SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 121 MEMPERTAHANKAN TAHTA


__ADS_3

Yang Mulia Yan Yue menutup gulungan kertas di tangannya. Raut wajahnya sekeruh sungai Sheng di awal musim panas.


"Mereka benar-benar merencanakan sebuah pemberontakan!" Tangannya mengepal, menahan amarah yang berkilat jelas lewat bola mata hitamnya itu.


"Aku bahkan tak tahu jika Chyou dan Yaoshan pun di jadikan alat oleh ibu suri." Desah nafas yang terdengar sedih itu tak bisa di bendungnya.


Xiao Yi duduk di pinggir tempat tidur dengan mengenakan gaun sutera hijau muda lembut.


Rambutnya tergerai lepas, tanpa ada ornamen apapun.


Wajahnya terlihat bersinar, penuh dengan aura.


Tak nampak rasa cemas di tatapannya itu, meskipun dia telah membaca semua catatan dalam gulungan kertas yang di berikan Jiu Fei kepadanya beberapa malam yang lewat.


Yang Mulia mendekat pada Xiao Yi dan duduk di pinggiran tempat tidur yang sama berhadapan di sana sambil menatap ke arah Xiao Yi yang tampak tenang.


Xiao Yi bergerak ringan, mengambil baki porselen kecil dan meletakkan di pangkuannya, lalu dengan lembut mengoleskan Zaitun di pelipis Yang Mulia sambil memutar kedua ibu jarinya di kedua sisinya.


"Segala hal sepertinya telah direncanakan oleh ibu suri." Kata Xiao Yi perlahan, tanpa tekanan. Seolah hal itu bukanlah hal yang terlalu besar untuk di cemaskan.


Sesungguhnya, dia tak kalah kuatir untuk semua yang akan di hadapi oleh Yang Mulia dan dirinya, tapi menjadi terlihat takut dan gelisah hanya akan menambah beban Yang Mulia.


Seorang istri adalah pendamping dan penawar hati bagi suaminya, karena itulah Xiao Yi seolah tak bergeming dengan semua rencana menakutkan ibu suri.


Dia sudah mencermati semua rencana jahat ibu suri, sungguh terperinci. Satu hal yang menjadi tujuan utama dari semua rencana itu hanyalah menggulingkan Yan Yue.

__ADS_1


"Aku tak tahu, sebegitu besar ambisi ibu suri dalam menggantikan aku. Andai saja dia hanya meminta, aku akan dengan sukarela menyerahkannya. Aku juga tidak menginginkan tempat ini, tempat yang di duduki laksana bara." kata Yang Mulia, mata kelam itu menerawang, pada semua kematian demi tahta Yanzhi.


"Aku tak akan membahayakan semua orang karena perebutan tahta. Tidak ada yang menjadi korban sia-sia karena pertikaian ini. Tidak harus ada lautan darah yang menjadi tempat berkubang dengan alasan kekuasaan." Kalimat iitu begitu datar dan penuh penyesalan.


"Yang Mulia..." Xiao Yi menatap dengan tenang kepada mata raja itu, begitu dalam.


"Itu bukanlah kalimat yang seharusnya keluar dari mulut seorang raja." Ucap Xiao Yi dengan tegas.


Yang Mulia sejenak terpana pada sergahan Xiao Yi yang tiba-tiba.


"Aku juga tak ingin hidup sebagai raja jika memang mempunyai pilihan. Raja adalah orang yang tak pernah mempunyai ketenangan dalam hidupnya. Bahkan saat tidurpun aku harus waspada, tak terkecuali dengan angin yang bertiup di dalam bilik kamarku. Alangkah nyamannya cukup sebagai orang biasa, aku tak harus hidup tanpa pilihan. Tidak harus takut terhadap siapapun. Aku hanya memilikimu dan anak-anak yang tertawa di sekelilingku." Yang Mulia menerawang, tak pernah dia berani mengatakan perasaannya seperti ini, kecuali kepada satu-satunya orang yang dipercayainya, yaitu Xiao Yi.


"Itu adalah ucapan seorang raja yang pengecut dan aku tidak mempunyai suami yang selemah itu. Aku hanya mengenal seorang suami, Yang Mulia Yan Yue, raja dari sembilan Wilayah Yanzhi, seorang raja pemberani penjaga sembilan penjuru Yanbei." Suara Xiao Yi terdengar tajam menusuk.


