua langkah, matanya terlihat jelas begitu merah,


"Bibi, berhentilah berusaha mencelakai Xiao Yi, karena jika bibi terus melakukannya, aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak segan-segan membelanya, meskipun harus memutuskan semua hubungan dengan bibi. Jangan biarkan aku melupakan bibi, yang telah ku anggap sebagai ibuku sendiri. Seujung kukupun Xiao Yi terluka, maka aku sanggup membantai semua penghuni istana bibi."Nada itu sarat ancaman dan sungguh tidak main-main saat keluar dari mulut Zhao Juren.


Ibu Suri terpaku di tempatnya berdiri, menatap pada anak yang telah dibesarkannya bahkan dia telah bersamanya dari telapak kakinya masih merah itu.


Dia tahu dalam kemarahan sekalipun, Zhao Juren tak bisa berpaling dari dirinya. Tapi sekarang Zhao Juren benar-benar berbeda dari orang yang sangat dikenalnya.


Hari ini dia mengerti kenapa tadi, di dalam wisma Xingwu, tabib Li Sung lebih takut kepada Zhao Juren dari pada dirinya.


Ibu Suri mundur beberapa langkah, sementara matanya mengawasi Zhao Juren dengan tajam.


Dia mencintai anak ini, seperti dia mencintai dirinya, mendidiknya dengan sejuta kasih sayang berbalut kelicikan. Tapi dia tak pernah memperhitungkan kekuatan cinta yang bisa menghancurkan benang yang telah di ikatkannya pada Zhao Jurennya.


"Suatu saat, kamu akan tahu, kenapa aku melakukan semuanya." Ucap ibu Suri sebelum dia berbalik pergi meninggalkan ruangan Zhao Juren.


Zhao Juren menunduk dengan hati yang sakit, wajah Xiao Yi berpendar seperti pelangi di matanya.


Dia terduduk di atas kursi kayu di dalam ruangannya. Dadanya benar-benar sesak saat mengatakan semuanya.


Tangannya menarik sebuah kertas lusuh dari balik lengan jubahnya, memandangnya dengan hati yang benar-benar terluka.

__ADS_1


"Mengapa mencintaimu begitu sulit, Xiao Yi? Bahkan sekedar ingin melihatmu tersenyum dari jauh terasa sangat sulit? Apakah mencintai akan selalu seberat ini?" Zhao Juren berucap lirih, matanya terasa begitu perih, seperih perasaannya sekarang ini.


Dibukanya perlahan, lipatan kertas lusuh itu, yang selalu dibawanya bersama chai kumala biru kemanapun dia pergi, di sana tampak tulisan indah yang berbaris rapi dengan tinta yang mulai mengabur,


...Melihatmu......


...Seperti bulan yang tinggi,...


...Cahayamu redup tapi cukup untukku berjalan....


...Mulut yang kering seperti ranting,...


...ingin melepaskan penggalan-penggalan rindu....


...Andai dari awal aku menyadarinya,...


...aku tak akan setakut ini....


...Berjalan ke arahmu,...


...semakin dekat semakin ku mengerti,...


...cintamu adalah surga yang ku tunggu,...


...*Lotus berkubang di dalam lumpur,...


...tapi dia tak pernah kehilangan keindahannya*....


...Akulah lotusmu itu, tak perduli seberapa lama lagi aku akan mekar....


...Melepas bulan menuju pagi,...


...aku tetap di tempat yang sama,...


...Menulis hatiku untuk mencintaimu....


^^^Xiao Yi - Chenxing^^^


Zhao Juren memandang kertas lusuh itu dengan nanar, dia selalu bermimpi tulisan Xiao Yi ini benar-benar untuknya.


Sayangnya, kertas itu hanya ditemukannya berbulan-bulan silam, di depan tembok istana Chue Lian, pada malam puncak festival musim semi.


Kepergian Yan Yue yang secara tiba-tiba di tengah acara pesta di aula Guangli malam itu, tentu saja mengundang penasaran Zhao Juren.


Dan dia hanya bisa terpekur menelan kepahitan, berdiri seperti seorang pencuri di belakang tembok Chue Lian, mendengar kemesraan Yang Mulia dengan gadis yang di cintainya diam-diam itu, bercengkerama di bawah pohon Rongshu.

__ADS_1


Dia tahu, tulisan itu bukan ditujukan padanya. Xiao Yi menulisnya sebagai ungkapan perasaannya pada Yang Mulia tapi untuk Zhao Juren kata-kata itu adalah miliknya.


Setidaknya, dia meyakinkan dirinya, meskipun hanya bercinta dengan bayangan Xiao Yi.


Cinta memang tak memilih datang kepada siapa, bahkan seorang panglima perang sebuah kerajaan besar tak akan berdaya jika dia menancapkan diri di hatinya.


Kegagahan dan keperkasaan itu menjadi lumpuh jika cinta telah menyiksanya.


...***...


Pagi hampir tiba, Xiao Yi tetap berbaring di peraduannya. Diam tak bergerak.


Matanya lurus menembus tirai-tirai di atasnya yang bergoyang pelan.


Dia teringat wajah dingin Yang Mulia, sarat dengan kekecewaan yang berusaha di pendam tapi tak mampu di redamnya.


Xiao Yi tahu, ini semua akan terjadi, sebagai konsekwensi dari keputusannya yang menyembunyikan kehamilannya dari Yang Mulia.


Tapi, dia merasa telah bertindak benar, karena keselamatan bayi yang di kandungnya lebih penting dari segala sesuatu di dunia ini.


Pertengkaran dengan seorang suami bisa saja terjadi tapi tak akan mudah membuat hati dan cinta berpaling begitu saja.


Pelan-pelan Yang Mulia akan menyadari, seribu alasan dibalik sikap Xiao Yi ini.


Sekelebat wajah Zhao Juren bermain di pelupuk matanya, dia hampir saja percaya, laki-laki itu begitu tulus mencintainya bahkan bersedia melindunginya di bawah sumpah cintanya sendiri.


Tapi, tadi malam dia menyadari, dari pandangan tabib Li Sung, Zhao Juren terlibat dalam rencana jahat ini. Dia begitu banyak membuat jejak yang mencurigakan untuk keberadaannya malam ini, hanya maksud dari semuanya Xiao Yi tidak mengerti.


Apakah Zhao Juren selicik ibu suri? atau kah lebih licik lagi?


Pertanyaan itu mengambang serupa kiambang,


"Kenapa, saat aku mulai percaya, cintanya bisa ku andalkan untuk menjadikan kami sebagai teman, ternyata dia mengkhianatiku.


Aku bahkan tidak tahu siapa lagi yang pantas kupercayai di dalam istana ini, selain Yang Mulia...." Desahnya pelan pada dirinya sendiri.


...



Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Semoga Author semakin rajin UP, ya...🙏😂...

__ADS_1


__ADS_2