"Yang Mulia sudah ditakdirkan oleh langit untuk menjadi seorang raja, jangan pernah mengingkarinya. Takdir seorang raja adalah berada di atas tahtanya meskipun harus mempertaruh nyawanya sendiri, dengan begitu para leluhur akan menerimamu saat harus bertemu dengan mereka. Dan membela rakyatmu adalah yang terpenting, karena jika rajanya lemah maka kepada siapa mereka bergantung?"


"Apakah aku harus berperang dengan saudara-saudraku demi tahta ini? dan membiarkan tanganku berlumuran darah dari adik-adikku?" Yang Mulia bertanya dengan gamang.


"Yang Mulia tidak harus mengotori tangan Yang Mulia dengan darah saudara yang Mulia sendiri." Tiba-tiba Xiao Yi berucap dengan mata berbinar.


"Tapi Yaoshan dan Chyou telah di hasut oleh ibu suri."Yang Mulia tampak berusaha menyelami fikiran perempuan di depannya itu.


"Ibu suri tidak akan membuat dua orang pangeran itu menjadi raja sekaligus, dia hanya mempergunakan mereka sebagai tameng menentangmu untuk tujuannya yang lebih besar. Tujuan sebenarnya bukan semata karena ketidakpuasan atas pemerintahanmu, tapi karena ibu suri ingin mengambil alih penuh kekuasaan dari tanganmu." Xiao Yi meletakkan baki porselen tempat minyak zaitun di tangannya ke meja di pinggiran tempat tidur di mana sebuah lilin besar tampak bersinar menunjukkan cahayanya, meliuk perlahan tertiup angin yang masuk ke dalam wisma Xingwu.


"Tidak perlu membunuh kelinci demi menangkap seekor ular. Tapi jadikan kelincinya sebagai umpan, sampai si ular masuk ke dalam liang." Mata seperti kejora itu bersinar dengan cerdik.

__ADS_1


"Bagaimana melakukannya?" Yang Mulia mengerutkan keningnya.


"Undanglah pangeran Yan Yaoshan dan pangeran Yan Chyou ke aula Rongyu besok malam. Supaya ibu suri tidak curiga kamu telah mencium rencananya, katakanlah itu sebagai undangan makan malam seorang kakak kepada dua adiknya. Undang pula aku hadir di sana, sebagai kakak ipar yang ingin mengenal dekat dua orang adiknya." Xiao Yi mengerjapkan matanya yang indah itu.


"Apa yang akan kamu lakukan, Chenxing?"Yang Mulia menatap tak berkedip kepada Xiao Yi


"Yang Mulia akan tahu nantinya bagaimana membuat dua ekor kelinci itu mengerti, mereka tidak harus mencoba mengambil tanggung jawab seekor singa, karena hal itu jauh dari kemampuan mereka. Ular harus diperdaya dengan bisanya sendiri, bukan dengan menangkapnya."Xiao Yi tersenyum kepada Yang Mulia.


"Chenxing, apakah melibatkanmu dalam rencana ini tidak akan membahayakanmu dan anakku yang ada di dalam kandunganmu." Yang Mulia menatap perut Xiao Yi yang mulai nampak membesar.


"Aku tak akan menempatkan diriku dalam bahaya, Yang Mulia. Aku hanya ingin berbicara dengan mereka." Jawab Xiao Yi lugas.


"Aku juga mencemaskan semua rencana ibu suri yang lain, mengalihkan perhatian Yanzhi pada kerusuhan di propinsi Handong yang akan di lakukan tiga hari lagi, aku tak akan bisa membiarkan rakyatku menjadi korban dari rencana busuk ini." Yang Mulia membuang wajahnya yang geram.


"Yang Mulia..." Xiao Yi memegang kedua lengan raja muda yang sedang begitu cemas itu.


"Kirimkan beberapa orang ke sana, ikutlah sebagai bagian dari orang yang di rencanakan membuat kerusuhan, lakukan saja sesuai rencana tapi usahakan tidak memakan korban jiwa dan redam dari dalam sebelum meluas terjadi. Berpura-pura lah Yang Mulia terpengaruh dengan yang terjadi di sana. Ibu suri tak akan curiga."


"Xiao Yi...bagaimana kamu bisa mempunyai pemikiran seperti ini?"


Kekagumannya pada selir yang segera akan menjadi permaisurinya itu tak bisa di sembunyikannya.


"Aku hanya memikirkan bagaimana cara bersama suamiku melewati badai yang dikatakannya dulu, saat dia menjanjikan akan menjagaku selamanya."


__ADS_1


...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....


...I LOVE YOU ALL❤️...


__ADS_2